
Dua buah bayangan melesat, menuju perguruan api suci.
Di luar benteng perguruan api suci.
Han Ciu bersama Sa Sie Hwa setelah berunding
Di putuskan, Sa Sie Hwa yang memimpin misi penyelamatan ketua Cen dan Pangcu Kai Sek.
Gambar lokasi dan letak rumah dan gedung seperti yang ada di perguruan api suci, sering Sa Sie Hwa lihat seperti gaya rumah bangsawan, dan pejabat istana yang pernah ia curi.
Sa Sie Hwa adalah Walet terbang.
Dunia persilatan menjuluki pencuri ulung yang di takuti oleh bangsawan, saudagar dan pedagang kaya raya, "Walet terbang" gerakannya cepat, seperti mengatahui arah jalan dan lokasi tempat ia ber operasi, karna sebelum walet terbang ber operasi, selama dua hari, seorang gadis cantik berjalan mengamati rumah yang akan di incar lalu di curi harta dan barang berharga yang bisa di bawa.
Tapi kali ini dengan waktu sehari Sa Sie Hwa mempelajari peta letak perguruan api suci,
rumah serta gedung yang ada di dalamnya.
Sa Sie Hwa, memutuskan melalui arah selatan, banyak pohon besar dekat benteng perguruan api suci.
Han Ciu melesat mengikuti Sa Sie Hwa, setiap tempat yang di injak Sa Sie Hwa, pasti di situ kaki Han Ciu berpijak.
Sa Sie Hwa, melesat ke arah gudang perbekalan perguruan api suci.
Perlahan gadis itu, melihat ada dua penjaga malam lewat sambil membawa pelita.
Sa Sie Hwa memberi isyarat memutar kepada Han Ciu.
Han Ciu terus mengikuti gadis itu, sambil mengawasi disekitar tempat mereka, jika ada penyerang atau pembokong, Han Ciu yang akan menghabisinya.
Han Ciu bertugas melindungi keselamatan Sa Sie Hwa.
Setelah belok dan memutar sesuai yang sudah di tandai dalam peta, dari belakang sebuah gudang rumput buat kuda, perlahan Sa Sie Hwa melihat ke arah rumah tak terlalu besar yang di terangi oleh beberapa pelita tergantung di sudut rumah.
Hmm !
Memang terlihat sepi, tapi pelita di berbagai sudut membuat Sa Sie Hwa curiga, Siapapun yang datang pasti akan terlihat karna suasana tempat yang terang.
Sa Sie Hwa berbisik, "kakak Han Lindungi aku, jika aku mendekati rumah lalu ada yang mengikuti, sikat saja !" setelah situasi aman kakak Han langsung menyusul," Han Ciu mengangguk mendengar perkataan Sa Sie Hwa.
Sa Sie Hwa setelah mengangguk kepada Han Ciu, melesat melewati bagian samping rumah yang terdapat sebuah jendela.
Han Ciu menyentilkan kedua tangan mengeluarkan 2 pedang hampa dalam bentuk kecil, melesat ke arah 2 anak panah yang mengarah tubuh Sa Sie Hwa yang sedang melesat.
Trak .. Trak
Anak panah langsung jatuh ke tanah dalam keadaan patah dua.
Lalu Han Ciu menyentilkan tangannya kembali ke arah pelita yang tergantung di sudut rumah.
Shing .. shing .. traak.
kedua pelita yang berada di sudut rumah, langsung padam terkena hantaman pedang hampa Han Ciu.
Setelah pelita padam dua orang yang membawa busur melesat kearah Sa Sie Hwa, dari pintu depan keluar lagi dua orang dengan pedang di punggung.
Han Ciu Melesat dengan Langkah raja angin.
Tongkat bambu hitam sebesar ibu jari yang di sertai sinar perak melesat, menebas murid perguruan api suci yang mengejar Sa Sie Hwa.
Craaash !
Setelah berhasil menyabet punggung musuhnya dari belakang, Han Ciu terus memburu yang berada di depan.
Murid perguruan api suci yang berada di depan terkejut melihat bambu hitam yang di sertai sinar perak dari Jiwa pedang, menebas pinggangnya.
Craash !
Tak ada suara kesakitan, ketika pinggang anak murid perguruan api suci putus oleh tongkat bambu hitam Han Ciu.
Keduanya ambruk ke tanah, dan diam untuk selamanya.
Han Ciu terus memburu dua penjaga yang membawa busur.
Han Ciu melihat Sa Sie Hwa tengah bertarung melawan murid perguruan api suci, lalu mengibaskan tangan, 2 pedang hampa melesat ke arah salah seorang pembawa busur.
Shiing .. Zleeeb !
