Naga Hitam Dan 4 Selir

Naga Hitam Dan 4 Selir
Ch : 76 Kenyataan Yang Menyakitkan Hati


__ADS_3

Flasback


Sewaktu Kwe hu berlari keluar kuil dan agak jauh, perasaan Kwe hu cemas dan teringat terus dengan kakaknya Kwe an.


Akhirnya setelah menguatkan hati, Kwe hu kembali ke kuil.


Tapi apa yang di lihatnya, sungguh membuat Kwe hu hampir pingsan, kakaknya tewas dengan sangat mengenaskan.


Kwe hu menangis sambil memeluk kakaknya.


"Selaksa pedang, Han ciu !" kalian telah menghilangkan nyawa orang orang yang berharga untukku, aku tidak akan hidup tenang jika belum menghancurkan kalian."


"Kakak tenang dulu, aku akan mencari akal membawa kakak dari sini."


Kwe hu lalu meletakan Kwe an dan melesat ke arah Kota Nan, dsebuah jalan yang akan menuju kota Nan, Kwe hu melihat seorang pria tua, sedang membawa gerobak.


"Paman, tunggu dulu paman !"


Pria tua yang bertudung lusuh, berhenti mendorong gerobak dan menatap Kwe hu.


"Nona memanggil saya ?"


"Paman !" aku butuh gerobak ini, akan kubayar gerobak berapapun harganya asal paman mau membantuku.


"Tapi..tapi."


"Mari cepat paman.!" sebentar lagi pagi, nanti terlambat.


Pria bertudung lusuh yang membawa gerobak, akhirnya menuruti Kwe hu, setelah Kwe hu mau membayar 20 tail perak gerobaknya.


Setelah sampai Kuil dan, melihat kwe an tergeletak, dengan keadaan mengenaskan.


"Nona, ini ini seperti bukan perbuatan manusia."


"Memang dia bukan manusia paman !"


"Apa yang terjadi nona, jika boleh tahu."


"Sudahlah paman, paman tolong antarkan saja gerobak ini sampai di depan pintu gerbang penginapan bunga naga, apa paman tahu tempatnya ?


"Semua orang di kota Nan tahu penginapan bunga naga nona."


"Paman antarkan gerobak kedepan pintu gerbang penginapan bunga naga, tinggalkan saja."


"Baik nona," kwe hu lalu menulis surat diatas kain yang ia robek dari baju dan menulis.


Ajak paman kwe dan ponakan Sa, kutunggu di bukit barat kota Nan.


Kwe hu.


Kwe hu lalu, menyelapkan kain yang telah ia tulis di tangan Kwe an.


Paman apa ada toko obat yang menjual berbagai macam obat dan Racun di kota Nan.


"kalau obat, banyak nona, tapi kalau racun ada satu di selatan kota," tapi harus hati hati, jika terlihat oleh prajurit kota akan di tanyai.


"Terima kasih paman." Kwe hu lalu melesat,


Pria tua tersenyum, lalu mengeluarkan kertas dan menulis, dan mengambil kain yang ada di tangan kwe an, dan menggantikannya dengan kertas yang telah ia tulis.


Ha ha ha.


"Silahkan kalian saling hantam, biar aku nanti yang menikmati hasilnya." pria itu tertawa sambik mendorong gerobak.


Setelah mengamati, dari bawah pohon rindang, sebelum bergerak ke barat terlebih dahulu kakek itu ke selatan untuk memberikan pesanan racun yang tadi Kwe hu butuhkan, dan semua itu telah di pikirkan oleh pria tua yang di panggil ketua oleh Tongkat setan.


****


Li er melesat lebih dulu dari yang lain, setelah sampai langsung menampar Kwe hu.

__ADS_1


Whuuut, plaaak !


Kwe hu terhuyung.


Phuuih !


Kwe hu meludah, dan ludahnya bercampur darah, akibat bibirnya pecah di tampar oleh Zhain li er.


"Bangsaaat !" kau gendaknya yang baru," ucap Kwe hu


Ha ha ha


"Semua sudah selesai, aku sudah membunuhnya."


Ha ha ha.


"Aku sudah membunuhnya," Kwe hu terus tertawa seperti orang kesurupan, lalu ambruk, tapi kali ini airmatanya bercucuran.


"Maksudmu yang tadi jatuh ke jurang adalah Muka ayam ?" Zhain li er berkata sambil meloloskan pedangnya dari punggung, matanya menatap tajam ke arah Kwe hu.


Kwe hu tak mau melihat ke arah Zhain li er, tapi ia mengangguk mendengar perkataan gadis itu.


"Perempuan Laknat !" Zhain li er teriak sambil mengayunkan pedangnya ke arah Kwe hu.


"Tunggu Li er...!"


Sa sie hwa teriak ketika melihat, Li er mengayunkan pedang.


Dewi angin mengempos tenaga dalamnya melesat mendahului Sa sie hwa.


"Whuut,.plak !"


Pedang yang mengayun, arahnya melenceng ke arah samping Kwe hu dan menghantam batu.


Craak !


"Apa kau bilang ?" 2 suara berkata bersamaan, Sa sie hwa dan Dewi angin berkata.


Ketua Cen dan Iblis seribu wajah hanya menggelengkan kepala, wajah keduanya terlihat sedih.


"Sepupu Kwe, Han ciu koko dan kami semua datang untuk menyelamatkanmu, tapi kenapa dan apa yang terjadi ?"


"Bohong !"


"Dia datang karna ingin membunuhku."


