
Setelah berhasil menewaskan jendral Shen Long, pasukan bintang timur mulai menjatuhkan senjata mereka, tanda menyerah.
300 orang prajurit bintang timur menyerah, sementara mereka yang tewas di kumpulkan di dalam lembah, kemudian Han Ciu menitahkan kepada anak buahnya untuk membakar mayat² yang tewas karena pertempuran.
Sementara jendral Shen Long di kuburkan sendiri oleh Han Ciu.
Bentuk kehormatan sebagai sesama pemimpin pasukan.
Bau mayat terbakar menyelimuti lembah hutan kota Beidi.
Han Ciu tak mau menunggu lama lagi, ia kemudian memerintahkan pasukannya untuk menaklukkan kota Beidi.
Kota Beidi yang merupakan sebuah kota transit yang memiliki pasukan tak begitu banyak, tak membutuhkan waktu lama untuk menaklukkannya.
Setelah mengepung dan mengancam kota, akhirnya Beidi menyerah.
200 pasukan yang berada di kota Beidi dan 300 pasukan bintang timur yang menyerah akhirnya bergabung dengan pasukan Han Ciu, kini pasukan mereka ada kurang lebih 1500 pasukan.
Semua perbekalan yang berhasil di rampas di bawa masuk ke kota Beidi.
“Talaba ! Bagaimana perkembangan kota Xianyang, apa kau sudah mendapat kabar ? Tanya Han Ciu.
“Sepertinya Xianyang bisa bernapas lega ketua, rombongan pasukan yang di pimpin guru pedang api serta paman Ming Mo berhasil menahan serangan yang berasal dari kota Hedong,” ucap Talaba.
“Jarak Beidi dengan Hedong sebenarnya tidak terlalu jauh, tapi yang membuat repot adalah sungai besar yang harus kita seberangi jika harus pergi ke Hedong,” Han Ciu berkata.
“Dengan pasukan diatas 1000 menyeberangi sungai besar adalah hal yang merepotkan.
“Cari tahu kembali perkembangan pasukan paman Ming Mo serta serbuan pasukan musuh terhadap kota Xianyang,” ucap Han Ciu.
Talaba anggukan kepala mendengar perintah sang ketua.
Pasukan Han Ciu kini bermarkas di kota Beidi sambil menunggu perkembangan.
Sementara itu di kota Dai, Xiang Yu dengan beberapa petinggi tengah duduk sambil bercakap – cakap, wajah mereka tampak serius.
“Apa benar kabar berita dari mata – mata kita, bahwa paman San Chi serta paman Shen Long sudah berhasil di taklukan,” tanya Xiang Yu dengan wajah terlihat sangat kecewa.
“Sepertinya informasi ini memang benar yang mulia, menurut informasi yang kami terima, jendral San Chi serta pengikutnya di habisi oleh Han Ciu,” ucap Jari Api memberi kepastian kepada pemimpinnya.
Brak !
Meja di hantam oleh Xiang Yu karena kesal mendengar kabar yang tidak mengenakan hatinya.
“Kurang ajar ! Lagi – lagi pemuda itu,” ucap Xiang Yu dengan wajah geram dan lengan yang masih mengepal.
“Rencana terhadap kota Xianyang sudah lama ku pikirkan, dan itu adalah jalan tercepat menguasai negeri ini, tapi lagi² pemuda itu yang selalu mengacaukan semua rencanaku,” lanjut ucapan Xiang Yu dengan wajah terlihat sangat gusar.
“Rencana yang mulia sudah sangat sempurna, bukan karna kepintaran ketua selaksa pedang, tapi secara kebetulan saja rencana kita terbongkar,” Manusia racun berkata untuk menenangkan Xiang Yu.
Dari pola perjalanan yang di lakukan oleh ketua perguruan selaksa pedang, hamba pikir memang rencana penyerangan atas kota Xianyang, secara tidak sengaja berhasil di ketahui,” lanjut ucapan Manusia racun yang merupakan ketua perguruan selaksa racun sekaligus murid musuh bebuyutan sekte naga hitam, Han Cikung.
Xiang Yu anggukan kepala mendengar perkataan Manusia Racun.
“Bagaimana dengan paman Han Cikung, apa keadaannya sudah pulih seperti sedia kala ? Tanya Xiang Yu.
“Sebentar lagi guru akan sembuh tapi beliau berpesan, yang mulia tak usah khawatir, pasukan bintang timur jumlahnya dua kali lipat dibandingkan dengan pasukan Liu Bang, jika taktik dan rencana yang telah kita susun bisa terlaksana, yang mulia di pastikan kedepannya akan memimpin negeri ini,” jawab Liu Bang.
