Naga Hitam Dan 4 Selir

Naga Hitam Dan 4 Selir
Ch : 179 Hadangan dari Bajak Sungai


__ADS_3

Huang Zilin sangat gembira dan rombongan jadi ikut terbawa suasana hati Huang Zilin yang sedang senang, pelayan membersihkan meja, kemudian percakapan di lanjutkan.


Ke esokkan hari perjalanan ke kota Nan di lanjutkan, rombongan naik kapal, sedangkan Huang Zilin selalu berada di samping Han Ciu, dan itu membuat Zhain Li Er cemberut karna merasa tidak nyaman, karna Huang Zilin yang berada di dekat Han Ciu, ia jadi sungkan dan merasa gerakannya seperti di batasi.


Sebelum naik kapal, Han Ciu memberitahu dan masukan buat bangsawan Jiang.


Tuan Jiang Sun, kami titip harta ini untuk tuan kelola, ucap Han Ciu sambil mengedipkan mata kepada Jiang Sun, sang pemilik harta akan ikut bersamaku.


Bangsawan Jiang Sun, yang mendengar dan melihat kedipan mata Han Ciu mengerti maksud pemuda itu, seketika wajah bangsawan kota Hengshan yang selalu murung berubah gembira, dan kini tersenyum serta anggukan kepala mendengar penjelasan Han Ciu.


Jika perang terjadi, kami berharap bangsawan Jiang mendukung penguasa barat, tuan Liu Bang,” Han Ciu berkata.


Jiang Sun yang mendengar perkataan Han Ciu mengangguk.


“Kami memang dari barat tuan muda Han, tentu saja kami akan mendukung pemimpin kami tuan Liu Bang.


“Apalagi tuan Liu Bang adalah pemimpin yang bijaksana dan tak mau memberatkan rakyat, tidak seperti tuan Xiang Yu yang selalu menarik pajak yang tinggi kepada para pedagang seperti kami serta rakyat yang berada di bawah naungannya.


Penduduk juga mulai banyak yang mengungsi dari timur ke barat karena tak tahan dengan aturan pajak yang di tetapkan oleh penguasa Xiang Yu.” Jiang Sun berkata.


Han Ciu mengangguk mendengar perkataan Jiang Sun, biar bagaimanapun akibat dari perang, rakyat lah yang dirugikan.


Setelah mendengar kesanggupan dan janji Jiang Sun, Han Ciu merasa lega, dengan banyaknya bangsawan yang membantu, masalah uang dan prajurit tak akan susah untuk di dapat.


Tapi sebelum pergi ada nasehat dari Jiang Sun, agar rombongan Han Ciu berhati – hati jika ingin melanjutkan perjalanan ke kota Nan melalui jalur sungai, karna sekarang banyak bajak sungai berkeliaran antara jalur sungai dari Hengshan ke kota Nan.


“Bajak Sungai,” ucap Han Ciu sambil mengerutkan keningnya.


“Benar tuan muda Han, bajak sungai yang sangat di takuti di aliran sungai besar adalah bajak siluman air, kapal mereka lumayan banyak, mereka juga menggabungkan perkumpulan bajak kecil, untuk ikut bergabung berama mereka sehingga mereka sangat kuat.”


“Dan aku dengar selentingan kabar dari para pedagang yang membayar upeti, markas dari Bajak siluman air ada di kota Nan,”


Cuh !


Huang Zilin meludah di samping Jiang Sun.


“Mereka jika ingin merompak kami, mereka sendiri yang akan hancur.” Ucap Huang Zilin dengan nada kesal sambil melotot ke arah Jiang Sun.


“Kau meremehkan aku ? Tanya Huang Zilin.


“Tidak....sama sekali tidak tuan Huang, aku memberitahu bukan meremehkan, tapi hanya untuk rombongan tuan Han Berjaga – jaga dan bisa mengantisipasinya.” Jiang Sun berkata dengan nada takut ketika menjawab perkataan Huang Zilin.


“Sudahlah paman ! kita harusnya berterima kasih kepada tuan Jiang Sun karna sudah di beritahu, kita boleh hebat di darat tapi kita belum tentu berjaya di diatas air,” ucap Han Ciu.


“Tuan Han tidak usah khawatir, di air aku juga tidak takut,” Huang Zilin membalas ucapan Han Ciu.


“Benar jika paman sendiri, tetapi kan kita rombongan, tidak semua kawan kita bisa berenang, jika kapal kita di hancurkan dan tidak ada perahu, paman bisa bayangkan apa yang terjadi terhadap mereka yang tidak bisa berenang ?”


Huang Zilin langsung diam mendengar perkataan Han Ciu.


