
Han ciu duduk bersama dengan Xiao cen, dan seorang kakek tua berpakaian merah, yang tadi di kenalkan oleh Xiao cen bernama Jun ti dan merupakan penasehat perguruan Api suci.
Orang tua yang tak banyak bicara, raut wajahnya seperti sedang cemberut, membuat orang sungkan untuk bicara atau sekedar bertanya.
Tak lama kemudian masuk dua orang yang sama memakai pakaian berwarna merah dan agaknya mereka seumuran dengan Xiao cen.
Xiao cen dan Han ciu berdiri ketika mereka berdua datang.
Han ciu perkenalkan ini adalah Xiao ti, adikku sekaligus wakil ketua perguruan Api suci, sedangkan yang ini adala saudara Mao san, ketua bidang hukum di perguruan api suci.
Han ciu mengangguk lalu memberi hormat kepada keduanya, sambil memperkenalkan diri.
Xiao ti dan Mao san tertawa dan mengangguk, mereka sangat senang dengan kesopanan yang di perlihatkan oleh Han ciu.
"Aku mengumpulkan Toako, ( Jun ti ) Xiao ti dan saudara Mao san untuk merundingkan sesuatu hal !"
"Kakak !" jika boleh tau, ada masalah apa sehingga kita semua berada di sini, apa ada sangkut pautnya dengan adik Han ini, Xiao ti berkata kepada kakaknya.
"Benar perkataan adik, ini ada sangkut pautnya dengan saudara Han."
"Saudara Han minta kepadaku agar memberitahu letak dari perkampungan selaksa pedang, tapi aku bingung jika memberitahu saudara Han, karna perguruan api suci dan perkampungan selaksa pedang, sudah lama bersahabat."
"Cengcu dari perkampungan selaksa pedang adalah Pedang langit yang merupakan tokoh yang sangat di segani oleh dunia persilatan,"
"Han ciu menanyakan letak perkampungan Selaksa pedang karna ingin menuntut balas, kawan kawannya tewas oleh perbuatan Kiam to dan sebagian orang orang dari perkampungan selaksa pedang." ucap Xiao cen.
"Maaf jika boleh tau, saudara Han ini dari perguruan mana ?" Mao san berkata.
"Aku tidak mempunyai perguruan paman, kakekku sendiri yang mengajarkan aku ilmu kepandaian," Mao san mengangguk mendengar perkataan Han ciu.
"Jadi perguruan mana yang telah di serang oleh Kiam to dan orang orang perkampungan selaksa pedang ?"
"Saudara Mao !" bukan perguruan tapi rumah hiburan yang bernama Surga malam yang berada di kota Nan." ucap Xiao cen.
"Rumah hiburan !" Mao san berkata sambil mengerutkan kening mendengar perkataan dari ketuanya, Xiao cen.
Xiao cen lalu menceritakan kejadian awal mula perseteruan antara Han ciu dan kiam to, hingga terjadinya pembataian yang dilakukan oleh Kiam to karena merasa terhina oleh Han ciu.
Hmm !
"Jadi begitu keadaan yang sebenarnya, apa ketua ingin membantu saudara Han menyerang perkampungan selaksa pedang ?" ucap Mao san sambil menatap Xiao cen.
Xiao cen diam tak menjawab perkataan anak buahnya Mao san.
"Ini adalah urusanku dengan perkampungan selaksa pedang, jadi tak ada sangkut pautnya dengan perguruan api suci."
"Aku datang hanya ingin melihat Ahn nio dan menanyakan tempat dari perkampungan selaksa pedang, ingin bertanya kenapa mereka sampai begitu kejamnya membantai orang orang yang tak tahu apa apa dan tak mengerti ilmu silat," Han ciu berkata.
Mao san mengangguk mendengar perkataan dari Han ciu, lalu menatap ke arah Jun ti, "bagaimana menurut sesepuh ?"
"kita jangan ikut campur urusan orang lain," ucap Jun ti.
Maaf ketua Cen, aku tak meminta bantuan, selain letak dari perkampungan selaksa pedang.
Han ciu berkata, ketika melihat sikap dingin dari penasehat perguruan api suci.
"Beritahu saja tempatnya dan siapkan peti mati, kami berempat saja belum tentu bisa mengalahkan mereka, apalagi cuma seorang pemuda bau kencur," Jun ti berkata sambil berdiri lalu meninggalkan ruangan.
Xiao cen menghela nafas, mendengar dan melihat penasehat perguruan api suci.
"Maaf kan kakak seperguruanku jika perkataannya menyinggungmu."
