Naga Hitam Dan 4 Selir

Naga Hitam Dan 4 Selir
Ch : 101 Masalah Di Kota Air


__ADS_3

Han Ciu satu kereta dengan Racun cilik dan Sa Sie Hwa, sementara Xiao Er bersama Dewi angin dan Zhain Li Er.


Dua kereta kuda yang di kawal oleh orang orang berpakaian merah dan hitam bergerak meninggalkan perguruan api suci.


Dua kereta bergerak mengikuti para pengawal berkuda, jalan yang masih rata membuat lari kereta cepat meninggalkan kota Sanchuan.


Pedang langit duduk di sebelah kusir kereta Han Ciu.


Sampai kota Jiujiang lumayan memakan waktu, mereka dan kuda butuh istirahat


Mereka mampir di kota Cen untuk istirahat, lalu bergerak ke Jiujiang, kemudian menuju ke dermaga sungai besar.


Perjalanan yang mereka lakukan melalui jalan yang biasa di pakai para pedagang dan pejalan kaki, sehingga perjalanan mereka lancar tak menemui hambatan.


Selama beberapa hari Zhain Li Er tampak dingin, Xiao Er tak berani bertanya, Xiao Er sudah di beri masukan oleh kakeknya, agar mendekati gadis itu, karna Li Er sebelum sadar adalah gadis yang sangat mencintai Han Ciu, suatu saat perasan itu kembali, maka Xiao er sudah dekat dengan Zhain Li Er.


Tapi wajah gadis itu terlihat dingin, hanya duduk melihat ke arah jendela.


Hampir lima hari perjalanan, akhirnya mereka sampai di kota kecil samping dermaga.


Zhain Li Er tertegun sewaktu melihat dermaga kayu, tempat kapal bersandar.


Sekilas ia melihat sekilas bayangan gadis berjalan di dermaga kayu bersama dengan seorang pemuda tampan.


Zhain Li Er menggeleng gelengkan kepala,


kepalanya seperti melihat bayangan bayangan, gadis berlari serta seorang pemuda berpakaian hitam berjalan di belakangnya.


Zhain Li Er penasaran, "siapa pria itu ?" ucap Zhain Li Er dalam hati.


Sa Sie Hwa menyewa sebuah kapal besar untuk rombongan Han Ciu.


Pemilik kapal sangat senang, Sa Sie Hwa menyewa kapalnya.


Mereka tak perlu lagi menunggu dan mencari penumpang, setelah Sa Sie Hwa membayar setengah dari kesepakatan yang di bayar.


Kapal bersiap, perbekalan siap, sampai kota Nan jika memakai jalur air, mereka akan lebih lama sampai, tapi memang mereka akui itu lebih baik, berbeda 2 hari, tapi badan bisa istirahat sambil menikmati alam, serta pinggir pinggir aliran sungai yang di lewati.


Zhain Li Er berdiri di depan kapal, sambil menatap ke arah sungai.


Gadis itu juga sering melihat bayangan di kepalanya, bayangan bayangan ia mengetuk pintu kamar dan berjalan di samping kapal.


Han Ciu jarang keluar kamar, malam ia tidur di temani oleh Racun Cilik.


Pedang langit mengetuk pintu kamar Han Ciu, ia terlihat bersama dengan pemilik kapal yang mereka sewa


Pedang langit dan pemilik kapal duduk, Racun cilik keluar dari kamar sambil tertunduk malu.


Setelah Racun cilik keluar kamar, Pedang langit mulai berkata.


Cengcu, sebentar lagi kapal akan sampai di telaga Tong.


"Bagaiman menurut Cengcu !" kita harus berhenti di telagaTong atau melanjutkan perjalanan ke kota Nan ?"


"Berhenti di telaga Tong ?" tanya Han Ciu dengan mengerutkan keningnya,


"Benar Cengcu"


Kita sudah hampir 2 hari lebih melakukan perjalanan air, sebentar lagi alur sungai sampai ke telaga Tong.


