Naga Hitam Dan 4 Selir

Naga Hitam Dan 4 Selir
Ch 252 : Lebih baik mati daripada berkhianat


__ADS_3

Beng San menatap Pedang langit yang turun dari benteng setelah menyanggupi permintaannya untuk membantu kota Dang agar tidak jatuh ke tangan pasukan bintang timur.


Tapi tugas ini sangat berbahaya.


Beng San tidak bisa memastikan berapa pasukan bintang timur yang di butuh kan, untuk menerobos gerbang kota Dang.


“Hanya dengan 7 ribu prajurit, apa bisa saudara pedang langit menahan pasukan bintang timur? Batin Beng San.


Pedang langit lalu meminta beberapa orang perwira dan murid selaksa pedang untuk ikut dengannya, dengan 500 pasukan panah serta 500 pasukan berkuda, sisanya 6000 ribu prajurit yang membawa tombak, tameng dan pedang, bergerak keluar dari pintu timur menuju ke arah kota Dang.


Hampir seribu anak murid perguruan selaksa pedang bergerak cepat menuju ke arah kota Dang, sedangkan Pedang Langit berada di tengah, mengawal pasukan yang setengah berlari menuju kota Dang, dimana tanda isyarat asap telah di pasang.


Sementara di kota Dang.


Setelah kabut asap menyebar, para prajurit yang hanya minum air ramuan yang di berikan secara masal, tidak bisa menahan racun lebih lama walaupun hidung dan mulut mereka di tutup baju atau kain, satu persatu mulai lemas.


Prajurit bintang timur yang tidak mendapat serangan berarti dari atas benteng.


Membawa alat penghancur gerbang, berupa kayu besar yang ujungnya meruncing dan di lapisi besi .


Puluhan prajurit bintang timur dengan di tutupi tameng, mengayunkan alat penghancur gerbang.


Satu....Dua....Tiga! Teriak pasukan bintang timur sambil mengayunkan alat penghancur gerbang.


Brak!


Suara tubrukan alat penghancur dan gerbang kota terdengar kencang.


“Tahan....Tahan! Pintu gerbang sekuat tenaga kalian," teriak jendral Guan.


Ratusan prajurit langsung berimpitan mendengar perintah jendral Guan, berusaha menahan pintu gerbang dari hantaman alat penghancur gerbang pasukan bintang timur.


“Panah....panah terus musuh! Teriak jendral Guan memberi perintah.


Satu....Dua....Tiga!


Brak....krek!


Pasukan bintang timur semakin semangat, mendengar suara retakan kayu gerbang kota, ketika di hantam alat penghancur mereka.


Pasukan penguasa barat terus bertahan di gerbang kota.


Satu....Dua....Tiga!


Dengan penuh semangat pasukan bintang timur mengayunkan alat penghancur gerbang.


Brak....Krek....krek....krak!


Kerasnya hantaman, membuat alat penghancur yang ujungnya runcing menancap di gerbang kota, retakan, retakan di sekitar alat penghancur yang menancap di gerbang kota semakin lebar dan terbuka.


Pasukan bintang timur menarik batang kayu besar itu beramai ramai, hujan panah dari atas benteng, di lindungi oleh tameng para prajurit yang ada di sekitar mereka.


Brak!


Setelah tercabut dan terdapat lubang sebesar pinggang orang dewasa.


Salah seorang berusaha menerobos masuk.


Tapi puluhan tombak dan pedang langsung menghunjam ke arah tubuh serta kepalanya.


Prajurit itu langsung tewas dengan tubuh dan kepala hancur.


Prajurit bintang timur seperti semut yang sedang memburu mangsa.


Puluhan kampak mengayun ke arah retakan pintu gerbang.


Crak....Crak....Crak!


Sedikit demi sedikit, pintu gerbang mulai terbuka dan bertambah besar.


Satu persatu pasukan bintang timur masuk, sebagian masih terus berusaha memperlebar pintu gerbang kota Dang.


Shing....Crep....Shing....Crep!

__ADS_1


Pasukan panah penguasa barat memanah pasukan bintang timur yang berhasil masuk, panah menancap di kepala dan tubuh sampai tembus.


Semakin lebar pintu gerbang kota yang terbuka, semakin banyak pasukan bintang timur yang masuk dan mulai menyerang pasukan penguasa barat.


Perang terbuka terjadi di gerbang kota Dang.


Pasukan bintang timur terus masuk dan mulai menyebar.


Jendral Guan yang melihat pintu gerbang kota tak bisa di pertahankan, kemudian melesat turun sambil melemparkan pedang ke arah seorang prajurit bintang timur yang hendak membokong.


Shing....Crep!


Prajurit itu langsung ambruk ketika kepalanya tertembus pedang yang di lemparkan oleh jendral Guan.


Setelah turun, jendral Guan menyambar sebuah tombak yang terbuat dari rotan, dengan mata tombak terbuat dari baja putih.


Dengan tombaknya jendral Guan mengamuk di dekat gerbang kota Dang.


Whut!


Tombak melesat dan menancap di dada seorang prajurit bintang timur.


Crep!


Jendral Guan menarik tombak, kemudian tombak di sabetkan ke arah belakang melengkung di atas bahu jendral Guan.


Crak!


Mata tombak langsung menancap, di kepala prajurit yang hendak membokong jendral Guan.


