Naga Hitam Dan 4 Selir

Naga Hitam Dan 4 Selir
Ch : 102 Sepasang Siluman Elang


__ADS_3

Melihat Li Er kembali kedalam kedai, Han Ciu mengajak Racun cilik kembali ke dalam kedai apung.


Han Ciu yakin sebentar lagi pasti ada keramaian, dan ia ingin tahu siapa Pocu benteng air yang kabarnya menguasai telaga Tong serta daerah sekitarnya.


Arak dan makanan ringan menjadi teman Han Ciu dan Racun cilik, sementara Zhain Li Er terus menatap ke arah luar jendela.


Cahaya kuning ke emasan mulai terlihat memantul di telaga Tong.


Han Ciu memutuskan untuk kembali kepenginapan, karna mereka sudah terlalu lama meninggalkan penginapan.


Ketika Han Ciu keluar, ia tertegun karna melihat puluhan perahu kecil yang berisi 2 hinga 3 orang bergerak mendatangi kedai, mereka semua berpakaian putih.


Setelah menambatkan perahu.


Di pimpin oleh seorang kakek yang semuanya serba putih, rambut, jenggot, kumis bahkan alis, semuanya putih.


"Siapa yang telah membuat cucuku babak belur."


Teriak kakek serba putih, sambil berjalan ke arah kedai.


Setelah sampai depan kedai, Kakek serba putih berhenti.


"Keluaaaar kau !"


Beberapa orang keluar dari dalam kedai dan menjauh, tapi banyak juga yang malah balik menonton apa yang akan terjadi.


Zhain Li Er berjalan keluar, melihat seorang kakek yang serba putih, Li Er mengerutkan kening.


"Siapa kau, dan apa maksud mu teriak teriak ?" dasar tak tahu malu," ucap Lie Er.


kakek berwajah putih, melihat elang barat menganggukan kepala.


Kakek serba putih dengan tangan yang berbentuk cakar, menyambar Li Er.


Angin dingin terasa ketika tangan kakek itu menyambar, Li Er mundur, kemudian tinjunya menghantam ke arah perut kakek serba putih.


Dhuuuar !


"Keduanya mundur," kakek yang di sebut Elang salju mundur setapak.


Zhain Li Er, mendengus.


Pandangan Zhain Li Er mulai bengis, sedangkan Elang salju terkejut karna kakinya bergeser setapak, sewaktu menangkis tinju Li Er.


Elang Salju lompat sambil merentangkan kedua tangannya.


Berdiri di salah satu perahu.


Zhain Li Er melesat juga berdiri di salah satu perahu mengikuti Elang salju.


Li Er dan elang salju berdiri berhadapan di pisahkan oleh 3 buah perahu kecil, mata keduanya menyorot tajam


Keduanya lalu melesat dengan kedua tangan siap dengan tenaga dalam tinggkat tinggi.


Plak .. plak !


Kedua tangan saling tangkis ketika mereka saling serang dan bertahan.


Masing masing punya keunggulan,


Zhain Li er unggul dalam kecepatan, sedangkan Elang salju tenaga dalamnya mengandung hawa dingin.


Dalam Hal tenaga dalam, Elang salju dan Li Er tak berbeda jauh, elang salju hanya kalah seurat dengan Li Er tapi tertutup dengan pukulan dan cakar elang es miliknya serta pengalamannya bertempur.


Pukulan dan cakaran Elang salju menimbulkan hawa dingin, jika tenaga dalam lawan tak kuat menahan, aliran darah bisa beku dan perlahan akan tewas.


Tapi Li er juga mempunyai tinju petir yang berhawa panas, sehingga pertarungan menjadi imbang.


Setiap tinju Li Er bertemu dengan telapak atau cakar Elang Salju, asap putih terlihat dan bunyi seperti besi panas yang di tempelkan ke balok es.


Plak ..Cheess !


Kabut asap akibat hawa tenaga dalam mulai menyelimuti keduanya.


Tangan Elang salju mengeluarkan uap putih yang dingin, semakin besar tenaga dalam yang di keluarkan semakin dingin uap yang keluar dari kedua tangan Elang salju.


Zhain Li Er mengandalkan kecepatan berpindah tempat di beberapa perahu sebagai pijakan menyerang Elang salju.


Plaak !


Elang salju menahan tamparan Li Er yang mengarah kepala sedangkan tangan kiri menyambar perut Li Er.


Li Er mundur, kemudian bergerak kesamping kanan, kaki gadis itu menendang pinggang Elang salju.

