Naga Hitam Dan 4 Selir

Naga Hitam Dan 4 Selir
Ch : 80 Si Tua Racun


__ADS_3

Mendengar nama perguruan selaksa racun, wajah Han ciu langsung berubah.


Hmm !


"Perguruan selaksa racun," dari cara cara yang mereka lakukan, agaknya perguruan ini wajib di tumpas dan mereka adalah salah satu perguruan yang aku cari, Han ciu berkata dalam hati.


"Maaf tuan, soal biaya pengobatan bagaimana ?"


Racun cilik yang mendengar perkataan Han ciu lalu menyikut pinggang.


"Diam kau !" memangnya kau mau kelaparan di sini ?" Han ciu berbisik kepada Racun cilik.


Song kui tersenyum.


"Tuan tabib tak usah khawatir," setelah berkata lalu Song kui memberi isyarat kepada istrinya.


Nyonya song lalu membuka laci di lemari yang ada dalam ruangan.


Tuan tabib terimalah, nyonya Song berkata sambil tersenyum.


"Nanti saja kami akan ambil, jika pergi dari kota Handan." Han ciu berkata.


"Ambil saja tuan tabib, jika berada di kami dan kakek itu kembali, aku tak menjamin uang tuan tabib akan masih berada di sini," Song kui wajahnya tampak sedih setelah berkata.


Han cui lalu menatap tajam ke arah Song kui.


"Apa maksud tuan Song ?"


Kakek itu ber ilmu tinggi dan ahli racun, jika kakek itu datang kami hanya bisa pasrah, maka dari itu aku sarankan tuan tabib ambil uang selagi ada.


"Tuan berani bayar berapa untuk kepala kakek itu ?" Han ciu berkata.


Mereka yang berada di ruangan terkejut mendengar perkataan dari tabib bopeng yang ada di depan mereka.


"Apa tuan tabib bisa membantu kami ?" wajah Song kui penuh harap sambil menatap Han ciu.


"Aku tak tahu mampu atau tidak, tapi tuan harus membayar jika kakek itu mayatnya ada di depan tuan, bagaimana ?"


"Tuan tabib, keluarga Song mengandalkanmu !"


Song kui berkata sambil memegang tangan Han ciu.


Han ciu tersenyum, tak lama kemudian berkata.


"Tuan Song, boleh kami berdua minta tolong ?"


"Katakan saja tuan tabib tak usah malu, jika Song kui mampu pasti akan Song kui penuhi."


"Adikku belum makan dari pagi, jika tuan Song ada sisa makanan, bolehkah tuan Song memberi kami sisa makanan yang ada."


Racun cilik yang berada di dekat Han ciu langsung menyikut pinggang Han ciu.


"Diam kau, apa kau tak lapar ?" Han ciu berkata, dan kali ini di dengar oleh mereka yang berada di dalam ruangan.


Song kui dan yang lain tertawa mendengar perkataan Han ciu.


"Mari silahkan tuan tabib !" kami akan menyiapkan hidangan, dan kanda Song juga pasti lapar," istri Song kui berkata sambil mengerling ke arah suaminya yang telah sembuh dan mulai bisa bergerak.


Han ciu, racun cilik lalu mengikuti nyonya Song pergi ke ruangan tengah yang lebih luas dengan beberapa meja dan kursi.


"Dia berkata adiknya yang lapar, tapi kulihat tabib bopeng ini yang makannya seperti orang sudah tiga hari tidak makan, Song kui berkata dalam hati ketika melihat Han ciu makan dengan lahapnya.


Racun cilik terus menunduk sambil makan.


Setelah makan mereka bercakap cakap ringan.


"Tuan Song !" sewaktu kami menuju rumah tuan, aku lihat ada sebuah penginapan sedang berberes, penginapan itu tampak megah dan namanya sangat unik, penginapan bunga naga.


"Benar tuan tabib !" itu hanya cabang saja, pusatnya ada di kota Nan."


Wajah Han ciu berubah ketika mendengar perkataan Song kui.


"Hebat, bisnis tuan sungguh maju, tapi kenapa pusatnya bukan disini tetapi di kota Nan ?" han ciu berkata memancing Song kui untuk bercerita.


"Ini hanya rekanan bisnis tuan tabib, mereka yang punya uang, tapi aku yang mengelola cabang yang ada di kota Handan ini."


Han ciu mengangguk dan berkata, "lalu siapa pemilik dari penginapan bunga naga, jika boleh tahu ?"


"Aku hanya mendengar selentingan cerita, bahwa bangsawan pemilik bunga naga telah tewas, kemudian penginapan di urus oleh selir selirnya dan semakin berkembang dan membuka cabang di beberapa kota."


"Mereka membeli penginapan yang mau di jual, lalu di perbaharui dan di beri nama bunga naga, salah satu selir bangsawan itu yang selalu memakai baju putih tanda berkabung, bertemu denganku mengajak mengelola penginapan bunga naga, dan aku langsung terima."


"Siapa nama selir itu tuan ?"


