
Han Ciu beserta rombongan terus berlari di pimpin oleh Dewi Kipas menghindari serangan lebah perut biru.
Karna kabut di sekitar mereka lumayan tebal, Han Ciu juga tak berani memaksakan diri untuk menyerang lebah perut biru, karna kabut bisa menghalangi pandangan mereka.
Sementara lebah bisa menyerang dari segala arah, mereka hanya bisa mendengar suara sayap lebah, tanpa jelas melihat lebah, itu sangat berbahaya jika tenaga dalam mereka kurang tinggi seperti Xiao Er maupun Talaba tentunya akan menjadi serangan empuk buat lebah perut biru.
Dewi kipas berlari ke arah tempat yang lebih terang dan tidak banyak pepohonan.
Akhirnya mereka sampai di sebuah bukit yang lumayan tinggi tapi tempat di sana agak terang dan kabut belum begitu banyak.
Melihat Dewi Kipas berhenti, Han Ciu serta yang lain juga ikut berhenti.
“Hai kau kadal tengik ! Teriak Zhain Li Er.
“Nyonya berkata kepadaku ? Ucap Tongki ketika melihat gadis itu menatapnya.
“Kalau bukan kau siapa lagi yang aku sebut dengan kadal tengik,” Zhain Li Er membalas ucapan Tongki sambil menatap kesal.
Sebelum Tongki membalas perkataan Zhain Li Er, gadis itu bicara kembali.
“Kan kau yang terkena madu lembah kabut, dan memancing lebah perut biru untuk datang menyerang, seharusnya kau pergi sendiri ke lain arah, berbeda dengan rombongan untuk memancing mereka, tapi kau malah membawa bibi Dewi ikut bersama, tentu saja lebah itu mengejar kita semua.
“Dasar tolool !”
Tongki yang mendengar perkataan Zhain Li Er wajahnya tampak kesal, apalagi ia di sebut kadal tengik oleh gadis itu.
“Lalu kenapa Nyonya mengikuti aku ? Kan bisa pergi ke lain arah,” ucap Tongki dengan nada gusar.
Cis !
“Kami bukan mengikuti kau, kau menarik tangan Bibi, tentu saja kami ikut, kalau kau pergi sendiri, tak ada yang akan mengikutimu.
“Bibi Dewi adalah penunjuk jalan ke tempat perguruan Selaksa Racun, jika kenapa napa dengan Bibi Dewi, apa kau mau tanggung jawab ? Zhain Li Er membalas ucapan Tongki dengan nada yang sama gusar.
Tongki langsung diam mendengar perkataan Zhain Li Er, karna sekarang ia mengerti maksud dari perkataan Nyonya ke 4 dari ketuanya itu.
Tongki hanya diam tak menjawab ucapan Zhain Li Er.
Ngung....Ngung....Ngung....Ngung....Ngung.
Han Ciu yang mempunyai pendengaran sangat tajam mendengar suara – suara sayap lebah yang terbang menghampiri mereka.
“Jumlah lebah perut biru banyak sekali, tapi sepertinya tempat ini cocok untuk menghadapi mereka,” pikir Han Ciu setelah melihat bukit batu di belakang mereka, apalagi di tempat ini kabut belum tebal dan pepohonan tidak begitu banyak.
“Semua merapat ke dinding bukit, lebah perut biru sudah semakin dekat, adik Xiao Er, Talaba serta adik Li Er berada di tengah.
“Biar aku, paman Ming Mo serta paman Tongki yang menghadapi lebah perut Biru,” Han Ciu memberi arahan kepada anak buah serta istrinya.
Ngung....Ngung....Ngung.
__ADS_1
Selesai Han Ciu bicara, dan mereka yang mendengar seruan bergerak memunggungi bukit.
Lebah perut biru sampai jumlah mereka ratusan lebih, dan mereka adalah lawan yang susah di hadapi, dengan tubuh kecil dan bergerak dengan cepat, lebah biru bisa menghindari serangan pendekar kelas menengah dengan mudah.
Suara suling terdengar, lebah perut biru kemudian diam seperti mendengarkan suara suling itu.
Hmm !
“Agaknya lebah – lebah ini adalah binatang piaraan dan sudah terlatih,” batin Han Ciu ketika mendengar suara suling.
Han Ciu benar, lebah – lebah itu adalah peliharaan salah satu dari lima racun anggota perguruan Selaksa Racun.
Setelah mendengar laporan Racun Hitam dan Racun Coklat, ketiga saudara seperguruan mereka lalu membuat persiapan untuk menghadang dan menjebak Han Ciu serta rombongan.
Dan salah satunya adalah memakai lebah perut biru.
Ratusan titik biru terlihat di dalam kabut, siap menyerang.
Ketikan suara suling terdengar kembali, ratusan lebah menyerang dengan sangat cepat, ke arah Han Ciu dan rombongan.
Han Ciu mencabut pedang tulang naga, Tongki memang sudah mencabut golok api dan bersiap, sedangkan Iblis Biru kedua tangannya sudah berubah kebiruan, jurus Titik beku sudah di siapkan untuk menghadapi lebah perut biru.
Ratusan titik biru mulai membagi arah menjadi 3, mereka menyerang dari depan dan samping kiri kanan.
Melihat lebah menyerang dari tiga arah, Han Ciu langsung memberi perintah.
Setelah memberi perintah, Han Ciu lalu memutar kedua pedang tulang naga, kabut dingin tercipta akibat putaran pedang.