__ADS_1


Whuut !


Elang salju tersenyum dingin, lalu cakar kirinya menepak kaki Zhain Li Er.


Saat kakinya di tangkis, Li Er Tinjunya menghantam dada.


Elang Salju mundur, sambil mendorong telapaknya ke arah tinju Li Er.


Blaaar !


Elang salju mundur, begitu pula Zhain Li Er.


Hmm !


"Tua bangka, kau sudah membuatku kesal !" ucap Zhain Li Er sambil menatap tajam ke arah Elang salju.


Perlahah Li Er mencabut pedang dari punggung.


Elang Salju melihat pedang angin mengerutkan kening, pedang aneh yang memang tak umum dengan pedang yang biasa di pakai pendekar pedang.


Zhain Li Er memutar pedang sambil berdiri di atas perahu.


Whut .. whut .. whut !


Suara riuh angin perlahan mulai terdengar keluar dari pedang yang di putar oleh Zhain Li Er.


Mata Elang Salju menatap tajam ke arah pedang LI Er yang terus berputar.


Li er tak bisa memaksimalkan jurus bidadari angin miliknya, karna tempat yang sempit dan hanya berdiri di atas sebuah perahu.


Li Er berputar kencang kencang dan melesat ke arah Elang Salju, Pedang angin melesat dari atas bersama riuh suara angin menderu menebas kepala, menebas kebawah.


Whuuut !


Elang salju terkejut, lompat menghindari serangan Zhain Li Er yang menebas kepalanya.


Blaaar !


Perahu yang menjadi tumpuan Elang perak, hancur terbelah dua terkena hawa pedang Li Er.


Elang salju sambil lompat mundur, tangan kanan mengibas ke arah Zhain Li Er.


Serangkum angin dingin melesat ke arah Li Er.


Li er melihat dirinya di serang, kemudian menebaskan pedangnya ke arah angin pukulan Elang salju.


Sreeet !


Zhain Li Er terus mengamuk memburu Elang salju yang selalu menghindar, sementara itu, puluhaan anak buah elang salju hanya melihat pemimpin mereka bertempur, tak berani mendekat, karna hawa tenaga dalam yang dingin sangat terasa, begitu mendekati area tempat mereka bertempur.


Elang Salju, kedua cakarnya menyambar ke arah tubuh Zhain Li Er.


Li Er loncat sambil berputar, pedang angin menyambar kaki Elang salju.


Elang salju loncat ke atas.


Li Er tidak tinggal diam, setelah melihat elang salju loncat sambil melesat ke atas.


Pedang angin berhenti, lalu melesat membabat tubuh Elang salju dari bawah ke atas.


Elang salju menghantamkan kedua tangannya bergantian ke arah pedang dan tubuh Li Er.


Sreeet !


Pedang angin agak tertahan oleh pukulan Elang salju.


Li er menarik serangannya, lalu mundur menghindari serangan Elang salju.


Wajah Elang salju semakin pucat dan putih, kakek itu sangat marah, sudah puluhan jurus masih belum bisa membunuh lawan, malah ia yang sering di serang oleh lawan.


Perlahan tangannya sebatas siku berubah putih serta pucat seperti kulit mayat.


"llmu kulit siluman es jarang sekali aku pergunakan, sepertinya kau pantas mendapat kehormatan itu." ucap Elang salju.


Zhain Li Er hanya mendengus, mendengar perkataan Elang salju.


Di dekat elang barat, berdiri seorang tua yang agak bungkuk dengan hidung menyerupai paruh burung dengan kepala gundul, menatap ke arah Elang Salju dan Zhain Li Er.


Sinar matanya sangat tajam.


Han Ciu terus memperhatikan kakek botak itu.


Teriakan dari Elang salju yang menyerang Zhain Li Er menggelegar, perahu yang ia injak hancur akibat tekanan tenaga dalam yang ia keluarkan.

__ADS_1


Begitu pula dengan Zhain Li Er, tubuhnya bergerak sangat cepat dengan jurus bidadari angin, pedangnya menusuk ke arah dada Elang salju.


Saling serang keduanya kali ini lebih cepat dan lebih dasyat dari sebelumnya.


Zhain Li Er, pedangnya menyambar nyambar, tapi kali ini kedua tangan Elang salju.


berani menangkis pedang angin milik Li Er, kulit tangan sebatas siku Elang salju seperti kulit mati, walau terkena tebasan atau sayatan pedang angin, tapi tak ada luka atau darah yang keluar.


