
Iblis Biru mengerutkan keningnya mendengar teriakan Tongki, “kenapa kau tidak bilang kalau sedang menyamar ?” Iblis Biru berkata.
“Aku kan sudah mengedipkan mata, kau masih saja tanya, dasar tolool,” kali ini Tongki sangat kesal terhadap lblis Biru.
Mendengar perkataan Tongki yang sudah dua kali menyebutnya Tolool, wajah lblis Biru langsung gusar.
“Mana aku tahu kau sedang menyamar ?!” suara Iblis Biru yang juga kesal berteriak kepada Tongki.
Sepasang Hantu malam saling pandang melihat kedua orang kakek yang berada di depan mereka saling beradu omong.
Hantu malam yang berambut putih yang kesal melihat keduanya, langsung teriak.
Diaam !
Mendengar teriakan salah seorang Hantu malam, lblis Biru serta Tongki menatap ke arah sepasang kakek bermuka serta berpakaian hitam, hanya rambut putih yang membedakan keduanya.
“Kenapa kau teriak ? Tanya lblis Biru sambil menatap tajam.
Orang tertua dari Hantu Malam mengerutkan kening, mendengar perkataan lblis Biru, lalu berkata.
“ Dasar orang – orang gila,”
“Apa kau bilang, coba katakan sekali lagi !” ucap Iblis Biru berkata dingin.
“Kalian berdua adalah orang gila,” teriak Hantu Malam berambut putih.
“Apa kalian tahu siapa kami ?
“Kami adalah tangan kanan Bu Ban Liong, ketua perguruan Naga Api,” ucap Hantu Malam berambut putih.
“Aku tidak peduli kau mau tangan kanan, mau kaki kiri, jika sudah membuatku kesal, walau kakekmu Dewa, akan ku bunuh.” Ucap Iblis Biru.
Phuih !
“Apa kau mampu ?” tanya Hantu Malam berambut putih, sambil tersenyum sinis.
Tulang jari lblis Biru terdengar gemeretuk, dan tampak keluar uap dingin dari kedua tangan kakek bermata biru itu, mendengar perkataan Hantu Malam berambut putih.
Tongki yang melihat tangan Iblis Biru sudah terisi tenaga dalam, hatinya bersorak.
“Hayo, bikin dia kesal, bikin dia kesal,” Tongki berkata dalam hati.
“Kalian berdua saja maju, biar cepat beres,” ucap lblis Biru dengan suara dingin.
Ha Ha Ha.
“Sombong sekali kau tua bangka,” Hantu Malam berambut putih berkata.
Mendengar perkataan kakek berambut putih berwajah hitam itu, Iblis Biru langsung menghantam.
kemarahannya sudah tak bisa terbendung lagi.
Pukulan Titik Beku langsung di gunakan oleh lblis Biru, Hantu Malam berambut putih melesat dengan cepat menghindari serangan lblis Biru.
Serangan yang mengandung hawa sangat dingin terasa oleh Hantu Malam, wajahnya terkejut melihat serangan Iblis Biru.
“Gila....ternyata tua bangka ini tenaga dalamnya sungguh hebat.” ucap Hantu Malam berkata dalam hati.
Hantu Malam berambut putih ternyata memang bukan hanya nama kosong, ilmu meringankan tubuh mereka cukup tinggi, sehingga serangan lblis biru yang menggunakan ilmu titik beku berhasil di hindari.
Iblis Biru dan Hantu Malam berambut putih mulai bertempur sengit dan saling serang.
Tongki melirik ke arah Hantu Malam yang lain, lalu bertanya.
“Menurutmu siapa yang menang ? Tongki bertanya.
Hantu Malam berambut hitam, mengerutkan keningnya mendengar perkataan Tongki, kemudian berkata.
“Tentu saja Toako ku yang akan menang !” Hantu Malam berkata
“Tidak mungkin, kawanku yang akan mengalahkan kakakmu,” ucap Tongki.
Phuih !
__ADS_1
“Pendekar murahan seperti kalian bisa apa ?” ucap Hantu Malam.
Tongki yang mendengar ucapan Hantu malam berambut Hitam membalas.
Phuih....Phuih !