Lalu kedua pedang mengibas bersilang, puluhan titik es melesat menyerang ke arah lebah perut biru.
Shing....Shing....Shing.
Ngung....Ngung....Ngung.
Ratusan titik biru melesat terbang, menghindari serangan air mata naga yang di keluarkan Han Ciu, tapi ada beberapa yang terkena hantaman butiran es dan jatuh ke tanah.
“Sepertinya lebah ini memang sudah di latih oleh perguruan selaksa racun,” batin Han Ciu, ketika melihat banyak lebah yang berhasil menghindari serangan air mata naga yang ia keluarkan.
“Hati – Hati lebah ini sudah terlatih, merapat ke dinding biar tak ada celah mereka menyerang dari belakang,” teriak Han Ciu.
Han Ciu langsung melesat ke arah kerumunan lebah yang jumlahnya ratusan, kedua pedang tulang naga bergerak dengan cepat, jurus selaksa pedang dari kitab dewa pedang di gunakan, puluhan pedang bergerak cepat menyambar ke arah lebah perut biru.
Sementara itu, Ming Mo bersama Zhain Li Er menghalau dari sebelah kiri, pedang angin Zhain Li Er berputar putar dan menyambar ke arah ratusan lebah perut biru yang menyerang dari kiri.
Shing....Shing....Crash !
Beberapa lebah tewas dengan tubuh terpotong oleh sambaran pedang angin milik Zhain Li Er.
Kedua tangan Ming Mo mendorong ke depan, kabut dingin bergulung menyambar ke arah kerumunan lebah perut biru.
__ADS_1
Lebah perut biru yang terkena sambaran pukulan titik beku yang di keluarkan oleh Ming Mo, banyak yang berjatuhan dan tak bisa terbang, tapi itu tak lama, setelah beberapa saat, mereka terbang kembali menyerang Ming Mo.
Zhain Li Er yang melihat kejadian tersebut langsung berteriak kencang.
“Hai kakek busuk, kau bekukan mereka, nanti biar aku yang akan memotong tubuh lebah yang jatuh ketanah.”
“Benar juga pemikiranmu gadis kampret,” lblis biru begitu mendengar ucapan Zhain Li Er.
Telapak es serta jurus titik beku, silih berganti menghantam ke arah lebah perut biru, puluhan lebah yang membeku dan jatuh ke tanah, langsung di tebas oleh Zhain Li Er.
Puluhan lebah perut biru tewas terbelah dua, akibat kerja sama yang di lakukan antara Ming Mo dan Zhain Li Er.
Sepasang mata tajam yang melihat pertempuran mendengus.
“Keparat ! Jika seperti ini terus lebah peliharaanku bisa – bisa habis oleh mereka.” Batin pria paruh baya yang tangannya memegang suling kecil.
Baju hijau yang di pakai oleh pria paruh baya itu membuat ia tak terlihat karna, tertutup oleh dedaunan, “semoga saja Racun kuning sudah mempersiapkan jebakan untuk mereka, jika terlalu lama bisa habis pasukanku oleh mereka.” Batin pria berbaju hijau, seorang di antara lima racun yang ahli memanggil dan melatih binatang beracun.
Di sebelah kanan, Tongki langsung maju, golok api yang sudah di salurkan tenaga dalam hawa neraka, dan mengeluarkan hawa serta angin panas berputar menyambar ke arah kerumunan lebah.
Beberapa lebah jatuh dan tewas terkena serangan Tongki, sedangkan yang lain seperti tahu akan bahaya, mereka menyerang dari arah lain ke arah Dewi Kipas.
Dewi kipas juga memutar kipasnya, lalu menghantam ke arah lebah yang menyerang ke arah dirinya.
Sret...Whut !
Kipas terbuka dan mengibas ke arah lebah yang menyerang.
Serangkum angin besar menahan puluhan lebah yang hendak menyerang.
Melihat lebah perut biru, hanya mengambang di udara tak bisa maju atau mundur karna kencangnya angin dari kibasan kipas milik Dewi kipas.
Tongki berteriak kencang, “Dewi teruskan seperti itu, sisanya biar aku yang tangani.” Ucap Tongki sambil melesat, kemudian sebuah kibasan golok dengan tenaga dalam hawa neraka menghantam puluhan lebah yang masih berusaha untuk terbang menjauh.
Puluhan lebah jatuh ke tanah dengan tubuh Hangus.
Racun baju hijau yang melihat hewan peliharaannya, di tiga tempat sudah hampir ratusan yang tewas akibat serangan Han Ciu serta anak buahnya terkejut.
Celaka !
“Benar apa yang di katakan oleh adik Hitam dan Coklat, mereka harus di hadapi lima racun secara bersama sama, jika tidak ! malah kita yang akan kesulitan menghadapi mereka.”
Tanpa menunggu waktu lama, pria yang memakai baju hijau dan bersembunyi di sebuah pohon besar, meniup suling yang ia pegang, ratusan lebah perut biru yang tersisa mendengar suara suling, langsung berhamburan pergi meninggalkan Han Ciu serta kawan yang lain, sementara di tanah bertebaran ratusan lebah perut biru yang tewas.
Jika kalian masuk ke perguruan Selaksa Racun, kelima racun akan bekerja sama menghadapi kalian.
Setelah melihat hewan peliharaannya pergi, Racun Baju hijau melesat pergi, terdengar dari mulutnya sumpah serapah karena kesal melihat ratusan lebah perut biru tewas.
Tunggu pembalasan kami !
__ADS_1