“Terima kasih atas pemberitahuannya, jika saja kami bertemu dan bisa, akan kami berantas mereka agar jalur sungai antara Hengshan dan sampai kota Nan akan aman untuk di lalui oleh para pedagang dan penduduk yang menggunakan aliran sungai untuk bepergian.” Setelah berkata Han Ciu lalu pamit dan pergi ke kapal untuk melanjutkan perjalanan ke kota Nan.


Di dalam kapal, Han Ciu istirahat di dalam ruangan bersama, Xiao Er dan Zhain Li Er sementara di luar Huang Zilin sedang bersama, lblis Biru, Tongki serta Dewi Kipas, sementara Talaba duduk di bagian depan perahu untuk melihat dan berjaga jaga karna perintah Han Ciu agar mereka waspada terhadap bajak sungai yang tadi di ceritakan oleh Bangsawan Jiang Sun.


“Kak Han, kenapa sih kau ajak lblis petaruh ikut dengan kita ?” Zhain Li Er berkata sambil cemberut.


Aku kan memberikan paman Huang pilihan, karna pilihannya ikut dengan kita, ya kenapa tidak, kita juga kan malah beruntung dapat tambahan tenaga yang luar biasa seperti paman Huang,” Han Ciu membalas perkataan Zhain Li Er.


“Adik Zhain tidak usah khawatir, baik dan buruknya sudah ada dalam pertimbangan kakak Han,” ucap Xiao Er sambil memegang tangan Zhain Li Er.


“Bukan begitu Enci Xiao ! tapi jika di luar sepertinya dia yang menjadi istri Kak Han dan kita yang menjadi pelayan, sungguh menyebalkan,” Zhain Li Er membalas perkataan Xiao Er.

__ADS_1


Han Ciu mendengar selir ketiganya marah dan cemberut, kemudian berusaha memberi pengertian.


Sementara itu di luar ruangan, Huang Zilin yang telah mengetahui nama mereka yang berada di dalam rombongan mulai bercakap cakap.


“Siapa di sini yang suka bertaruh,” tanya Huang Zilin.


Iblis Biru, Dewi Kipas serta Tongki saling tunjuk.


“Iblis Biru serta Dewi kipas menunjuk ke arah Tongki, sedangkan Tongki menunjuk ke arah Dewi kipas.” Hanya jari yang bicara saling tunjuk, sementara mulut mereka bertiga bungkam.


Mereka sudah tahu bahwa Huang Zilin adalah tokoh aneh yang sangat susah di hadapi.


Jika mereka bicara dengan Huang Zilin, ujung – ujung nya mereka akan di ajak taruhan oleh kakek itu.


“Saudara Iblis Biru, tak ada yang menunjuk padamu, karna itu aku tak akan taruhan denganmu, sedangkan saudari Dewi Kipas hanya Tongki yang tunjuk, sementara Saudara Tongki, kaulah orang yang terpilih diantara mereka.” Ucap Huang Zilin berkata dengan penuh semangat.


“Ayolah Saudara Tongki, sambil menunggu kapal sampai di kota Nan biar tidak jenuh kita bertaruh, bagaimana ?” tanya Huang Zilin.


“Aku tidak biasa bertaruh saudara Huang, dan lagi jika bisa, lantas apa yang bisa ku pertaruhkan,” karna aku tak punya apa – apa jawab Tongki.


Ha Ha Ha


“Saudara Tongki kenapa tidak bilang dari tadi, bagaimana jika aku beri pinjam 500 tail perak,” Huang Zilin berkata sambil mengeluarkan 500 tail perak dalam bentuk uang kertas, sambil Huang Zilin mengipas kipaskan uang kertas senilai 500 tail perak di depan Tongki.


Wajah Tongki tampak ragu melihat 5 lembar uang kertas di tangan Huang Zilin.


Ketika perlahan tangannya mulai terangkat, hendak mengambil uang yang di pegang Huang Zilin.


Tiba – tiba terdengar suara teriakan Talaba.


“Kita kedatangan tamu.”


Cuh !


Mereka lalu menghampiri ke arah Talaba, dan melihat tiga buah kapal dengan bendera bergambar tengkorak, menghadang perjalanan kapal mereka.


Terdengar teriakan dari arah salah satu ketiga kapal yang menghadang.


“Yang ingin lewat harus menyerahkan setengah dari barang yang kalian bawa ! jika melawan kami akan ambil semua harta beserta kapal kalian.”


Huang Zilin yang melihat ke arah kapal para bajak kemudian tersenyum.


“Nah ini cocok di pakai untuk bertaruh Saudara Tong !” seru Huang Zilin kepada Tongki sambil masih mengipas kipas 5 lembar uang kertas.


“Bertaruh bagaimana saudara Huang ? Tanya Tongki, tak mengerti akan maksud Huang Zilin.


