
Buat referensi Reader ..Peta kerajaan Qin dan perjalanan Han ciu di berbagai kota.
*****
Di sebuah kota besar yang bernama Handan, dua orang tabib muda tampak memasuki kota, dua orang tabib dengan keadaan yang sangat bertolak belakang.
Pakaian yang mereka gunakan sama sama berwarna biru dengan garis putih yang biasa di pakai oleh para tabib, yang berjalan di depan seorang tabib muda yang berwajah bopeng dengan tompel besar di pipi, dengan rambut hitam yang di biarkan terurai.
Sedangkan di belakang tabib bopeng.
Tabib yang rambutnya di gelung ke atas dengan muka halus dan pipi agak kemerahan dengan, menyelempaangkan sebuah kotak yang biasa di pakai sebagai tempat obat obatan oleh para tabib, berjalan sambil menunduk dengan hanya melihat kaki yang ada di depannya.
Sejak keluar dari lembah dan menyusuri hutan hanya makan hasil buruan dan buah buahan saja.
Ketika sampai kota Handan Han ciu bertanya.
"Kau punya uang ?" Racun cilik gelengkan kepala, "gurumu tak memberi kau uang untuk bekal ?" kakek tidak punya uang," Racun cilik berkata menjawab perkataan Han ciu.
"Hmm !"
"Repot urusannya kalau sudah begini," Han ciu berkata sambil menarik nafas panjang.
"Kau tahu artinya uang tidak ?"
Untuk membeli !" Racun cilik berkata sambil menunduk, "kalau kau sudah tahu, kenapa tidak bawa."
Racun cilik hanya diam tak berani mengangkat wajah, Han ciu melihat hal itu malah tambah marah.
"Kau jika di beritahu lihat wajahku jangan nunduk terus," Racun cilik menganggkat wajahnya tapi baru sebentar melihat Han ciu, matanya berkaca kaca, "kenapa kau nangis ?" apa kau tak terima aku beritahu !"
Racun cilik diam.
Han ciu terus berjalan, dan sampai di tengah kota Handan.
Han ciu lalu duduk di bawah pohon rindang, yang banyak terdapat di sisi jalan.
Perut sudah lapar, tapi di kota makan harus bayar sedangkan mereka tak punya uang.
Ketika mereka berdua sedang lapar dan bingung untuk makan, tiba tiba ada orang lewat dan melihat baju yang di kenakan Han ciu dan racun cilik, orang itu berhenti dan menatap dari kaki sampai atas kepala.
"Apa kalian berdua adalah tabib ?" Racun cilik menatap ke arah Han ciu ketika di tanya oleh pria yang berada di depannya.
"Memangnya kenapa tuan ?" Han ciu bertanya.
"Majikan kami mendadak sakit tuan, dan tabib di kota Handan ini sudah memeriksa tapi tak ada yang bisa menyembuhkan, kami di suruh mencari siapa saja tabib yang bisa dan mampu mengobati penyakit majikan kami."
"Apa ada bayarannya tuan ?" Han ciu berkata.
Ha ha ha.
"Tuan tak usah khawatir, majikan kami orang terkaya di kota Handan jika majikan kami sembuh, apapun yang tuan minta pasti akan di kabulkan," pria tua itu berkata.
Mendengar perkataan pria itu, Han ciu tersenyum dan mengedipkan mata pada Racun cilik yang langsung menundukan wajahnya.
"Mari pak tua kita ketempat majikanmu !"
__ADS_1
Ketika mereka berjalan menyusuri kota Handan, mata Hanciu menyorot tajam melihat penginapan yang besar dan sedang dibangun, tapi sudah hampir selesai, karna mereka hanya membenahi kekurangan kekurangan di penginapan besar itu, Han ciu tertarik dengan penginapan itu, karna melihat di atas gerbang pintu masuk tertulis papan nama yang bertuliskan "Penginapan bunga naga"
Hmm !