Pedang hampa yang mengarah kepala bisa di hindari, tapi yang ke arah dada menghantam telak dan tembus hingga punggung.
Satu orang murid perguruan api suci tak ada artinya buat Sa Sie Hwa, setelah Han Ciu sampai, gadis itu sudah berhasil menebas leher penjaga yang membawa busur.
"Kakak, mari kita masuk."
Han Ciu mengangguk mendengar perkataan Sa Sie Hwa.
Sa Sie Hwa mencongkel jendela dengan pedang pendek yang ia bawa.
Traak.
Jendela terbuka, perlahan Sa Sie Hwa membuka jendela lalu masuk dan siap sedia.
"Aneh, kenapa tempat ini sepi ?"
Xiao Ti dan Mao San baru saja meninggalkan rumah tempat tawanan, setelah memeriksa dan melihat Ketua Cen lemas, begitu juga dengan yang lain, mereka berdua tersenyum, racun pelemas tulang penyumbat tenaga memang hebat, ketua perguruan sekelas Xiao Cen tak berdaya oleh racun itu.
Xiao Ti tidak memberi penjagaan Khusus.
Karna penghianat itu sangat yakin gembok baja emas susah untuk di hancurkan, begitu juga dengan jeruji yang terbuat dari bahan yang sama.
Setelah acara pengangkatan ketua perguruan yang di ketuai oleh Xiao Ti selesai, mereka akan datang kembali dan membunuh Xiao Cen beserta tawanan yang lain.
Perlahan Sa Sie Hwa membuka perlahan pintu kamar sambil melihat keadaan di luar.
Dua penjaga berada di ruangan tengah, duduk sambil minum arak.
Mereka sedang menanti teman yang keluar memeriksa, ketika melihat bayangan Sa Sie Hwa menerobos.
__ADS_1
Sa Sie Hwa mengangguk kepada Han Ciu, kemudian membuka pintu kamar.
Han Ciu menyentilkan pedang hampa, sedangkan Sa Sie Hwa melesatkan pecahan perak yang menjadi senjata andalannya selama ini.
Sreeet !
Dua orang langsung terkapar, leher mereka tertembus oleh senjata rahasia Sa Sie Hwa, serta pedang hampa Han Ciu.
Setelah berhasil mengatasi penjaga dan memeriksa kamar kamar, Han Ciu menyembunyikan penjaga penjaga yang tewas, sedangkan Sa Sie Hwa mencari jalan ke tempat ketua Cen di tawan.
Dinding di ketuk, begitu pula dengan lantai, mencari jalan rahasia.
"Bagaimana, apa sudah ketemu ?
"Kita tidak mempunyai banyak waktu, sebentar lagi ayam berkokok, banyak orang lewat.
Sa Sie Hwa tersenyum melihat lemari besar berada di dinding rumah.
Kakak Han, geser lemari ini.
Han Ciu menekan perlahan, lemari besar bergeser, lalu terilhat seperti dua buah pintu.
Sa Sie Hwa membuka pintu lalu terlihat jalan seperti terowongan di dinding batu ada obor tergantung, yang memang sengaja di persiapkan oleh orang yang akan ke masuk ke ruangan bawah tanah.
Sa Sie Hwa menyalakan obor, Han ciu lalu menutup pintu terowongan.
Keduanya lalu berjalan, semakin lama terowongan semakin besar, setelah sedikit berbelok dan melumpuhkan tiga orang penjaga, di pintu masuk ruangan.
Han Ciu melihat ruangan lumayan besar dengan dinding ruangan di jadikan tempat para tahanan.
Di dalam ruangan masih terdapat beberapa pintu tawanan yang tertutup rapat, hanya sepasang mata saja yang dapat melihat, siapa yang berada di dalam penjara.
Tapi Han Ciu tertarik kepada pria muda yang berwajah hitam, Hek kay tengah duduk sambil menundukan wajahnya yang hitam, dibalik jeruji besi.
"Apa dia terkena racun pelemas tulang penyumbat tenaga milik Han Ci Kung ?" ucap Han Ciu dalam hati.
Han Ciu lalu menyuruh Sa Sie Hwa untuk membuka gembok pintu tempat Hek kay di tawan.
Sa Sie Hwa menerima warisan berbagai kunci untuk membuka bermacam kotak rahasia yang terkunci dan gembok khusus dari maling sakti.
Sa Sie Hwa lalu mencari kunci yang pas dan bisa membuka gembok yang terbuat dari baja emas.
Klik !
Gembok terbuka, Sa Sie Hwa masuk lalu menggoyangkan tubuh Hek kay.
"Tuan ..tuan !"
Han Ciu tersenyum menunggu di ruangan depan penjara, sambil duduk dan minum arak yang ada di meja bekas penjaga yang tewas.
