Naga Hitam Dan 4 Selir

Naga Hitam Dan 4 Selir
Ch : 82 Surat Dari Xiao er


__ADS_3

Sa sie hwa, Pedang langit dan iblis seribu wajah serta Dewi angin juga memburu Han ciu, hanya Song kui, nyonya Song dan putranya yang tampak kaget, dan tak mengerti apa yang terjadi, kenapa tabib bopeng itu di buru oleh para petinggi bunga naga.


Racun cilik cemberut, entah kenapa hatinya tak suka, melihat Han ciu di peluk oleh gadis yang memakai penutup mata dari kulit.


Han ciu melepaskan pelukan Zhain li er dan mendorong gadis itu, Han ciu malu karna di sana ada Song kui sekeluarga dan para pekerja penginapan bunga malam cabang kota Handan.


Setelah mereka duduk, Li er membuka penutup matanya dan memperhatikan gadis cantik berpakaian mewah yang berada di samping Han ciu.


Han ciu lalu membuka topengnya, Song kui sekeluarga terkejut melihat wajah asli Han ciu.


"Maaf tuan Song !" selama ini aku menyembunyikan wajah asliku.


"Tidak apa apa tuan tabib, tidak jadi masalah untukku."


"Tuan tabib !"


"Apa maksud perkataan tuan Song ?" Sa sie hwa bertanya.


"Sudahlah, kenapa harus di bahas," ucap Han ciu.


"Maaf kan Song kui yang kurang wawasan, ketua Sa."


Aku sudah bukan ketua, tuan Song, ketua penginapan bunga naga. dan Cengcu selaksa pedang adalah orang yang kau panggil tuan tabib.


"A..appaa !" Ja..jadi ini adalah ketua penginapan bunga naga ?"


"Betul dialah orang yang kami pikir telah tewas." ucap Sa sie hwa.


Racun cilik langsung menoleh ke arah Han ciu, Racun cilik juga tak percaya bahwa Han ciu yang ia kenal galak dan ngomong seenaknya adalah pemilik penginapan bunga naga.


Li er yang sejak duduk selalu memperhatikn Racun cilik, langsung menegur gadis itu.


"Hai setan cilik, dari tadi kulihat kau selalu melirik muka ayam, siapa kau dan sedang apa di sini ?"


Racun cilik yang biasanya pemalu, ketika mendengar perkataan Li er wajahnya langsung merah.


Sa sie hwa juga sependapat dengan Zhain li er, ia ingin bertanya tapi di dahului oleh gadis itu.


Tapi amarah Racun cilik semakin menjadi mendengar perkataan Li er.


"Kalau bicara lebih baik pikir pikir dulu jangan sampai bikin orang kesal."


Braak !


"Apa kau bilang, coba katakan sekali lagi ?"


Li er langsung menggebrak meja, mendengar ucapan Racun cilik


Gadis yang selalu menundukkan kepala dan jarang bicara kali ini meradang.


Racun cilik berdiri sambil kedua tangan berada di kantong kulit yang terletak di kiri kanan pinggang.


"jadi kau mau apa ?"


"Li er, jika tak ada adik Zee dan gurunya aku pasti mati, apa kau mau membunuh orang yang telah menyelamatkan aku ?"


"Tapi..tapi, dia selalu melihatmu terus, kan sekarang giliranku."


"Chiis, ! dasar gi.


"Stoop !


Wajah Han ciu agak pucat, sebelum Racun cilik menyebut gila, Han ciu sudah memotong perkataan gadis itu.


"Zhain li er apa kau senang aku hidup ?"


"Tentu saja aku senang muka ayam."


"Jika kau senang, aku tak mau kau ribut dengan Racun cilik, mengerti ?" Zhain li er akhirnya mengangguk.


"Dan kau Zee, apa pesan gurumu ?"


"Aku harus ikut dengan kakak," Racun cilik menjawab

__ADS_1


"Kemarin aku bilang apa padamu ?"


"Aku harus menuruti apa permintaan kakak," jawab Zee in biauw.


"Ini kakak Sa sie hwa, dan ini kakak Zhain li er," Han ciu menunjuk kedua gadis kepada Racun cilik, lalu pandangannya beralih ke Sa sie hwa, dan Li er.