Xiang Yu tersenyum mendengar jawaban Manusia racun.
Ia memang membutuhkan Han Cikung serta perguruan selaksa racun untuk mendukung cita²nya memimpin negeri.
“Apa tuan Han Cikung ada pesan atau nasihat untuk kedepannya, langkah apa yang harus kita ambil ? Tanya Xiang Yu.
__ADS_1
“Guru hanya berpesan, kota Shang bisa di pakai untuk menjebak ketua perguruan selaksa pedang,” jawab Manusia racun.
Lalu Manusia racun berbisik di telinga Xiang Yu.
Xiang Yu anggukan kepala sambil tersenyum, penguasa wilayah timur itu sepertinya sudah mengerti dengan rencana Han Cikung yang di sampaikan oleh Manusia Racun.
“Jari api ! kau bawa 1000 pasukan dan berangkat ke kota Shang sampaikan salamku untuk jendral Zhi Luo, pertahankan kota Shang, nanti akan ada kejutan, jika memang benar ketua perguruan selaksa pedang akan menyerang kota Shang,” Xiang Yu memberikan perintah serta petunjuk kepada anak buahnya si jari Api.
Mendengar perintah sang pemimpin, Jari Api berdiri lalu memberi hormat kepada Xiang Yu.
“Jari api, siap melaksanakan perintah yang mulia ! Seru Jari Api dengan penuh semangat.
Teringat kembali oleh jari api bahwa di perguruan selaksa pedang ia mempunyai 2 musuh.
Yakni pendekar pedang api dan pendekar pedang neraka.
Sewaktu terjadi keributan di telaga barat, Jari Api hendak bertempur dengan Pedang Api serta kakak seperguruannya, tapi masih di tahan oleh Xiang Yu, karna waktu itu mereka berada pada situasi yang tidak menguntungkan.
Kota Shang akan menjadi kuburan buat Pedang Api dan Pedang Neraka ( Tongki ) batin Jari Api, sinar matanya tampak berkilat ketika berkata.
“Aku tunggu kedatangan kalian.”
****
Suasana di kota Beidi tampak ramai, kota yang tidak terlalu besar tetapi pas untuk di jadikan markas sementara pasukan Han Ciu yang berhasil mengalahkan pasukan bintang timur yang di pimpin jendral San Chi.
Keramaian kota Beidi terlihat dengan banyaknya orang berlalu lalang di dalam kota, roda perekonomian kota Beidi perlahan mulai bangkit, rumah makan serta kedai arak mulai berani buka, karena banyak prajurit asuhan Han Ciu yang meminta mereka untuk buka.
Para petani kembali menggarap sawah mereka, pedagang menjajakan barang dagangannya kepada orang yang lewat, masyarakat kota Beidi sebenarnya menyambut hangat kemenangan Han Ciu, karena mereka tidak suka di bawah kepemimpinan Xiang Yu yang mengambil pajak besar dari para penduduk kota.
Tetapi para penduduk tak berani menunjukkan kegembiraan mereka, karena mereka tahu, masih banyak mata² yang berada di kota Beidi, sedikit saja mereka salah bicara, nyawa taruhannya.
Di salah satu kamar yang terdapat di gedung utama kota Beidi yang menjadi tempat sementara untuk Han Ciu serta para kerabat dan anak buah tinggal.
“Kenapa kau memaksakan diri, coba kau rasakan hasilnya sekarang ? Ucap nenek itu yang tak lain adalah Dewi Kipas.
“Aku terpaksa Dewi ! malu dengan rombongan lain yang berhasil mendesak musuh, sedangkan pasukanku masih saja tertahan oleh perwira dogol itu,” jawab sang kakek yang terbaring diatas tempat tidur, yang tak lain adalah Tongki.
“Perwira itu walau dogol, tapi dia adalah adik seperguruan Mi Kun, tentu saja mempunyai ilmu yang tinggi, tapi menurutku jika kau sabar kau pasti berhasil mengalahkan Mi Chu, tanpa sampai harus berbaring seperti ini,” ucap Dewi Kipas.
Tongki mendengar perkataan Dewi Kipas hanya bisa anggukan kepala.
Percakapan mereka terhenti, setelah mendengar suara ketukan di pintu kamar Tongki.
Tok....Tok....Tok !
Dewi Kipas menatap Tongki setelah mendengar ketukan di pintu kamar.
Tongki anggukan kepala.
Dewi Kipas setelah melihat anggukan kepala Tongki, Dewi Kipas kemudian berteriak.