Hek kay mengangkat wajah kemudian melihat seorang gadis cantik berada di depan, matanya mengedip beberapa kali.
"Rupanya ada bidadari yang menjemput jika orang baik seperti aku mati." ucap Hek Kay.
Plaaak !
"Sekali kali kau bicara sambil bercermin."
Hek Kay meringis, sambil mengusap pipi yang di tampar oleh Sa Sie Hwa.
"Kau bisa berjalan keluar ?" tanya Sa Sie Hwa sambil melotot.
Hek Kay mengangguk, lalu perlahan lahan melangkah keluar dari penjara tempat ia di tawan.
Sesampainya di luar, Hek kay baru sadar ketika melihat seorang pemuda tampan duduk sambil minum arak.
"Tunggu dulu .. Tunggu sebentar," Hek kay kemudian teriak kencang, "aku ingat sekarang."
"Mukaa mesum ternyata kau masih hidup !"
Han ciu mendengar suara langkah perlahan ke arah pintu sel tahanan, ketika Hek kay teriak kencang.
"Siapa yang berada di luar !" Hek Kay, kau bicara dengan siapa ?"
"Ketua Cen, si muka mesum masih hidup.
"Muka mesum ?" ucap ketua Cen.
"Han ciu datang untuk membebaskan paman serta sahabat sahabat yang di tawan." Han Ciu berkata
Hmm !
"Rupanya kau ingin ku tampar untuk yang kedua kali, ucap Sa Sie Hwa sambil melotot ke arah Hek kay.
"Kakak Han .. kakak Han.
"Tolong selamatkan kami"
Suara Xiao er dari balik pintu sel tahanan.
Sa Sie Hwa, kemudian membuka satu persatu pintu penjara, Han Ciu sudah menyuruh Sa Sie Hwa untuk membuka pintu sel Xiao er tapi Sa Sie Hwa tak menggubris permintaan Han Ciu.
Xiao er, yang terakhir di bebaskan. Han Ciu lalu membantu Xiao er jalan dan duduk di kursi yang berada di ruangan.
"Cengcu, syukurlah ternyata Cengcu masih hidup."
Han Ciu hanya tersenyum mendengar perkataan Xiao Cen.
"Oh, Jadi ini Cengcu baru perkampungan selaksa pedang, Naga Hitam !"
"Benar Pangcu, anak muda ini Cengcu yang menggantikan pedang langit." Xiao Cen menjawab perkataan Kai Sek.
Setelah mendapat informasi dari saudara pengemis Tongkat hitam, Han Ciu langsung ke kota Sanchuan, lalu mencari informasi di mana ketua Cen serta kawan lainnya di tawan.
Besok adalah hari pengangkatan Xiao Ti sebagai ketua perguruan api suci, ketua Cen harus menggagalkan pengangkatan itu.", ucap Han Ciu sambil menatap tajam ke arah ketua Cen.
Wajah Xiao Cen tampak sedih, Aku tak berdaya Cengcu.
__ADS_1
"Hampir aku lupa ?!"
Han Ciu lalu mengeluarkan botol kecil, obat penawar racun pelemas tulang penyumbat tenaga yang di berikan oleh Racun Cilik.
Wajah Xiao Cen, Pangcu perkumpulan pengemis tongkat hitam dan yang lain sangat senang, mendengar Han ciu membawa obat penawar racun, apalagi setelah tahu yang memberikan penawarnya adalah murid dari Racun langit.
Tanpa ragu mereka langsung menelan pil pemberian Han Ciu.
Ketua Cen beserta tawanan lain merasakan pergolakan di perut mereka setelah menelan pil pemberian Han Ciu.
Mereka lalu bersila menahan gejolak yang terjadi di perut mereka.
Han Ciu yang sesekali melirik Xiao Er.
Sa Sie Hwa mendengus sambil menyikut pinggang Han Ciu, ketika melihat mata pemuda itu sering curi pandang dengan Xiao er.
"Jika kau macam macam ingin tambah selir, Akan kusuruh adik Zee untuk meracun calon selirmu yang baru."
"Sudah diam ! aku tak akan tambah selir lagi," ucap Han Ciu pelan sambil cemberut.
kita harus menunggu sampai pagi hari, jika racun benar benar bersih dan tenaga dalam Ketua Cen dan yang lain kembali seperti semula, dan kita harus menjaga mereka semua, jika sampai tarap pemulihan kosentrasi mereka terganggu, akan berbahaya bagi jiwa mereka.
Han Ciu dan Sa Sie Hwa lalu berjaga di pintu masuk ruang tempat tahanan, tak terlihat oleh mereka yang sedang membersihkan sisa sisa racun.
Han Ciu duduk bersama Sa Sie Hwa, gadis itu sesekali mulai melirik Han ciu.
