
“Diam...!
Suara menggelegar karena memakai jurus raungan dewa singa, keluar dari mulut Singa rambut api.
Tongki dan Huang Zilin diam dan menoleh ke arah Singa rambut api.
“Keparat kalian.”
“Jika mau berkelahi, jangan di kapalku, turun kalian! Ucap Singa rambut api.
Hmm!
“Saudara Huang! Ini singa palsu, yang telah memanah kapal nyonya ketua kita,” Tongki berkata.
“Keparat! Kita cincang singa palsu ini saudara Tong,” balas Huang Zilin.
Tongki melesat setelah mencabut golok api dari punggungnya.
Seorang anak buah singa api yang juga membawa golok loncat sambil kedua tangan memegang golok membacok kepala Tongki.
Trang!
Tongki menahan bacokan golok musuh, lalu tangan kiri menghantam ke arah perut anak buah singa rambut api dengan pukulan hawa neraka.
Blar!
Anak buah Singa rambut api yang berperut besar, langsung terpental ke arah tiang layar yang masih tersisa.
Krak!
Setengah perutnya gosong, anak buah Singa rambut api langsung tewas.
Serang!
Teriak Singa rambut api, sambil tangannya memakai sarung tangan kulit yang jarinya berbentuk cakar dari baja tipis.
Huang Zilin bergerak memburu ke arah Singa rambut api.
Kedua Tangan menghantam ke arah dada Singa rambut api.
Singa rambut api menyabet secara menyilang, ke arah tangan Huang Zilin dengan senjata cakar besi yang ia pakai.
Huang Zilin terpaksa menarik kedua tangan, kemudian kakinya menyepak ke arah kaki singa rambut api.
Singa rambut api angkat kaki kanan agar tidak terkena sepakan Huang Zilin.
Lalu tangan kanan menyambar pinggang Huang Zilin.
Huang Zilin mundur, lalu tubuhnya berputar kencang.
Bajunya yang masih basah, mengeluarkan cipratan air ke arah Singa rambut api.
Butiran air melesat seperti senjata rahasia ke arah Singa rambut api.
"Bangsaat! Teriak Singa rambut api.
Kedua tangannya berputar semakin lama semakin cepat, angin putaran yang keluar menghantam ke arah butiran air yang menyerangnya.
Crek....Crek....Crek!
Tapi ada sebagian mengenai kaki, tapi tak membuat luka di kaki Singa rambut api.
Dua orang bersenjata tombak menusuk ke arah Huang Zilin.
Huang Zilin menggeser tubuhnya menghindari tusukan ke arah dada.
Huang Zilin menangkap tombak, lalu tombak ia tarik dan di pakai menangkis tombak yang menyerang pinggangnya.
Trang!
Anak buah Singa rambut api yang tak melepaskan tombaknya, tubuhnya ikut tertarik.
Huang Zilin langsung menghantam kepala anak buah yang naas itu.
Prak!
Kepalanya langsung pecah di hantam Huang Zilin.
Huang Zilin dengan tangan kiri masih memegang tombak, lalu memutar tombak dan menusuk ke arah perut anak buah Singa rambut api.
Blesh!
Suara mengeluh terdengar pelan sambil tubuhnya tersungkur dengan kedua tangan memegang tombak yang menusuk perutnya.
Ketika Huang Zilin menoleh ke arah Singa rambut api, ternyata Tongki telah berada di sana sambil menenteng golok api.
Hmm!
“Hai Singa, sudah siap kau? Tanya Tongki sambil menatap tajam.
Singa rambut api menatap ke arah Tongki dari kaki sampai kepala.
Hmm!
“Siapa kau, berpakaian pengantin berkeliaran di kapalku, apa kau tidak salah jalan? Tanya Singa rambut api.
"Salah jalan ? Justru pengantin yang sedang kesal ini yang akan menguliti tubuhmu,” jawab Tongki.
Hua....Ha Ha!
Suara tawa menggelegar yang di aliri tenaga dalam keluar dari mulut Singa rambut api mendengar perkataan Tongki.
