Naga Hitam Dan 4 Selir

Naga Hitam Dan 4 Selir
Ch : 83 Bersedia Membantu Perkumpulan Pengemis Tongkat Hitam


__ADS_3

Pedang langit, dan yang lain terkejut mendengar perkataan wakil ketua perkumpulan pengemis tongkat hitam


"Hu pangcu, mari kita ke dalam dan bicara di sana !" ucap pedang langit.


Hu pangcu yang bergelar Tongkat bumi, Ma cao mengangguk.


"Tuan Song, tolong antarkan gubernur Xiu, dan perketat penjagaan, jangan biarkan ada orang masuk !" ucap Han ciu.


"Baik ketua !" Song kui, gubernur Xiu dan kedua kakek pengawal xiu peng memberi hormat, lalu pergi.


"Saudara Ma sekarang ceritakan, apa yang terjadi ?"


"Ma cao menarik nafas sebelum bercerita."


"Ketua menerima surat, dari nona Xiao er bahwa perguruan api suci dalam bahaya, lalu mengumpulkan para tetua, dan merundingkan masalah surat itu, lalu pangcu memutuskan untuk berangkat bersama Hek kay untuk melihat situasi ke kota sanchuan, tapi sudah lima hari ini kami tak mendengar kabar dari pancu, para tetua lalu berunding kembali, kemudian memutuskan untuk meminta bantuan perkampungan selaksa pedang."


"Kami juga mendapat surat dari perkumpulan pengemis tongkat hitam,"


"Kami memang menyebar anggota kami, karna perkumpulan pengemis, melihat ketua dan rombongan menuju Handan, lalu aku memutuskan untuk bertemu dengan saudara Zhi dong di sini." begitu rupanya, ucap Pedang langit.


"Bagaimana menurut cengcu ?"


Ma cao melirik ke arah Han ciu yang di sebut cengcu.


"Tuan zhi, apakah tuan muda ini naga hitam Cengcu dari perkampungan selaksa pedang yang kabarnya tewas di jurang ?"


"Benar saudara Ma, Cengcu baru kembali, tapi tolong saudara Ma jangan menyebarluaskan perihal Cengcu selaksa pedang, karna kami tak ingin kedatangan Cengcu untuk saat ini di ketahui oleh orang orang dunia persilatan."


"Tuan Zhi dan Cengcu tak usah khawatir, aku akan menutup mulut rahasia ini."


"Sebelum Saudara Ma datang, Cengcu memang ada rencana, dan besok kami akan berangkat ke kota Sanchuan."


Terima kasih Cengcu, Saudara Zhi, perkumpulan pengmis tongkat hitam, tak akan melupakan budi perkampungan selaksa pedang dan penginapan bunga naga.


"Hu pangcu tak usah berkata seperti itu, sesama teman harus saling bantu."


Setelah di jamu arak dan makanan, sore menjelang malam Ma cao pamit undur diri, dan kembali ke perkumpulan pengemis tongkat hitam cabang kota Handan.


"Apa kalian akan ikut semua ke perguruan api suci ?" Han ciu bertanya.


"Cengcu, lebih banyak orang akan lebih baik, kita pergi dengan kereta saja, karna banyak wanita dan biar tak di curigai oleh musuh."


Han ciu setuju dengan perkataan Zhi dong.


"Tunggu sebentar !"terdengar seruan, ketika Han ciu ingin beranjak dari ruangan.


"Aku ingin bertanya, melihat kemampuan nona yang di panggil Racun cilik, jika boleh kami tahu siapa guru nona ?"


Racun cilik melihat ke arah Han ciu ketika mendengar perkataan Iblis seribu wajah,


Racun cilik melihat Han ciu mengangguk, lalu memberitahu.


"Guruku di kenal dengan nama Racun langit."


"Apa kau bilang !" kau murid Racun langit ?" ucap iblis seribu wajah.


"Benar,"


"Pantas saja kau sangat ahli dalam soal racun, dimana gurumu sekarang ?"


"Guru berada di lembah tak bernama." Zee di suruh guru, ikut dengan kakak Han mencari murid guru yang murtad."


"Lalu setelah itu ?" Iblis seribu wajah bertanya sambil menatap Racun cilik.


"Setelah itu, guru bilang terus ikuti kakak Han kemanapun dia pergi."

__ADS_1


"Oh"


Hanya itu yang keluar dari mulut iblis seribu wajah.


Mereka lalu pergi ke tempat masing masing, Han ciu juga melihat Racun cilik pergi, sementara Sa sie hwa dan Zhain li er entah kemana.


Ketika berjalan bersama dengan Iblis seribu wajah, Han ciu mendapat bisikan dari orang tua itu.


"Kau harus mengawasi mereka semua, jika sampai berkelahi, maka akan runyam urusanmu, apalagi istrimu Li er."


"Istri," kapan aku kawin dengan Li er, kakek bilang dia istriku ?"


Iblis seribu wajah tertegun, Han ciu juga ikut berhenti melihat kakek tua itu berhenti.


"Aneh, Li er bilang kau sudah menidurinya, bahkan kau suruh dia cium cium itu mu,"


"Ngaco saja kalau ngomong," Wajah Han ciu berubah merah, mendengar perkataan Iblis seribu wajah yang cengar cengir berjalan sambil menyusul Dewi angin.


