Naga Hitam Dan 4 Selir

Naga Hitam Dan 4 Selir
Ch : 222 Pedang Kiri dan Pedang Kanan


__ADS_3

“Ini tempat kami tuan,” ucap Ziang Wei membalas tatapan Tongki.


“Memang kenapa jika ini tempatmu ? Kalau mau ribut ya ribut, jangan bawa² tempat,” ucap Tongki.


“Tuan pendekar, kami berniat baik dan tidak mau mencari keributan.”


Ziang Wu angkat bicara.


Ziang Wu dan Ziang Wei adalah bekas perwira muda kerajaan Qin yang melarikan diri.


Karena melihat kebobrokan kerajaan Qin, kedua kakak beradik itu memilih melarikan diri daripada dibantai pasukan pemberontak yang di pimpin Xiang Yu dan Liu Bang.


Mereka menemukan kampung Yangku kemudian menetap, karena kepandaian yang di miliki oleh kedua perwira muda itu, kampung Yangku menjadi aman dari gangguan para perampok yang merajalela akibat bobroknya sistem pemerintahan Qin yang tak mau memikirkan rakyatnya.


Akhirnya Ziang Wu dan Ziang Wei dipercaya untuk memimpin kampung Yangku sampai saat ini.


Mendengar ucapan Tongki, Ziang Wei mencabut pedangnya.


Sudahlah adik Ziang Wu, tak usah bicara lagi dengan orang seperti ini,” ucap Ziang Wei.


“Mari tuan, kita selesaikan di luar,” lanjut ucapan Ziang Wei sambil melangkah keluar dari ruangan tempat mereka berkumpul.


Tongki mengikuti Ziang Wei keluar begitu pula yang lainnya.


Di samping rumah terdapat lapang luas, Ziang Wei berdiri sambil memegang pedang.


Di depannya Tongki berdiri santai sambil memperhatikan gerak gerik Ziang Wei.


“Cabut golokmu tuan ! biar aku tidak di sebut menindas lawan yang tak bersenjata.


“Kalau aku butuh aku akan pakai, tak usah banyak bacoot lagi, kau maju saja ! Tongki berkata.


Ziang Wei tak bisa menahan nafsu lagi, pedangnya melesat menebas ke arah leher Tongki.


Tongki mundur selangkah, menghindari serangan pedang Ziang Wei.


Setelah menghindar, tangan Tongki mengibas.


Hawa panas pukulan hawa neraka, melesat ke arah Ziang Wei.


Ziang Wei loncat menghindari serangan Tongki, kemudian dari atas pedang Ziang Wei menusuk ke arah kepala.


Shing !


Tongki bergerak ke kanan, pedang Ziang Wei lewat dan menyerang tempat kosong.


Pertempuran semakin lama semakin cepat, Tongki belum mengeluarkan golok api karena merasa masih bisa mengatasi serangan² Ziang Wei dengan tangan kosong.


Di pinggir arena pertempuran, Ziang Wu terus memperhatikan pertempuran antara kakaknya dengan Tongki.


“Rupanya kakek tua itu bukan tokoh sembarangan, tenaga dalam kak Ziang Wei masih berada di bawah kakek itu,” batin Ziang Wu sambil terus melihat pertempuran.


“Siapa orang yang bernama Ziang Wei ini ? ilmu pedangnya bukan ilmu pedang biasa,” Dewi Kipas berkata dalam hati.


Ziang Wei semakin bernafsu setelah lebih dari 10 jurus, pedangnya belum juga bisa mengenai tubuh Tongki.

__ADS_1


Gerakan pedangnya semakin cepat.


Hmm !


“Jika kuperhatikan, dia selalu menyerang ke arah bagian kanan tubuhku, dan ilmu pedangnya terasa aneh,” batin Tongki sambil menghindari sabetan pedang yang mengarah ke bahu kanan.


Tongki menghindar ke kiri, tangannya lalu menepis badan pedang Ziang Wei.


Plak !


Pedang Ziang Wei melenceng, lalu tangan kiri Tongki menghantam perut Ziang Wei.


Plak !


Tangan kiri Ziang Wei menangkis, kedua tangan bertemu.


Ziang Wei terhuyung dan mundur 2 langkah ke belakang, dadanya terasa sakit dan panas.


Ziang Wu melihat kakaknya terdesak, tangan kirinya terus menempel di gagang pedang.


Tongki melihat Ziang Wei mundur, tak mau memberi kesempatan kepada penasihat kampung Yangku itu untuk menarik nafas lega.


