Naga Hitam Dan 4 Selir

Naga Hitam Dan 4 Selir
Ch 235 : Siasat Li Cao Bu


__ADS_3

Pintu gerbang utara terbuka, Pedang api menggebrak kuda yang ia tunggangi, di belakang ada 500 pasukan berkuda yang mengikuti.


Perwira bintang timur turun dari kudanya, bersiap menyambut pasukan Jari api.


“Perwira bintang yang menyambut, wajahnya tampak bingung, saat melihat kuda yang di tunggangi, Pedang api yang memakai pakaian berwarna merah serta jubah merah yang di pakai oleh pendekar Jari api.


Semakin kencang.


Pedang berwarna merah, melesat dan menebas perwira yang menyambut


Crash!


Kepala perwira bintang timur langsung jatuh dan menggelinding di tanah terkena tebasan pedang api, kuda Pedang api terus berlari, sementara pedang api lompat ke atas benteng, sambil mengibaskan pedangnya.


Shing....Crash!


Dua prajurit di atas benteng terkejut, melihat 2 orang pemanah tersungkur dengan perut robek terkena sabetan pedang api.


Pedang api lalu mengamuk di atas benteng.


Ratusan penunggang kuda anak buah pedang api yang di pimpin oleh Huang Zilin masuk, sebagian mengamankan gerbang utara agar tetap terbuka, selebihnya bergerak menyerang pasukan bintang timur yang menjaga gerbang utara.


Pasukan bintang timur yang tidak siap, terkejut menerima serangan cepat prajurit yang di pimpin oleh Pedang api.


Setelah melumpuhkan para pemanah di atas gerbang utara, ribuan prajurit berlari, masuk ke dalam kota Shang, di lengan mereka tampak sobekan kain berwarna biru.


Dua prajurit bintang timur yang berseragam sama bertempur di dalam kota Shang, prajurit yang lengannya di beri ikat warna biru terus mendesak.


Li Cao Bu melihat seorang perwira datang sambil berlari, kemudian bertanya.


“Mana pasukan tuan jari api?


“Celaka....Celaka tuan, ternyata mereka bukan pasukan tuan Jari api.” Ucap perwira itu.


Tetapi pasukan musuh yang menyamar memakai seragam prajurit bintang timur.


Mereka sudah masuk dari gerbang utara.


“Lalu mana pasukan tuan Jari api yang di kirim untuk membantu kita? perwira itu tak menjawab, hanya bisa gelengkan kepala mendengar perkataan Li Cao Bu.


Wajah Li Bao Cu tampak berubah, memang gerbang utama belum berhasil di tembus oleh pihak lawan, tetapi jika pasukan musuh menyerang dari utara dengan jumlah besar, gerbang utama kota Shang tak akan bisa di pertahankan lebih lama


Apalagi setelah melihat, satu persatu prajurit Han Ciu berhasil naik benteng.


Pikirannya langsung tertuju kepada harta yang selama ini ia kumpulkan, jika kota Shang jatuh, semua kerja kerasnya akan lenyap.


Setelah memutuskan, akhirnya Li Cao Bu berkata.


“Kau beritahu beberapa perwira, dan si cakar rajawali agar segera menyusul ke rumahku.”


Setelah berkata, Li Cao Bu melesat ke rumahnya, lalu mengumpulkan barang berharga serta uang, ke dalam beberapa peti.


Setelah 5 peti terkumpul, tak lama kemudian beberapa perwira di temani oleh kakek berambut putih masuk ke dalam gedung.


Bagaimana keadaan di luar? Tanya Li Cao Bu.


“Sepertinya kota ini sudah tak bisa di pertahankan tuan,” jawab si cakar rajawali

__ADS_1


“Kau benar! Menurutku pasukan tuan jari api sudah mereka habisi, sebab pakaian yang mereka pakai adalah seragam pasukan bintang timur, dari mana mereka mempunyai banyak seragam bintang timur jika tidak mengambil dari pasukan yang tewas atau tertawan, aku yakin itu milik pasukan tuan Jari api yang sudah mereka habisi.


“Kalian bantu aku membawa peti uang ini, setelah berhasil lolos, aku akan memberi kalian jatah,”


Mendengar perkataan Li Cao Bu, wajah para perwira yang ada di ruangan tampak senang.


Mereka lalu membereskan peti, kemudian menalikan satu persatu peti² itu, supaya bisa mereka panggul.


Cakar Rajawali, orang kepercayaan Li Cao Bu mengawasi pintu depan gedung kediaman Li Cao Bu.


Suara pertempuran terdengar sampai di gedung Li Cao Bu.


Pintu gerbang utama belum terbuka, tetapi anak buah Han Ciu sudah banyak yang naik ke atas benteng, mereka berusaha untuk membuka pintu gerbang utama dari dalam.


Tapi mendapat perlawanan yang sengit dari pasukan bintang timur, karena pusat kekuatan ada di sekitar gerbang utama.


Han Ciu dengan pedang di tangan, menyusuri benteng dan menyerang pasukan panah musuh.


Shing.....Shing!


Tapi Han Ciu dengan jurus 10 langkah naga langit, menghindar.


Tangan kiri mengibas, pedang hampa yang tercipta menyerang ke arah para pemanah pasukan bintang timur.


5 orang pemanah terjungkal terkena pedang hampa yang di keluarkan Han Ciu.