__ADS_1
“Hai bocah yang baru kawin, biarpun kau tua, tapi umurmu masih jauh di bawahku,” sudah pergi sana! Seru Singa rambut api.
“Jangan....jangan! Itu pengantin wanitanya sambil menunjuk ke arah Huang Zilin, Singa rambut api berkata sambil terus tertawa.
Tongki mendengus keras mendengar ledekan dan tertawa Singa rambut api.
Golok api langsung di tusukan ke arah mulut Singa rambut api yang sedang tertawa.
Singa rambut api langsung mengibaskan tangannya ke arah golok.
Trang!
Jari cakar baja, setelah mengibas lalu berusaha menyambar tangan kiri Tongki.
Tongki yang goloknya melenceng, menebas ke arah sarung tangan Singa rambut api.
Tangan Singa rambut api berbalik dan mencengkeram golok Tongki.
Cling!
Tongki menarik goloknya.
Sring!
Golok hanya bergeser sedikit, karena cengkeraman cakar baja Singa rambut api sangat kuat.
Kaki Tongki menghantam ke arah seelangkangan Singa rambut api.
“Pecah bijimu! teriak Tongki.
Singa rambut api mendengus, lalu melepaskan cengkeraman pada golok.
Kedua tangannya menyilang menahan tendangan Tongki.
Tongki yang goloknya terlepas langsung menyambar ke arah kepala Singa rambut api.
Singa rambut api tekuk kedua kakinya.
Kepalanya menunduk dan golok lewat tepat di atas hidung Singa rambut api.
Setelah golok lewat, tubuh Singa rambut api berputar sambil kaki kanan menendang ke arah perut.
Tangan kiri Tongki menghantam ke arah kaki kanan Singa rambut api, tetapi kaki kiri menendang ke arah pinggang.
Bret!
Tongki sudah berusaha menghindar tapi baju yang ia pakai robek terkena tendangan kaki Singa rambut api.
Wajah Tongki berubah kelam, wajahnya tampak mengerikan.
“Kau tahu perjuanganku untuk bisa memakai baju ini?
Brak!
“Tetapi kau robek baju bersejarah ini.”
Setelah berkata, Tongki menyeringai dan wajahnya tampak bengis.
Golok di hantam kan dari atas ke kepala Singa rambut api.
Singa rambut api menyilangkan kedua tangan, cakar baja menahan bacokan golok.
Trang!
“Mampus kau! Teriak Tongki.
Tangan kiri dengan tenaga penuh menghantam ke arah dada Singa rambut api.
Pendekar tua itu menarik cakarnya sambil berguling menghindari pukulan Tongki.
Brak!
Pukulan hawa neraka menghantam pembatas kapal hingga hancur berantakan.
Melihat Singa rambut api bergulingan di lantai kapal.
Tongki terus memburu.
Brak....Brak!
Goloknya membacok ke arah Singa rambut api yang terus berguling.
Lantai kapal yang terbuat dari kapal hancur terkena bacokan golok Tongki.
Singa rambut api terus berguling menghindari bacokan² golok Tongki.
Lantai kapal banyak yang hancur terkena hantaman golok Tongki.
“Bangsat! Kau seperti gasing saja, putar² terus,” ucap Tongki dengan geram.
Tongki loncat dan goloknya membacok ke arah Singa rambut api yang tengah berguling.
Tanpa di sangka rambut Singa api yang panjang melesat, kemudian membelit kaki Tongki yang sedang loncat.
Kaki Tongki di tarik lalu di banting ke arah lantai kapal.
Brak!
Lantai kapal yang memang sudah banyak yang hancur, terkena hempasan tubuh Tongki langsung berlubang, tubuh Tongki meluncur turun ke lantai dasar kapal, begitu pula dengan Singa rambut emas.
Brak....Brak!
__ADS_1
Tongki memegangi pinggangnya yang terasa sakit akibat bantingan Singa rambut api.
