
Han Ciu terus memburu kapal milik perguruan Naga Api yang mengembangkan semua layar serta di bantu oleh para pendayung melesat dengan cepat.
Mereka semua termasuk sang pemimpin kapal si Tongkat Naga walau tak berkata, tapi sepakat untuk melarikan diri dari tempat itu dengan cepat, menghindari Han ciu.
Sewaktu Han Ciu memburu, ternyata kapal sudah bersandar di pinggir sungai dekat sebuah hutan.
Setengah badan kapal tampak berada di dalam air.
Han Ciu menambatkan perahu di pinggir sungai, lalu melesat ke arah kapal.
Setelah memeriksa kapal, yang bagian Bawahnya telah di lubangi, dan tak ada satu pun orang di dalamnya karna sudah melarikan diri, Han Ciu mendengus.
“Dasar pengecut busuk,”
Mereka melubangi kapal agar tak bisa di gunakan, tapi jika aku pergi, mereka pasti datang lagi dan memperbaiki kapal ini, lebih baik ku hancurkan dari sekarang, Han Ciu berkata dalam hati.
Sambil melentingkan tubuhnya kembali ke arah perahu, Han Ciu menghantam lambung kapal dengan ilmu pukulan Dewa api.
Blaam !
Lambung kapal Han Cur, dan kapal mulai terbakar.
Setelah itu, Han Ciu lalu mendayung perahunya kearah telaga Tong, karna jalur sungai yang lurus akan sampai ke telaga Tong.
Han Ciu mulai mendayung.
Arus sungai yang tenang membuat Han Ciu mendayung perlahan, sambil menikmati pemandangan kiri dan kanan di pinggiran sungai.
Banyak binatang – binatang hutan yang minum dan bermain di pinggir sungai.
Han Ciu tertawa melihat dua ekor monyet saling kejar dan bergelayutan serta lompat di dahan – dahan pohon.
Seandainya kehidupan manusia tenang dan damai seperti yang aku lihat ini, sepertinya tidak akan ada perang dan saling fitnah, bunuh, culik serta segala kekerasan lain.
Han Ciu terus asyik menonton para monyet bermain, tanpa terasa di depannya tampak sebuah telaga besar, banyak bangunan di telaga yang tak lain adalah telaga Tong.
Akhirnya aku sampai di telaga Tong, dahulu aku masuk ke telaga ini dari Jiujiang.
Han Ciu kemudian mendayung perahu ke arah bangunan yang terlihat.
Rumah makan sekaligus kedai arak, tempatnya dulu pernah bertempur dengan orang dari perguruan elang putih masih ada.
Bangunan yang banyak menjajakan barang, layaknya sebuah pasar di lewati oleh Han Ciu, Han Ciu membeli sebuah caping untuk menutupi wajah dan rambut yang berwarna kuning ke emasan.
Setelah membeli serta memakainya.
Han Ciu menambatkan perahu miliknya, lalu masuk ke dalam kedai apung memesan beberapa makanan ringan serta arak.
Kapal serta perahu – perahu kecil mulai berdatangan ketika Han Ciu mulai minum arak yang di sediakan.
Sambil memperbaiki letak caping yang ia beli, agar menutupi wajah serta rambut yang berwarna kuning ke emasan.
Han Ciu minum sambil mengawasi perahu yang lewat, serta orang yang berada dalam kedai.
“Paman !” tumben telaga Tong ramai sekali,” Han Ciu bertanya kepada pelayan yang membawakan makanan ringan yang ia pesan.
“Benar tuan dalam tiga hari lagi, penguasa telaga barat yang baru akan meresmikan perguruan, dulunya aku dengar hanya perkampungan, tapi sekarang akan mereka ubah menjadi perguruan,”
“Rupanya begitu,” ucap Han Ciu
“Pantas aku lihat, banyak perahu yang datang,” lalu Han Ciu bertanya kembali
“Apa yang datang menghadiri peresmian harus menunjukkan surat undangan ?”
“Aku dengar seperti itu tuan muda, untuk menghindari hal yang tak di inginkan, hanya yang membawa surat undangan yang mereka terima,” Han Ciu mengangguk mendengar penjelasan dari pelayan kedai arak.