"Dan kalian berdua sekarang boleh sapa Adik bungsu kalian Zee in biauw, alias Racun cilik, paham apa yang aku katakan ?" ketiganya mengangguk mendengar perkataan Han ciu.


"Jika kalian tidak akur !" kalian akan kutinggal pergi, kalian ingat kata kataku."


Pedang langit dan Iblis seribu wajah tersenyum melihat Han ciu.


"Tuan Song kui !" aku sudah tau kau orang yang jujur, dan aku percaya di bawah pimpinanmu penginapan bunga naga cabang kota Handan akan sukses, tapi kau juga harus ingat tugas dan tanggung jawabmu sebagai orang yang di percaya oleh kami untuk mengelola penginapan bunga naga." ucap Han ciu sambil menatap juragan Song.


"Hamba mengerti ketua." jawab Song kui.


"Cengcu, ada kabar tak enak ketika kami dalam perjalanan menuju Handan, sehingga kami percepat langkah menuju kota Handan," Pedang langit berkata memutus pembicaraan Han ciu.


Han ciu mengerutkan dahi mendengar perkataan pedang langit.


"Apa maksud paman ?"


"Kami menerima titipan surat dari partai pengemis tongkat hitam." Pedang langit lalu memberikan kertas kecil kepada Han ciu.


Perguruan api suci dalam bahaya


Xiao er


"Apa informasi ini benar paman ?"


"Paman juga belum tahu, benar tidaknya informasi ini, tapi Pangcu perkumpulan pengmis tongkat hitam dan muridnya Hek kay, sedang memastikan kebenaran kabar yang ada dalam surat ini, karna surat ini dari tangan ke tangan mereka dapatkan, sehingga agak susah membuktikan ke asliannya."


"Kita harus membantu mereka Cengcu, karna ketua Cen adalah sahabat kita."


"Paman benar," Han ciu berkata.


"Kami percayakan peresmian bunga naga kepada tuan Song, kami besok akan segera berangkat ke kota Sanchuan, memastikan kabar berita yang kami terima."


"Ketua tidak usah Khawatir, Song kui tak akan mengecewakan ketua."


Ketika mereka sedang bercakap cakap, tiba tiba seorang busu penginapan bunga naga, datang memberi laporan.


"Tuan Song !" di depan ada gubernur Xiu dan beberapa anak buahnya, mereka menanyakan tabib yang menginap di penginapan bunga naga.


Hmm !


"Pasti gara gara anaknya," memangnya apa yang terjadi ketua ? Song kui bertanya.


"Kemarin Racun cilik meracun anaknya."


"Me..meracun, cilaka, urusan bakal panjang." ucap Song kui,


"Jika tidak di selesaikan, kedepannya pasti penginapan bunga naga akan banyak mengalami kesulitan akibat ulah gubernur Xiu."


"Tuan Song tak usah takut, kami ada di sini dan semua akan kami selesaikan, apalagi di sini ada ketua." Sa sie hwa berusaha menenangkan Song kui yang wajahnya mulai terlihat cemas.


"Mari kita lihat !" ucap Han ciu.


Han ciu jalan di depan di iringi oleh Zhain li er dan Racun cilik, sedangkan yang lain mengikuti dari belakang.


Xiu peng menatap Han ciu dan rombongan penginapan bunga naga.


"Song kui !" ijin penginapan ini akan ku cabut jika kau tak menunjukan tabib yang telah mencelakai anakku, bawa tabib itu sekarang juga ke hadapanku ?"


"Tuan Xiu, anak tuan yang telah membuat keonaran di rumah makan, harusnya tuan gubernur yang menegur anak tuan, bukannya malah marah dan menegur orang yang tidak bersalah.


"kedua orang yang di belakang tuan tahu siapa yang salah dan benar."


"Kau jangan ikut campur anak muda, aku hanya mencari tabib bopeng."


Whuuut !


Li er melesat dan sudah berada di depan Gubernur Xiu, tangannya bergerak dan mencengkram leher gubernur Xiu.

__ADS_1


Kedua kakek yang berpakaian merah dan biru melesat, Racun cilik melihat kedua kakek itu bergerak, langsung melesat dan melemparkan bubuk warna merah, kearah kedua kakek yang berusaha mendekati gubernur Xiu.


