Naga Hitam Dan 4 Selir

Naga Hitam Dan 4 Selir
Ch 247 : Keceriaan Sa Sie Hwa


__ADS_3

"Nyonya Sa kapan datang? Tanya Dewi Kipas sambil memberi hormat.


Dewi Kipas tahu asal usul Sa Sie Hwa yang berasal dari keluarga bangsawan.


Sa Sie Hwa tersenyum, kemudian anggukan kepala, apa bibi Dewi sehat? Tanya Sa Sie Hwa.


“Bibi baik² saja,” ucap Dewi Kipas.


Mereka kemudian bercakap cakap santai sambil melihat lihat keadaan prajurit yang sedang di latih oleh Pedang kiri dan kanan.


“Hampir semua kota yang kulalui sangat memprihatinkan, banyak pengemis baru bermunculan layaknya jamur di musim hujan, desa – desa yang terkena wabah tanpa ada satu pun dari tabib ada yang membantu, karena tabib² sudah di bawa oleh penguasa yang berperang.


“Hanya pemuda dan pria paruh baya yang bisa makan, itu juga mereka harus masuk menjadi prajurit.


:Siapa pun yang berhasil memenangkan pertempuran ini, baik dari penguasa barat maupun penguasa timur, mereka harus bekerja keras untuk menanggulangi akibat yang terjadi setelah perang, jika mereka tidak bisa menenangkan hati rakyat, maka rakyat kembali akan berontak, dan perang tidak akan berhenti,” Sa Sie Hwa menarik nafas panjang setelah bercerita.


“Bagaimana dengan kedua kota yang menjadi basis pertahanan pasukan penguasa barat, kota Henei dan kota Dang? Tanya Dewi Kipas.


“Paman Beng San terus membenahi pertahanan kedua kota, untuk menghambat pergerakan musuh, jebakan² mereka bangun, pasukan panah mereka latih dan para prajurit yang masih muda dan kuat di tempatkan di depan,” Sa Sie Hwa memberitahu apa yang ia lihat di kota Henei.


“Kakak Beng memang seorang yang teliti dan ahli dalam mengatur pasukan dan memikirkan cara dan solusi untuk memecahkan masalah, hingga sampai sekarang masih di percaya oleh yang Mulia Liu Bang untuk menjadi penasihat,” Dewi Kipas membalas perkataan Sa Sie Hwa.


“Tapi Dewi! walaupun pertahanan dan jebakan yang di buat oleh paman Beng San hebat, tetapi jumlah pasukan bintang timur sangat banyak, jadi menurutku akan sangat sulit mempertahankan kedua kota jika tidak ada bantuan dan strategi yang pas untuk melawan pasukan bintang timur,” Sa Sie Hwa berkata.


“Perkataan nyonya benar! ketua juga pernah berkata seperti itu, dan itu juga yang membuat ketua suka melamun, untuk memikirkan sebuah cara bagaimana mengatasi pasukan Bintang timur.


Keduanya lalu diam setelah bercerita.


“Oh iya, bibi sampai lupa! sekarang berapa usia kandungan adik Zee, dan bagaimana dengan keadaannya di tinggal oleh ketua? Tanya Dewi Kipas.


“Kalau tidak salah, sewaktu aku meminta ijin kepada Enci An Nio dan adik Zee pergi ke daratan, usia kandungan adik Zee sudah 7 bulan,” jawab Sa Sie Hwa.


“Bukankan adik Zhain juga tengah mengandung, berapa sekarang usia kandungan adik Zhain? Tanya Sa Sie Hwa.


“Kalau hitunganku tak salah, kandungan adik Zhain sekarang berusia 2 bulan, dan sekarang sedang banyak keinginan dari si jabang bayi,” ucap Dewi Kipas sambil tersenyum


“Sewaktu bertempur di padang rumput Taiyuan, adik Zhain tak mau memanggil ular untuk membantu pasukan kita, katanya tak kuat mencium bau anyir ular,” Xiao Er membalas perkataan Dewi Kipas.


“Apa adik bilang! Memanggil ular,” jadi sekarang adik Zhain bisa memanggil ular untuk bertempur? Tanya Sa Sie Hwa setengah tak percaya dengan perkataan Xiao Er.


Xiao Er dan Dewi Kipas anggukan kepala mendengar perkataan Sa Sie Hwa.


“Dan sekarang Enci Zhain tidak suka di dekati oleh kak Han,” ucap Xiao Er.


“Eh....apa kau bilang? Tanya Sa Sie Hwa.


Enci Zhain tak suka di dekati oleh kak Han,” ucap Xiao Er, kali ini lebih keras.


“Akhirnya....tidak sia – sia aku datang,” ucap Sa Sie Hwa, sambil mengedipkan mata kepada Xiao Er.


Xiao Er tersenyum melihat tingkah Sa Sie Wa.


Dewi Kipas yang tak mau mengganggu mereka, yang sepertinya ingin bicara berdua saja, pamit undur diri.


Dewi Kipas akan membantu tabib, mengobati prajurit yang terluka.