“Apa mereka tidak takut jika ada yang menerobos ?” Han Ciu kembali bertanya.
Ha Ha Ha
"Tuan !" jalan masuk ke telaga barat hanya ada satu jalan, yakni dari telaga Tong.
"Jika ada yang nekat menerobos, mereka harus siapkan pasukan air yang kuat, karna orang – orang selaksa pedang bukan orang sembarangan.
“Perguruan elang putih yang dulunya menguasai telaga Tong hancur oleh ketua selaksa pedang yang hanya di bantu oleh beberapa anak buah mereka.” Han Ciu mengangguk mendengar perkataan pelayan itu.
Phuuih !
“Itu dulu, sekarang ketua mereka sudah mati, paling hanya beberapa orang saja yang bisa diandalkan,” Han Ciu menoleh setelah mendengar perkataan kakek yang memakai baju hitam, tengah berjalan menghampiri.
“Sudah mati kek,” ucap Han Ciu.
“Iya mati,” kakek itu berkata sambil mendelik ke arah Han Ciu.
“Kau tidak percaya omonganku ?” kakek berpakaian hitam itu berkata sambil melotot ke arah Han Ciu.
“Aku percaya kek,” Han Ciu berkata sambil tersenyum.
“Kau harus percaya, sebab adiku sendiri yang cerita padaku,” ucap kakek itu.
__ADS_1
“Pasti adik kakek orang hebat sehingga bisa membunuh ketua selaksa pedang.” Han Ciu berkata.
“Hati – hati kau bicara !” siapa bilang adikku yang bunuh, aku bilang sudah mati, bukan di bunuh oleh adiku." ucap kakek itu dengan nada gusar.
"Kau ini tolol atau pura – pura tolol sih, dari tadi aku ngomong kau dengar tidak ?” Han Ciu menahan mulutnya agar tidak tertawa mendengar perkataan kakek itu.
“Iya kek aku dengar,” ucap Han Ciu.
“Dan kau mengerti perkataanku ?” kakek itu bertanya.
“Aku mengerti kek,” Han Ciu menjawab
“Jika kau mengerti dan paham, kau bayarkan arak dan makananku,” ucap kakek itu.
Sebelum Han Ciu bicara.
Kakek itu lalu menatap pelayan yang masih bersama Han Ciu.
“Kau dengar dia !” yang bayar semua makanan dan arakku adalah dia, sekalian hutangku dia yang bayar,” setelah berkata, kakek itu pergi ke sebuah perahu, lalu mendayung perahu ke arah telaga barat.
Han Ciu langsung bengong mendengar dan melihat perkataan kakek itu, tapi setelah perahu itu melesat pergi, Han Ciu seperti tersadar.
“Hai, tunggu dulu !” kakek jangan pergi dulu,”
Han Ciu hanya melihat lambaian tangan kakek itu, yang semakin lama semakin menjauh.
“Aku kena tipu oleh kakek itu,” ucap Han Ciu dalam hati.
“Bagaimana tuan muda ?” pelayan itu bertanya.
“Berapa hutang kakek itu ?” Han Ciu bertanya.
“Total semuanya beserta hutang adalah 120 tail perak tuan,”
“Apa kau bilang, 120 tail perak, apa kau tak salah ?” hanya minum arak sampai sebesar itu,” Han Ciu berkata.
"Kakek itu sudah sebulan menunggak di kedai kami tuan, kami tak bisa berbuat apa – apa sebab dia adalah kakak seperguruan dari pendekar Pedang Api, salah satu petinggi dari perguruan selaksa pedang, penguasa telaga Tong."
"kami juga tak berani menagih karna sifatnya memang seperti itu, tetapi dia juga sering menolong kami jika ada keributan, jadi tuan boleh membayar 100 tail saja termasuk makanan dan arak yang sekarang tuan makan dan minum."
Hmm !
“Kakak seperguruan Pedang Api rupanya.” Awas kau nanti, akan ku potong bayaranmu di selaksa pedang,” Han Ciu berkata dalam hati.