Sedangkan Han ciu kembali ke tempat ia tinggal.


Han ciu membuka pintu dan langsung tertegun, melihat di dalam rumah, tepatnya di tangah ruangan yang terdapat meja dan beberapa kursi, tengah duduk 3 orang gadis yang seperti berhadapan, Sa sie hwa, Zhain li er dan Racun cilik.


Melihat 3 gadis di dalam rumahnya, Han ciu masuk sambil menarik nafas dalam dalam.


Hmm !


Han ciu bingung apa yang harus ia katakan, Han ciu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Han ciu lalu duduk di kursi kosong diantara mereka bertiga.


Kemudian mengambil cawan arak, Sa sie hwa langsung mengambil poci dan menuangkan arak ke dalam cawan yang di pegang oleh Han ciu.


"Apa kalian tak di beri kamar oleh Song kui ?"


"Kamarku disini," ucap Racun cilik


Sa sie hwa tersenyum mendengar perkataan 2 gadis yang berada di depanny, lalu melirik ke arah Han ciu sambil berkata.


"Sekarang kau mau berkata apa ?"


Han ciu tak menjawab perkataan Sa sie hwa, ia hanya mengangkat cawan arak.


Sa sie hwa kembali mengambil poci dan menuangkan arak ke cawan yang di pegang Han ciu.


Han ciu tanpa ragu langsung meminum arak yang di tuangkan oleh Sa sie hwa.


Setelah meminum arak, Han ciu lalu menatap Li er dan Racun cilik bergantian.


"Kalian berdua kenapa belum tidur ?"


"Menunggumu, biar kita bisa tidur bersama," ucap Li er.


Hmm !


"Ja..jadi kalian pernah tidur bersama ?"


"Aku kan istrinya, kenapa kau yang kaget," nada suara Li er mulai tinggi menjawab perkataan Racun cilik.


"Aku bukan istrinya sudah dua kali tidur bersaa." Racun cilik langsung diam dan menundukan kepala karna sudah merasa ada yang salah dari perkataanya tadi.


Han ciu langsung menoleh mendengar perkataan dari Racun cilik.


"Perasaan ga pernah tidur bareng," Han ciu berkata dalam hati.


"Apa kau bilang, coba sebutkan lagi." ucap Li er sambil berdiri.

__ADS_1


"Hai, wanita racun !" jangan nunduk terus, angkat kepalamu."


"Apa kau bilang, wanita racun ?" Racun cilik berdiri sambil menatap Zhain li er.


"Han ciu koko !" Sa sie hwa berbisik, "apa benar Adik Zhain li er sudah menikah denganmu ?"


"Kau lebih percaya aku atau dia ?"


Sa sie hwa mengangguk mendengar perkataan Han ciu.


"Aku percaya pada Han ciu koko" ucap Sa sie hwa.


"Tapi !"


"Tapi apa lagi ?" Han ciu berkata sambil menatap Sa sie hwa.


"Tapi aku percaya dengan perkataan adik Zee,"


"Kupikir kau dewasa, ternyata sama saja dengan mereka,"


Xi xi xi,


Sa sie hwa tertawa pelan.


"Han ciu koko tenang saja, aku yang tua harus sabar dan mengalah pada yang muda, tapi ingat !" mengalah bukan artinya tak ada jatah." ucap Sa sie hwa sambil mengedipkan mata ke arah Han ciu.


Hmm !


Mendengar dengusan Han ciu, Sa sie hwa tersenyum nakal.


"Mari kita tidur bersama !" biar adil, aku saja yang atur jika ada yang tak suka, dia boleh tidur di luar, bagaimana ?" Li er dan Racun cilik sama sama mengangguk mendengar perkataan Sa sie hwa.


Tang..Tang !


Dua kali kentongan terdengar dari para penjaga yang bertugas keliling komplek penginapan bunga naga.


Han ciu menatap langit langit kamar dari atas tempat ia tidur, matanya susah untuk di pejamkan.


Sa sie hwa tidur di kiri dan tangannya mengapit tangan Han ciu.


Sedangkan Racun cilik, saling berpegangan tangan dengan Han ciu.


Li er kepalanya di perut Han ciu dengan posisi tubuh seperti melingkar.


Han ciu mengehela nafas.


"Ada satu, seperti tak mau."


"Kumpul bersama tak bisa apa apa"


Benar ucapan dari Dewa Chu.


"Cinta, deritanya tiada akhir."


Pagi hari, 2 kereta kuda telah siap, kereta kuda yang lebih besar untuk Han ciu, sedangkan satu lagi untuk iblis seribu wajah dan Dewi angin.


Sementara Pedang langit tak mau ikut di dalam kereta karna tak biasa, dan lebih memilih menunggang kuda dengan beberapa pendekar dari perkampungan selaksa pedang.


Song kui dan keluarga sudah menunggu, Gubernur Xiu peng bersama anaknya Xiu an juga datang.


ketika melihat Han ciu, Song kui langsung menghampiri.


"Song kui senang ketua bisa istirahat dan tidur dengan nyenyak di penginapan bunga naga cabang kota Handan."


Mendengar perkataan Song kui, Han ciu mendengus dan menatap juragan Song.

__ADS_1


"Kau meledek ku ?"


__ADS_2