"Tak apa ketua Cen !" jadi klo boleh tahu dimana letak perkampungan selaksa pedang ?"
Perkampungan selaksa pedang ada di hutan dekat Yingchuan, daerah Yingchuan daerah dekat aliran sungai, tempatnya subur tapi hanya ada satu perkampungan di sebuah bukit luas, di atas bukit itulah letak perkampungan selaksa pedang.
"Aku memberitahumu karna aku juga penasaran, kenapa perkampungan selaksa pedang begitu ceroboh membunuh lawan yang tak mengerti ilmu silat, jika benar demikan nama perkampungan selaksa pedang akan menjadi bahan gunjingan orang orang dunia persilatan.
"Terima kasih ketua Cen, paman Xiao ti dan paman Mao san."
"Kau berhati hatilah anak muda," Xiao ti berkata.
__ADS_1
"Benar apa yang dikatakan oleh saudara Xiao ti, perkampungan selaksa pedang penuh dengan pendekar pendekar pedang yang tangguh, berhati hatilah anak muda !" ucap Mao san.
Han ciu mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua yang ramah itu, lalu diantar oleh ketua Cen ke tempat Ahn nio yang masih dalam tahap penyembuhan, karna luka yang ia derita akibat di keroyok oleh orang orang perkampungan selaksa pedang.
Xiao cen menunjukan kamar Ahn nio lalu pergi.
Tok tok tok
Han ciu mengetuk pintu kamar.
"Masuk saja !" suara lembut dari dalam kamar terdengar.
Han ciu membuka pintu kamar, kemudian masuk ke dalam kamar dan melihat seorang gadis tengah duduk melamun.
"Kau sudah baikan ?" ucap Han ciu.
Tie ahn nio menoleh ke arah pintu kamar ketika mendengar suara seorang lelaki.
Begitu melihat yang datang adalah Han ciu, Ahn nio langsung berdiri dan berjalan cepat lalu menubruk dan memeluk tubuh Han ciu.
"Han koko, Han koko mereka semua, mereka semua telah tiada," Ahn nio berkata sambil menangis.
Han ciu perlahan mengusap rambut Ahn nio.
"Sudahlah, mungkin semua ini sudah takdir, manusia tak bisa tahu akan kejadian yang menimpa mereka, kita doakan saja agar, Nio nio, Ling ling, Niu niu dan semua anggota rumah hiburan surga malam tenang di alam keabadian."
Ah nio yang mendengar perkataan dari Han ciu, semakin erat memeluk, seakan tak mau melepaskan Han ciu dari pelukan.
Setelah tenang Han ciu dan Ahn nio duduk berhadapan.
"Apa benar Kiam to beserta murid dan anggota perkampungan selaksa pedang yang menyerbu, rumah hiburan surga malam ?"
Ahn nio mengangguk mendengar perkataan dari Han ciu, wajah gadis itu langsung beringas ketika mendengar Han ciu menyebut nama Kiam to.
"Kakek laknat itulah yang memimpin penyerbuan, kami bertiga bersama para busu berusaha menahan mereka, tapi kami kalah segalanya dan aku melihat mereka membunuh satu persatu anak buah ibu, ibu juga kedua adik di depan mataku di bunuh oleh mereka."
"Sudahlah kau tenangkan saja dirimu, jika kau sudah baikan kembali saja ke kota Nan, biar aku yang akan membalaskan dendam Nio nio, dan kedua adikmu." ucap Han ciu.
"Aku sudah menyuruh bangsawan Kwe untuk membangun kembali Surga malam, jika bangsawan Kwe sanggup, aku suruh bangsawan Kwe untuk membangun yang lebih mewah dari bangunan yang dahulu."
"Benarkah perkataanmu ?" Ahn nio berkata sambil menatap Han ciu.
"Apa aku pernah berbohong ?" Han ciu berkata sambil tersenyum kepada Ahn nio.
Jika kau sembuh, kembalilah ke kota Nan, dan buatlah bangunan seperti apa yang kau kehendaki.
Aku akan mencari Kiam to dan membalaskan dendam orang orang Surga malam.
"Jangan jangan, biarkan saja, lebih baik kau bersamaku kembali kekota Nan, dan sekarang surga malam telah menjadi milikmu,"
"Kau tenang saja, aku ada peritungan sendiri, besok aku berangkat, jika kau kembali ke kota Nan, aku akan berpesan kepada ketua Cen untuk memberikan orang yang handal dan bisa di percaya untuk mengawalmu pulang." ucap Han ciu.