Serangan serangan cakar Elang salju semakin ganas.


Zhain Li Er mulai terdesak, tapi mengandalkan kecepatan tubuhnya, tinju petir mulai mengancam tubuh Elang Salju.


Elang salju tak tinggal diam, setelah memakai ilmu kulit siluman es, ia lebih percaya diri, tangkisan pedang atau pukulan tinju ia hadapi dengan tangan kosong.


Plak .. plak !


Tangan kanan dan kiri Elang salju repot menangkis pedang dan tinju Li Er.


Elang salju mundur, sewaktu pedang Li Er menyabet ke arah perutnya.


Tapi itu memang hanya serangan pancingan, Saat Elang salju mundur, Li er, bergerak ke samping kanan, lalu tinjunya menghantam bahu Elang salju.


Elang salju terkejut, tangan kirinya berusaha menangkis.


Plaak.. breet !


Tinju Li er bergeser terkena tangkisan tangan kiri Elang salju dan menyambar kulit Elang salju.


Baju di bagian bahu sobek serta kulit Elang salju merah, terkena sambaran angin tinju petir Zhain Li Er, jika tak terkena tangkisan, bahu Elang salju pasti remuk oleh tinju petir Li Er.


Elang salju terhuyung, Li Er melihat Elang salju yang limbung, kemudian menyabetkan pedang angin ke arah badan Elang salju.


Wajah Elang salju pucat.


Dengan posisi tak siap, Elang salju sulit untuk menghindari serangan pedang angin Li Er.


Anak buah Elang salju menarik napas, wajah Elang barat pucat melihat salah seorang pemimpin mereka diam tak bergerak, menerima serangan musuh.


Kakek bungkuk yang berkepala botak, melesat dengan cepat, kulit tangannya berubah sangat merah, menghantam bahu Li Er yang sedang menyabetkan pedang angin.


Jika di teruskan Elang salju tewas, tapi bahunya akan hancur oleh pukulan kakek gundul, setelah memutuskan langkah yang paling baik.


Zhain Li Er menarik pedangnya, lalu menyabet ke arah perut kakek gundul, yang di sebut Elang api, tapi banyak juga yang menyebut dengan julukan Elang botak kakak seperguruan Elang salju.


Elang botak menyeringai, tangan kanannya sebatas siku berubah merah menangkap dan menggemgam badan pedang angin.


Ilmu kulit suliman api membuat tangan elang botak kuat dan tidak takut terluka.


Li Er berusaha menarik pedang angin, tapi pedang tak bergerak, karna Elang botak mencengkram erat badan pedang angin.


Tangan kiri Elang botak meninju perut Li Er.


Tangan kiri Li Er menyambut dengan tinju petir.


Dhuaar !


ledakan keras terdengar, beberapa kilatan sinar merah menyambar ke arah muka Li Er.


Li Er terkejut ketika sinar merah menyambar, matanya seperti buta Li Er mengeleng gelengkan kepala, tiba tiba terlintas di pikiran gadis itu, lelaki yang ia lihat berjalan di dermaga serta di kapal yang selalu tak terlihat wajah dan berpakaian hitam.


Han Ciu melihat Zhain Li Er seperti orang yang tak sadar, melesat ke arah gadis itu, sementara Racun cilik melemparkan 2 buag jarum, masing masing ke arah Elang botak dan Elang salju..


Shiing .. shiing !


Keduanya begerak menghindari lemparan jarum Racun cilik.


Han Ciu menyambar pinggang Li er.


lalu menurunkan gadis itu yang masih termenung.


Bayangan itu melintas semakin kuat, lelaki yang selalu memunggunginya.


Dengan rambut tergerai berpakaian hitam.


Melihat Zhain Li Er masih termenung, Han Ciu lalu berdiri melindungi di depan Li Er dan menatap kedua kakak beradik yang biasa di sebut sepasang Siluman Elang.


Sementara Zhain Li Er, melihat dalam alam bawah sadarnya, seorang gadis cantik yang wajahnya sama dan ia yakin bahwa itu adalah dirinya, sedang memanggil seseorang yang sedang berdiri.


"Mukaa ayaaam, suamiku !"


Pemuda itu berpaling dan tersenyum, "Ada apa ?"


Wajah Li Er berubah merah ketika melihat wajah pemuda itu.

__ADS_1


Bibirnya tersenyum.


"Ternyata benar !" dia suamiku."


__ADS_2