“Kau cuma antek seorang perguruan butut banyak lagak di depanku,” Tongki tak mau kalah dengan ucapan Hantu malam berambut hitam.
“Apa kau bilang, perguruan butut ?” ucap Hantu Malam berambut hitam sambil melotot ke arah Tongki.
“Iya perguruan butut, apa aku salah ngomong ? Tanya Tongki sambil menatap ke arah Hantu Malam berambut hitam.
“Hati – hati dengan ucapanmu pak tua,” ucap Hantu malam berambut hitam sambil menatap ke arah Tongki.
“Memangnya Cuma kau yang bisa bicara seperti itu,” ujar Tongki sambil mendengus.
“Keparaat, kau berani padaku ?” ucap Hantu malam berambut Hitam.
Phuih !
“Aku mau tanya padamu, kau dengan Tongkat Naga mana yang lebih unggul ?” tanya Tongki.
“Tanyakan saja ke orangnya ngapain kau tanya padaku ?” kembali Hantu Malam berambut hitam berkata.
“Bangsaat ! kau tinggal ngomong saja susah amat,” Tongki saking kesal menghentakan kakinya ke tanah.
“Terserah aku, mau jawab mau tidak, kenapa kau yang marah.” Tongki sudah tak bisa menahan kemarahannya mendengar celoteh Hantu malam berambut hitam, lalu melesat dengan tangan menampar ke arah pipi Hantu Malam berambut Hitam.
Whuut !
Hantu Malam berambut hitam mundur dua langkah menghindari serangan Tongki.
Melihat serangannya berhasil di hindari, Tongki makin gemas terhadap musuhnya tangan kanannya menyambar kembali ke arah pipi Hantu Malam.
Karna omongannya selalu di jawab dengan tidak mengenakkan, Tongki sangat bernafsu ingin menampar mulut Hantu Malam berambut hitam.
Tapi serangan Tongki selalu saja bisa di hindari oleh Kakek berwajah hitam itu, pertarungan semakin lama semakin cepat.
Serangan – serangan Iblis biru juga belum berhasil mengenai musuhnya, karna ilmu meringankan tubuh sepasang Hantu Malam, ternyata tak bisa di remehkan dan itu yang membuat mereka susah untuk di taklukan.
Mereka terus bergerak, semakin lama semakin cepat.
Pukulan – pukulan lblis biru yang mengandung hawa dingin terus merangsek Hantu Malam berambut putih.
Hantu Malam berambut putih mulai mengeluh dalam hati, karna pukulan Hawa dingin yang di keluarkan oleh lblis Biru mulai terasa olehnya.
Setiap pukulan yang di lancarkan oleh kakek bermata biru, selalu saja membuat geraknya semakin lama menjadi semakin lambat, karna aliran darah di dalam tubuh Hantu malam berambut putih mulai membeku.
Begitu pula dengan Hantu Malam berambut Hitam, tak berani terlalu dekat dengan Tongki, karna pukulan Tongki yang mengandung panas tenaga dalam hawa neraka.
Sepasang Hantu malam baru sadar bahwa mereka baru bertemu dengan manusia – manusia yang susah untuk di hadapi, keduanya kini hanya berusaha menghindari serangan – serangan dari lblis Biru serta Tongki.
Sepasang Hantu malam kemudian mencabut pedang, lalu kembali menyerang.
Setelah memakai pedang, kali ini gaya bertarung mereka berbeda.
Dari bertahan sepasang Hantu malam sekarang balas menyerang.
Dengan mencabut pedang sepasang Hantu Malam, dari bertahan sekarang balas menyerang
Keduanya setelah memakai pedang bergerak lincah, jika berdekatan mereka menyerang bergantian, terkadang Hantu malam berambut putih menyerang Tongki, begitu pula sebaliknya.
Perubahan itu membuat lblis Biru serta Tongki terkejut, Tongki mencabut golok api.
Melihat golok berwarna merah yang berhawa panas, sepasang Hantu Malam tak mau beradu senjata dengan golok api milik Tongki.
Iblis Biru yang tidak memakai senjata, sekarang yang selalu menghindari serangan sepasang Hantu Malam.
Mereka terlihat seperti menyerang dengan asal, tapi gerak serangan mereka memang susah di tebak.
Tak terasa mereka bertempur, sampai pagi hari, keringat bercucuran.