Setelah terjadi perdebatan antara berangkat dan tidak, akhirnya Ahn nio mengalah dan memutuskan untuk kembali ke kota Nan, setelah kesehatannya benar benar pulih.
Ke esokan harinya Han ciu pergi mengendarai kuda menuju Yingchuan.
Mata Ahn nio berkaca kaca dan mulutnya komat kamit membaca doa agar Han ciu bisa selamat, dan kembali ke kota Nan.
Xiao cen, hanya bisa menarik nafas dalam dalam melihat kepergian Han ciu, sementara itu ketiga kakek yang melihat kepergian Han ciu, salah seorang dari mereka tersenyum sinis.
****
Han ciu terus berputar putar sambil mengingat petunjuk jalan yang di berikan oleh Xiao cen.
Menurut pedagang yang tadi bertemu di jalan, Yingchuan sudah tak jauh, tapi Han ciu berputar putar di daerah itu masih saja, tak menemukan jalan menuju perkampungan selaksa pedang.
Seorang tukang pencari kayu yang sedang memikul kayu bakar untuk di bawa pulang, lewat di dekat Han ciu.
Tanpa sungkan Han ciu turun dari kudanya, dan bertanya kepada tukang pencari kayu.
"Paman boleh bertanya sebentar ?"
__ADS_1
Tukang kayu menatap Han ciu, kemudian berkata.
"Apa yang bisa aku bantu anak muda ?"
"Aku ingin ke perkampungan selaksa pedang, tapi menurut petunjuk jalannya ada di sekitar sini, tapi sudah berputar putar beberapa kali, aku masih tak menemukan jalan ke perkampungan selaksa pedang, apa paman tahu jalan menuju kesana ?"
"Mau apa tuan pergi ke perkampungan selaksa pedang ?"
"Jika aku bilang untuk mencari dan membunuh Kiam to, tak mungkin aku akan di beritahu oleh pencari kayu itu." Han ciu berkata salam hati.
"Aku ingin mencari teman yang katanya sekarang menetap di sana paman !"
"Siapa temanmu itu ?"
"Nama temanku si Pedang emas paman, dia murid dari Kiam to si Pedang tunggal."
Hmm !
"kau tinggalkan kuda di sini, lalu kau lihat semak belukar di depan sana, kau lewat di celah dinding batu di belakang semak itu, setelah berjalan dan keluar dari dinding batu ada sebuah bukit, di atas bukit itulah letak perkampungan selaksa pedang." ucap pencari kayu bakar itu dengan tatapan penuh curiga.
Han ciu tak peduli dengan tatapan itu, setelah berterima kasih, Han ciu lalu menambatkan kudanya, kemudian berjalan ke arah yang di tunjukan oleh paman pencari kayu bakar.
Dan benar yang di katakan oleh paman itu, ketika keluar dari celah batu yang merupakan jalan setapak.
Han ciu melihat bukit yang luas, diatas bukit terlihat perkampungan yang di tutupi oleh pagar kayu yang lumayan tinggi.
Han ciu berdiri di depan gerbang kayu yang tak di jaga oleh orang.
di atas gerbang ada papan besar yang tertulis. "Kampung Selaksa Pedang" sementara disamping gerbang ada sebuah lonceng, dan di dekat lonceng ada papan kayu yang sengaja di paku, dan tertulis di papan kayu itu.
Kampung Selaksa Pedang
Bunyikan lonceng 1 kali jika ingin bertamu.
Bunyikan lonceng 2 kali jika ingin bergabung.
Bunyikan Lonceng 3 kali jika ingin bertanding.
Han ciu mendengus membaca aturan itu, lalu memasang kuda kuda.
Kedua tangan perlahan bergerak ke atas dan kedepan, setelah menarik nafas dalam dalam.
Tanah yang di injak oleh Han ciu langsung melesak dan retak tanda sedang mengerahkan tenaga dalam tingkat tinggi.
Lalu dengan mengerahkan tenaga dalamnya Han ciu mendorong kedua tangan ke arah gerbang perkampungan selaksa pedang, dengan ilmu pukulan Dewa angin.
Blaaaaaar !
Gerbang yang terbuat dari kayu langsung hancur, sebagian terbang dan mental ke dalam, akibat di hantam oleh ilmu pukulan Dewa angin.
Setelah puas melihat gerbang kayu hancur, Han ciu mendengus dan berkata dalam hati.
Aku memilih aturan ke 4.
"Menghancurkan kampung selaksa pedang"
__ADS_1