Naga Hitam Dan 4 Selir

Naga Hitam Dan 4 Selir
Ch : 81 Cabang Bunga Naga


__ADS_3

"Jadi..Jadi yang kau berikan tadi padaku adalah obat batuk ?"


Racun cilik mendengar ucapan Han ciu menganggukan kepala dan tetap menunduk.


Hmm !


Han ciu menarik nafas panjang.


"Kau kan tahu aku agak takut dengan racun, kenapa tidak kasih tahu dulu !"


"Bagaimana jika si Tua racun menggunakan racunnya sebelum ku serang ?" bukankah aku akan mati lebih dulu." Racun cilik hanya menundukan kepala, tak menjawab perkataan Han ciu.


"Ah, sudahlah !"


Han ciu sambil geleng kepala lalu berjalan menghampiri Juragan Song, di ikuti oleh Racun cilik di belakangnya.


Song kui dan istri, serta pemuda putra tuan Song langsung memberi hormat kepada Han ciu yang telah menewaskan Si Tua Racun.


Malah tadinya Song kui meragukan Han ciu karna melihat pemuda itu seperti hanya ber omong besar, tapi ternyata hanya dalam 3 gebrakan Si tua racun tewas mengenaskan.


Rasa hormat Song kui terhadap Han ciu semakin besar.


Han ciu lalu menerima 10 ribu tail perak dalam bentuk kertas, Song kui memberikan masing masing 5 ribu tail, tapi jatah Racun cilik di ambil oleh Han ciu.


"Kau percumah pegang uang, pemuda pemalu sepertimu bisa bisa nanti di tipu."


Racun cilik mengangguk mendengar perkataan Han ciu.


"Tuan tabib malam ini tidur saja di tempatku, ada satu kamar kosong, besok baru tuan tabib menginap di penginapan bunga naga.


Han ciu mengangguk lalu di antar oleh pria tua yang bertemu dengannya di jalan, Han ciu menuju kamar tempat mereka tidur.


Setelah berada dalam kamar, makanan ringan dan arak telah tersedia di meja.


Han ciu duduk sebentar dan minum arak.


Sedangkan Racun cilik mengeluarkan sebuah lilin dan menyalakan lilin itu.


"Mari kita tidur, ucap Han ciu sambil menarik tangan Racun cilik.


Racun cilik tampak kaget dan menepiskan tangan Han ciu, tidur saja duluan.


Hoaaaarh !


"Tumben hari ini aku ngantuk sekali !"


Tangan pemuda itu menepak nepak mulutnya yang terbuka, Han ciu lalu memegang kursi,


Bruuk !


Tubuh Han ciu jatuh ke lantai, dan tak lama kemudian suara dengkuran terdengar.


Racun cilik menatap Han ciu yang tertidur di lantai.


"Kakak memang hebat dalam soal ilmu, tapi kalau soal racun, jangan harap bisa menang denganku."


Tanpa di sadari oleh Han ciu, lilin yang di pasang oleh Racun cilik adalah obat tidur yang sangat kuat.


Jika dinyalakan dan asap yang keluar dari lilin yang terbakar akan membuat orang yang menghisapnya akan tertidur pulas, dan itu yang dialami sekarang oleh Han ciu yang tidur di lantai.


Racun cilik lalu meniup lilin, dan menyimpan kembali lilin yang ia pasang kedalam saku bajunya, kemudian naik ke atas ranjang dan tidur tanpa takut ada yang mengganggu sewaktu ia tidur.


Pagi hari Han ciu bangun, sambil memegangi kepala yang terasa pusing.


Ketika duduk dan berada di lantai, Han ciu mengerutkan dahi, "kenapa aku tidur di lantai ?" pikirnya.


Han ciu bangkit lalu duduk di kursi, melihat Racun cilik duduk di kursi dekat jendela sambil melihat pemandangan di luar jendela.


Ehem !


Han ciu berdehem lalu Racun cilik menoleh ke arah Han ciu, "kau sudah bangun ?"


"Aku bingung kenapa aku bisa tidur di lantai ?"


"Kakak minum arak, lalu tidur di lantai."


"Kemari !"


Racun cilik lalu mendekati Han ciu ketika pemuda itu memanggil.


"Duduk di sini !" ucap Han ciu sambil menunjuk kursi yang ada di sebelah.


Racun cilik lalu duduk.


