
Han Ciu menyetujui usul dari Sa Sie Hwa.
Setelah istirahat di telaga Tong, karna tenaga terkuras akibat pertempuran yang amat melelahkan, ke esokan harinya Han Ciu bersama yang lain pergi ke telaga barat untuk melihat situasi di telaga itu.
Sudah hal yang lumrah, hukum rimba berlaku siapa kuat dia akan berkuasa, dan itu yang terjadi terhadap daerah sekitar telaga Tong serta telaga barat, kabar cepat menyebar saat dalam satu malam perguruan Elang putih habis di basmi oleh orang orang perkampungan selaksa pedang, berita dari mulut ke mulut menyebar.
Han Ciu dengan bantuan orang orang dari telaga Tong yang mau di bayar oleh Sa Sie Hwa, memburu dan membersihkan buaya buaya dari telaga barat.
Setelah sebagian buaya terbunuh serta beberapa buaya berhasil di tangkap dan di kandangi di tempat yang memang sudah ada di telaga barat, para penyelam sewaan serta orang perkampungan Selaksa pedang memeriksa alat alat rahasia di dalam air yang bisa membuat markas Perguruan elang putih tenggelam dalam air dengan waktu bersamaan.
Ternyata di dalam telaga barat memang terdapat batu batu besar yang terikat tali tali dari tambang yang kuat, yang bisa menarik markas Elang putih masuk ke dalam telaga barat dengan sebuah alat rahasia.
Setelah memutuskan untuk merusak alat alat yang membuat bangunan tenggelam.
Perlahan Bangunan yang semua bagiannya terbuat dari kayu kayu pilihan naik ke permukaan.
Anggota perkampungan selaksa pedang serta orang orang yang di bayar oleh Sa Sie Hwa, kemudian membersihkan dan memperbaiki bangunan markas perguruan Elang putih, harta berupa ratusan ribu tail perak dan ribuan tail emas, tersimpan rapi di peti peti yang berada di tempat penyimpanan harta milik perguruan Elang putih.
"Kakak Han, ternyata perguruan Elang putih, menyimpan banyak sekali harta !" ucap Sa Sie Hwa.
Atur uang itu oleh adik Sa.
Aku berpikir untuk membuat markas perguruan selaksa pedang di telaga barat, karna menurutku telaga barat mempunyai pertahanan alam yang sangat kuat, di kelilingi air serta pintu masuk hanya dari sungai yang tersambung dengan telaga Tong, membuat telaga barat tempat yang sangat cocok untuk sebuah markas perguruan selaksa pedang.
Sa Sie Hwa mengangguk mendengar perkataan Han Ciu.
Han Ciu lalu merundingkan soal pemindahan markas perkampungan Selaksa pedang ke telaga barat dengan pedang langit, pedang langit sangat setuju dengan usul dari Han Ciu, apalagi markas mereka yang berada di Yingchuan tidak banyak anggota yang tersisa karna sudah tersebar di berbagai cabang penginapan bunga naga untuk menjaga, dan melindungi penginapan dari ancaman pihak luar.
Setelah berunding, dan mereka semua setuju.
Sa Sie Hwa lalu mendatangkan ahli ahli bangunan yang biasa membuat bangunan di atas air, untuk di jadikan markas perkampungan selaksa pedang, serta berencana merubah dari perkampungan menjadi perguruan, dengan ruang lingkup yang lebih besar lagi.
Beberapa hari mereka Sibuk di telaga Tong, khususnya di telaga barat, membangun dan merancang markas perguruan selaksa pedang.
Gerbang telaga barat yang hancur telah di perbaiki sehingga pembangunan yang di lakukan tak terlihat dari luar.
"Cengcu, bagaimana dengan buaya buaya yang tersisa ?" ucap pedang langit.
"Buaya buaya itu sebenarnya adalah pertahanan alam yang sangat bagus juga ganas, jika kita bisa mengendalikan buaya buaya itu.
"Akan tetapi jika kita tidak bisa mengendalikan binatang ganas itu, binatang itu akan menjadi bumerang buat penghuni telaga barat." Han Ciu membalas ucapan Pedang langit.
Ketika tengah asik bercakap cakap, seorang anggota selaksa pedang masuk memberi laporan.
"Cengcu, dari kejauhan ada sebuah kapal yang lumayan besar menuju telaga barat, kami mohon petunjuk, tindakan apa yang harus kami lakukan ?" ucap anggota selaksa pedang.
"Tanya ada keperluan apa mereka kemari, dan siapa yang akan mereka temui di sini ?" baik Hu Cengcu, anggota selaksa pedang berkata kemudian meninggalkan ruangan.
__ADS_1
Tak lama kemudian penjaga yang melapor datang kembali.
"Tuan, yang datang adalah pemilik kapal Sin ko bersama nona Ahn nio.
Mendengar perkataan dari anak buahnya Han Ciu langsung berdiri.
"Cepat buka gerbang, suruh mereka masuk."
Penjaga itu mengangguk, kemudian pergi setelah mendengar ucapan Han Ciu.
Han Ciu bersama Pedang langit.
