
Jiang Wu yang di kenal sebagai pedang kiri dan kakaknya Jiang Wei si pedang kanan, dulu adalah perwira muda yang berprestasi di kerajaan Qin, mereka adalah perwira pengawal kaisar Qin, setelah melihat kehebatan mereka berdua.
Keduanya mau di beri jabatan lebih tinggi, tapi mereka keburu melarikan diri.
Kini keduanya bekerja sama menyerang Tongki yang sudah bersiap, dengan golok api di tangan kanan.
Jiang Wu melesat sambil menusuk ke arah dada kiri Tongki, sedangkan Ziang Wei pedangnya menebas ke arah kaki.
Whut....Shing !
Tongki loncat sambil memutar golok api, menangkis serangan Jiang Wu dan menghindari tebasan Jiang Wei.
Trang !
Tangan Jiang Wu bergetar, “benar juga kata kakak, orang tua ini bukan tokoh sembarangan, tenaga dalam kami masih berada di bawah pendekar tua ini,” batin Jiang Wu.
Tongki setelah berhasil menangkis serta loncat menghindar.
Golok apinya bergerak dari atas dan membacok arah kepala Jiang Wei.
Jiang We yang baru saja berdiri setelah menyerang kaki Tongki, memalangkan pedang di atas kepala, menahan bacokan golok Tongki.
Trang !
Jiang Wu melihat golok Tongki dan pedang kakaknya masih menempel, lalu menyerang ke arah pinggang.
Melihat serangan Jiang Wu yang menebas pinggangnya dari arah kiri, telapak kiri Tongki menghantam, ke arah pedang Jiang Wu.
Hawa tenaga dalam yang kuat menahan pedang Jiang Wu, sehingga pedang Jiang Wu mental tak mengenai sasaran.
Golok yang masih menempel bersama pedang, kemudian di putar oleh Tongki, pedang Jiang Wei ikut berputar.
Tapi Jiang Wei dengan cepat menarik pedangnya agar tidak di hantam oleh golok Tongki.
Jiang Wei tahu setelah pedangnya ikut berputar, langkah selanjutnya Tongki akan menghantam pedangnya agar terlepas dari genggaman.
Melihat Jiang Wei sudah menebak pergerakannya, Tongki yang goloknya terlepas, kemudian berputar lalu tangan kiri menghantam pinggang Jiang Wei.
Plak !
Tangan kiri Jiang We kembali menangkis serangan Tongki, walaupun tahu ia kalah tenaga dalam, tapi hanya itu kesempatan Jiang Wei untuk menahan serangan Tongki, karena pedangnya sudah mati langkah.
Kembali Jiang Wei terhuyung, tapi kali Tongki tidak menyerang Jiang Wei yang sedang tidak siap, karena sang adik sudah menyerang dengan menyabetkan pedang di tangan kiri ke arah bahu Tongki dari belakang.
Tongki berbalik lalu goloknya di hantam kan ke arah mata pedang Jiang Wu
Trang !
__ADS_1
Suara nyaring dan percikan bunga api terlihat ketika kedua senjata bertemu.
Jiang Wu mundur, Jiang Wei juga ikut mundur dan berdiri di sisi sang adik.
Jiang Wu kemudian melihat pedangnya.
“Mata pedangku rompal, ternyata memang bukan golok sembarangan,” batin Jiang Wu.
Ketika mereka hendak kembali menyerang, langkah mereka terhenti saat mendengar suara jerit kesakitan dan teriakan² beberapa orang.
Jiang Wu serta Jiang Wei tanpa memedulikan Tongki melesat ke arah sumber suara.
Keduanya berhenti dan tertegun ketika melihat seorang gadis berdiri, sementara di sekitar gadis itu, terlihat 5 orang penjaga di rumah Jiang Wu tergeletak dengan mulut penuh darah.
“Siapa kau ? Berani sekali mengacau di rumah Cengcu kampung Yangku,” teriak Jiang Wu dengan wajah merah.
Tongki serta Dewi Kipas yang ikut menyusul, kemudian tersenyum ketika melihat Zhain Li Er datang.
“Aku memang mencari Cengcu kampung Yangku, apa kau orangnya yang bernama Jiang Wu ? Ucap Zhain Li Er sambil menunjuk ke arah Jiang Wu.
“Benar ! Aku yang bernama Jiang Wu, ada keperluan apa nona mencari aku ? Tanya Jiang Wu sambil menatap tajam ke arah Zhain Li Er.
“Beberapa orang penduduk kampung terlihat mencurigakan, kemudian aku ikuti, ternyata mereka menuju tempat pelatihan, dan di sana aku lihat ratusan pemuda yang sedang berlatih,” bisa kau jelaskan.
“Apakah kau anak buah Xiang Yu ? Tanya Zhain Li Er balas menatap tajam,
“Kampung Yangku tak ada hubungan dengan timur maupun barat, kami sudah muak dengan perang,”
“Sebagian adalah penduduk, sisanya adalah pendatang yang rela bergabung kemudian menetap, kami semua melakukannya untuk menjaga kampung Yangku,” jawab Jiang Wu.