“Kenapa adik sampai tak suka di dekati oleh kak Han, apa dia cerita padamu? Sa Sie Hwa tampak penasaran sekali.


Zhain Li Er adalah musuhnya dalam memperebutkan Han Ciu.


Jika mereka bersama, selalu saja ada gangguan yang melibatkan keduanya.


Walau Zhain Li Er selalu menuruti setiap permintaan Sa Sie Hwa, tapi dalam soal asmara, Zhain Li Er tidak mau kalah.


“Adik Xiao! kalau benar apa yang kau katakan tadi, nanti malam kita akan pesta bertiga,” ucap Sa Sie Hwa.


“Pesta!”


Xiao Er tampak bingung, mendengar Sa Sie Hwa menyebut pesta.


“Pesta apa? Xiao Er balik bertanya.


Sa Sie Hwa kemudian berbisik di telinga Xiao Er.


“Perlahan wajah Xiao Er merah, setelah mendengar bisikan² Sa Sie Hwa.


“Bagaimana! Adik mau tidak? Tanya Sa Sie Hwa.

__ADS_1


Xiao Er akhirnya anggukan kepala sambil tersenyum malu.


“Tapi jika Kak Han marah, Enci Sa harus tanggung jawab,” ucap Xiao Er.


“Kau tenang saja, aku yang akan hadapi jika kak Han marah,” jawab Sa Sie Hwa.


Xiao Er memberikan jari kelingkingnya, yang di balas oleh Sa Sie Hwa.


“Kita sepakat”


Keduanya lalu jalan berdampingan, melihat prajurit yang sedang di latih oleh Pedang kiri dan kanan serta Pedang Api.


“Paman! Bagaimana dengan persiapan pasukan? Tanya Sa Sie Hwa.


“Pasukan sudah siap nyonya, ini hanya latihan ringan.” Jawab Pedang Api.


“Paman siapkan perbekalan dan pasukan, aku rasa kak Han akan segera memerintahkan pasukan bergerak,” ucap Sa Sie Hwa.


“Hamba juga berpikiran seperti itu nyonya.


“Baiklah! Hamba akan perintahkan kepala pasukan agar bersiap dan membereskan perbekalan,” setelah berkata, Pedang api pamit undur diri untuk memberi tahu kepala pasukan.


Xiao Er seperti seorang pemandu buat Sa Sie Hwa, gadis itu menceritakan perjalanan mereka sejak dari Xianyang.


Dan Sa Sie Hwa tampak senang mendengarnya dan ber andai – andai, jika ia ikut ber petualang bersama Han Ciu, ia akan sangat senang sekali, dan kini hal itu menjadi kenyataan, walau ber petualang menempuh maut, Sa Sie Hwa mau asal tetap bersama Han Ciu.


Xiao Er membawa Sa Sie Hwa ke tempat latihan memanah yang di latih oleh Talaba.


Talaba memberi hormat ketika melihat Sa Sie Hwa datang, kebetulan di sana juga ada Huang Zilin.


Setelah berbicara sebentar dengan Talaba, Sa Sie Hwa menatap ke arah Huang Zilin.


“Apa paman tadi yang bersama Tongki? Tanya Sa Sie Hwa.


“Benar nyonya, hamba Huang Zilin anak buah ketua Han,” jawab Huang Zilin.


Xiao Er kemudian membisiki Sa Sie Hwa, siapa Huang Zilin.


Sa Sie Hwa anggukan kepala ketika tahu siapa orang tua di depannya ini.


“Paman di sebut Iblis petaruh, Pasti paman suka bertaruh? Tanya Sa Sie Hwa sambil tersenyum.


“Apa nyonya mau bertaruh denganku? Tanya Huang Zilin seperti berharap, karena sudah lama ia tidak bertaruh, semua orang takut jika di ajak bertaruh oleh Huang Zilin.


“Bertaruh.”


“Bertaruh apa? Tanya Sa Sie Hwa.


“Terserah nyonya ingin bertaruh apa, Huang Zilin sangat merasa terhormat bisa bertaruh dengan nyonya Sa.


“Baik! Berapa uang yang kau punya sekarang? Tanya Sa Sie Hwa.


“500 tail emas,” jawab Huang Zilin.


“Baik! Kita bertaruh 500 tail emas.


“Paman pasti sudah di beritahu bahwa nanti malam kita berkumpul!


“Ketua Han akan membahas masalah informasi yang aku sampaikan dari Henei.


Bahwa pasukan bintang timur sudah siap menyerang.


“Ketua Han pasti tidak mau kita berlama lama di sini, menurutmu! Kapan pasukan ketua Han akan bergerak menuju kota Zulu?”


Huang Zilin kerutkan kening, mendengar perkataan Sa Sie Hwa, kemudian berkata.


“Silahkan nyonya Sa terlebih dahulu menebak! Seru Huang Zilin.


“Paman! Aku adalah istri dan pembawa berita, jika aku menebak terlebih dahulu, aku di sebut curang kalau tebakanku benar, jadi Silahkan paman Huang yang menebak terlebih dahulu,” Sa Sie Hwa berkata.


