Naga Hitam Dan 4 Selir

Naga Hitam Dan 4 Selir
Ch 251 : Rencana Han Cikung


__ADS_3

“Coba jelaskan padaku rencana paman,” ucap Xiang Yu.


“Yang Mulia! Kita menyerang seperti biasa, tapi pasukan kita yang menyerang kota Dang, kita tambah beberapa lipat, dengan satu serangan kita harus menghancurkan kota Dang.


“Serangan yang kita lakukan di kota Henei hannyalah pancingan agar mereka lemah.


“Tetapi sebenarnya serangan adalah menghancurkan kota Dang dengan kekuatan penuh,” Han Cikung mengatakan apa yang sudah ia pikirkan, sejak Liu Bang memilih kota Henei dan Kota Dang sebagai tempat pertahanan penguasa barat.


“Hamba yakin, Beng San mempertaruhkan segalanya untuk kota Henei, kota Dang hanya seperti cadangan bagi Beng San,” lanjut perkataan Han Cikung.


Xiang Yu anggukan kepala mendengar perkataan Han Cikung.


“Paman benar! Kenapa aku tidak berpikir ke arah sana,” ucap Xiang Yu.


“Baiklah! Paman yang memimpin pasukan menyerang kota Dang.


“Paman butuh berapa pasukan? Tanya Xiang Yu.


“Hamba butuh 30 ribu pasukan, untuk menggempur kota Dang.,” ucap Han Cikung.


“Baik! Akan ku berikan 30 ribu pasukan, tetapi kota Dang harus bisa di taklukan,” Xiang Yu berkata.


Keduanya lalu sepakat membagi dua pasukan, dengan sebagian besar pasukan di bawah pimpinan Han Cikung menyerang kota Dang.


Malam hari terasa hening, burung gagak, kumpulan anjiing hutan dan beberapa Serigala tampak berpesta pora di depan benteng kota Henei dan kota Dang.


Malam akhirnya berganti pagi.


kedua pasukan telah bersiap di posisi masing – masing.


Prajurit penguasa barat berbaris rapi di atas benteng, seperti pertama mereka berhasil menghalau pasukan bintang timur, tiga pemanah berbaris kebelakang dan memanjang sepanjang benteng kota Henei.


Sedangkan pasukan bintang timur berbaris menghadap ke arah benteng menunggu perintah dari pemimpin mereka.


Alat penghancur benteng berbaris dan siap meluncurkan batu² besar untuk berusaha menghancurkan benteng kota.


Sedangkan pasukan pemanah berkuda bersiap di kanan dan kiri pasukan bintang timur yang berbaris.


Trompet berbunyi, genderang perang di tabuh.


Dung....Dung....Dung....Dung!


Ketika melihat bendera merah berkibar, pasukan bintang timur perlahan bergerak menuju benteng dan gerbang kota Henei.


Kali ini gerakan pasukan bintang timur terlihat hati – hati, agar kejadian hari kemarin tak terulang kembali.


Pasukan bintang timur perlahan bergerak maju, dengan tameng di atas kepala.


Alat pelontar batu bergerak maju mengikuti ribuan prajurit yang berjalan menuju benteng kota Henei.


“Sepertinya tidak ada yang berubah dari serangan mereka? Beng San bertanya tanya dalam hati melihat pasukan bintang timur mulai bergerak.


“Hanya kini mereka berhati hati terhadap serangan panah,” batin Beng San.


Setelah musuh berada pada jarak tembak, tangan Beng San langsung mengangkat memberi aba – aba.


Serang..!


Ribuan anak panah melesat ke arah prajurit bintang timur yang maju mendekat.

__ADS_1


Ketika melihat ribuan panah ke arah mereka, kali ini pasukan bintang timur langsung secara berkelompok, membuat pertahanan dengan menutup tubuh mereka dengan tameng.


Ting....Ting....Ting....Ting....Crep!


Ratusan panah terlempar dan tak bisa menembus kerasnya tameng para prajurit bintang timur.


Tapi ada juga panah yang menancap di leher dan tubuh prajurit, ketika mereka berusaha mencari kelompok untuk bergabung, menahan panah pasukan penguasa barat.


“Jika seperti ini, banyak panah terbuang sia – sia,” batin Beng San.


"Luncurkan pelontar batu dari dalam kota! Teriak Beng San.


Pelontar batu yang lebih kecil dari yang di pakai oleh pasukan bintang timur di siapkan.


Sret....Sret....Sret!


Tiga buah batu melesat di atas para pasukan penguasa barat yang berdiri di atas benteng.


Semakin lama semakin banyak, semua alat pelontar batu di gunakan untuk bertahan dari serangan prajurit bintang timur yang hendak ke arah gerbang kota.


Melihat batu – batu meluncur di atasnya, Beng San langsung berteriak.


Panah....!


Ratusan panah melesat mengikuti batu.


Para prajurit bintang timur melihat puluhan batu menuju ke arah mereka, tangannya dengan erat memegang tameng, dan berharap batu itu tidak ke arah mereka.


Brak....Brak....Brak!


Batu yang di lontarkan dari dalam benteng menghantam prajurit bintang timur.