Whuuus !


Kedua kakek pengawal gubernur Xiu, bergerak menghidari serangan serbuk merah racun cilik, tapi kakek yang berbaju merah terlambat beberapa detik dan menghirup serbuk racun Racun cilik.


Kakek berbaju merah mendelik, tak lama kemudian kedua tangannya mulai mengaruk garuk badan, semakin lama semakin kencang.


Pedang langit dan Iblis seribu wajah terkejut, melihat kakek berbaju merah mulai bergulingan di tanah dan terus menggaruk dan berteriak minta ampun.


"Jangan di bunuh !"


Racun cilik mendengar perkataan Han ciu lalu melemparkan sebuah pil.


"Makan pil itu !" tanpa ragu kakek berbaju merah langsung makan pil pemberian dari racun cilik, setelah makan pil kakek berbaju merah tak lama kemudian berhenti mengaruk tubuhnya. tapi wajahnya sangat ketakutan.


"Muka ayam !" bagaimana jika kubunuh saja orang yang sudah memarahimu.


Wajah gubernur Xiu pucat mendengar perkataan Li er, apalagi lehernya sudah di cengkram dan sekali tangan gadis itu bergerak, sudah bisa di pastikan lehernya akan patah.


"Lepaskan dia !"


Li er lalu melepaskan leher Gubernur Xiu, mendengar perkataan Han ciu.


Sedangkan kakek berbaju biru menarik kawannya menjauh, ia sangat takut melihat keganasan orang orang penginapan bunga naga.


"Gubernur Xiu, apa yang ingin kau katakan sekarang ?"


"Hamba tidak berani tuan, maafkan kami, kami tidak akan mengganggu penginapan bunga naga." ucap gubernur Xiu peng.


"Kau sebagai orang tua harusnya membimbing putramu, tapi kau malah membela walau kau tahu putramu salah."


"Kalau kau mendidik anak seperti itu, malah akan membunuh anakmu sendiri, apa kau mengerti maksud perkataanku ?"


Xiu peng mengangguk, "Maaf kan kami tuan, untuk kedepannya kami tak berani, dan akan mendidik putra kami dengan keras."


Han ciu mengangguk mendengar perkataan dari Xiu peng.


Sa sie hwa berjalan dan berdiri di samping Han ciu.


"Tuan Xiu siapa junjunganmu ?" jawab dengan jujur atau kau kami bunuh di sini."


"Itu..itu."


"Jawaaab ?!" Sa sie hwa teriak sambil menatap tajam


"Tuan Liu bang, nona."


Han ciu tersenyum, begitu pula dengan Sa sie hwa, "kau beruntung, jika kau bicara dengan Tuan Liu bang dan minta dukungan, aku yakin malah kepalamu yang akan hilang,"


"Apakah benar nona Sa ?" Song kui malah yang bertanya.


"Kenapa aku harus bohong, kau pikir siapa pemuda yang kau cari, dia adalah keponakan tuan Liu bang dan sudah di anggap anak sendiri."


Song kui terkejut sedangkan Gubernur Xiu langsung bersujud di hadapan Han ciu.


"Maaf kan kebodohan hamba tuan muda, tolong maafkan."


"Sudahlah, kau pulang saja, tapi kau harus ingat, jika kau mengusik tuan Song dan penginapan bunga naga, jangan harap kau dan keturunanmu akan hidup di dunia ini, karna aku sendiri yang akan menghabisi kalian.


"Hamba tidak berani tuan, mulai sekarang hamba akan berusaha sebaik mungkin melindungi dan bekerja sama dengan penginapan bunga naga."


Han ciu setelah mendengar janji Xiu peng lalu menyuruhnya kembali.


Setelah urusan selesai, Han ciu kembali ke dalam penginapan, tapi langkahnya terhenti ketika mendengar suara.


"Tunggu"


Seorang pria tua yang memakai baju penuh tambalan serta membawa tongkat berwarna hitam melesat dan sampai di depan Pedang langit.


Pedang langit mengerutkan kening, melihat pria tua yang ia kenal.


Hu pangcu ( wakil ketua perkumpulan ) ada apa, kenapa wajahmu pucat.

__ADS_1


"Tolong kami tuan, pangcu dalam bahaya."


__ADS_2