Han ciu lalu menuangkan poci yang berisi arak ke dalam cawan, ketika sedang menuang arak tiba tiba berhenti, "bukankah dia bilang aku mabuk arak, tapi poci ini masih penuh dengan arak,"


Han ciu sambil menuangkan arak menoleh, tapi Racun cilik yang merasa sedang di perhatikan, melihat ke arah lain.


Hmm !


Helaan nafas terdengar keluar dari mulut dan hidung Han ciu.


"Zee, kenapa kau selalu malu jika bertemu orang ?" dan kau sudah bersamaku di lembah selama 3 bulan lebih, tapi denganku juga kau masih malu malu."


"Aku selain kakak dan guru, belum pernah bertemu orang, aku malu." ucap racun cilik menjawab pertanyaan Han ciu.


"Bagaimana kau mau membalas suheng Ci kung jika kau terus seperti ini !"


"Jika kau tak berbuat salah atau dosa, kau tak usah malu," hidup harus banyak bergaul, karna kau sudah lihat, di dunia ini bukan hanya aku, dan kakekmu yang hidup tapi juga banyak yang lainnya." Racun cilik mengangguk mendengar perkataan Han ciu.


"Sekarang kau jawab dengan jujur kau lelaki atau perempuan ?" Racun cilik langsung menundukan kepala ketika mendengar perkataan Han ciu.


"Aku..aku wanita," setelah berkata wajah Racun cilik langsung merah.


Hmm !


"Benar saja dugaanku kau perempuan, tapi aneh !"


"Apa yang aneh ?" Racun cilik berkata sambil menatap wajah Han ciu, tapi tak lama kemudian menunduk kembali.


"Kalau kau perempuan, kenapa dada mu rata ?"


"Da..dada !" kata guru, dada besar bisa bikin lelaki buta, jadi aku selalu melapis dan mengikat erat dengan selendang biar terlihat sama."


"Masa seh, coba aku lihat !"


"Tidak mau," ucap Racun cilik mendengar perkataan Han ciu, wajahnya langsung merah.


"Apa pesan gurumu sewaktu kau ikut denganku ?"

__ADS_1


"Guru..guru memberitahu aku supaya ikut kemanapun kau pergi,"


"Ya, aku tahu itu, tapi setelah kita menemukan Ci kung, kau bebas pergi kemanapun kau suka."


"Tapi..tapi, kata guru aku harus terus ikut denganmu, jangan balik lagi ke lembah atau ke tempat lain."


"Zee, hidupmu bebas, tapi jika kau mendengar perkataan gurumu, kau harus ikut aturanku."


tapi apa kau tak malu berjalan denganku yang berwajah buruk ?" ucap Han ciu, sambil menatap tajam ke arah Racun cilik.


"Aku di besarkan oleh guru, suka tidak suka aku harus menuruti perkataannya."


"Itu artinya kau tidak suka denganku tapi terpaksa harus ikut, benar tidak ?" Han ciu berkata sambil menatap ke arah Racun cilik.


"Tidak..tidak, bukan seperti itu." ucap Racun cilik sambil menggoyangkan kedua tangan.


"Kakak walau galak tapi selalu melindungi Zee, dan itu bagi Zee sudah cukup,"


Han ciu mendengar ucapan Racun cilik tersenyum, "jadi benar kau mau menuruti apapun permintaanku ?"


Racun cilik mendengar perkataan Han ciu mengangkat wajahnya dan menatap pemuda berwajah bopeng dengan tompel di pipi, Racun cilik akhirnya mengangguk.


"Sekarang aku ingin lihat dadamu,"


Wajah Racun cilik merah, antara percaya dan tidak, perkataan pemuda bopeng di depannya.


Setelah termenung dan menarik nafas panjang, sambil memejamkan mata, Racun cilik perlahan mulai membuka kancing baju dan tali yang mengikat bagian pinggang.


Han ciu langsung memegang tangan Racun cilik yang mulai membuka baju luar.


"Tidak usah, tadi aku hanya menguji dan sekarang aku percaya dengan ketulusan hati adik Zee, tapi mulai hari ini, kau harus berpakaian layaknya seorang wanita, karna jika kau seperti ini terus, tidak baik untukmu dan kau tidak boleh rendah diri di depan orang lain jika bersamaku, karna aku akan melindungi jika ada orang yang berani mengganggu."


"Aku bisa jaga diri, kakak tak usah khawatir." ucap Racun cilik membalas perkataan Han ciu.