Di sisi lain, seorang prajurit tewas dengan tulang dada remuk, akibat menahan kencangnya hantaman batu lumayan besar dari alat pelontar batu milik penguasa barat.


Panah – panah pasukan penguasa barat yang mengikuti batu menembus tubuh prajurit yang pertahanannya terbuka.


Pelontar batu penghancur benteng yang terus maju, akhirnya mendapat jarak tembak yang di rasa cukup.


Puluhan batu melesat ke arah benteng kota Henei.


Brak....Brak....Brak!


Sebuah batu melesat ke arah pedang Langit, wakil ketua perguruan selaksa pedang mendengus.


Pedang Langit melesat, sinar putih menyabet menyilang ke arah batu yang melesat Ke arahnya, batu besar terbagi 4 terkena tebasan pedang Langit.


Setelah batu terbagi empat, telapak kiri menghantam ke arah batu.


Blam!


Sebagian remuk dan sisanya terlempar oleh hantaman telapak tangan kiri Pedang langit.


Beberapa prajurit pemanah, banyak yang terkena pelontar batu pemecah benteng, beberapa bagian atas benteng kota Henei ada yang terkena batu, tapi kerusakan tidak begitu parah.


Sementara Di kota Dang.


Han Cikung yang di beri 30 ribu pasukan, menyerang secara frontal.


Sebelum menyerang, Han Cikung menyiapkan pasukan pemanah berkuda.

__ADS_1


Ratusan anak panah yang batangnya telah di beri tabung berisi bubuk beracun dan sedikit mesiu, di siapkan oleh Han Cikung dan murid selaksa racun yang bergabung dengan pasukan timur.


Ribuan prajurit bintan timur maju mendekati gerbang kota Dang,


Sementara 5000 ekor kuda bergerak dari kiri dan kanan, sambil melepaskan panah yang berisi bubuk beracun.


Panah ber tabung yang di beri sumbu dan bubuk beracun di dalamnya, melesat ke arah pasukan kota Dang yang berdiri di atas benteng.


Jendral Guan terkejut, ketika melihat sebuah panah yang menancap di tubuh anak buahnya meledak dan mendesis mengeluarkan bubuk berwarna putih.


Apalagi setelah jendral Guan melihat ke depan, ribuan pasukan bergerak ke arah gerbang kota sambil membawa alat penghancur gerbang.


“Tutup mulut kalian! Awas asap beracun,” teriak jendral Guan yang langsung minum pil anti racun yang di berikan oleh Liu Bang.


“Turun, pertahankan pintu gerbang,” kembali jendral Guan berteriak kepada perwira.


Mereka langsung turun dari benteng dan bersiap di gerbang kota Dang.


Sementara para pemanah dari atas benteng kota, sambil menutup hidung agar racun tidak cepat masuk.


Para pemanah terus memanah, puluhan ribu prajurit yang bergerak sambil berlari ke arah benteng dengan wajah beringas.


Han Cikung memimpin langsung penyerangan, sambil memegang pedang naga jantan yang berwarna hitam, berteriak memberi semangat kepada anak buahnya.


Serang....Serang!


“Hancurkan kota Dang!”


Teriak Han Cikung sambil mengacungkan pedang nya yang berwarna hitam ke udara.


****


Tengah hari telah berlalu dan senja mulai datang, serangan gencar yang di lakukan oleh pasukan bintang timur sangat menguras perhatian para pemimpin kota Henei.


Wajah Liu Bang, Beng San, Pedang Langit serta Xiao Chen, berubah melihat tanda asap putih membumbung tinggi dari beberapa bukit.


Antara kota Dang dengan kota Henei, banyak bukit yang berjajar, mereka lalu mendirikan sebuah tempat pembakaran di beberapa bukit, agar kedua kota bisa saling memberi tahu melalui isyarat asap.


Dan isyarat asap dari beberapa bukit itu adalah tanda bahaya.


“Celaka! Kota Dang dalam bahaya,” ucap Liu Bang dengan wajah pucat.


“Mereka sangat licik, rupanya pasukan terbesar mereka kirim untuk menghancurkan kota Dang, prajurit di sana hanya 10 ribu, jika kota Dang berhasil mereka taklukan, mereka akan mengepung kota Henei dari dua sisi dan itu sangat berbahaya,” ucap Beng San.


“Saudara Pedang langit, aku butuh bantuanmu,” ucap Beng San.


“Katakan, apa yang harus kulakukan? Tanya Pedang Langit.


“Bawa 7 ribu prajurit untuk membantu kota Dang! Aku yakin jika tidak ada bantuan, malam ini kota Dang akan jatuh oleh pasukan bintang timur,” Beng San berkata.


"Tapi saudara harus hati², ini sangat berbahaya, mereka pasti mengerahkan kekuatan terbesar untuk menaklukan kota Dang, aku yakin gerbang kota Dang sudah berhasil mereka jebol," lanjut perkataan Beng San dengan wajah cemas.


“Aku akan segera kesana,” ucap Pedang Langit.


Mendengar Pedang Langit bersedia, Liu Bang membungkuk memberi hormat kepada Pedang Langit.


Dengan kedua tangan mengepal di depan dada, Liu Bang berkata penuh haru


“Maaf merepotkan paman.”

__ADS_1


__ADS_2