
Han Ciu langsung menggendong Xiao Er menuju ke arah gedung utama perguruan selaksa racun.
Saat hendak masuk ke dalam gedung Han Ciu berbalik, kemudian memberi perintah kepada Talaba serta yang lain untuk memeriksa seluruh markas perguruan Selaksa Racun.
Menurut informasi dari tawanan yang menyerah, orang penting yang tersisa di perguruan Selaksa Racun hanya kelima Racun asuhan Han Cikung, sedangkan yang lain sudah bergabung dengan Xiang Yu.
Tapi Han Ciu tak percaya begitu saja, hingga menyuruh anak buahnya untuk memeriksa markas Selaksa Racun.
Talaba, Tongki, Dewi Kipas serta Zhain Li Er mendengar perintah Han Ciu langsung bergerak menyebar, sedangkan lblis Biru telah lebih dulu ke dalam gedung untuk mencabut jarum rambut, milik Racun Kuning yang menembus di bawah perut Iblis Biru.
Setelah mereka berpencar, Han Ciu bergegas masuk ke dalam gedung.
Han Ciu mencari kamar untuk mengobati Xiao Er.
Di dalam kamar.
Melihat titik di baju bagian dada berwarna biru, pemuda itu langsung membuka baju Xiao Er.
Di payudaraa Xiao Er ada bintik warna biru, tapi racun tak menyebar, tapi hanya berkumpul di dekat lubang jarum.
Han Ciu tanpa ragu langsung menempelkan bibirnya ke dada, kemudian menyedot dengan mulut sambil mengerahkan tenaga dalam.
Terdengar suara keluhan dari mulut Xiao Er, tapi mata Xiao Er masih terpejam.
Han Ciu terus menyedot.
Xiao Er membuka mata, melihat kepala sang suami ada di atas dadanya, Xiao Er memejamkan matanya kembali, tetapi di bibirnya kini ada sebuah senyuman.
Han Ciu mengeluarkan sedikit darah dari mulutnya, darah berwarna biru yang ada di kulit dada Xiao Er yang berhasil ia sedot.
“Cepat sekali jarum rambut milik racun kuning, jarum itu bergerak mengikuti darah, setelah sampai jantung, jangan harap orang yang terkena jarum rambut akan selamat,” batin Han Ciu dalam hati.
Han Ciu lalu menempelkan mulutnya ke dada Xiao Er dan mulai menyedot kembali.
Sut !
Wajah Han Ciu tampak lega, beberapa tetes keringat dari wajah Han Ciu jatuh ke dada Xiao Er.
Han Ciu kemudian mengambil jarum rambut dari mulutnya.
“Senjata rahasia yang sangat keji,” batin Han Ciu sambil melihat jarum rambut.
“Kenapa adik Xiao Er belum sadar juga,” Han Ciu bertanya tanya dalam hati, sambil melirik ke arah wajah istrinya.
Han Ciu terus memperhatikan wajah istrinya, ketika pelupuk mata Xiao Er tampak bergerak gerak, Han Ciu tersenyum.
“Rupanya sudah sadar, adik Xiao rupanya sedang menggodaku,” batin Han Ciu.
“Aku akan balik menggodanya,” pikir Han Ciu sambil tersenyum
Hmm !
Han Ciu menarik nafas dalam – dalam.
“Adik Xiao, rupanya racun jarum rambut itu sangat keji dan bisa merusak saraf, aku akan menyuruh Dewi Kipas untuk mengantar ke telaga barat agar adik Xiao bisa di obati oleh adik Zee.
Setelah selesai berbicara sendiri, lalu Han Ciu pura – pura hendak meninggalkan kamar, tapi dari belakang tiba – tiba kedua tangan melingkar di pinggang Han Ciu dada yang masih terbuka mendekap hangat punggung Han Ciu.
“Kakak Han ! kenapa buru – buru, bukankah sedang tidak ada siapapun disini, jadi kita berdua bisa santai sejenak,” bisik Xiao Er di telinga suaminya.
Hmm !
__ADS_1
“Cepat sekali adik Xiao sadarkan diri ? Tanya Han Ciu sambil berbalik lalu menatap istri yang belum lama di nikahinya sambil tersenyum.
Tanpa menjawab pertanyaan suaminya, Xiao Er kemudian mencium bibir sang suami sambil memeluk erat.
Han Ciu jadi terbawa suasana, lalu membalas ciuman sang istri, kemudian keduanya larut dalam kemesraan dan bercumbu di dalam kamar, satu persatu pakaian mereka di lepaskan, suara dengusan nafas manja dari mulut Xiao Er terdengar sangat menggoda gairah Han Ciu.
Sementara itu di luar gedung.
Talaba, Dewi kipas bersama Zhain Li Er serta Tongki keliling markas perguruan Selaksa Racun, untuk mencari sisa – sisa anak buah perguruan Selaksa Racun.
Talaba mengerutkan kening melihat Fang Ji berlari ke arahnya.
Hmm !
“Kemana saja binatang ini ? baru terlihat setelah pertempuran selesai, apa ia takut terhadap binatang peliharaan Racun Hijau,” pikir Talaba dalam hati.
Fang Ji setelah dekat dengan Talaba, lalu menggeram dan mengelus elus kaki Talaba dengan lehernya, kemudian Fang Ji berlari ke arah sebuah rumah kecil.
Hmm !
“Agaknya binatang itu menemukan sesuatu,” batin Talaba sambil mengikuti di belakang Fang Ji.
Talaba membuka pintu rumah ketika sebelah kaki Fang Ji menggaruk ke pintu rumah itu.