"Sekarang kita keluar dan membeli pakaian untukmu, kita sekarang banyak uang," Han ciu lalu menarik tangan Racun cilik dan mengajaknya keluar, kali ini Racun cilik membiarkan tangannya di pegang oleh Han ciu.


Song kui ketika melihat kedua tabib muda keluar kamar sambil bergandengan tangan, mengerutkan keningnya.


"Tuan tabib mari kita makan !" hidangan sudah di siapkan."


"Tuan Song terima kasih, tapi maaf sepertinya kami akan makan di luar, sambil melihat lihat kota Handan.


"Oh iya, bagaimana dengan menginap di penginapan bunga naga ?" walaupun membayar aku sekarang sudah punya uang."


"Tuan tabib tidak menghargai aku jika bicara seperti itu, mukaku akan di taruh dimana jika aku masih menerima uang dari tuan tabib."


"Tuan tinggal datang kesana, aku sudah memberitahu, jika tuan adalah tamu istimewa, mereka akan melayani tuan," dan aku sudah mendapat kabar, sepertinya para petinggi bunga naga besok akan datang, jika tuan mau berkenalan, hamba akan dengan senang hati memperkenalkan tuan tabib."


"Baik gimana nanti saja dan terima kasih tuan Song, kami pergi dulu."


Han ciu lalu pergi ke pusat kota, dan masuk kesebuah toko pakaian yang cukup besar.


Pemilik toko pakaian mengerutkan kening, ketika melihat Han ciu dan Racun cilik masuk toko.


"Disini bukan toko obat, kalian salah masuk !"


"Hai nenek tua,!" aku mau beli beberapa pakaian, dan sekalian dandani tabib cilik ini."


Wanita tua itu mau marah, tapi setelah melihat Han ciu mengeluarkan uang kertas 100 tail perak, perempuan tua itu langsung membungkuk hormat, "baik tuan, apa tuan juga mau pesan pakaian ?"


"Tidak, ini sudah cukup untukku, berikan saja yang terbagus dan terbaik, buat adikku !"


Setelah lama menunggu, tak lama kemudian Racun cilik keluar, dengan memakai baju sutra putih, yang bercampur, benang benang perak, dengan wajah bulat telur dan rambut tergerai panjang, bibir merah, dan bulu mata dan alis diperindah, Racun cilik setelah ganti pakaian dan di dandani, menjadi wanita yang sangat cantik jelita.


Han ciu ketika Racun cilik keluar hanya diam, dan tak berpikir bahwa itu racun cilik, setelah gadis itu menegur, baru Han ciu sadar siapa gadis yang berada di depannya, Han ciu terpana melihat wajah racun cilik.


"Adik !" kau sangat cantik."


Racun cilik menunduk malu, 3 kantong kulit masih tergantung di pinggang Racun cilik, tapi kotak obat, sekarang Han ciu yang membawanya.


"Terima kasih kakak," ucap racun cilik malu malu.


"Sekarang malah aku yang malu berjalan bersamamu."


Kakak kenapa berkata seperti itu ?" ucap Racun cilik sambil memegang tangan Han ciu.


Keduanya lalu tersenyum.


Han ciu lalu mengajak Racun cilik ke sebuah rumah makan yang paling besar di kota Handan, mereka berjalan dan, sekali kali ketika berjalan, Han ciu dengan sengaja tangannya menyenggol payudara Racun cilik, dan ketika tersenggol Racun cilik tertunduk malu dan hatinya tergetar, Han ciu berbisik, "benar kata gurumu jika melihat akan buta." mendengar perkataan Han ciu, Racun cilik langsung menyikut pinggang Han ciu yang tertawa tawa.


Orang orang banyak yang menatap heran, seorang gadis yang berwajah sangat cantik dan berpakaian mewah, bergandengan tangan dengan seorang tabib bopeng dengan tompel di pipi.


Han ciu tak peduli dengan tatapan orang, ia masuk ke rumah makan yang ramai, setelah mendapat meja kosong, keduanya lalu duduk dan Han ciu memesan makanan untuk mereka berdua.


Seorang pemuda tampan yang bersama dengan dua orang kakek berpakaian merah dan biru, menatap ke arah meja Han ciu.


Setelah makanan datang keduanya lalu menyantap hidangan yang tersedia, setelah selesai makan, Han ciu lalu menyantap arak, sedangkan Racun cilik mencoba secawan arak, dan wajahnya langsung merah karna belum terbiasa.