Golok api semakin merah, tangan lblis biru juga semakin putih kebiruan, uap dari masing – masing kepala yang bertempur terlihat jelas.
__ADS_1
Iblis Biru mengeluarkan uap putih yang berhawa dingin, sedangkan Tongki mengeluarkan uap berwarna kemerahan yang berhawa panas.
Tongki dan Iblis Biru semakin gencar menyerang keduanya setelah hari berubah menjadi pagi.
Beberapa bayangan terlihat menghampiri mereka yang sedang bertempur.
Han Ciu serta selir dan Suma Han datang ke tempat mereka bertempur.
Karna lblis Biru dan Tongki tidak terlihat hingga pagi, lalu di sebar orang untuk mencari, dan mereka menemukan Keduanya sedang bertempur, lalu Han Ciu serta yang lain langsung menyusul.
Melihat pertempuran dan yang bertempur sudah mengeluarkan tenaga dalam sampai kepala mereka mengeluarkan uap.
Han Ciu langsung teriak kencang.
Berhenti...!!
Iblis Biru serta Tongki langsung mundur saat mendengar perkataan Han Ciu, lalu menghampiri dan memberi hormat kepada Han Ciu.
“Siapa mereka ?” tanya Han Ciu kepada lblis Biru dan Tongki.
“Mereka adalah mata – mata yang dikirim oleh Bu Ban Liong untuk menyelidik ke sini,” jawab Iblis Biru.
“Keparaat,” teriak Suma Han, kemudian hendak menyerang ke arah sepasang Hantu Malam, tapi keburu tangannya di pegang oleh Tongki.
“Jangan, kau tak akan sanggup melawan mereka,” ujar Tongki.
Mendengar perkataan Tongki, Suma Han tak percaya, tapi saat melihat isyarat tangan Han Ciu, Suma Han Langsung diam tak bergerak.
Han Ciu maju dan berhadapan dengan Sepasang Hantu Malam.
“Kalian sepertinya sudah tak bisa kembali,” ucap Han Ciu sambil menatap tajam ke arah sepasang Hantu Malam.
“Hai bocah, memangnya kau mampu menahan kami ?” ucap Hantu Malam berambut putih sambil menatap Han Ciu.
“Kurang ajar, tidak sopan terhadap ketua,”
Teriak Tongki.
Han Ciu memberi isyarat kepada Tongki untuk diam, lalu menatap tajam ke arah Hantu Malam berambut putih.
Kalian telah menghambat waktuku untuk menyerang perguruan Naga Api.
“Harus ada yang kau bayar untuk mengganti waktuku yang hilang,” ucap Han Ciu sambil menatap tajam.
Lanjut perkataannya, “kau boleh istirahat dulu atau langsung berdua menghadapiku sekarang.”
Ha Ha Ha
“Yang sudah tua bangka saja, tidak sanggup mengalahkan kami satu persatu, sekarang kau bilang akan menghadapi kami berdua.
“Lebih baik kau belajar lagi dengan gurumu anak muda” Hantu malam Berambut putih berkata.
Shing....Whuut....Trang !
Hantu Malam berambut putih sempat melihat Han Ciu menarik salah satu pedang yang berada di punggungnya.
Saat pemuda itu menyerangnya, Hantu malam berambut putih, langsung menangkis, kemudian lompat mundur.
Wajahnya pucat saat melihat ujung pedang miliknya telah terpotong sepanjang 2 ruas jari, dan tangannya terasa kaku serta hawa dingin merayap naik dari pedang yang tadi beradu dengan pedang tulang naga.
Han Ciu kemudian mencabut satu pedang lagi, kini kedua tangannya memegang sepasang Pedang tulang Naga, lalu menatap tajam kedua musuh di depannya, yang sudah memasang kuda kuda.
Mari kita buktikan.
Tongki yang melihat ketua dan kedua musuh sudah berhadapan, kemudian menoleh ke arah Iblis Biru.
"Mari kita bertaruh ! aku pegang ketua." ucap Tongki
Iblis Biru mendengus mendengar perkataan Tongki, lalu menjawab ucapan Tongki
"Kalau aku pegang musuh, itu artinya aku juga musuh kalian.
"Dasar tolool"
__ADS_1