Pedang langit tersenyum melihat, Cengcu yang masih berusia muda dan sepertinya tak mengerti apa yang mereka maksud.


Cengcu, telaga Tong disebut juga kota di atas air, banya alirang sungai besar yang tersambung ke telaga Tong.


Penginapan,rumah makan sampai kedai arak ada di kota air telaga Tong.


"Bagaimana menurut Cengcu, kita menginap semalam di telaga Tong, atau melanjutkan perjalanan langsung ke kota Nan ?"


Han Ciu tersenyum dan tertarik dengan di sebutnya kota di atas air.

__ADS_1


"Baiklah paman !" kita menginap di telaga Tong, aku ingin tahu apa yang di sebut kota air."


Setelah masuk ke area telaga Tong, Han Ciu melihat, banyak bangunan bangunan di atas air, Bangunan yang di dirikan di atas ribuan batang bambu sebagai penahan bangunan.


Han Ciu tampak terpesona melihat banyak bangunan berdiri dan berderet, perahu besar dan kecil banyak yang bersandar, berlabuh di bangunan kota atas air.


Han Ciu, Sa Sie Hwa serta Racun cilik, terpesona melihat bangunan bangunan yang berada di atas air.


Rombongan Han Ciu memutuskan menginap, di telaga Tong, Sa Sie Hwa sangat senang ketika sampai, ia dan Racun cilik berjalan di sekeliling, penginapan.


Zhain Li Er bersama Kedua orang tua angkatnya, turun dari perahu.


Ketika Zhain Li Er turun dari perahu, matanya menatap sekeliling penginapan, ada senyum keluar dari bibir Zhain Li Er melihat kota diatas air.


Sa Sie Hwa seperti biasa mengurus masalah biaya biaya yang di keluarkan oleh rombongan Han Ciu.


Han Ciu dan rombongan lalu istirahat, karna cuaca di siang hari, lumayan panas, mereka hanya tiduran saja di kamar tempat mereka menginap.


Menjelang sore hari, diantar oleh sebuah perahu kecil, Han ciu mencoba kedai apung yang ada di kota air telaga Tong.


Sewaktu Han Ciu masuk ke dalam kedai arak, ia melihat situasi kedai mulai penuh, dan banyak pengunjung.


Salah satu pengunjung yang menarik perhatian Han Ciu adalah Zhain Li Er, yang duduk dekat jendela.


Han Ciu lalu memilih meja yang ada 2 kursi kosong, lalu duduk bersama dengan Racun cilik.


Han Ciu memesan makanan dan minuman, sambil sesekali melirik ke arah Zhain Li Er, Racun cilik tau perasaan hati kekasihnya dan membiarkan Han Ciu, menatap kearah Zhain Li er.


Di dalam kedai juga banyak yang melihat dan tertarik kepada Li Er, tapi wajah dingin gadis itu menyurutkan niat para pengunjung kedai untuk menyapa Li Er.


Seorang pria muda berpakaian putih yang bahan bahan kainnya lumayan mewah mendekati Zhain Li er.


"Nona, Boleh aku bergabung ?"


Pria itu berkata sambil melirik ke arah Zhain Li Er.


"Kenapa diam saja, apa menurut nona aku tak pantas untuk bertanya atau sekedar ngobrol dengan, gadis secantik nona ?"


Ha ha ha .


"Sepertinya gadis itu malu malu kongcu !"


Kakek yang tadi duduk bersama pemuda itu angkat bicara.


"Kenapa harus malu paman ?" aku hanya ingin berkenalan tanpa ada maksud lain."


"Mungkin karna Koncu adalah putra dari orang yang menguasai telaga Tong ini !"


"Paman, jangan bawa bawa ayah !" bikin malu aku saja" ucap pemuda berbaju putih kepada kakek yang tadi bersamanya.


Ha ha ha.