"Hampir 3 bulan lebih aku berada di lembah dan sama sekali belum tahu keadaaan di dunia persilataan saat ini, pasti mereka pikir aku sudah tewas, dan bagaimana dengan keadaan Kwe hu ?" banyak pertanyaan terlintas di benak Han ciu ketika melihat nama penginapan yang baru saja ia lewati.
"Kenapa tuan, bagus bukan penginapan bunga naga ?" penginapan itu adalah salah satu milik majikan kami."
Ouuh !
Han ciu mengangguk mendengar perkataan pria itu.
Dan rumah majikan pria tua yang mengajak Han ciu tak jauh dari penginapan bunga naga yang Han ciu lihat.
Sebuah rumah yang besar dengan halaman yang luas, di kelilingi tembok tinggi yang mengitari rumah.
Han ciu dan Racun cilik masuk mengikuti pria tua, yang langsung masuk ke kamar majikannya yang sedang sakit.
Setelah sampai kamar, Han ciu melihat seorang pria gagah dengan wajah pucat dan berbaring di ranjang di temani oleh seorang wanita paruh baya dan seorang pemuda tampan di dekat ranjang.
"Nyonya Song, hamba bertemu dengan tabib pengembara, dan hamba membawanya kesini, siapa tahu bisa menyembuhkan penyakit majikan."
"Cepat bawa masuk, cepat cepat," wanita paruh baya itu berkata, wajah dan matanya tampak penuh harapan.
Han ciu dan racun cilik masuk kedalam kamar setelah di persilahkan oleh nyonya rumah.
Han ciu mengangguk kepada tuan rumah yang terkejut, setelah melihat wajah Han ciu yang bopeng dan mempunyai tompel besar di pipinya.
Han ciu dan racun cilik setelah di persilahkan lalu melihat keadaan pria gagah setengah tua yang tampak lemas dengan wajah pucat.
Racun cilik lalu berbisik ke telinga Han ciu.
Hmm !
Han ciu mengangguk mendengar perkataan Racun cilik dan berbisik pelan, "kau bisa menyembuhkannya ?"
"Bisa," Racun cilik berkata pelan sambil berbisik.
"Nyonya besar !" sepertinya juragan terkena racun, tapi kami bisa menyembuhkannya, dan kami mau jujur, kami sedang mengembara dan membutuhkan uang, jika nyonya mau membayar pengobatan kami, dan menjamin kami hidup untuk sementara di kota Handan ini, kami akan segera menyembuhkan suami nyonya ?"
Mendengar perkataan pemuda bopeng itu, wajah nyonya itu pucat sekaligus gembira, begitu pula pemuda tampan yang berada di samping nyonya yang masih terlihat cantik itu.
"Jika tuan tabib bisa menyembuhkan suamiku, apapun yang tuan pinta akan kami kabulkan."
Han ciu setelah mendengar perkataan nyonya itu, lalu memberi isyarat kepada Racun cilik.
Racun cilik lalu berbisik kepada Han ciu, "setelah ku beri pil, kakak salurkan tenaga dalam untuk mengeluarjan sisa racunnya."
Han ciu tersenyum.
"Baru kali ini aku dengar kau banyak bicara dan panggil aku kakak."
Racun cilik wajahnya langsung merah dan menunduk.
"Ya sudah, mana obatnya ?" Han ciu berkata, dan tak ingin menggoda Racun cilik.
Racun cilik lalu membuka kotak yang ia bawa, setelah melihat beberapa botol yang ada, lalu mengambil sebuah botol kecil berwarna putih, dan mengeluarkan sebutir pil dari dalam botol tersebut dan memberikannya kepada Han ciu.
__ADS_1
"Maaf kami butuh sebuah mangkok besar, biar tidak mengotori tempat, Pria tua berlari mengambil barang yang Han ciu butuhkan.
Lalu Han ciu membuka mulut pria itu dan memasukan pil pemberian Racun cilik, kemudian mendudukan pria itu lalu kedua tangan yang di aliri tenaga dalam mulai mengurut urat urat di punggung lalu kedua telapak menekan punggung.
