Naga Hitam Dan 4 Selir

Naga Hitam Dan 4 Selir
Ch 260 : Derita seorang pengantin


__ADS_3

Acara pernikahan, yang berlangsung sederhana dan di hadiri saudara dan sahabat terdekat di gelar di sebuah ruangan yang tidak terlalu besar.


Tetapi telah di hias oleh anggota perguruan Selaksa pedang.


Sang adik, Pedang api yang memimpin menghias ruangan, tempat Tongki dan Dewi kipas melakukan upacara pernikahan.


Dewi Kipas berpakaian merah, dengan penutup wajah dengan hiasan rumbai² yang juga berwarna merah di depan wajah.


Iblis biru dan Huang Zilin yang mendampingi Tongki.


Iblis biru berbisik kepada Tongki setelah melihat Dewi kipas yang wajahnya tertutup rumbai².


“Kadal tua, coba kau lihat! Apa yang berpakaian merah itu calon istrimu dewi kipas? Tanya Iblis biru.


Mendengar perkataan sahabatnya, Tongki menoleh, dahinya berkerut sambil menatap Iblis biru.


“Muka sirop kau sehat? Tanya Tongki sambil menatap heran.


“Tentu saja itu calon istriku! Apa kau tidak lihat, ia memakai pakaian pengantin? Tongki balik bertanya.


“Memang benar memakai pakaian pengantin! Tetapi wajahnya kan tidak terlihat,” ucap Iblis biru.


“Siapa tahu itu pelayan di gedung ini,” lanjut ucapan Iblis biru.


“Ah! Kau jangan ngaco,” Tongki berkata.


“Kau lihat siapa pendamping pengantin perempuan? Tanya Iblis biru.


“Si gadis kampret.”


“Kau pasti tahu siapa anak buah ketua yang paling ia benci? Iblis biru lanjut berkata.


Jakun di leher Tongki tampak turun naik, mendengar perkataan Iblis biru.


Apalagi saat ini Zhain Li Er tengah menatap tajam ke arah Tongki.


Zhain Li Er memang sedang kesal, melihat Tongki bersama kedua pendampingnya tidak juga mendekat, malah berbisik bisik.


“Pelayan juga tidak apa², asal masih muda,” Huang Zilin ikut bicara.


“Tapi percuma dapet yang muda, tidak akan kuat,” Huang Zilin lanjut bicara.


“Apa kau bilang, Kau pikir aku lemah?


“Aku memang tua, tapi tidak akan kalah dengan yang muda,” Tongki berkata kepada Huang Zilin.


“Bukan itu saudara Tong! Maksud ku yang muda tidak kuat, melihat kau seperti ini,” Huang Zilin berkata sambil tersenyum lebar.


Phuih!


“Kau sama saja dengan si muka sirop,” ucap Tongki sambil mendengus.


Wajah Tongki pucat, ketika telinganya mendengar suara jarak jauh.


“Kadal tengik, kau mau mendekat atau tidak? Jangan sampai ku acak – acak nanti acara pernikahan ini, di tunggu dari tadi hanya ngobrol saja bertiga.”


Tongki menoleh ke kiri dan ke kanan, setelah melihat, mata Zhain Li Er tengah menatapnya dengan bengis dan tampak bibirnya bergerak pelan.


Tongki langsung menarik Iblis biru serta Huang Zilin jalan mendekati pengantin wanita yang sudah berdiri di depan altar pernikahan.


Di pimpin oleh seorang biksu.


Tongki dan Dewi kipas menjalani proses pernikahan.


Beng San berdiri di pihak Dewi Kipas sementara, Han Ciu sebagai ketua mewakili Tongki.


Setelah memberi hormat kepada langit dan bumi.


Memberi hormat kembali kepada leluhur


Dan perwakilan masing – masing pengantin, kemudian kepada kerabat dan para tamu.


Akhirnya Tongki dan Dewi kipas menjadi sepasang suami istri yang sah.


Para tamu dan kerabat yang menyaksikan, memberi selamat kepada kedua mempelai.


Setelah selesai memberi selamat, makanan dan arak di hidangkan, sebuah pesta kecil di adakan untuk memeriahkan acara pernikahan.


Tamu dan kerabat minum dan tertawa gembira.

__ADS_1


Sambil minum bersama Dewi Kipas, Tongki terus memperhatikan ke arah Sa Sie Hwa.