Ketika melihat Zhain Li Er, Ming Mo serta Tongki berada di dekat palang pintu gerbang istana, Han Ciu yakin sebentar lagi mereka akan berhasil membuka pintu.


Tongki bergerak ke arah palang pintu untuk membuka pintu gerbang.


Tapi pasukan bintang timur terus berusaha menjaga palang pintu gerbang mereka.


Tongki menahan tiga pedang yang menyerang kepala, dengan goloknya.


Perlahan kaki kanan Tongki naik lalu ia menghentakan kakinya.


Pedang 3 prajurit bintang timur terpental ke atas.


Kesempatan itu tak di sia² kan oleh Tongki.


Tubuhnya berputar, dan goloknya menebas ke arah perut ketiga prajurit yang menyerangnya.


Sret....Sret....Sret!


Jeritan panjang terdengar dari salah seorang prajurit ketika perutnya sobek, dengan usus keluar, tubuhnya mundur, kemudian jatuh terduduk, matanya mendelik menahan sakit lalu tewas dengan mata melotot, sedangkan kedua kawan yang berada di sisinya sudah lebih dulu tewas.


Sore hari, setelah pasukan Pedang api menyerang dari utara dan terus bergerak ke arah selatan untuk membuka pintu gerbang.


Kota Shang berhasil di taklukan.


Prajurit yang menyerah di tempatkan di penjara kota Shang.


Penduduk kota Shang di beri kebebasan untuk memilih, mau menetap atau meninggalkan kota Shang tidak akan di halangi oleh pasukan Han Ciu.


Pedang api memberi hormat kepada Han Ciu setelah kota Shang takluk.


Han Ciu tersenyum, kemudian berkata.

__ADS_1


“Sudah lah paman, kemenangan ini berkat kejelian paman Pedang api membaca situasi, dari surat yang ku baca, aku sudah yakin, taktik paman akan berhasil.”


“Terima kasih atas kepercayaan ketua,” jawab pedang api, mendengar perkataan ketuanya.


“Tapi aku penasaran, kemana Li Cao Bu menghilang, aku sudah suruh beberapa orang untuk mencari, tapi tetap tidak menemukannya,”


“Ketua tenang saja, kita pasti bisa menemukan Li Cao Bu.” Ucap Tongki.


****


Li Cao Bu serta yang lain bersembunyi di tempat rahasia, setelah membereskan peti harta, Li Cao Bu menunggu kabar yang terjadi.


Setelah sore kota Shan benar² jatuh, Li Cao Bu bersama cakar rajawali keliling di dalam gedung, mengambil pakaian para pelayan.


Setelah terkumpul, mereka kembali ke tempat rahasia.


“Pakaian kalian ganti dengan pakaian yang aku bawa.


Poles wajahmu memakai jelaga dan pakai caping, agar terlihat seperti para petani.


Li Cao Bu bermaksud, keluar bersama harta yang ia bawa menyamar bersama para penduduk yang mengungsi, dan ini adalah kesempatan baik.


Ruang rahasia yang pintu keluarnya ada di sebuah rumah kecil dekat kawasan pintu gerbang kota Shang, memudahkan Li Cao untuk ikut rombongan para pengungsi dengan menyamar jadi tukang sayur.


Ratusan penduduk kota Shang yang tak mau tinggal, dan memilih keluar jumlahnya ratusan.


Diantara puluhan orang, dua orang yang memanggul masing² satu keranjang besar yang berisi sayur.


Sementara satu orang menggendong keranjang kecil yang juga berisi sayuran.


Dua orang yang berpakaian petani, berjalan di belakang ber iringan.


Li Cao Bu tersenyum lebar, ketika rombongannya sudah berhasil keluar dari gerbang.


Dengan harta yang aku bawa, aku bisa bersembunyi di kota kecil, sambil hidup senang dari harta yang aku bawa.


Rombongan para pengungsi bergerak keluar, panjang barisan pengungsi terlihat dari obor yang mereka bawa.


Ketika jalan akan memasuki hutan.


Li Cao Bu menatap ke arah depan, di sebuah pohon besar, tampak 3 orang tengah duduk.


“Perasaan Li Cao Bu mendadak tidak enak, melihat ketiga orang yang tengah duduk di pohon besar itu. apalagi setelah memastikan salah satu orang itu adalah utusan yang pernah ia serang di kediamannya, kakek yang bermata biru.


“Berjalan seperti biasa, jangan sampai membuat curiga,” bisik Li Cao Bu kepada para perwira memanggul keranjang sayur.


Tiga orang yang duduk di pohon besar sambil mengawasi penduduk yang mengungsi adalah, Han Ciu, Iblis Biru serta Tongki.


Saat rombongan Li Cao Bu baru saja melewati pohon itu, hati Li Cao Bu bersorak, karena merasa musuh tidak curiga.


Tapi belum jauh rombongannya dari pohon yang ia lewati, terdengar suara dari atas pohon.


“Muka sirop! Bantu aku pilihkan sayuran yang segar, nanti Dewi kipas aku suruh untuk memasaknya.”


Setelah berkata, Tongki lalu melesat ke arah rombongan Li Cao Bu.


Di ikuti oleh Han Ciu serta Iblis biru.

__ADS_1


Tongki berdiri di hadapan para perwira yang sedang memanggul keranjang sayur, sambil menatap mereka.


“Aku mau beli sayuran”


__ADS_2