
Huang Zilin setelah berhasil menenggelamkan kapal bajak sungai yang berada di tengah segera kembali ke kapal.
Para bajak yang lompat ke sungai mencari orang yang menenggelamkan kapal mereka tak menemukan apa – apa karena Huang Zilin telah kembali, sedangkan para bajak lompat ke dalam sungai menunggu kapal tenggelam sehingga tak berhasil menemukan Huang Zilin yang telah kembali mendekati kapal tempatnya berada.
Tongki langsung bergerak sisi kapal dimana bayangan Huang Zilin yang berada di dalam air terlihat.
Tongki langsung melemparkan tangga yang terbuat dari tali, tapi Huang Zilin lebih memilih untuk lompat ke kapal, daripada naik lewat tangga tali yang di berikan oleh Tongki.
Whuuut....Tap.
Huang Zilin telah berada di atas kapal.
“Kenapa tidak naik lewat tangga tali yang aku sediakan,” Tongki berkata saat melihat Huang Zilin sudah berada di hadapannya.
Cuh !
“Kau pikir aku kakek jompo yang harus di bantu tali hanya untuk naik ke kapal kecil seperti ini,” Tongki diam tak menjawab perkataan si lblis petaruh, Huang Zilin berkata sambil jalan ke arah tempat ia menunda botol pasir waktu yang ia taruh.
Wajah Huang Zilin mengerut melihat botol pasir penunjuk waktu miliknya tak ada di tempat tadi ia menaruh, mata Huang Zilin mencari cari di sekitar tempat ia menaruh botol pasir waktu miliknya di lantai perahu juga tidak ada.
“Eh, kemana pasir waktu miliku yang tadi ku taruh di sini ?” ucap Huang Zilin dengan nada heran dan bertanya tanya.
“Saudara Huang cari apa ?” Tongki bertanya.
“Apa saudara melihat pasir waktu yang tadi aku taruh di sini ?” Huang Zilin balik bertanya.
“Aku memang tadi melihat saudara Huang menaruh botol berisi pasir di sana, tapi aku tak lihat yang selanjutnya, karna ingin melihat bagaimana cara saudara Huang menenggelamkan kapal yang kita jadikan taruhan.” Tongki menjawab pertanyaan Huang Zilin.
Huang Zilin lalu menatap lblis Biru.
“Ming Mo, apa kau tidak melihat botol pasir waktu milikku ?” tanya Huang Zilin kepada Ming Mo.
Iblis Biru diam belum menjawab, tapi ia melihat Tongki yang berada di sebelah Huang Zilin, mengedipkan mata ke arahnya dengan wajah yang patut di kasihani.
Ming Mo gelengkan kepala setelah memutuskan tak tega melihat wajah Tongki.
Melihat Ming Mo gelengkan kepala, wajah Huang Zilin tampak gusar.
“Saudara Huang sudah berhasil menenggelamkan kapal yang tadi kita sepakati, jadi aku kalah taruhan ! Tongki berkata.
“Tapi kita tidak tau apa waktunya sudah benar ?” lanjut perkataan Tongki.
“Sudah....Sudah, pertaruhan ini batal,” ucap Huang Zilin dengan suara kesal mendengar perkataan Tongki.
Sedangkan Tongki yang mendengar perkataan Huang Zilin wajahnya terlihat kecewa, tetapi hatinya sorak gembira.
Perhatian mereka terpecah sewaktu melihat kedua kapal yang berbendera tengkorak mendekati kapal mereka.
Bajak sungai yang berbendera tengkorak memang ciri khas bajak siluman sungai.
Mereka kaget dan marah karna kapal mereka tenggelam, dan mereka tahu orang yang berada di kapal yang mereka hadang yang telah melakukannya.
Han Ciu, Xiao Er serta Zhain Li Er keluar dari ruangan, lalu melihat ke arah 2 kapal yang mendekat.
“Siapa mereka ?” tanya Han Ciu kepada Talaba.
“Sepertinya bajak sungai yang di ceritakan oleh bangsawan Jiang Sun ketua,” ucap Talaba.
“Tuan Huang Zilin sudah menenggelamkan salah satu kapal mereka, sementara 2 kapal lain sepertinya hendak menyerang kita,” Talaba memberi penjelasan.
Han Ciu anggukan kepala mendengar penjelasan dari Talaba.
“Tuan, apa tindakan kita selanjutnya ?” tanya Huang Zilin.
“Kita dengar dulu apa mau mereka, setelah melihat kapal mereka di tenggelamkan.”