“Begini ! kita bertaruh dalam waktu yang di tentukan, berhasil atau tidak aku menenggelamkan kapal yang kau tunjuk, jika berhasil Menenggelamkan kapal itu tanpa melebihi waktu, aku yang menang, jika tidak maka kau yang akan memenangkan taruhannya, bagaimana ?” tanya Huang Zilin.


Tongki tampak termenung mendengar perkataan Huang Zilin.


“jika mau, aku beri kau pinjaman uang ini.” Huang Zilin berkata sambil kembali mengipas kipas uang kertas ke wajahnya.


“Lantas bagaimana kita bisa menentukan waktunya” Tongki berkata masih tidak mengerti.


"Tenang saudara ! kita pakai ini," ucap Huang Zilin sambil mengeluarkan sebuah penunjuk waktu, terbuat dari botol kecil yang terdapat pasir lembut di dalamnya.


Huang Zilin membalikkan botol pasir, pasir dari atas turun perlahan.


“Jika pasir yang diatas habis aku belum bisa Menenggelamkan kapal yang kau tunjuk, maka kau yang memenangkan pertaruhan, jika aku berhasil maka sebaliknya, bagaimana ?” tanya Huang Zilin ke arah Tongki.


“Dasar tukang Judi, aku sebenarnya malas bertaruh, tapi uang yang dia tawarkan se olah melambai lambai padaku.” Batin Tongki.

__ADS_1


Tongki melihat ke arah lblis Biru serta Dewi Kipas, tapi kedua orang itu hanya diam, malah Iblis Biru langsung berpaling ketika Tongki menatap wajahnya.


Setelah berpikir, akhirnya Tongki menyambar uang kertas yang ada di tangan Huang Zilin.


Baik aku pakai 300 tail untuk bertaruh, sisanya untuk bertaruh di lain kesempatan.


Ha Ha Ha.


Baik....Baik.


“Sekarang saudara Tongki tentukan kapal mana yang harus ku tenggelamkan ?” Huang Zilin bertanya.”


Tongki menatap kearah ketiga kapal yang menghadang.


“Jarak musuh masih lumayan jauh, di dalam kapal pasti banyak anak buah bajak, belum kiri kanan kapal pasti banyak anak buah lain yang akan membantu, dan untuk menenggelamkan kapal yang berada di tengah, pasti akan membutuhkan waktu lama, batin Tongki, sambil melirik kearah botol kecil yang berisi pasir.


“Baik, aku pilih kapal yang tengah, kita taruhan 300 tail perak.” Tongki berkata.


“Baik, kita sepakat 300 tail perak untuk kapal yang berada di tengah.” Huang Zilin berkata.


Lalu Huang Zilin membalikkan botol pasir waktu, dan menaruh di pinggiran kapal.


Tanpa banyak bicara, si lblis petaruh lompat ke dalam sungai.


Tongki terkejut, begitu pula lblis Biru serta Dewi Kipas, mereka tak menyangka Huang Zilin akan menyerang kapal bajak dari dalam air.


Huang Zilin berenang dengan cepat, setelah memastikan kapal yang menjadi target taruhan antara ia dengan Tongki.


Huang Zilin berenang menghampiri kapal bajak, setelah sampai lalu ia mengerahkan tenaga dalamnya menghantam ujung perahu bagian belakang.


Blam !


Kapal bajak bergetar dan terguncang, bagian ujung belakang retak.


Huang Zilin kembali berenang ke bagian tengah kapal, kemudian menghantam.


Kreek !


Retakan semakin besar, di dalam air, Huang Zilin tersenyum.


Lalu Huang Zilin berenang ke bagian depan, lalu dengan sekuat tenaga Huang Zilin menghantam bawah kapal bajak.


Blam....Krak...Krak !


Retakan dari belakang terus ke tengah dan ke depan.


Perlahan tekanan air membuat bawah kapal, retak dan hancur.


Parak bajak yang tak menyangka kapal mereka akan di serang dari dalam air, karna jarak jauh, mereka tak melihat adanya orang yang terjun ke dalam air.


Para bajak teriak cemas dan ketakutan karna, kapal yang mereka tumpangi turun dan tenggelam dengan cepat.


Wajah Tongki pucat, melihat kapal yang berada di tengah perlahan mulai tenggelam, sedangkan botol kecil masih banyak pasir yang tersisa.


“Celaka ! kalau seperti ini, aku akan kehilangan 300 tail perak,” batin Tongki.


Lalu perlahan Tongki menggeser tubuhnya, botol waktu yang berisi pasir yang di taruh di pinggiran kapal lalu di sentil oleh Tongki.


Cling !


Botol langsung melesat masuk ke dalam sungai.

__ADS_1


Iblis biru yang selalu memperhatikan tingkah Tongki, melirik lalu mendengus.


Hmm !


__ADS_2