"Kongcu jangan kawatir, biar nanti aku yang bicara dengan ketua."


"Nona percayalah, tuan muda ini adalah anak penguasa telaga Tong."


Pemuda itu, kemudian duduk di kursi yang berhadapan dengan Zhain Li Er.


Zhain Li Er tetap memandang ke arah jendela.


Tak sekalipun gadis itu melirik ke arah pemuda tampan yang ada di depannya.


Kakek berbaju putih mendengus melihat tuan mudanya sama sekali tak di lirik oleh Zhain Li Er.


Semua orang yang berada di dalam kedai melihat kejadian itu.


Kakek yang bersama pemuda berbaju putih.


Wajahnya mulai berubah merah.

__ADS_1


"Kongcu !" kakek yang terkenal bernama Elang barat, berdiri dan berkata.


"Mari kita kembali !" ratusan wanita menunggu mu di benteng air."


Pemuda itu lalu berdiri.


"Nona, penghinaan ini pasti akan ku balas, sebutkan tempat, lalu tentukan waktu untuk kita bertarung."


"Zhain Li Er perlahan menoleh, lalu melirik ke arah pemuda itu.


"Tak usah repot repot, nanti tuan muda bisa tewas."


Pemuda yang biasa dipanggil Anak elang menggebrak meja dengan tenaga dalamnya.


Braak !


Kedai apung bergoyang, arak di meja lain sampai tumpah akibat kerasnya gebrakan Anak elang yang menggunakan tenaga dalam.


Anak elang tersenyum bangga melihat, orang orang yang berada di dalam kedai arak tertegun akibat tenaga dalam yang ia keluarkan.


Elang barat mengangguk melihat besarnya tenaga dalam anak sang ketua.


Hmm !


Han Ciu melihat, walau kedai bergoyang tapi bangku, kursi dan arak serta cawan yang ada di hadapan Zhain Li Er tidak ada yang bergeser dari tempatnya, hal itu yang tak disadari oleh Anak elang maupun Elang barat.


Anak elang dan Elang barat melesat ke arah luar kedai.


Dari luar kedai, Anak elang teriak kencang.


"Nona, keluarlah !"


Cis


"Mengganggu orang saja." ucap Zhain Li Er sambil berdiri, kemudian berjalan ke arah luar yang di iringi oleh para tamu kedai apung.


Han Ciu serta racun cilik mengikuti tamu yang lain.


Anak elang berdiri berhadapan dengan Zhain Li Er,


"Senjataku adalah kedua tangan, maaf bila nanti menyentuh tempat yang tak terduga di tubuh nona.


Sebelum Anak elang berkata lebih lanjut, Zhain Li Er lenyap dari hadapan pemuda itu.


Anak elang mengedipkan mata, tiba tiba di depan Anak elang, Zhain Li Er telah berdiri sambil tersenyum dingin.


Tangan kanannya langsung mengayun ke arah pipi Anak elang.


Plaak !


Whuut, gubraak !


Anak elang terkena tamparan Zhain Li Er, sebagian gigi di pipi kiri hancur.


Tubuhnya terpental, Anak elang langsung pingsan, dari mulutnya terus menyemburkan darah segar.


Elang barat terkejut, kemudian memeriksa keadaan Anak elang, setelah mengetahui Anak elang hanya pingsan, Elang barat tanpa banyak bicara lalu membawa Anak elang pergi.


Hampir semua mata memandang Zhain Li Er.


Gadis itu seperti tak peduli, dengan tatapan orang orang yang tengah melihatnya,


Li er terus berjalan


Zhain Li Er, mengelap tangan yang tadi bekas menampar Anak elang, dan lewat dihadapan Han Ciu, tanpa sedikitpun menoleh ke arah pemuda itu.


Sambil melihat Zhain Li er yang berjalan di depannnya Han Ciu menggelengkan kepala.


"Dulu tidak begini"

__ADS_1


__ADS_2