Huang Zilin serta yang lain anggukan kepala mendengar perkataan Han Ciu.
Dua kapal mendekat, seorang yang sepertinya pemimpin para bajak, yang bertubuh besar dengan bewok, serta wajah hitam dan bertelanjang dada sambil memegang golok, menatap bengis ke arah Han Ciu serta rombongan.
“Keparat
“Lebih baik kalian menyerah ! jika melawan kalian tak akan bisa sampai di kota tujuan,” teriak pemimpin bajak sungai yang berada di atas kapal.
“Apa kau yang di sebut siluman air ?” Tanya Han Ciu sambil menatap tajam ke arah pria bewok yang tadi bicara.
__ADS_1
“Kalian tak pantas bertemu dengan ketua Siluman air.” Ucap pria Bewok itu.
Cuh !
“Kaum rendahan, tapi sudah banyak bicara.” Huang Zilin berkata begitu mendengar perkataan pria bewok yang berada di atas kapal.
Seraaang !
Teriak pria bewok itu.
Mendengar aba – aba, kedua kapal bajak sungai bergerak mendekati kapal yang di tumpangi Han Ciu.
“Saudara Tong, apa ingin mengulang taruhan kita ?” tanya Huang Zilin.
Mendengar perkataan Huang Zilin, Tongki langsung mengangkat tangan kemudian menggoyangkan kedua tangannya itu.
“Tidak....Tidak, aku tak mau ! urusan ini biar saja, jangan di pakai taruhan.”
“Apa kau takut kalah ?” tanya Huang Zilin.
“Bukannya aku takut kalah, tapi kita harus bisa menempatkan situasi, saat dimana kita bisa santai dan bertaruh atau tidak, dan saat ini adalah bukan tempat yang tepat untuk kita melakukan pertaruhan.” Ucap Tongki dengan suara lantang.
Dewi kipas, Zhain Li Er serta Xiao Er mendengar perkataan Tongki, langsung melirik, mereka sepertinya tak percaya ucapan seperti itu bisa keluar dari mulut kakek yang suka bicara seenaknya.
Huang Zilin yang hendak membalas perkataan Tongki, melihat Han Ciu anggukan kepala akhirnya memilih diam.
Kedua kapal terus mendekat.
“Biar lebih cepat, aku berdua saudara Tong ambil kapal yang berada di kiri, Huang Zilin berkata sambil menatap ke arah pria bewok yang membawa golok besar.
“Yang kanan terserah siapa saja yang mau menghabisi mereka.”
Han Ciu anggukan kepala mendengar perkataan Huang Zilin.
Lalu Han Ciu memerintahkan agar Huang Zilin menangkap pemimpin mereka untuk di tanyai.
Huang Zilin setelah mendengar perintah Han Ciu, bersama Tongki melesat ke arah kiri, kapal yang lebih besar dari yang kanan, di sanalah tempat si pria bewok itu berada.
Iblis Biru bersama Zhain Li Er, melesat ke arah kanan kapal.
Ketika melesat ke arah kapal, Huang Zilin yang bersama Tongki, selalu mengajak Tongki untuk bertaruh, tapi Tongki tetap menolak.
Phuih !
“Bertaruh dengan mu, tidak akan pernah menang, pantas saja kau di sebut lblis petaruh.
“Jika saja botol pasir waktu, tidak ku sentil ke sungai, duit yang baru ku pinjam kembali lagi kepada si pemilik.” Batin Tongki.
Pria bewok yang memegang golok besar melihat 2 orang melesat ke arah kapal mereka, memerintahkan anak buahnya yang memegang busur untuk memanah Tongki serta Huang Zilin.
Shiing....Shiing....Shiing !
Puluhan panah melesat ke arah Tongki serta Huang Zilin, keduanya mengibaskan tangan, panah – panah yang melesat, rontok dan masuk sungai.
Setelah sampai, Huang Zilin yang menginjak pinggiran kapal, lalu menekan kembali kakinya, dan tubuh kakek itu melesat sambil kedua tangan menyambar ke arah kepala anak buah bajak Sungai.
Plak...Plak
Dua orang anak buah kapal langsung terpelanting, keduanya langsung tewas.
Setelah berhasil merobohkan, anak buah kapal.
Huang Zilin bergerak mundur saat pinggangnya akan tertebas pedang milik salah seorang anak buah kapal bajak sungai.