Cis !
“Aku tak percaya, cepat katakan sejujurnya ! Apa kampung Yangku ini tempat pelatihan pasukan bintang timur ? Tanya Zhain Li Er sambil mencabut pedang angin.
“Tunggu dulu nyonya,” ucap Dewi Kipas.
“Aku ingat sekarang,”
“Apa kalian Pedang kiri dan Pedang kanan, mantan perwira pengawal kaisar Qin yang telah mangkat ? Tanya Dewi Kipas.
Jiang Wu serta Jiang Wei terkejut ketika mendengar perkataan Dewi Kipas.
Da....dari mana, Dewi bisa tahu hal itu ? Tanya Jiang Wu.
Aku pernah mendengar dari kakakku tentang 2 orang perwira muda yang kabur, karna tidak suka dengan para pejabat serta kasim kaisar Qin yang banyak penjilat.
Jiang Wei menarik napas mendengar perkataan Dewi Kipas.
__ADS_1
“Dewi benar, kami adalah si pedang kiri dan kanan itu, jika kami boleh tahu siapakah kakak Dewi yang mengenal kami ? Tanya Jiang Wei.
“Kakakku bernama Beng San atau si Telapak Dewa,” ucap Dewi Kipas.
“Kami sangat mengagumi Koksu Beng San, dulu sebelum pergi kami menerima nasihat beliau, tapi ketetapan hati kami sudah bulat waktu itu, untuk keluar dari kerajaan Qin.” Jiang Wu ganti menjawab perkataan Dewi Kipas.
Jiang Wu serta Jiang Wei saling tatap, kemudian anggukan kepala, lalu Jiang Wu mempersilahkan kepada Dewi Kipas, Tongki serta Zhain Li Er untuk berbicara di dalam, sementara ke 5 orang penjaga yang tergeletak segera di obati karena beberapa buah gigi mereka tanggal, karena tamparan Zhain Li Er.
Setelah berada di dalam, Jiang Wu kemudian menceritakan, tentang kampung Yangku kepada tamu mereka.
“Jadi mereka bersiap bilamana ada perang, untuk mengamankan kampung Yangku ? Tanya Zhain Li Er.
“Benar nona,” jawab Jiang Wu.
“Mana bisa kalian menghadapi ribuan pasukan, jika pasukan bintang timur bergerak dari kota Shang, maka habislah kalian,” Zhain Li Er berkata membalas ucapan Jiang Wu.
“Kami tahu, kami bukan menentang, sekiranya bisa untuk membantu mengungsi penduduk kampung Yangku ke tempat yang lebih aman, akan kami lakukan tanpa harus ikut berperang.
Cis !
“Mana bisa seperti itu ! Dalam perang, kau atau aku yang mati, itu sudah menjadi ketetapan,” Zhain Li Er membalas perkataan Jiang Wu
“Kakakku berjuang bersama dengan yang mulia Liu Bang, apa kalian tidak berminat ikut berjuang untuk memperbaiki negeri ini ? Tanya Dewi Kipas.
Jiang Wu serta Jiang Wei saling tatap mendengar perkataan Dewi Kipas.
Setelah memberi pengertian dan kewajiban mereka untuk melindungi orang yang mereka kasihi, akhirnya kedua tokoh kampung Yangku itu bersedia bergabung, dan siap melaporkan bila ada pergerakan yang terjadi di kampung Yangku.
Apalagi setelah mereka mendengar perkataan Zhain Li Er.
“Lakukan apapun yang kalian mampu untuk hidup yang lebih baik, walau pun nyawa taruhannya, karna bukan kita yang merasakan, tapi anak cucu kita yang akan menikmati hasil perjuangan yang telah kita lakukan,”
Tongki sampai bengong tak percaya mendengar perkataan Zhain Li Er yang panjang.
Hanya dua kata yang tersirat di otak Tongki ketika mendengar perkataan Nyonya ketiganya itu.
“Tumben bener,”
---------------------------------------------------------------------------
Minal aidin Walfaizhin, mohon maaf lahir dan batin.
saya mengucapkan selamat hari raya idul Fitri kepada para reader, mohon maaf jika ada kata yang kurang berkenan, dan banyak kesalahan dalam cara menulis maupun cerita yang tidak berkenan di hati para pembaca.
Di tengah kondiri negara yang tengah prihatin, mari kita bersama sama saling menjaga orang terdekat serta satu sama lain, dan berharap keadaan negeri tercinta ini bisa terbebas dari pandemi yang semakin meresahkan dan membuat ruang lingkup kita dalam beraktivitas menjadi terhambat.
**jack Sekeluarga, beserta PG Big Family mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri 1 syawal 1442.
__ADS_1
Mohon Maaf Lahir dan Batin
Semoga kita semua selalu berada dalam lindungan Sang Maha Pencipta. Amin 🙏**