Talaba masuk ke dalam rumah, tapi Talaba tidak melihat satu keanehan dari rumah tersebut.
Fang Ji yang ikut masuk, kemudian langsung lari ke sebuah kamar.
Talaba terus mengikuti kemana arah Fang Ji pergi.
“Rupanya ada yang aneh dengan tempat tidur ini,” batin Talaba setelah melihat Fang Ji seperti mengaruk garuk di dekat tempat tidur.
Talaba kemudian menggeser tempat tidur, di bawah tempat tidur tersebut tampak lantai yang terbuat dari kayu.
Talaba sebelum membuka papan, terlebih dahulu menempelkan telinganya ke arah papan lantai yang terbuat dari kayu, wajahnya berubah saat mendengar suara napas pelan di bawah papan lantai tersebut.
Talaba perlahan mencabut pedangnya, kemudian mendongkel papan.
Kreek....krek !
Suara papan lantai yang di dongkel terdengar.
Shing....Shing....Shing !
Setelah papan terbuka, puluhan Jarum melesat dari arah bawah.
Talaba yang sudah bersiap, menyimpan pedangnya kembali.
Lalu mengambil busur serta anak panah.
Talaba sambil memegang busur, kemudian lompat melewati lubang rahasia sambil melesatkan sebatang panah.
Shing....Crep !
Panah melesat dan menancap di kepala orang yang tadi melempar jarum.
Talaba mendengar suara langkah kaki menjauh kemudian memeriksa lubang rahasia.
“Fang Ji ! Panggil kawan yang lain,” ucap Talaba sambil mengelus kepala binatang itu.
Fang Ji seperti mengerti dengan maksud Talaba, serigala itu langsung lari keluar.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Dewi Kipas, Zhain Li Er serta Tongki sampai di rumah yang terdapat jalan rahasia.
“Apa yang kau temukan Talaba ?” tanya Tongki.
“Sepertinya ada jalan rahasia di bawah sini paman,” Talaba menjawab pertanyaan Tongki.
Tongki setelah mendengar perkataan Talaba, kemudian turun ke dalam lubang.
Sebuah jalan rahasia yang gelap dengan tangga batu yang licin.
Tongki memberi tanda bahwa di bawah sudah aman.
Setelah mendapat isyarat dari Tongki, satu persatu masuk mereka masuk ke dalam.
Tongki mengambil obor yang terdapat di dinding batu, kemudian menyalakan obor tersebut.
Tongki sambil membawa obor terus mengikuti tangga setelah sampai di dasar, ternyata di bawah terdapat beberapa ruangan serta pintu.
“Nyalakan semua obor yang berada di ruangan ini,” bisik Tongki perlahan kepada Talaba, setelah melihat ada beberapa obor tergantung di dinding batu.
Setelah menyalakan obor yang ada, baru terlihat jelas ruangan bawah tanah tersebut.
“Hati – hati dengan jebakan alat rahasia,” ucap Tongki.
Ketiga pintu yang berada di ruangan tersebut satu persatu di buka, 2 buah pintu adalah pintu kamar dan sebuah ruangan seperti tempat berkumpul, sedangkan satu buah pintu yang lain, terdapat lorong gelap yang sangat panjang.
“Talaba ! Periksa kedua ruangan itu, kami berjaga jaga di sini, untuk mengantisipasi bila ada penyergapan,” ucap Tongki.
Talaba mendengar arahan Tongki, kemudian memeriksa kedua kamar, sementara Tongki coba berjalan ke arah lorong gelap.
Talaba melihat kertas berserakan di salah satu kamar.
“Sepertinya seseorang mengacak acak tempat ini untuk mencari sesuatu,” batin Talaba.
Saat matanya melihat ke arah meja, di meja tersebut tampak sebuah lembaran kulit tipis.
Talaba mengambil lembaran kulit tersebut, lalu membuka dan mendekatkan obor ke arah lembaran kulit.
Dari lembaran kulit tersebut tampak gambar serta garis – garis yang saling terkait.
Karna tidak mengerti, Talaba kemudian membawa lembaran kulit tersebut dan memberikan kepada Zhain Li Er.
Tapi Zhain Li Er juga tidak mengerti setelah membuka lembaran kulit tersebut, hanya garis – garis dengan nama kota yang ada di lembaran kulit tersebut.
Dewi kipas matanya terus menatap ke arah lembaran kulit tersebut.
Saat melihat nama – nama kota serta garis yang saling terhubung, akhirnya Dewi kipas mengerti arti dari gambar yang terlihat di lembaran kulit tersebut.
“Nyonya ! Mari kita ke atas, kita harus lapor kepada ketua,” ucap Dewi kipas.
Mendengar perkataan Dewi kipas, Zhain Li Er bertanya.
“Apa ada sangkut pautnya dengan lembaran kulit ini bibi ?” tanya Zhain Li Er.
Mendengar ucapan Zhain Li Er.
Dewi kipas anggukan kepala, lalu menjawab
“Jika tebakanku tak salah, lembaran kulit ini adalah peta gerakan pasukan Xiang Yu,”
“Jika kita bisa mempelajari petunjuk yang ada di peta ini, kita bisa tahu kemana tujuan serangan pasukan Han Ciu.”
__ADS_1
Mendengar ucapan Dewi Kipas, Zhain Li Er kemudian mengajak mereka untuk naik ke atas, memberi laporan kepada Han Ciu.
“Mari kita ke atas, kakak Han Pasti sedang sibuk mengobati Xiao Er,”