"Nyonya Sa sie hwa, apa tuan tabib kenal ?"


"Tuan Song bercanda !" bagaimana bisa kami kenal dengan orang orang kaya itu tuan, kami hanyalah tabib jalanan." Han ciu berkata sambil tersenyum.


Han ciu sambil bercakap cakap, cawan araknya selalu ia isi dan meminumnya, sudah lama ia tidak merasakan lezatnya arak, sedangkan Racun cilik menolak ketika di sodori arak.


Hmm !


"Setahuku tabib tidak minum arak, tapi kenapa tabib bopeng ini terus terusan minum," Song kui heran dan sesekali melirik Han ciu, ketika sedang menenggak araknya.

__ADS_1


"Jika tuan tabib berdua masih lama berada di kota Handan, beberapa hari lagi akan ada acara pembukaan penginapan bunga naga, tuan tabib bisa hadir menyaksikan acara pembukaan, aku mengundang para petinggi bunga naga."


"Tuan Song, apakah bisa kami menginap di penginapan bunga naga sampai acara pembukaan ?"


"Bisa, bisa saja tuan tabib," nanti akan aku siapkan, tuan tabib adalah inkong ( tuan penolong ) hal itu hanya masalah kecil.


"Nanti akan kami siapkan 2 kamar untuk tuan tabib berdua." ucap Song kui menjawab permintaan Han cui.


"Satu kamar saja tuan, kenapa harus dua !"


"Uhuk, uhuk"


Racun cilik batuk mendengar perkataan Han ciu.


"Sabar saja kalau makan, jangan buru buru, jadi batuk."


Racun cilik wajahnya merah dan langsung menundukan kepala, ketika mendengar perkataan Han ciu.


"Song kui, keluar kau !"


Suara teriakan menggema dan kencang terdengar, ketika mereka sedang bercakap cakap.


"Tuan tabib, itu."


"Mari kita lihat sama sama," ucap Han ciu sambil berdiri dan di ikuti oleh Racun cilik, Song kui dan yang lainnya.


Di depan rumah, seorang kakek tua yang membawa tongkat, berbaju hitam dan ikat kepala hitam berdiri dan di kelilingi oleh para busu juragan Song kui.


Kakek hitam itu mengebutkan lengan baju ke arah dua orang busu yang berada di depannya.


Whuuus !


Angin lembut keluar dari lengan baju, dan menerpa kedua busu yang berada di depan.


Kedua busu itu merasakan hembusan angin yang wangi melewati mereka, keduanya lalu mencabut pedang.


Sring, Sring


Setelah pedang tercabut, kedua busu merasa leher seperti tercekik dan perut seperti di cabik cabik.


Trang.


Pedang jatuh, kedua busu dengan mata melotot dan mulut mengeluarkan busa, berusaha teriak tapi tak ada suara yang keluar, keduanya jatuh dan tewas, akibat racun bunga ular yang tadi di keluarkan oleh kakek berbaju hitam, sambil mengebutkan lengan bajunya.


Melihat kejadian itu, semua busu yang mengurung kakek berbaju hitam langsung mundur menjauh.


Han ciu yang melihat kejadian itu perlahan mundur dan berada di belakang Racun cilik yang berjalan ke sambil menunduk.


Han ciu memang masih merasa gentar dengan racun, ia pernah merasakan bagaimana sakit dan menderita ketika terkena racun peremas hati penghancur usus milik Ci kung.


"Kalau jalan pake mata, apa kau mau di gebuk oleh kakek itu ?" Han ciu berkata, sambil menarik tangan Racun cilik yang berjalan menunduk dan semakin mendekati sang kakek.


"Lepakan tanganmu" kenapa ada dibelakang ?" ucap Racun cilik heran sambil menepis tangan Han ciu yang memegang tangannya.


"Makanya kalau jalan pake mata, jadi bisa lihat. "Aku kan dari tadi ada dibelakangmu."


Ha ha ha


"Tak kusangka kau bisa sembuh Song kui."


"Apakah kedua tabib cilik ini yang menyembuhkanmu ?"


"Siapa kau tua bangka ? Han ciu balik bertanya, mewakili juragan Song kui.


"Hai bopeng !" kalau bicara maju, jangan sembunyi di belakang."


Phuuih !


"Aku tak sudi berhadapan dengan pengecut sepertimu, yang hanya bisa main racun."


"Aku si Tua racun dari perguruan selaksa racun, ingin meminta kejelasan dari juragan Song."


"Jelasnya kau yang akan mati,"


Mendengar perkataan tabib yang bermuka bopeng, si tua racun mengebutkan lengan bajunya seperti menyerang kedua busu yang tewas.


Racun cilik menatap tajam lalu merogoh kantong kulit yang berada di pìnggang, ada 3 buah kantong kulit di pinggang Racun cilik.


Whuuus !


Racun cilik melemparkan serbuk yang ia ambil dari kantong kulit miliknya dan bertemu dengan angin yang keluar dari lengan baju si tua racun.