Berjalan keluar gedung, sambil memperhatikan beberapa perahu yang datang.
Sa Sie Hwa, Zhain Li Er dan Racun Cilik semua berkumpul untuk melihat siapa yang datang, karna mereka hanya tahu gerbang telaga barat terbuka dan beberapa kapal datang.
Saat pintu kapal besar terbuka dan seorang gadis cantik yang anggun, dengan senyum khasnya yang terlihat agak genit keluar bersama dengan seorang pria gemuk yang tak terlalu tinggi.
Cici Tie Ahn Nio, teriak Sa Sie Hwa dan Zhain Li Er, Xiao Er juga berlari kearah gadis itu.
Tie Ahn Nio tersenyum melihat gadis gadis yang sudah dianggap seperti adiknya sendiri, sementara Han Ciu tersenyum melihat kedatangan Ahn Nio dan Sin Ko.
Tie Ahn Nio berjalan bersama Sin Ko menghampiri Han Ciu.
Keduanya lalu memberi hormat.
"Salam sejahtera Ketua," ucap mereka berdua bersamaan.
Mata Ahn Nio berkaca kaca ketika melihat Han Ciu berada di depannya, tanpa ragu dan sungkan, gadis itu melesat dan memeluk Han Ciu.
"Han Ciu koko, ternyata benar rumor yang beredar, bahwa kau masih hidup," Ahn Nio berkata.
Han Ciu tersenyum dan mengangguk mendengar perkataan Ahn Nio.
Ketika melihat Racun Cilik berada di samping Han Ciu gadis itu tersenyum.
"Siapa nona muda ini, wajahnya sangat cantik," ucap Ahn Nio sambil tersenyum.
"Adik Zee, beri salam kepada cicimu"
Zee In Biauw mendengar perkataan Han Ciu lalu memberi hormat,
"Adik Zee ln Biauw memberi hormat kepada cici Tie Ahn Nio."
"Aih, ternyata adik termuda !" ucap Ahn Nio sambil tersenyum.
Racun cilik tersenyum malu mendengar perkataan Ah Nio.
__ADS_1
"Adik Zee serta gurunya yang telah menyelamatkan aku," Tie Ahn Nio mendengar perkataan Han Ciu, lalu memeluk Racun Cilik.
"Terima kasih, adik Zee kau telah menyelamatkan kakak Han." ucap Ahn nio
"Cici, kenapa Racun cilik terus yang di peluk, apa kami bukan adik adikmu ?"
Xi xi xi
"kalian semua adalah adik adikku, ucap Ahn nio"
"Kakak Han, aku senang kakak bisa berkumpul kembali bersama kami, hanya Ahn Nio yang terlambat bertemu, karna harus mengurus penginapan bunga naga di kota Nan."
"Sekarang kita semua bisa berkumpul disini, aku sangat senang sekali, kakak Han silahkan !" kami para gadis ada pembicaraan sendiri," Ahn nio berkata sambil tersenyum dan mengedipkan mata.
Pedang langit, Sin Ko serta Han Ciu lalu kembali ke dalam dan melanjutkan pembicaraan.
Han Ciu lalu memperkenalkan Sin Ko kepada Pedang langit.
"Kau tak usah khawatir, sekarang kita tak akan menyembunyikan identitas kita, semuanya akan terbuka juga nantinya, karna kita sekarang adalah saudara."
Han Ciu lalu menjelaskan kepada Sin Ko bahwa iya akan meresmikan perguruan Selaksa pedang, dan telaga barat akan menjadi markas utama mereka.
Sin Ko menyambut baik mendengar rencana Han Ciu.
"Tapi ketua, perguruan Selaksa Pedang adalah perguruan yang terdiri dari pendekar Pedang.
"Ketua harus mempunyai pedang untuk lambang perguruan selain sepasang pedang hitam milik ketua."
Han Ciu menarik napas sebelum berkata.
Sepasang pedang naga hitam telah hancur.
Sin Ko terkejut, tapi tidak dengan Pedang langit.
Pedang langit seperti berpikir dan termenung,
Pedang langit lalu menghela nafas, dan mengambil sebuah kotak yang terbuat dari kayu yang indah dan di letakkan di atas meja.
"Apa ini paman ?" tanya Han Ciu sambil menatap kotak yang ada di meja.
Pedang langit lalu membuka kotak kecil itu, dan mengeluarkan sehelai lembaran kulit dari dalam kotak dan membukanya di atas meja.
Ini adalah peta dimana pusaka pedang Tulang naga berada, menurut legenda, ada sebuah naga membuat kekacauan, kemudian Dewa menghukum naga, setelah terkubur ribuan tahun, tulang tulang naga sebagian hancur, hanya tersisa tulang inti naga.
Seorang pertapa kemudian, membuat sebuah pedang dari tulang naga itu, tapi setelah pedang itu selesai banyak pendekar pendekar yang mendengar kemudian memburu pedang legenda itu.
Pedang itu di sembunyikan oleh sang pertapa di suatu tempat.
__ADS_1
Dan peta ini merupakan petunjuk jalan menuju tempat itu.
"Apa Cencu mau mencoba mencari pedang ini ?"