Perlahan tangan Sa Sie Hwa merayap ke arah tangan Han ciu.
Han Ciu tersenyum, sambil membalas gengaman tangan Sa Sie Hwa, keduanya lalu saling tatap.
"Apa maksud kak Han, kita akan pesta bersama dikota Nan ?" ucap Sa sie Hwa, sambill matanya menatap Han Ciu, tangan Sa Sie Hwa mulai merayap di dada Han Ciu, Sa Sie Hwa duduk berdekatan dengan Han Ciu, mereka saling pandang.
"Jika adik Sa setuju serta mau, menjadi selir bersama dengan Li Er serta Racun cilik.
Semua bersatu, tanpa ada yang saling curiga, persoalan di pikirkan bersama."
"Tunggu dulu !"
Enci Ahn nio, aku ingin dia menjadi orang yang di tuakan diantara kami yang mudah emosi.
Han Ciu menghela napas, lalu memegang bahu Sa Sie Hwa.
"Itu terserah Ahn nio."
Han Ciu, gadis pertama yang ia lihat dan membuat ia terkesan adalah Ahn Nio ketika di perahu si gendut.
"Jika kalian setuju, kita bersama sama bersumpah menyembah Bumi dan Langit di kota Nan, meresmikan hubungan kita.
"Jadi itu maksud kak Han ?"
Han Ciu mengangguk.
"Aku Setuju, ucap Sa Sie Hwa sambil menatap pemuda yang ia cintai.
Sa Sie Hwa, adalah gadis keturunan bangsawan, gayanya yang lemah lembut mempunyai daya tarik tersendiri bagi Han Ciu.
Han Ciu tersenyum nakal.
"Adik Sa, masih ada waktu sebelum mereka bisa, pulih kembali, Han Ciu berbisik.
"Lalu ?" ucap Sa Sie Hwa sambil tersenyum manja.
"Kita ke atas, ucap Han Ciu sambil menarik Sa Sie Hwa ke awal tempat mereka masuk, di tempat yang pas untuk mereka berdua, Sa Sie Hwa dan Han ciu melepaskan kerinduan mereka selama ini.
Han Ciu mencium kening Sa Sie Hwa, dan di balas oleh gadis itu, semakin lama keduanya semakin berani, kedua tangan saling raba di tempat yang membuat Sa Sie Hwa, semakin erat memeluk kekasihnya, Sa Sie Hwa pasrah dalam pelukan Han Ciu.
Waktu cepat berlalu, tak terasa menurut perhitungan walau tak melihat cahaya dari luar, hari sudah pagi menurut perkiraan Han Ciu.
Sa Sie Hwa sangat bahagia, gadis itu mencium kening Han Ciu, Han Ciu juga membalas dengan mencium kening Sa Sie Hwa.
"Mari kita ketempat ketua Cen !"
"Sebentar aku rapihkan baju dulu," ucap Sa Sie Hwa. sambil bibirnya tersenyum penuh arti pada Han Ciu.
Setelah rapi, keduanya lalu pergi ke tempat ketua Cen dan yang lain memulihkan tenaga dalam dan mengusir hawa racun yang masih berada di dalam tubuh.
Ketika Han Ciu dan Sa Sie Hwa datang, ketua Cen berdiri terlebih dahulu, tak lama kemudian satu persatu yang lain menyusul.
"Bagaimana ketua Cen ?"
Setengah tenaga dalam sudah kembali, kalau hanya untuk menghentikan pengangkatan Xiao Ti, aku rasa masih bisa
"Baik jika ketua sudah merasa baikan, pulihkan saja tenaga dalam sambil berjalan, biar kami yang menghadapi Xiao Ti dan Mao San."
Ketua Cen mengangguk mendengar perkataan Han Ciu.
"Mari kita keluar."
Han Ciu lalu memimpin keluar dari ruang bawah tanah.
Xiao er menatap sambil cemberut melihat Han Ciu yang seperti tak peduli terhadapnya.
Satu persatu keluar, dari ruang bawah tanah.
Cahaya matahari pagi terlihat masuk dari sela sela pintu rumah dan jendela.
Han ciu membuka pintu dan bergerak keluar.
Baru beberapa langkah, Han Ciu tertegun melihat di depan rumah, sudah ada sekitar 30 orang dari perguruan api suci berdiri di pimpin oleh dua orang kakek berwajah bengis yang satu berpakaian hitam dan yang satu berpakaian putih.
Siluman Hitam dan putih.
Mereka adalah anak buah, sekaligus pengawal setia Mao San.
Siluman Hitam bertanya, sambil menatap tajam ke arah Han ciu.
"Mau kemana kalian ?"
__ADS_1