“Kenapa kalian tidak bilang kalau ada hubungan? Ucap Beng San ketika mereka minum bersama, Tongki, Dewi Kipas, Liu Bang, Han Ciu serta istri2 Han Ciu.


“Kami ingin memberitahu kak Beng San, tetapi takut mengganggu.”


“Sudahlah! Sekarang kan sudah menikah, jadi masa depan yang harus di bicarakan, ucap Liu Bang sambil tersenyum.


Beng San anggukan kepala mendengar perkataan Liu Bang.


“Dewi! Sekarang langkah apa yang akan Dewi ambil? Tanya Beng San.


“Kakak! Sekarang adik telah bersuami, apapun yang di katakan oleh suami, adik akan selalu menurut,” jawab Dewi Kipas.


“Saudara Tong! Apa langkah selanjutnya yang akan saudara Tongki pilih? Jika ingin bersama kami, kami akan selalu menerima kalian berdua,” ucap Liu Bang.


“Untuk sementara aku pribadi belum berpikir ke arah sana Yang Mulia, masih tetap ingin mengabdi terhadap ketua Han,” ucap Tongki.


Liu Bang serta Beng San anggukan, mereka memuji kepimpinan Han Ciu, karena selaksa pedang hampir rata² anak buahnya setia.


“Kakak hargai keputusan adik! Jika ingin ikut dengan suami, kakak hanya bisa mendoakan adik supaya berbahagia bersama saudara Tongki,” ucap Beng San dengan besar hati.


Mata Dewi Kipas berkaca kaca, kemudian merangkapkan kedua telapak tangannya di dada, membungkuk memberi hormat kepada sang Kakak.


Beng San anggukan kepala melihat penghormatan sang adik, Beng San merasa terharu.


Liu Bang berkata kepada Han Ciu untuk menghilangkan rasa sedih di acara pernikahan Tongki dan Dewi kipas.


“Ponakan Han, bagaimana dengan persiapan keberangkatan ke telaga barat?


“Semua sudah siap paman, kalau tidak ada acara pernikahan paman Tongki dan bibi Dewi kipas, pagi – pagi kami sudah berangkat,” jawab Han Ciu.


Liu Bang anggukan kepala mendengar perkataan Han Ciu.


Tongki yang tak ada kawan bicara, bergerak ke arah tempat duduk Sa Sie Hwa, sambil membawa secawan arak.


Sa Sie Hwa mendengus melihat Tongki bergerak ke arahnya.


Setelah dekat, jari Tongki mengetuk² meja.


Di dekat Sa Sie Hwa.


Sambil menoleh kiri kanan, Tongki berkata.


Hmm!


“Nanti aku beri setelah sampai telaga barat,” ucap Sa Sie Hwa.


“Terlalu lama,” ucap Tongki sambi jarinya mengetuk ketuk meja dan menengok kiri kanan.


“Aku memang bawa uang, tapi sudah ku titipkan, aku tak berani membawa uang, pinta sana! Sa Sie Hwa berkata kepada Tongki.


“Minta sama siapa? Tanya Tongki.


“Tuh! Mulut Sa Sie Hwa seakan menunjuk seorang di depannya.


Ketika melihat arah mulut Sa Sie Hwa yang se akan menunjuk, Tongki diam tak bicara.


Tongki langsung kembali saat tahu uang Sa Sie Hwa di titipkan kepada Zhain Li Er.


“Kami istirahat sambil menunggu jemputan, menurut anggota perguruan selaksa pedang, mereka akan datang,” Han Ciu berkata kepada Liu Bang.


Anggota yang akan pergi tak begitu banyak, hanya Han Ciu dan orang² terdekat, selain itu mereka membantu Liu Bang untuk membangun kota.


Hari belum begitu siang, beberapa orang prajurit datang melapor.


“Tuan, ada rombongan tamu ingin bertemu, mereka berpakaian lengkap,” ucap sang prajurit.


“Siapa mereka? Mari kita liha," seru Liu Bang.


Sedangkan Han Ciu tersenyum, karena sudah tahu siapa yang datang.


Liu Bang, Han Ciu dan yang lain keluar dan melihat, sekitar 50 prajurit berpakaian lengkap di pimpin seorang pria gemuk berdiri di depan gedung.


