
Semua pasukan menyambut kedatangan rombongan Talaba yang membawa perbekalan, jika mereka sampai, itu artinya prajurit dapat bertempur dengan tenang tanpa memikirkan isi perut yang terkadang bisa melemahkan semangat bertempur para prajurit.
“Kapan kita akan menyerang mereka ketua ? Tanya Tongki.
“Eh....tumben kau semangat bertanya masalah serang,” tidak seperti biasanya ! Seru Zhain Li Er.
“Memangnya aneh kalau aku bertanya seperti itu ? Kita kan kesini untuk bertempur, bukan berwisata,” jawab Tongki sambil cemberut.
Hi....Hi....Hi
“Kau pikir aku buta, walaupun umurku lebih muda tapi aku tahu apa yang membuat seorang kadal tengik sepertimu bersemangat,” ucap Zhain Li Er sambil tersenyum dan melirik ke arah Dewi Kipas.
“Kau....kau ! Gadis kampret, selalu saja suka usil dengan urusanku, tak boleh liat orang senang, dari pagi aku dan saudara Huang sudah memikul perbekalan ratusan kati, untuk makan pasukan.
“Bukankah menyerang musuh akan membuat kami semangat, dan rasa capai jadi hilang,” Tongki memberikan alasan kepada Zhain Li Er.
“Dasar kadal tengik, kalau kau mau memanggilku guru, maka aku akan membantumu mendapatkan orang yang kau inginkan,”
Phuih !
“Tak sudi aku menjadi murid orang yang kejam.”
Eh....apa kau bilang, aku kejam ? Tanya Zhain Li Er.
“Awas kau nanti ! suatu saat membutuhkan pertolonganku,” lanjut perkataan Zhain Li Er.
Hmm !
Han Ciu memberi tanda kepada Zhain Li Er untuk berhenti bicara.
“Kalian yang baru sampai, istirahat saja di tempat yang telah di sediakan ! besok sore baru kita mengepung dan menyerang lembah, dan bertempur melawan pasukan bintang timur yang di pimpin oleh jendral Shen Long,” Han Ciu berkata kepada Tongki, Talaba serta Huang Zilin.
“Pasukan mereka mundur dari jalan yang menuju arah kota Beidi, karna di hadang oleh pasukan ular adik Li, besok mereka pasti kelaparan, setelah mereka lemah, baru kita serang mereka,” lanjut perkataan Han Ciu.
“Ketua, bukankah menurut peradaban perang, tidak boleh menyerang dimalam hari ? Tanya Tongki.
“Ketua, bukankah menurut peradaban perang, tidak boleh menyerang dimalam hari ? Tanya Tongki.
Cis !
Zhain Li Er mencibir mendengar pertanyaan Tongki.
Xiao Er tersenyum, kemudian berkata kepada Tongki.
“Paman Tong ! Kita adalah orang dunia persilatan, aturan tidak menyerang di waktu malam adalah aturan tentara kerajaan, sedangkan kita adalah orang dunia persilatan, kita bebas menyerang siang hari atau di malam hari.”
Han Ciu tersenyum mendengar perkataan Xiao Er.
Adik Xiao benar, memang seperti itu aturannya paman.
Tongki anggukan kepala tanda mengerti.
Di tenda markas pasukan bintang timur, Shen Long tampak cemas.
Kita menunggu esok hari, untuk mencari cara menerobos ular yang menjaga jalan keluar lembah.
__ADS_1
“Besok siang, berikan makanan yang tersisa, berhasil atau tidak, akan di tentukan esok hari,” ucap Shen Long yang di balas dengan anggukan kepala perwira anak buahnya.
“Setelah besok siang, bekal kami akan habis, jika masih tertahan di lembah ini, akan berbahaya buat pasukanku,” batin Shen Long.
****
Ke esokkan hari, sebelum senja pasukan yang di pimpin Han Ciu menerima perintah untuk mengepung pasukan bintang timur.
Mereka menerima instruksi dari orang yang memimpin pasukan mereka, Talaba mengepalai 200 pasukan panah, yang lain di bagi menjadi 4 kelompok, Huang Zilin dari sisi utara, Han Ciu dari tengah, Zhain Li Er, Xiao Er serta Dewi Kipas mengepung dari sisi selatan, sedangkan Tongki dari sisi timur, posisi barat kosong, karna memang hanya bukit batu yang tak bisa di lewati.
Mereka kemudian bergerak ke posisi masing – masing, menunggu perintah untuk menyerang pasukan bintang timur.
Setelah mempersiapkan rencana untuk membawa pasukan ke kota Beidi,
Lembah menjadi terang benderang, karna ribuan obor yang terpasang dan di bawa oleh pasukan bintang timur untuk mengatasi pasukan ular yang menghadang.
Talaba bersama anak buahnya sudah mulai naik ke atas bukit dan mencari posisi tinggi dimana mereka bisa membidik pasukan bintang timur.
Malam itu di lembah luas di dalam hutan, terdengar suara suling yang melengking lengking dan tak beraturan, tapi suara suling itu malah menambah keseraman malam yang dingin di dalam lembah, apalagi setelah mengetahui bahwa, suara suling itu di iringi dengan datang ya berbagai macam ular dari segala penjuru dan mengepung lembah dari berbagai sisi.