Jendral Guan berputar, lalu tombak melesat ke arah bawah, menusuk dengan cepat kaki para prajurit bintang timur yang ada di dekatnya.


Crak....Crak....Crak!


Prajurit yang kakinya terkena tusukan tombak, langsung lompat² kesakitan, lalu tombak dan pedang prajurit penguasa barat langsung menebas mereka.


Han Cikung yang melihat pasukannya belum banyak yang masuk, sementara pintu gerbang sudah terbuka lebar, melesat ke arah pintu gerbang.


Wajah Han Cikung berubah kelam, melihat jendral Guan mengamuk di dekat pintu gerbang kota, puluhan mayat prajurit bintang timur tergeletak dan bertumpuk di sekitar jendral Guan yang masih terus mengamuk.


Han Cikung melesat sambil memegang pedang Naga jantan, pedang yang berwarna hitam dan sangat tajam.


Minggir! Teriak Han Cikung.


Melihat siapa yang datang, prajurit bintang timur mundur, lalu mengepung.


Sisanya melesat masuk dan bertempur dengan pasukan penguasa barat.


Jendral Guan menatap tajam ke arah Han Cikung, melihat pedang hitam yang menjadi senjata musuhnya, jendral Guan yakin, musuhnya bukan orang sembarangan.


“Aku kasih kesempatan padamu! Bergabung dengan pasukan bintang timur, dan membantu kami menyerang kota Henei.


Kau akan mendapat kedudukan terhormat bersama yang mulia Xiang Yu, jika pasukan bintang timur berhasil memenangi perang,"


Phuih!


“Kau pikir aku apa? Lebih baik mati daripada berkhianat,” ucap jendral Guan.


Wajah Han Cikung langsung kelam mendengar ucapan jendral Guan, karena ia telah berkhianat kepada sekte Naga hitam.


Dan perkataan jendral Guan seperti tamparan buat Han Cikung.


“Keparaat!


Teriak Han Cikung sambil melesat dan menyabetkan pedangnya ke arah kepala jendral Guan.


Jendral Guan tundukkan kepala, kemudian Tombaknya menyambar ke arah kaki kanan Han Cikung.


Han Cikung menarik kaki kanan, kini giliran kaki kiri yang di incar tombak jendral Guan.


Han Cikung mendengus sambil mundur, lalu menyabetkan pedangnya ke arah jendral Guan.


Whut!

__ADS_1


Jendral Guan bergerak ke kanan, menghindari hawa pedang yang di keluarkan Han Cikung.


Jendral Guan setelah berhasil menghindari hawa pedang Han Cikung, ia lompat dan tombaknya di tusukan ke arah kepala Han Cikung.


Han Cikung sedikit bergeser ke kiri, lalu pedang Naga jantan bergerak melesat menebas ke arah mata tombak.


Jendral Guan terkejut, kemudian menarik tombaknya, tapi jendral Guan sedikit terlambat.


Tring!


Ujung mata tombak jendral Guan ter papas oleh pedang Naga jantan.


Han Cikung tersenyum sinis.


Setelah memutar perlahan pedang Naga jantan, Han Cikung melesat pedang berwarna hitam menusuk ke arah dada jendral Guan.


Jendral Guan tak mau kalah, tombaknya juga melesat mengincar dada Han Cikung.


Pedang dan tombak melesat berdampingan, tapi dengan arah yang berbeda.


Jendral Guan tersenyum, tombaknya lebih panjang dari pedang musuh, jika musuh terus memaksa menusuk dadanya, tombaknya akan lebih dulu menembus dada lawan.


Ketika kedua senjata sudah setengah jalan, tangan Han Cikung bergetar mengerahkan tenaga dalam, begitu pula dengan pedang Naga jantan yang ikut bergetar.


Tiba – tiba badan pedang menepak batang tombak dengan sangat keras.


Plak!


Jendral Guan Terkejut, serangan tombaknya melenceng dan tak mengenai sasaran.


Han Cikung yang melihat kesempatan emas, pedangnya langsung menebas tangan jendral Guan yang memegang tombak.


Crash!


Lengan jendral Guan putus dengan tangan masih menggenggam tombak.


Jendral Guan terhuyung dan berusaha mundur, tapi Han Cikung tak mau membiarkan musuhnya lepas.


Han Cikung lompat dan kakinya menendang bahu jendral Guan.


Krak!


Jendral Guan terlempar dengan tulang bahu retak.


Lengan kanan putus, bahu kiri yang retak terkena tendangan Han Cikung.


Tapi Jendral Guan masih terus berusaha berdiri.


Setelah berdiri, Han Cikung mendengus, lalu menyabetkan pedangnya.


Crash!


Kedua urat kaki jendral Guan putus, lalu tubuh jendral Guan duduk dengan bertumpu dengan kedua kaki yang tertekuk.


“Kau bilang apa tadi padaku?


Lebih baik mati daripada berkhianat


Ha Ha Ha


Lebih baik mati daripada berkhianat.


Han Cikung terus berteriak seperti orang gila.


Matanya liar menatap jendral Guan


Pedang Naga jantan melesat ke arah leher jendral Guan.


Sret....Crash!


Kepala jendral Guan Langsung menggelinding, tak lama kemudian tubuhnya ambruk tanpa lengan dan kepala.


Mata Han Cikung menatap liar ke arah kota Dang!

__ADS_1


Serang....Serang....Hancurkan semua!


__ADS_2