
“Kita lihat siapa yang akan berdiri di akhir pertempuran,” ucap Han Ciu mendengar perkataan San Chi.
San Chi yang sudah terkepung oleh pasukan ular yang di kendalikan oleh Zhain Li Er tak ada pilihan lain selain bertempur, walaupun pasukannya berjumlah 3 kali lipat dibandingkan dengan pasukan Han Ciu, tapi garda terdepan yang menyerang pasukannya adalah binatang beracun yang di kendalikan oleh Zhain Li Er, itu yang tidak menguntungkannya.
San Chi yang memainkan jurus dewa kaki satu dibantu oleh beberapa perwira berusaha membunuh Han Ciu yang berusaha mengobrak abrik formasi kura² tanah.
“Bunuh....pemimpin pemberontak ini, baru kita bisa bebas dari kepungan mereka,” ucap San Chi.
San Chi dengan kaki besinya berputar dan mengincar bagian mematikan dari tubuh Han Ciu, tapi dengan jurus 10 langkah naga langit, Han Ciu selalu berhasil menghindari serangan kaki baja San Chi, dan serangan para perwira yang berusaha membokong Han Ciu ketika di serang oleh pemimpin mereka.
Whut....Trang !
Percikan api terlihat saat pedang tulang naga menangkis serangan kaki San Chi yang mengarah perut Han Ciu.
Pedang dan tombak berseliweran di sekitar tubuh Han Ciu, tapi tubuh pemuda itu dengan gesit selalu bisa menghindar.
Han Ciu mundur, kemudian pedang nya menebas dengan jurus selaksa pedang.
Puluhan pedang tercipta menangkis dan menyerang kearah San Chi dan anak buahnya.
Trang....Crash...aaaaarrrghh !
Seorang perwira menjerit ketika bahunya hampir putus, terkena sabetan pedang tulang naga, tubuh perwira itu langsung tersungkur setelah menjerit.
San Chi yang geram melihat musuhnya masih bisa balik menyerang dan membunuh anak buahnya semakin kalap, pedangnya berputar menyambar ke arah leher Han Ciu.
Sementara itu, Huang Zilin, Tongki serta yang lain melihat Han Ciu di kepung dan mengamuk di tengah pasukan musuh, mereka berusaha masuk menjebol formasi kura² tanah yang perlahan mulai menutup.
Golok api Tongki serta pukulan Huang Zilin menghantam tameng pasukan San Chi.
Blam !
Tiga orang pasukan bertahan yang menggunakan tameng terpental, terkena hantaman Tongki dan Huang Zilin.
Puluhan ular langsung masuk dan mematuk pasukan bintang timur.
Apalagi Tongki yang menggunakan golok api dengan badan lebar, terkadang kakek tua itu dengan goloknya meraup puluhan ular kemudian melemparkannya ke arah tengah pasukan.
Pertahanan kura² tanah pasukan bintang timur mulai jebol dan terbuka.
Ratusan ular perlahan tapi pasti masuk dan mulai menyerang kaki para pasukan San Chi.
Jerit kesakitan dan kematian serta suara beradunya pedang, semakin membuat malam itu semakin menyeramkan.
Talaba serta orang dari perguruan selaksa pedang semakin bersemangat, mereka melempar lemparkan ular seperti yang di lakukan oleh Tongki.
San Chi terus menyerang Han Ciu dengan membabi buta, sang jendral berpikir jika Han Ciu berhasil di bunuh atau di tangkap, maka pertempuran ini akan selesai.
Dengan bertumpu dengan kakinya San Chi melentingkan tubuh menendang serta menusuk dengan kaki baja andalannya.
Tapi semakin di tekan, Han Ciu semakin gesit bergerak menghindar diantara pasukan musuh.
Tubuh Han Ciu ke kanan dan ke kiri sambil pedangnya menyabet ke arah pasukan yang ada di dekatnya.
Satu dua pasukan yang terlambat menghindar, langsung tewas terkena tebasan Han Ciu.
Han Ciu mengamuk, kedua pedangnya memainkan jurus selaksa pedang dan pedang hampa.
Puluhan pedang yang tercipta dari jurus selaksa pedang, kemudian di ubah menjadi pedang hampa sehingga terus menyerang pasukan bintang timur yang berusaha mengeroyok.
Crash....Crash !