Talaba menatap ke arah lembah dari atas bukit.
Tenda – tenda layaknya seperti jamur di musim hujan, di terangi obor yang di bawa oleh para prajurit bintang timur, sudah siap untuk menerobos keluar dari lembah.
“Sebentar lagi, obor – obor itu akan menjadi senjata makan tuan,” Talaba berkata dalam hati sambil menatap ke arah lembah.
Malam yang di terangi oleh ribuan obor, mendadak hening, ketika terdengar suara suitan panjang.
Mendengar suara suitan panjang, Talaba serta anak buahnya menyalakan ujung panah yang sudah di beri bubuk peledak.
Seraaang !
Setelah Talaba berteriak.
Puluhan panah api melesat ke arah lembah, tepatnya tenda para prajurit bintang timur.
Shing....Shing....Blam....Blam !
Panah api yang di lepaskan oleh Talaba menghantam tenda, tenda langsung terbakar, kemudian api menyambar bahan peledak di batang anak panah.
Ledakan serta terbakarnya tenda membuat keadaan menjadi riuh, obor berjatuhan dan membakar yang ada di sekitar mereka.
“Matikan Api, pakai perisai untuk berlindung dari ledakan panah musuh ! Teriak Shen Long.
Pasukan yang berada di lembah kemudian membentuk formasi yang hampir sama dengan pasukan San Chi.
Kerusakan yang terjadi mulai terkendali setelah pasukan bintang timur menuruti perkataan Shen Long.
Bahkan setelah mereka tenang, tenda yang terbakar satu persatu mulai di padamkan.
“Panahku jadi tak berguna,” batin Talaba sambil melihat formasi yang di lakukan oleh pasukan bintang timur.
Talaba angkat tangannya yang memegang busur.
Serangan panah berhenti.
__ADS_1
Talaba bersuit panjang setelah mengangkat busur, memberi tanda kepada anak buahnya untuk berhenti memanah dan memberi kesempatan kepada yang lain untuk menyerang lembah.
Suara suling terdengar di lembah, suara lengkingan suling seperti suara jeritan makhluk gentayangan.
Ribuan ular mendesis desis, mendengar suara suling yang di tiup Zhain Li Er, ular – ular tersebut mencari jalan, berusaha masuk ke dalam lembah.
Han Ciu beserta pasukannya sudah minum obat rumput kuning akar merah, rumput yang paling di jauhi oleh ular jika mencium bau rumput kuning akar merah, obat di campur dengan minuman dan makanan pasukan Han Ciu.
Sehingga ular yang di kerahkan oleh Zhain Li Er tak akan mau mendekat atau mendekati pasukan Han Ciu, karna tubuh mereka terdapat aroma rumput kuning akar merah.
Teriakan serta jeritan pasukan depan bintang timur mulai terdengar, ketika mereka di serang oleh ular berbisa yang masuk lewat lubang – lubang yang berada di lembah.
Suara pedang beradu terdengar dari arah utara dan timur lembah, Huang Zilin serta Tongki mulai masuk dari utara dan timur, berusaha mendesak pasukan bintang timur.
Pasukan Shen Long mulai goyah, karena di serang dari berbagai arah.
Ular mulai masuk dan menyerang prajurit bintang timur.
Han Ciu dari tengah, jalan yang lumayan lebar.
Dengan kedua pedang di tangan, Han Ciu menyerang para prajurit bintang timur.
Whut....Trang !
Perwira yang ada di depan, menangkis pedang Han Ciu, tetapi pedang melenceng, melesat menebas leher prajurit yang berada di sisi kanan.
Crash !
Kepala prajurit terpental, kemudian tubuhnya ambruk ke tanah.
Han Ciu mengamuk, membabat prajurit bintang timur yang ada di dekatnya.
Semua mundur saat Han Ciu mendekat.
Han Ciu melihat seorang berpakaian perang mewah, pria tua yang masih gagah.
“Jendral Shen Long,” ucap Han Ciu.
Memang lembah ini mempunyai banyak jalan, tapi pasukanmu memenuhi lembah.
Sehingga pasukan yang berada di tengah, tak bisa menyerang, sedangkan barisan depan di serang dari berbagai penjuru.
Shen Long menyadari situasi berbahaya yang akan membuat pasukannya perlahan lahan akan habis oleh pihak musuh.
“Mari semua pasukan bergerak ke jalan tengah, kita buka jalan,” teriak Shen Long sambil melesat ke arah Han Ciu.
Sebuah tombak berwarna perak, di pegang Shen Long, serta seorang kakek tua yang memakai pakaian biasa, yang selalu berada di dekat jendral Shen Long.
Mi Kun, si Telapak hati keji, pengawal pribadi jendral Shen Long.
Shen Long bersama Mi Kun menatap Han Ciu yang menghadang dengan sepasang pedang tulang naga di kedua tangan.
Han Ciu menatap tajam ke arah jendral Shen Long, kemudian bertanya dengan nada dingin.
“Mau kemana jendral Shen Long ?
__ADS_1