Hmm!


“Persiapan, beres² perbekalan, dan 4 hari perjalanan untuk sampai ke kota Zulu,” batin Huang Zilin.


3 hari lagi pasukan akan berangkat ke Zulu,” ucap Huang Zilin setelah menghitung dan mempertimbangkan dalam hatinya.


“Baik! Aku pegang 2 hari lagi pasukan akan berangkat,” Sa Sie Hwa membalas ucapan Huang Zilin.

__ADS_1


“Jangan lupa 500 tail emas! Seru Sa Sie Hwa.


Setelah keduanya sepakat, Sa Sie Hwa, kemudian mengajak Xiao Er kembali ke tenda.


Malam di tengah tenda – tenda yang berdiri, terdapat tempat agak luas, sebuah meja bundar tampak di tempat itu bersama dengan kursi yang sudah di siapkan.


Semua anak buah Han Ciu yang memimpin pasukan berkumpul.


“Kawan – kawan! Menurut kabar yang di bawa istriku dari Henei, pasukan bintang timur akan menyerang.


“Kita akan bergerak menuju kota Zulu, 4 hari perjalanan kita sampai Di Zulu.


“Setelah sampai, kita bisa melihat situasi dan kondisi pasukan musuh, jika mereka lengah dan lemah, baru kita turun untuk membantu.


“Jebakan² sudah di persiapkan oleh kedua kota yang menjadi pusat kekuatan penguasa barat, Henei serta kota Dang.


“Siapkan pasukan, rawat prajurit yang luka dan bereskan semua perbekalan, paling lambat 3 hari kita berangkat ke kota Zulu,” ucap Han Ciu.


Mata Huang Zilin langsung berkilat sambil melirik ke arah Sa Sie Hwa, ketika mendengar perkataan Han Ciu.


Wajah Xiao Er tampak kecewa, mendengar perkataan Han Ciu, karena ia juga tahu mengenai taruhan Sa Sie Hwa.


“Ketua! jika memang keadaannya genting, kenapa kita tidak cepat bergerak, pasukan sudah siap, perbekalan juga sebagian sudah siap,” ucap Pedang Api.


Mendengar perkataan Pedang api, Han Ciu anggukan kepala, kemudian berkata kembali.


“Seperti yang kalian dengar! Ternyata paman pedang api sudah menyiapkan semuanya, jadi kita berangkat 2 hari lagi menuju kota Zulu.


“Bagaimana? Tanya Han Ciu.


“Setuju! lebih cepat lebih baik,” ucap mereka yang berkumpul silih berganti.


“Baik! Kita berangkat 2 hari lagi,” ucap Han Ciu memutuskan.


“Huang Zilin langsung menepak keningnya, mendengar keputusan Han Ciu.


“Kenapa kau? Tanya Tongki yang berada di sisi Huang Zilin, melihat tingkah kawannya itu.


Huang Zilin menjawab, dengan raut wajah sedih.


“Aku habis di rampok”


Zhain Li Er pamit undur diri saat malam mulai larut, Dewi Kipas juga ikut karena Zhain Li Er minta di temani.


"Mari adik Xiao! kita undur diri, kita siapkan pesta seperti yang tadi kita bicarakan,"


Xiao Er anggukan kepala, kemudian pamit undur diri bersama Sa Sie Hwa.


Ketika lewat dekat kursi Huang Zilin, Sa Sie Hwa berkata pelan.


“Besok aku ambil”


Lalu mengajak Xiao Er pergi.


Han Ciu tak lama kemudian undur diri, sebagian masih berkumpul untuk membahas rencana dan persiapan keberangkatan, hanya Huang Zilin yang tak banyak bicara.


Han Ciu berjalan ke arah tenda, sudah 2 hari Zhain Li Er selalu menjauh jika ia mendekat.


Dewi Kipas memberitahu bahwa itu adalah bawaan bayi yang di kandung.


Han Ciu maklum dan tak mempermasalahkan.


Han Ciu masuk ke dalam tenda.


“Kenapa lampu tenda redup,” pikir Han Ciu.


Ketika melangkah masuk.


Han Ciu melihat Sa Sie Hwa duduk di pinggiran meja, memakai baju sutra tembus pandang, dan di balik baju sutra itu tanpa sehelai benang menghalangi tubuhnya yang indah.


Semua lekuk tubuh Sa Sie Hwa terlihat jelas, begitu pula dengan Xiao Er dengan keadaan yang sama, duduk di dekat Sa Sie Hwa sambil matanya mengerling manja.


Han Ciu tak berkedip melihat apa yang terpampang di depan mata.


Ketika mulutnya terbuka hendak mengatakan sesuatu.


Sa Sie Hwa tangan telunjuk kirinya bergerak ke arah bibir, memberi isyarat kepada Han Ciu.

__ADS_1


“Jangan bicara! Lebih baik banyak bekerja.”


Ucap Sa Sie Hwa sambil menyodorkan guci arak.


__ADS_2