Baju pengantin yang ia pakai, robek bertambah besar.
Tongki melihat Singa rambut api tengah gelengkan kepala akibat kepalanya terbentur kayu palang kapal.
Langsung melesat ke arah Singa rambut api.
Golok langsung menghantam ke arah Singa rambut api.
Singa rambut api yang tengah bersandar di dinding kapal, melihat Tongki menebas ke arahnya, bergerak menghindar ke kiri.
Brak!
Dinding kapal hancur, air menyembur masuk, tetapi Tongki tak peduli tangan kirinya menghantam ke arah Singa rambut api.
Singa rambut api kali ini bergerak ke kanan.
Brak!
Dinding kapal kembali bolong, dan air semakin banyak masuk ke dalam kapal.
Singa rambut api mulai jerih, melihat Tongki begitu beringas menyerangnya.
Air semakin banyak masuk ke dalam kapal.
Singa rambut api mulai susah bergerak, saat air sudah mencapai pinggangnya.
Ketika mereka berhadapan, rambut panjangnya melesat berusaha membelit leher Tongki.
Tongki langsung menggerakkan golok ke arah leher.
Singa rambu api terkejut, ketika rambutnya membelit golok.
Tongki perlahan memutar goloknya, setelah itu menarik golok.
Tubuh Singa rambut api tertarik.
Cakarnya bergerak hendak menghantam badan Tongki.
Tapi dengkul Tongki yang berada di dalam air menghantam ke arah seelangkangan Singa rambut api, tanpa di duga oleh tokoh tua itu.
Buk!
Singa rambut api matanya mendelik.
Tongki menebas rambut musuhnya.
Sret!
Potongan rambut yang putus jatuh ke air yang menggenangi lantai dasar kapal.
Kedua dengkul Singa rambut api menekuk ke dalam, kedua tangan mencoba mengelus, tapi sarung tangan yang ia pakai sebagai senjata menghalangi niatnya, bola jimatnya pecah terkena hantaman dengkul Tongki yang telah di aliri tenaga dalam.
Rasa sakit, ngilu, linu bercampur aduk menjadi satu, belum lagi rambut kepalanya yang seperti di tarik.
Membuat mata Singa rambut api berkunang kunang.
“Ketika Singa rambut api membuka mata, sebuah kepalan tangan berwarna merah melesat ke arah hidung Singa rambut api.
Brak!
Singa rambut api terpental dengan sebagian tulang hidung dan pipi masuk ke dalam.
Brak!
Tubuh Singa rambut api menghantam dinding kapal hingga hancur.
Bekas pukulan Tongki juga membuat kepala Singa rambut hitam hangus.
Air semakin banyak yang masuk.
Krek....krek!
Badan serta lantai kapal mulai berderak, tidak kuat menahan tekanan air.
Wajah Tongki pucat.
Air sudah sebatas leher, tubuhnya juga sudah lelah bertarung dengan Singa rambut api.
Plak!
Ketika Tongki tengah melamun, sebuah tambang berbentuk bulat, masuk ke arah kepala.
Tongki terkejut, sebelum tangannya memegang tali tambang itu.
Tali menarik lehernya melesat ke arah orang yang berada di atas kapal yang perlahan mulai tenggelam.
Hek!
Mata Tongki mendelik, lehernya tercekik di tarik tali tambang yang membawanya keluar dari air.
“Setelah sampai atas, Tongki langsung membetot tambang dan mendelik kepada Huang Zilin.
Ternyata Huang Zilin yang menjirat leher Tongki dan menariknya ke atas.
Kau mau menolong atau membunuhku? Ucap Tongki, dengan wajah pucat sambil tangan kirinya mengelus elus leher.
Huang Zilin yang masih kesal sewaktu kejadian punggungnya di injak, langsung melotot mendengar perkataan Tongki, kemudian berkata.
“Kau mau diam atau kembali ke air? tanya Huang Zilin.
__ADS_1
Tanpa banyak berpikir, Tongki langsung menjawab
"Diam"