Ketika mereka sedang bersantai, datang pemuda tampan yang tadi memperhatikan mereka berdua.


"Selamat siang, boleh aku berkenalan dengan nona cantik ?" Han ciu dan Racun cilik mengerutkan kening mendengar perkataan pemuda tampan itu, lalu Racun cilik menatap Han ciu yangbmenggelengkan kepala.


"Maaf aku tidak mau kenal dengan tuan," Racun cilik berkata sambil menundukan kepala.


"Eh kenapa begitu nona, apa karna tabib bopeng ini menggelengkan kepala, jadi nona berkata seperti itu ?" Racun cilik tak menjawab perkataan pemuda tampan yang berpakaian mewah itu.


"Nona jangan takut padaku, namaku Xiu an dan ayahku adalah Xiu peng."


"Maaf tuan, bukankah tuan sudah dengar bahwa nona ini tak mau berkenalan dengan tuan ?"


"Kau diam saja !" aku tak bicara denganmu."


pemuda itu menatap tajam ke arah Han ciu.


"Nona pasti pendatang di kota Handan, karna tak kenal namaku atau nama ayahku, ayahku adalah Xiu peng gubernur kota Handan."


Han ciu dan Racun cilik tak memperdulikan Xiu an yang terus berkoar koar.


Han ciu lalu memanggil pelayan dan membayar harga makanan, setelah itu mereka berdua berdiri dan bersiap meninggalkan rumah makan.


Racun cilik tanpa setahu siapapun, menyentilkan jarinya yang lentik kearah Xiu an, bubuk racun yang amat halus dan tak terlihat mengenai tangan Xiu an.


"Tunggu dulu nona, aku belum selesai bicara !" Xiu an berkata sambil tangannya berusaha meraih tangan racun cilik.


Han ciu langsung menangkap tangan Xiu an.


"Tuan sebagai anak pembesar apa tak mengerti sopan santun ?"


Xiu an merasa tersindir dan wajahnya merah menahan marah mendengar perkataan Han ciu.

__ADS_1


Tapi wajahnya seketika berubah ketika merasakan perutnya melilit dan mendadak mules.


"kriuk, prepeeet..preeet"


Han ciu mengerutkan kening, mendengar sesuatu terdengar dari tubuh Xiu an, sementara Racun cilik menutup mulut menahan tawa.


"Nona tunggu sebentar jangan kemana mana dulu !" aku..aku ingin buang air besar." dan rumah makan langsung gempar dan banyak yang tertawa ketika Xiu an, sambil berjalan cepat memegangi pantaat yang terus berbunyi dan mengeluarkan angin busuk mencari tempat untuk buang hajat.


Han ciu akhirnya tertawa terpingkal pingkal, dan keluar dari rumah makan, sementara kakek yang berpakaian merah dan berbaju biru, menatap tajam kepergian Han ciu dan Racun cilik.


"Kau apakan anak gubernur itu ?"


Aku kasih racun pencuci perut," ucap Racun cilik.


Ha ha ha


"Biar tahu rasa bocah sombong itu." Han ciu berkata, sambil menarik tangan Racun cilik pergi kerumah penginapan bunga naga.


Sesampainya di penginapan bunga naga, Song kui menatap heran melihat Racun cilik.


"Tuan tabib !" gadis ini ?"


"Tuan Song kenapa masih bertanya, bukankah tuan Song tahu dengan siapa aku datang ?"


"Jadi..jadi tabib muda yang satu lagi adalah nona ini ?" Racun cilik mengangguk.


"Nona sanga cantik," ucap Song kui sambil tersenyum.


"Oh ya tuan tabib !" acara pembukaan dipercepat, karna ada urusan penting, dan kemungkinan malam ini atau besok para petinggi dari penginapan bunga naga akan sampai di kota Handan." Song kui memberitahu Han ciu.


Han ciu mengerutkan kening mendengar perkataan Song kui.


"Ada apa, dan apa yang terjadi ?" hanya itu yang terlintas dalam benak Han ciu mendengar perkataan Song kui.


Mereka lalu di antar ke sebuah rumah kecil yang berada di sekitar komplek penginapan bunga naga.


Hmm !


"Agaknya bangunan ini hampir menyerupai yang di kota Nan," setelah Han ciu berjalan dan melihat lihat penginapan bunga naga yang ada di kota Handan.