Setelah Liu Bang datang, kelima puluh orang itu di pimpin oleh pria gemuk memberi hormat kepada Liu Bang.


“Salam Sejahtera kepada yang mulia penguasa barat, anggota perguruan selaksa pedang, komandan kapal, telah mengamankan jalur sungai besar, dari armada timur,” pria gemuk itu terus bicara.


Zhain Li Er ketika melihat Han Ciu anggukan kepala, kemudian memberi hormat, kepada Liu Bang.

__ADS_1


“Paman, kami mohon pamit, kami akan langsung ke telaga barat.


“Hai Sin Ko, masih saja kau bicara, cepat putar badan, kita kembali ke telaga barat,” Zhain Li Er berkata.


Pria gemuk yang tak lain adalah Sin Ko wajahnya langsung cemberut mendengar perkataan Zhain Li Er.


“Tapi....tapi laporanku belum selesai dan aku belum memperkenalkan diri kepada yang mulia Liu Bang,” ucap Sin Ko.


“Dimana kapal kalian? Tanya Zhain Li Er.


“Bersandar di Yingchuan,” jawab Sin Ko


“Mari kita ke Yingchuan,” ucap Zhain Li Er.


Han Ciu lalu pamit kepada Liu Bang, Xiao Cen, Beng San dan yang lain untuk segera berangkat ke telaga barat, karena 5 buah kapal yang bersandar di Yingchuan telah datang.


Masing² anak buah kapal 10 orang terlatih yang berbaris di belakang Sin Ko.


Sin Ko melihat Han Ciu pamit, dengan wajah lesu berbalik.


“Dewi! Apa kita tidak salin dulu? Tanya Tongki.


“Aku sudah di beri tahu oleh nyonya ke empat, kita harus langsung berangkat ke telaga barat setelah kapal datang,” jawab Dewi Kipas.


“Tapi....tapi!


Jari Dewi kipas mendarat di bibir Tongki, kemudian berkata sambil mengedipkan mata, “anggap saja merekan pengiring kita.”


Dug....Dug....Dug!


Jantung Tongki berdetak kencang, melihat Dewi kipas.


“Dulu alim, sekarang tampaknya binal, batin Tongki sambil tersenyum.


“Awas kau nanti malam .” Kembali Tongki berkata dalam hati, melihat aksi Dewi Kipas.


Dengan menunggang kuda pilihan, akhirnya sore hari Han Ciu beserta rombongan sampai di Yingchuan.


5 buah kapal tampak bergerak di sungai besar.


Malam hari di kapal, tampak dua orang sudah tertidur sambil memegang cawan arak, Iblis biru dan Huang Zilin, mereka minum sampai mabuk untuk merayakan hari perkawinan sahabat mereka, Tongki.


Sementara seorang lagi, tengah duduk sambil menatap bulan yang terlihat jelas dari kapal.


Ngiing....Ngiing....Ngiing!


Plak!


Orang itu menepak keningnya sendiri.


“Nyamuk² keparat! Sudah tahu orang lagi susah, masih saja kau ganggu,”


Pria berpakaian pengantin berwarna merah, yang tak lain adalah Tongki. Duduk diantara dua sahabatnya yang telah tertidur.


Kapal yang terbesar mempunyai dua kamar, karena Ketiga istri Han Ciu tak mau di kapal lain.


Kedua kamar di pakai oleh ketiga istri Han Ciu.


Zhain Li Er bersama Dewi kipas.


Han Ciu bersama Xiao Er dan Sa Sie Hwa.


Hmm!


Tongki menarik napas panjang sambil menatap bulan sambil melamun.


“Hadiah pernikahan di undur,” batin Tongki.


“Malam pertama juga”


Iblis biru yang tidur karena mabuk banyak minum arak menggeliat, tangan kanannya tanpa sengaja menepak ke arah tengah paha Tongki.


Plak!


Tongki langsung menutup mulut, agar tak keluar teriakan dari mulutnya, matanya mendelik menahan rasa linu.


Burung kesayangan Tongki yang sedang tegang, karena ia sedang membayangkan bersama Dewi kipas berdua di kamar, terkena tepakan tangan Iblis biru.


Pas kepala burungnya, yang terkena tepakkan tangan Iblis biru.

__ADS_1


Kaki Tongki saking kesalnya menendang ke arah pantaat Iblis biru, sambil berkata.


“Bangsaat”


__ADS_2