“Silahkan masuk ! Ucap Dewi Kipas.
Pintu kamar terbuka setelah Dewi kipas mengeluarkan ucapan.
Han Ciu serta Zhain Li Er tampak masuk ke dalam kamar sambil tersenyum.
Melihat siapa yang datang, wajah Dewi Kipas tampak merah, perempuan tua itu kemudian memberi hormat kepada Han Ciu.
“Selamat datang ketua,” ucap Dewi Kipas serta Tongki dari atas tempat tidur.
“Sudahlah, kenapa harus memberi hormat segala,” Han Ciu berkata sambil memberi isyarat tangan agar Dewi Kipas menyudahi penghormatan yang ia lakukan.
__ADS_1
“Bagaimana dengan keadaan paman ? Tanya Han Ciu.
“Masih lemas ketua,” jawab Tongki
“Paman terlalu memaksakan diri,” ucap Han Ciu.
“Kapan kita menyerang kota Shang ketua ? Tanya Tongki.
“Kita pelajari dulu situasi kota Shang, baru kita serang, tapi aku berharap tidak lama lagi kita bisa menguasai kota itu, karena kota Shang menurutku adalah kota penting yang harus kita taklukan, dan paman harus segera lekas sembuh,” lanjut ucapan Han Ciu.
Cis !
“Cuma kehilangan tenaga saja, seperti yang terluka parah,” Seru Zhain Li Er melihat Tongki.
“Memang bagian dalam tidak terluka, tapi tak ada tenaga untuk melakukan kegiatan, makan saja perlu di suapi oleh Dewi Kipas,” Tongki membalas ucapan Zhain Li Er.
Hmm !
“Begitu rupanya, sama sekali tak ada tenaga,” ucap Zhain Li Er sambil tersenyum dan melirik ke arah Dewi Kipas.
“Sudahlah adik Li ! Jangan menggoda paman Tongki, biarkan paman istirahat.
“Paman ! Maaf mengganggu istirahat paman.
“Adik ! Mari kita pergi dan membiarkan paman istirahat,” lanjut perkataan Han Ciu.
Zhain Li Er anggukan kepala sambil tersenyum penuh arti, sedangkan Tongki mendengar perkataan Han Ciu, hatinya sangat senang, jadi ia bisa berduaan dan melanjutkan makan di suapi Dewi kipas.
Han Ciu dan Zhain Li Er, kemudian beranjak dari kursi dan keluar dari kamar.
Zhain Li Er yang berjalan di belakang Han Ciu.
Merogoh saku di bajunya dan mengeluarkan sebuah ular kecil berwarna hitam.
Dengan gerakan yang tak di duga, Zhain Li Er melemparkan ular kecil itu ke arah tempat tidur Tongki.
Kejadian yang begitu cepat dan perhatian Dewi Kipas yang hendak mengambil makanan yang akan di makan Tongki, tidak melihat apa yang di lakukan oleh gadis itu.
Setibanya di luar, Zhain Li Er menghitung dengan antusias
Sepertinya ularku belum menyentuhnya, Sudah sampai hitungan ketiga, jika masih saja tak bergerak, aku kirim ular yang lebih besar,” batin Zhain Li Er.
Setelah menghitung sampai 3, tak lama kemudian terdengar teriakan dari kamar Tongki.
“Ular....ada ular,” teriak Tongki sambil loncat dari tempat ia berbaring, wajahnya pucat saat mengetahui ular kecil itu merayap di kakinya.
Sementara Zhain Li Er yang belum begitu jauh dari kamar Tongki tertawa dalam hati, lalu mendengarkan apa yang akan di katakan oleh kedua orang tua itu.
“Kau....kau menipu aku,” ucap Dewi Kipas dengan wajah kesal.
"Menipu....aku menipu apa Dewi ? Tanya Tongki, tanpa sadar ia sudah berdiri di depan Dewi Kipas.
“Bukankah kau tak ada tenaga, kenapa bisa loncat ? Tanya Dewi Kipas dengan wajah cemberut.
Tongki baru menyadari bahwa ia telah bergerak turun dari tempat tidur, dan tidak bisa menjawab perkataan Dewi Kipas yang wajahnya mulai cemberut karena merasa di permainkan.
“Ular....ular ! Tidak salah lagi, pasti Kerjaan gadis kampret itu,” batin Tongki.
Sementara itu, Zhain Li Er tersenyum sambil berjalan cepat menyusul Han Ciu.
Masih terdengar suara pelan dari mulutnya.
“Dasar kadal tengik”
__ADS_1