Setelah malam Han ciu tak melihat ada kegiatan atau penyambutan.


"Sepertinya mereka akan datang besok pagi." pikir Han ciu.


Malam telah larut, dan entah kenapa dalam diri Racun cilik hatinya tergetar, ketika mereka duduk berdua.


Setelah memutuskan sesuatu yang mengganjal di pikirannya, Racun cilik lalu mengeluarkan lilin dari dalam bajunya dan menyalakan lilin itu.


"Apa masih kurang terang ?" tanya Han ciu ketika melihat Racun cilik menyalakan lilin.


Racun cilik hanya mengangguk tak menjawab perkataan Han ciu.


Lilin menyala, dan asap lilin yang berbau wangi tercium, tak lama kemudian Han ciu menguap dan mulutnya terbuka lebar,


"Aaiih, tidak biasanya aku ngantuk seperti ini !"


Setelah berkata, mata Han ciu terpejam.


"Kakak, maaf kan Zee, untuk saat ini Zee masih belum bisa tidur bersama kakak.


Racun cilik lalu mengangkat tubuh Han ciu dan memindahkannya ke atas ranjang.


Ketika merebahkan tubuh Han ciu di tempat tidur, tanpa sengaja Racun cilik melihat kulit tipis di leher Han ciu yang mengelupas.


Gadis itu lalu mengusap kulit itu, tapi kulit itu terus ikut tangan Racun cilik ke atas.


"Eh, ada apa dengan kulit kakak ?"


Racun cilik penasaran, lalu perlahan kulit tipis itu ia pegang, lalu di tarik makin keatas.


Akhirnya topeng Han ciu terbuka, Racun cilik melihat wajah seorang pemuda berwajah tampan, dengan kulit muka putih dan halus.


"Ja..jadi selama ini kakak menyamar."


Racun cilik wajahnya langsung merah dan bingung, entah kenapa kali ini hatinya berbunga bunga.


Perlahan Racun cilik menunduk, mengikuti dorongan hati dan perasaannya.


mencium bibir Han ciu dengan lembut.


Sehabis mencium wajah Racun langit merah, lalu gadis itu menutupi wajah dengan kedua tangan, karna malu sendiri.


Racun langit lalu merapihkan topeng Han ciu lalu tanpa ragu tidur di samping pemuda itu.


Ke esokan harinya, Han ciu bangun dan langsung minum teh panas yang sudah tersedia,


"Aku terlalu nyenyak tidur hingga kesiangan." dan memang hari sudah siang ketika Han ciu bangun.


"Racun cilik, wajahnya tersenyum manis kali ini."


"Kakak !" tadi tuan Song datang, dan dia bilang, para petinggi Penginapan bunga naga sudah datang dan berkumpul, kakak jika ingin bertemu mereka datang saja keruangan depan."


Han ciu mengangguk sambil menatap heran Ke arah Racun cilik, "kenapa kau senyum senyum sendiri ?"


"Tidak..tidak apa apa !" wajah Racun cilik langsung merah lalu menunduk.


Han ciu setelah merapihkan baju kemudian keluar dan langsung menuju ruang depan.


Ketika sampai, ada beberapa orang sedang duduk, 2 orang wanita berpakaian putih, dan ada lagi beberapa pria.


Seorang gadis yang berpakaian putih yang sebelah matanya tertutup kulit penutup mata, menatap ke arah orang yang baru saja datang, dan 2 orang yang berpakaian putih itu adalah, Sa sie hwa dan Zhain li er.


Keduanya menatap Han ciu, dan terus menatap Han ciu yang berjalan semakin dekat.


Wajah Li er yang selalu sedih, ketika melihat jelas pemuda berwajah bopeng yang berjalan mendekat, tiba tiba air matanya bercucuran, begitu pula Sa sie hwa.


Zhain Li er tanpa memperdulikan orang orang yang berada di ruangan lalu melesat dengan cepat sambil berteriak.


Muka ayaaaaaam !


Li er langsung memeluk dan menciumi wajah bopeng Han ciu di depan orang orang tanpa malu.


Sementara itu, Racun cilik melihat Li er memeluk dan menciumi Han ciu, wajahnya langsung berubah, dan matanya berkilat menatap tajam ke arah Li er.


Dari mulut gadis pemalu itu terdengar suara dengusan dan desisan keluar dari bibirnya yang mungil


Hmm !


"Gadis itu rupanya ingin di racun"

__ADS_1


__ADS_2