Plak !


Sa sie hwa menampar Kwe hu, "kau sadarlah sepupu Kwe."


"Yang di katakan oleh nona Sa benar, ini surat yang terdapat di tangan Saudara Kwe ketika kami memeriksa jasadnya, setelah membaca surat ini, Cengcu hampir mengamuk di penginapan, kemudian kemari untuk menyelamatkan nona karna merasa khawatir." ketua Cen berkata.


Kwe hu lalu menyambar kerta kecil yang penuh noda darah.


Sambil menatap ke arah kertas, wajah Kwe hu pucat.


"Tak mungkin, ini tak mungkin," suratku tak seperti ini, terbuat dari kain robekan baju, dan ini bekas robekannya." Kwe hu berkata sambil memperlihatkan robekan bajunya


Hmm !


"Aku mencium ada yang tak beres, dalam masalah ini." ketua Cen berkata.


"Benar..benarkah ini yang di temukan di tangan kakak kwe an,"


"Nona Kwe !" jika orang lain kau boleh curiga, tapi surat ini aku sendiri yang menemukan," ketua Cen berkata.


Mendengar perkataan dari Xiao Cen,


Kwe hu menutup muka dengan kedua tangan, lalu melesat dan berlari ke arah jurang.

__ADS_1


Dewi langit, melesat dan menyambar tubuh Kwe hu, dan membantingnya ke tanah.


Bhuuk !


"Ceritakan apa yang terjadi ?" Dewi angin berkata.


Kwe hu sambil terisak menceritakan dari awal kejadian sewaktu berada dalam kuil hingga sampai Han ciu jatuh ke jurang.


"Kurang ajar, perbuatan siapa ini ?" aku rasa ini juga bukan perbuatan Tuan Xiang yu."


Sedangkan Li er masih di tepi jurang melihat lihat kebawah tebing yang terlihat rata dan licin, tak ada tempat untuk berpijak.


Sedangkan iblis seribu wajah, mengambil arak yang di minum Han ciu, membaui bibir guci, tapi tak tercium bau racun, ketika iblis seribu wajah menuang arak ketanah, asap berwarna hitam mengebul ke atas, dan tanah yang tersiram arak langsung hitam.


"Racun keji, sungguh racun keji," iblis seribu wajah berkata sambil menggelengkan kepala, sambil menatap sedih ke arah Li er yang berada di bibir jurang.


Sa sie hwa menghampiri Li er, "mari adik, kita bicarakan dulu dengan para tetua, langkah apa sebaiknya yang kita ambil."


"Kau saja, aku ingin disini !"


****


Sementara itu, ketika Han ciu terkena tendangan.


Kesadaran Han ciu perlahan mulai pudar.


Mata Han ciu menatap sedih ke arah Kwe hu, perlahan mata menutup, dan segalanya menjadi gelap, tubuh Han ciu meluncur cepat ke bawah.


Di tebing pertengahaan jurang.


Seorang kakek kurus, yang membawa keranjang kecil di belakang tubuhya, satu tangan memegang tumbuhan semak yang kecil, satu kaki menginjak di sebuah lubang yang pas untuk injakan satu kaki, dan tangan kanan tengah mengipasi sebuah lubang goa kecil.


"Keluar ular raja merah, keluarlah aku mencarimu kemana mana, teryata jejakmu di sini."


Bau harum benda terbakar tercium dan sebagian asap masuk kedalam goa, "ayo keluar !" dupa naga milikku sedikit lagi habis.


Suara desisan terdengar dari dalam goa, wajah kakek kurus itu tersenyum.


kepala ular raja merah yang sangat tua dan memiliki tanduk, tampak menjulurkan lidahnya keluar masuk, bau busuk dan amis tercium ketika ular membuka mulut.


Ketika ular semakin dekat, dan tangan kanan akan menyambar, suara gemuruh angin dari benda jatuh tedengar keras di samping kakek tua.


Ular raja merah langsung lari kedalam sebelum tangan kakek tua itu menyambar.


"Bangsaat, kurang ajaar siapa yang lempar lempar batu dari atas," Kakek itu lalu memperhatikan benda yang jatuh, ketika mengendus bau racun yang kuat, mata kakek itu meyipit, lalu seperti kilat tubuhnyanya seperti berlari menyusuri tebing, kakek kurus itu seperti berlari di tanah datar.


Dengan posisi seperti berlari kakek itu terus memburu tubuh Han ciu.


Tubuh kurus sang kakek seperti melayang, terkadang lompat lalu lari kembali, kakinya seperti menempel pada dinding batu.


Setelah dekat, lalu kakek kurus itu menyambar, tubuh Han ciu yang sebentar lagi akan menghujam di babatuan.


Whuuut, tap !


Pinggang Han ciu di sambar kakek itu, sambil menahan dorongan dari tubuh Han ciu yang jatuh, kakek itu melentingkan tubuhnya ke samping menginjak di dinding, lalu melesat ke arah sebuah pohon yang tak terlalu besar.


Perlahan kakek itu turun setelah tangan kiri melepaskan pegangan dari dahan pohon.


Kakek itu lalu memegang urat leher Han ciu.


"Masih hidup."


Lalu kakek itu mencolek darah hitam yang ada di sekitar mulut Han ciu dan menciumnya.


Wajahnya langsung berubah ketika mencium bau racun yang ia kenali.


Kakek kurus itu mendengus, wajahnya tampak bengis


"Keparaaat, !" ternyata murid murtad itu masih hidup."

__ADS_1


__ADS_2