"Uooogh"
Pria sakit itu lalu memuntahkan darah kehitaman ke dalam mangkok yang sudah tersedia, beberapa kali Han ciu melakukan pijatan dan menarik sisa sisa racun dari dalam tubuh untuk di muntahkan.
Setelah Racun cilik memberi isyarat tangan, bahwa racun sudah keluar semua, Han ciu lalu kembali mengurut dan melancarkan peredaran darah di tubuh pria gagah itu dengan tenaga dalamnya.
Tak lama kemudian pria gagah itu membuka mata.
Nyonya dan pemuda tampan wajah mereka langsung ceria dan gembira melihat suaminya dapat membuka mata, dan langsung memeluk, kanda Song akhirnya kau sembuh, wanita itu berkata sambil menangis bahagia.
Sedangkan pria yang membawa Han ciu langsung mengangkat jempol dan tersenyum kepada Han ciu dan Racun cilik.
Istri tuan Song lalu menceritakan kepada suaminya yang baru sadar, bahwa kedua tabib muda itu yang telah menyembuhkan penyakit yang ia derita.
Setelah tuan Song mendengar perkataan istrinya pria itu lalu mengangguk, dan berkata.
"Terima kasih, tuan tabib berdua telah menyembuhkan penyakitku."
"Tuan tidak sakit, tapi tuan telah di racun orang," Han ciu membalas perkataan tuan Song.
Semua yang berada di ruangan terkejut mendengar perkataan Han ciu.
"Di racun !"
"Benar, tuan telah di racun orang," Han ciu berkata.
"Tabib biasa tidak akan bisa menyebuhkan tuan, tapi kami berdua selain tabib juga mengerti sedikit tentang racun, jadi kami tahu tuan bukan sakit, tapi terkena racun keji, jika terlambat memberi pertolongan mungkin sore ini di rumah tuan akan ada acara berkabung."
Wajah Tuan song, istri dan putranya terkejut mendengar perkataan Han ciu.!
"Apa tuan Song bertemu musuh akhir akhir ini ?"
Song kui menarik nafas ketika mendengar perkataan Han ciu, wajahnya tampak termenung.
Song kui lalu mulai bercerita.
"Beberapa hari yang lalu ada seorang kakek ingin bertemu, setelah bercakap cakap, ia berkata di utus oleh ketuanya untuk mendirikan cabang perguruannya di kota Handan, aku hanya orang biasa di kota ini dan bukan pejabat negara, tentu saja aku bilang itu hak mereka jika ingin mendirikan cabang perguruan, tapi aku menolak ketika kakek itu bilang, bahwa ia ingin membuka cabang perguruan tapi aku yang harus membiayai berdirinya cabang perguruan itu."
"Kakek itu lalu pergi dan mengancam, bahwa aku akan menanggung akibatnya jika menolak dan dia juga bilang akan datang beberapa hari lagi untuk mendengar jawabanku." Song kui setelah cerita lalu menarik nafas dalam.
"Kurang ajar, kenapa ayah tidak cerita padaku jika ada yang mengancam ayah !" pemuda tampan itu berkata.
"Nak !" ayah tak sempat cerita karna langsung tak ingat apa yang terjadi, seluruh badan terasa panas dan tak bisa bergerak." Song kui membalas perkataan anaknya.
Racun cilik lalu berbisik kepada Han ciu, memberitahu racun yang terdapat di tubuh Song kui.
Hmm !
"Tuan Song terkena Racun ular api, dalam jumlah kecil dan berjangka yang seperti ia bilang, dalam beberapa hari jika tuan Song masih menolak maka tuan akan tewas oleh racun itu, tapi jika tuan setuju, maka tuan akan di beri obat penawar oleh kakek itu, tapi ini hanya perkiraan kami." ucap Han ciu.
"Mendengar cerita tuan tabib, agaknya memang benar perkiraan yang tuan katakan tadi."
"Maaf jika boleh kami tahu, apa nama perguruan kakek itu ?" Han ciu bertanya setelah mendengar perkataan Song kui.
__ADS_1
Wajah Song kui terlihat gundah ketika menyebut nama perguruan itu.
"Perguruan Selaksa racun"