Percikan api kecil, dan asap berwarna hitam dan merah keluar ketika kedua racun bertemu.


Racun cilik, lalu merogoh kantung kulit yang berisi jarum kecil.


Sring !


Jarum kecil melesat cepat kearah si tua racun.


Si tua racun terkejut melihat jarum meluncur cepat ke arahnya.


Tua racun memutar tongkatnya, lalu dengan tongkat tua racun mencongkel sebuah batu sekepalan tangan di dekatnya dengan tenaga dalam, batu melesat menyambar jarum yang di lemparkan oleh Racun cilik.

__ADS_1


Creep !


Jarum kecil menancap di batu, batu langsung jatuh dan berubah warna menjadi putih dan mengeluarkan asap yang berhawa dingin.


Si Tua racun melotot dan lompat mundur dua langkah, melihat batu yang tadi ia lemparkan wajahnya langsung pucat.


"Racun inti es," desis tua racun dengan nada gentar.


Tua racun langsung memutar tongkatnya dan pasang kuda kuda.


Racun cilik mundur, lalu menarik tangan Han ciu


"Serang dia" Racun cilik menyuruh Han ciu.


"Racunnya berbahaya !" uhuk uhuk," ucap Han ciu sambil batuk.


Racun cilik membuka kotak obat miliknya, lalu mengambil sebutir pil, dan di berikan kepada Han ciu, "makan pil ini !" Racun cilik memberikan pil, lalu menunduk.


"Rupanya penawar segala macam racun," pikir Han ciu dan langsung mengambil lalu makan pil pemberian Racun cilik, tenggorokan Han ciu langsung hangat setelah memakan pil itu.


"Obat mujarab" pikir Han ciu lalu tersenyum, sambil menatap Racun cilik yang masih menundukkan kepala.


Han ciu melihat ada sebuah sapu lidi di halaman, pemuda itu tersenyum.


"Aku mau coba kedua ilmu yang baru aku pelajari."


Han ciu kemudian mencabut sebuah lidi, lalu mengayun ayun lidi itu.


"Mau apa si bopeng dengan lidi itu ?" ucapnya dalam hati, sambil Song kui menatap heran ke arah Han ciu.


Han ciu melirik tua racun.


Lalu mengerahkan tenaga dalam.


Whuuut !


Dengan ilmu meringankan tubuh raja angin, Han ciu melesat menyerang ke arah Tua racun sambil menyabetkan lidi.


"Bopeng keparaaat !"


"Kau menghina Tua racun, menyerang hanya dengan lidi."


Tua racun lalu menghantamkan tongkatnya ke arah kepala Han ciu.


Wajah Tua racun terkejut ketika melihat lidi yang di pegang oleh Han ciu, tiba tiba kedua sisi lidi timbul hawa tenaga dalam berwarna seperti perak dan lidi berubah layaknya pedang kecil.


craak, trak !


Tua racun mundur, wajahnya kembali pucat, ujung tongkatnya telah terpapas oleh lidi Han ciu dan jatuh ke tanah.


Belum hilang rasa kejut Tua racun.


Han ciu mengeluarkan sedikit energi tenaga dalam, lalu di depan tangan kirinya tercipta sebuah pedang hampa.


Han ciu langsung mengibaskan tangan kiri, pedang hampa melesat menuju tangan kanan tua racun yang memegang tongkat.


Tua racun memutar tongkat, berusaha menahan hawa tenaga dalam yang seperti pedang


Traak !


Pedang hampa memotong tongkat tua racun, dan pedang hampa terus melesat dan merobek bahu Tua racun.


"Gila !" ilmu apa yang di gunakan tabib bopeng itu ?"


Sebelum berpikir lebih jauh, Tua racun menjerit, melihat Han ciu sudah berada di dekatnya dan lidi yang sudah berubah seperti pedang tipis, menebas pinggang dan ia tak bisa menghindar.


Craaash !


Pinggang tua racun putus, dan tewas seketika.


Phuih !


"Kupikir hebat" Ucap Han ciu sambil meludahi tubuh si Tua racun yang putus


Song kui, nyonya Song dan anak mereka tercengang melihat Han ciu bisa menewaskan si Tua racun hanya dalam 3 jurus saja.


Mereka seperti tak percaya melihat apa yang terjadi di depan mereka.


Han ciu tak peduli dengan tatapan keluarga Song.


Pemuda itu menghampiri Racun cilik.


Racun cilik yang melihat Han ciu mendatanginya, ia langsung menunduk, tak berani menatap.


"Pil pemunah racun mu hebat sekali !" ucap Han ciu sambil memberi jempol.


Racun cilik mengangkat muka mendengar perkataan Han ciu. "pil pemunah racun" jawab Racun cilik sambil menatap heran.


"iya, pil pemunah racun yang tadi kau berikan padaku."


Racun cilik langsung menundukan kepala, mendengar perkataan Han ciu, lalu menjawab sambil tertunduk malu.


"Itu..itu hanya obat penyembuh batuk."

__ADS_1


__ADS_2