Han Ciu menginap di telaga Tong sambil mengamati situasi.
Ke esokkan hari, sewaktu Han Ciu makan dan minum di tempat biasa, telinganya yang tajam mendengar bisik – bisik dua orang, yang berkepala botak mirip dengan pendeta.
“Benar !" Ketua juga tak jadi datang setelah melihat Tongkat Naga pulang ketakutan, serta kedua kapal yang baru di beli hancur berantakan."
“Menurut tuan Bu Heng kita hanya perlu mengamati situasi sekarang ini, setelah Bu Khi menikahi Suma Lan, keluarga Suma akan di hancurkan oleh keluarga Bu dari dalam.”
Hmm !
Wajah Han Ciu berubah, mendengar percakapan kedua pria gundul itu.
Ketika hendak bergerak.
Gerakannya terhenti ketika melihat kakek yang menurut pelayan adalah kakak seperguruan dari Pedang Api, datang lalu menambatkan perahunya.
Melihat Han Ciu berada di dalam, kakek itu langsung menghampiri sambil senyum – senyum, “kita ketemu lagi anak muda,”
Kakek itu kemudian berteriak, “pelayan sediakan arak terbaik untuk aku dan temanku,”
Hmm !
“Kau pesan makanan dan minuman, akhirnya nanti aku yang bayar,” ucap Han Ciu.
“Anak muda, kau hitungan sekali !” kalau kau baik padaku, nanti aku akan jadikan kau murid, bagaimana ?” melihat Han Ciu diam sepertinya tak tertarik.
Kakek itu kembali berkata.
"Atau nanti kau ku jodohkan dengan salah seorang selir ketua selaksa pedang yang sudah tewas,”
“Apa kau bilang ?” Hati – hati kau bicara pak tua,” jika terdengar oleh pedang langit, bisa di potong mulutmu.” Ucap Han Ciu, wajahnya sedikit gusar mendengar perkataan kakek itu.
“Kenapa harus marah padaku, aku kan hanya menjodohkan, jika salah satu dari mereka suka padamu ya terserah, jika tak suka apa aku harus memaksa mereka, benar tidak ?”
Han Ciu langsung diam mendengar perkataan kakek itu.
“Siapa namamu pak tua,” tanya Han Ciu.
“Aku Tongki,” mendengar nama yang baru di sebutkan Han Ciu langsung tertawa.
Ha Ha Ha
“Namamu seperti seekor bebek pak tua, Tongki,” ucap Han Ciu.
“Aku suka padamu, jadi tak akan marah, kalau orang lain yang bicara seperti itu sudah aku tebas batang lehernya.” Tongki berkata sambil minum arak.
__ADS_1
Han Ciu melihat kedua orang berkepala botak itu membayar tagihan, kemudian keduanya keluar dari kedai.
Han Ciu kemudian membisiki Tongki, kakek itu kemudian terkekeh mendengar bisikan Han Ciu lalu mengangkat jempol.
“Akan kulakukan,” ucap Tongki.
Setelah makan, minum dan tertawa tawa, keduanya lalu berpisah.
Sebelum berpisah Tongki ingin melihat wajah Han Ciu, terpaksa Ia membuka capingnya, setelah melihat wajah Han ciu Tongki kemudian pergi.
Han Ciu menunggu kapal dari keluarga Suma yang menurutnya akan lewat sebentar lagi.
Dan perkiraannya benar, tak lama kemudian sebuah kapal besar bergerak perlahan masuk ke area Telaga Tong.
Fang Ji yang mencium bau Han Ciu langsung berlari dan melolong panjang sambil melihat ke arah sebuah perahu kecil.
Di atas perahu kecil duduk seorang pria yang memakai caping, terlihat rambutnya yang terurai berwarna kuning keemasan, seperti melambai lambai tertiup angin telaga.
Han Ciu langsung melesat ke arah kapal milik keluarga Suma.
Whuuut .... jreeg !
Fang Ji langsung mengelus elus kaki Han Ciu dengan lehernya, Suma Han serta kedua anaknya menghampiri, begitu pula Su Ki, Bu Heng dan Bu Khi.