Tubuhnya melesat, dengan tangan kanan menyambar ke arah leher Ziang Wei, sementara tangan kiri tampak merah, karena mengandung tenaga dalam hawa neraka siap menghantam ke arah tubuh Ziang Wei yang tak terjaga.


Jiang Wei menghindar dengan bergerak ke kiri, kemudian dengan cepat pedang Ziang Wei menebas bahu Tongki.


Shing !


Suara dan angin dingin terasa dari pedang Ziang Wei.


Plak !


Tangan Ziang Wei gemetar dan pedang melenceng jauh, ketika tubuhnya tak siap, Tangan kanan Tongki menyambar bahu Ziang Wei.


Wajah Ziang Wei pucat, lalu tangan kirinya dengan cepat menangkis serangan Tongki.


Blam !


Suara ledakan tenaga dalam terdengar saat kedua tangan beradu.


Tongki menyeringai.


Sementara Ziang Wei terpental, ketika akan jatuh pedang di tangan di pakai untuk menahan tubuhnya, dari mulut Ziang Wei menyembur darah segar tanda luka dalam.


Setelah melihat musuhnya masih bisa berdiri walaupun di tumpu pedang, Tongki melesat dengan tangan siap menghantam Ziang Wei.


Tapi serangan Tongki tertahan saat mendengar suara gerakan dan hawa dingin tenaga dalam, dari tebasan pedang yang mengarah bahu kirinya.


Whut....Shing !


Tongki melentingkan tubuhnya sambil berputar di udara mundur, setelah turun dan berdiri, Tongki menatap orang yang menyerangnya.


Ziang Wu dengan pedang di tangan kiri menyilang ujung pedang berada diatas tanah di depan tubuhnya berdiri di depan Ziang Wei, sambil menatap ke arah Tongki dengan wajah penuh hawa amarah.


“Kakak, apa kau terluka parah ? Tanya Ziang Wu.

__ADS_1


“Kau tenang saja, aku tidak apa²” jawab Ziang Wei.


Setelah berkata, Ziang Wei mengambil sebuah poci kecil dari dalam baju, membuka tutup poci, kemudian mengeluarkan sebuah pil dan memakan pil tersebut.


Wajah Ziang Wei yang pucat, perlahan merah setelah makan pil tersebut.


Tak lama kemudian, Ziang Wei sudah berdiri di samping Ziang Wu sambil menatap tajam ke arah Tongki dengan pedang di tangan kanan.


Hmm !


“Pedang kiri dan pedang kanan,” batin Tongki.


Sementara itu di depannya, Ziang Wei berkata kepada adiknya.


“Hati – hati, kakek itu bukan orang sembarangan,”


Ziang Wu tak menjawab, ia hanya anggukan kepala mendengar perkataan sang kakak.


Tanpa banyak bicara Ziang Wu melesat, pedang di tangan kiri menyabet ke arah bahu Tongki.


Serangan Ziang Wu lebih cepat dan bertenaga dari Ziang Wei.


Tongki menghindari serangan Ziang Wu dengan bergerak ke kanan.


Setelah itu Tongki loncat mundur, saat melihat pedang Ziang Wei menyambar ke arah pinggangnya.


Melihat Tongki berhasil menghindari serangan mereka berdua.


Ziang Wu langsung melesat kembali, pedangnya di tangan kiri menebas ke arah leher Tongki.


Tongki tundukkan kepala menghindari serangan, setelah menunduk, tubuhnya berputar lalu kakinya menyambar ke arah kaki Ziang Wu.


Ziang Wu melentingkan tubuhnya sambil mundur menghindari sepakan Tongki.


Melihat adiknya mundur, Ziang Wei lompat, pedang di tangan kanan menebas hendak membelah ke arah kepala Tongki.


Trang !


Tangan Ziang Wei bergetar, pedangnya mental ketika membentur sebuah golok yang kini berada di tangan musuhnya.


Ziang Wei mundur 2 langkah, disusul oleh Ziang Wu yang kini berdiri sampingnya.


Keduanya tak bicara.


Sedangkan di sisi arena, Dewi Kipas menatap tajam ke arah Ziang Wu dan Ziang Wei.


“Pedang Kiri dan pedang kanan, sepertinya aku pernah mendengar nama itu,” batin Dewi Kipas.


Ziang Wu dengan pedang menyilang di tangan kiri menatap ke arah Tongki, kemudian berkata.


“Mari kita tentukan, siapa orang terakhir yang bisa berdiri di arena.”


Tongki dengan nada dingin membalas perkataan Ziang Wu.


“Siapa takut”

__ADS_1


__ADS_2