Tongki tak mau kalah dengan Huang Zilin, setelah berhasil menyambar sebuah pedang, Tongki mengamuk di atas kapal bajak sungai dengan pedang hasil rampasannya.
Setiap Tongki bergerak bersama pedang, selalu saja ada yang tewas olehnya.
Sedangkan Huang Zilin di serang oleh Pria bewok yang di bantu oleh anak buahnya, mulai membereskan satu persatu anak buah bajak sungai, golok yang menyambar dari tangan si bewok, dengan mudah di hindari oleh Huang Zilin.
“Keparat, kalau begini caranya bisa habis anak buahku,” ucap si bewok dalam hati, apalagi melihat pedang Tongki yang sekali bergerak pasti berhasil membunuh anak buahnya.
Huang Zilin menunduk saat golok pria bewok itu menyambar ke arah kepala.
Lalu Huang Zilin, meninju perut pria bewok itu.
__ADS_1
Buk !
Dengan sedikit tenaga dalam, pria bewok yang terkena Tinju Huang Zilin terhuyung.
Suara keluhan terdengar dari mulut pria bewok yang tersungkur.
Dua orang melesat sambil menusuk dan menebas leher melihat pemimpin mereka dalam bahaya, tapi dengan tangan kanan dan pukulan badai petir andalan Huang Zilin.
Dua orang anak buahnya yang berusaha membantu pemimpin mereka terpental dan tewas seketika terkena hantaman tangan Huang Zilin.
Huang Zilin lalu menginjak perut pria bewok itu, sambil menatap tajam.
“Lebih baik diam, tak usah banyak bicara,” Huang Zilin berkata.
“Kalau mau bunuh, bunuh saja, tak usah banyak bicara.” Teriak pria bewok itu sambil melotot ke arah Huang Zilin.
Cuh !
Huang Zilin meludahi muka pria bewok itu, dan lebih keras menginjak dada pria bewok itu.
Jangan bunuh dia saudara Huang, teriak Tongki sambil bergerak ke arah Huang Zilin.
Huang Zilin melepaskan injakannya, kemudian menatap Tongki.
“Baik ! Ucap Huang Zilin.
Saat dadanya sudah tak terinjak lagi, pria bewok yang masih memegang golok loncat sambil menyabet pinggang Tongki yang baru saja datang.
Tongki menghindari serangan pria bewok itu dengan berputar, lalu pedang yang berada di tangan Tongki menebas tangan pria bewok itu.
Crash !
Tangan yang masih memegang golok putus dan jatuh ke lantai kapal
Pria bewok setelah berteriak kencang, langsung ambruk tak sadarkan diri.
Phuih !
“Badan saja yang besar, baru putus satu tangan sudah tak sadarkan diri.” Ucap Tongki.
Huang Zilin menotok urat di pangkal tangan pria bewok untuk menghentikan darah yang keluar.
Lalu meraih pria bewok itu dan membawanya ke kapal mereka dan di taruh di hadapan Han Ciu.
Huang Zilin lalu menepak bahu Tongki.
“Saudara Tong, bagaimana jika kita bertaruh ?” Huang Zilin berkata.
Tongki mengerutkan keningnya, mendengar perkataan Huang Zilin.
“Taruhan seperti apa saudara Huang ?” tanya Tongki.
“Dia akan bicara atau tidak jika di tanya oleh ketua,” Huang Zilin berkata.
“Mendengar perkataan Huang Zilin, Tongki tanpa basa basi lagi, langsung berkata.
“Aku pilih dia bicara,” saudara Huang, ucap Tongki
“Dan kali ini aku pasti menang, jika ia tak bicara akan ku siksa dia,” batin Tongki dalam hati
“Baik, kita bertaruh 200 tail perak.” Huang Zilin berkata, yang langsung di jawab oleh anggukan kepala Tongki tanpa ragu.
Tak lama kemudian Iblis Biru datang sambil menenteng seorang pria kurus berpakaian agak mewah yang telah di totok olehnya.
Zhain Li Er yang datang bersama lblis Biru, melihat pria bewok yang tangannya putus dan darah masih menetes dari tangannya, langsung menendang pria bewok itu sambil berkata gusar.
Buk !
“Bikin kotor kapal saja,”
Pria bewok yang masih tak sadarkan diri, langsung melesat dan tercebur ke dalam sungai.
Wajah Tongki langsung berubah melihat kejadian itu, sementara Huang Zilin tersenyum, sambil tangannya di sodorkan ke arah Tongki.
“Mana 200 tail perak”
__ADS_1