“Salam hormat kami pendekar, Maafkan mata tua ini yang buta tidak mengenali pendekar muda yang hebat.” Ucap Suma Han.
“Sudahlah tuan Suma, aku hanya seorang pemuda yang baru saja turun gunung dan ingin melihat keramaian,” Han ciu berkata sambil tersenyum.
“Paman Su Ki bagaimana Fang Ji, apa dia sering membuat onar?” Han Ciu bertanya sambil tersenyum ke arah Su Ki.
“Aku yang merawat Fang Ji selama kakak Su pergi,” Suma Lan berkata, wajahnya merah ketika berkata.
“Ternyata adik Lan yang merawat, terima kasih adik Lan.” Han Ciu berkata sambil memberi Hormat.
Suma Lan membalas hormat Han Ciu sambil tersenyum manis.
“Tuan Suma, sekarang hendak kemana ?” Han Ciu bertanya.
“Kami sudah terlambat satu hari, jadi tak bisa istirahat, jadi memutuskan akan langsung ke telaga barat menemui sahabatku Si pedang Langit.”
“Tuan Suma, apa aku boleh menumpang di kapal ini lagi ?” tanya Han Ciu.
Ha Ha Ha
“Kau adalah keponakan Su Ki, tentu saja boleh, mari silakan ke dalam, kita bercakap cakap sambil minum arak.”
Mereka lalu bersama sama masuk ke dalam ruangan, lalu bercakap cakap sambil minum arak.
Mereka keluar sambil melihat lihat, ketika mendapat kabar bahwa mereka sudah sampai di markas perguruan selaksa pedang.
Suma Han serta yang lain sangat kagum dengan bangunan yang berada di telaga barat, walau berada di atas air, bangunan itu tak kalah indahnya dengan yang berada di darat.
Begitu pula Han Ciu yang terkagum kagum melihat bangunan – bangunan yang ada di telaga barat, sangat jauh berbeda ketika dahulu ia tinggalkan.
Lalu Han Ciu menyuruh Fang Ji berjalan di samping Suma Lan, Fang Ji menuruti perkataan Han Ciu lalu berjalan di samping gadis itu.
Ketika rombongan Suma Han datang, kebetulan Pedang langit dan semua petinggi sedang berkumpul, begitu pula dengan 4 orang gadis muda yang semuanya berpakaian putih.
Suma Han tersenyum melihat sahabatnya Pedang langit berdiri menyambut kedatangannya, sementara Su Ki memberi hormat kepada Sa Sie Hwa.
Hanya Zhain Li Er, Racun Cilik, Iblis Biru serta Pedang api menatap tanpa berkedip ke arah serigala yang berjalan bersama seorang gadis.
"Tunggu dulu !" terdengar teriakan kencang dari Zhain Li Er.
Gadis itu menatap tajam ke arah Suma Lan, lalu bertanya.
“Dari mana kau dapat Serigala itu, dan siapa nama serigala itu ?”
“Maaf nona, serigala ini bukan miliku tapi milik Su Fang,” Suma Lan Berkata, semua yang berada di sana tampak heran kepada Sikap Zhain Li Er, kecuali Racun Cilik, Iblis Biru, Pedang Api.
“Su Fang ?” Zhain Li Er berkata dengan nada kecewa.
“Benar nona !” serigala ini bernama Fang Ji”
Mendengar nama Fang Ji, Zhain Li Er langsung menghunus Pedang Angin, matanya tampak berkilat penuh nafsu membunuh.
Suma Han dan rombongan terkejut melihat sikap Zhain Li Er.
Ketika hendak bergerak ke arah Suma Lan, terdengar suara, pelan dari arah belakang.
“Apa kau berani membunuh serigala miliku ?” suara itu berkata.
Dan orang yang berkata berjalan ke arah depan, seorang yang wajahnya tertutup caping.
Lalu Han Ciu membuka capingnya.
Wajah pedang langit ceria.
Pedang Langit langsung teriak kencang, setelah melihat siapa wajah di balik caping.
__ADS_1
“Hormat kepada ketua selaksa pedang”