Tangan, kaki serta kepala terputus dari tubuh mereka, terkena jurus selaksa pedang dan pedang hampa.
San Chi yang sudah merasa bahwa ini adalah pertempuran hidup mati antar mereka, terus menyerang Han Ciu.
Pedangnya berputar, berusaha menusuk atau menebas Han Ciu, tapi Han Ciu yakin bahwa kaki baja San Chi yang paling berbahaya.
Kaki baja San Chi terbuat dari baja bintang, baja yang sangat keras dan tidak gampang putus walaupun beradu dengan senjata pusaka.
Han Ciu menangkis serangan pedang San Chi yang menusuk ke arah perut.
Trang....Whut !
Setelah pedangnya berhasil di tangkis, kaki baja San Chi berputar berusaha membabat kaki Han Ciu.
Han Ciu lompat sambil memutar pedang, puluhan pedang hampa tercipta, setelah Han Ciu mengibas, puluhan pedang hampa menyerang ke arah San Chi.
Melihat hawa pedang menyerang ke arahnya, San Chi memutar pedang.
Tameng yang tercipta dari putaran pedang San Chi berhasil menahan serangan pedang hampa Han Ciu.
Melihat serangannya berhasil di tahan, Han Ciu melesat ke arah kiri, kemudian pedang tulang naga menyambar pinggang San Chi.
San Chi melihat Han Ciu bergeser ke kiri, kemudian kaki kananya yang terbuat dari baja, melesat menendang pedang tulang naga.
Han Ciu yakin bahwa serangannya pasti akan di tangkis oleh kaki baja, tenaga dalam yang ia dapat dari mutiara naga es disalurkan kepada pedang tulang naga.
Trang !
__ADS_1
Benturan keras terdengar tapi kaki palsu San Chi masih utuh, namun tubuhnya mengigil akibat tenaga dalam yang berhawa dingin masuk melalui hantaman pedang tulang naga.
San Chi terhuyung, pangkal paha yang menjadi tumpuan kaki palsu menjadi terasa beku.
Han Ciu terus menyambar, kali ini kaki kiri San Chi yang menjadi incaran Han Ciu.
San Chi sambil menggigil menggigit sedikit bibirnya untuk mengurangi rasa dingin yang mulai naik dari pangkal paha, sambil lompat mundur, pedangnya menyambar ke arah perut.
Shing !
Han Ciu menarik serangannya terhadap kaki kiri San Chi, pedang tulang naga yang sudah di bawah, langsung naik menghantam pedang San Chi.
Trang !
Saking kerasnya pedang beradu, pedang San Chi patah menjadi dua, San Chi langsung melemparkan pedang buntung yang ia pegang ke kepala Han Ciu.
Shing !
Pedang melesat cepat, tapi Han Ciu langsung menggeserkan tubuhnya ke samping, pedang buntung San Chi lewat dan tak mengenai sasaran.
Formasi kura² tanah pasukan bintang timur, mulai hancur akibat terobosan Huang Zilin dan Tongki, sementara sepasang siluman hutan Hanzhong bersama dengan Xiao Er terus mendesak sebagian pasukan untuk memecahkan barisan yang masih tersisa.
San Chi yang melihat formasi kura² tanah mulai hancur semakin ganas menyerang Han Ciu, di bantu oleh 4 orang perwira bawahan, mereka mengeroyok dan menyerang Han Ciu bergantian.
Trang....Trang !
Tombak serta pedang berhasil di tangkis oleh Han Ciu, sebuah tombak melesat menyerang ke arah perut.
Trak !
Han Ciu mementalkan tombak dari pedang yang berada di kanan, lalu menyabet tombak yang hendak menusuk perut, kemudian kepala pemuda itu menunduk dan berhasil menghindari tendangan kaki besi San Chi.
Setelah menunduk, Han Ciu menarik pedang di tangan kiri, sambil jongkok Han Ciu memutar kedua pedang tulang naga, berusaha membabat kaki musuh yang mengeroyok.
Whut....Whut !
Dua orang perwira menjerit kesakitan, saat kedua kaki mereka putus terkena sabetan pedang tulang naga.
Kedua perwira yang tersungkur, berusaha menusuk badan Han Ciu tapi Han Ciu tak mau memberi kesempatan kepada kedua musuh yang sudah jatuh.
Pedang di tangan kanan menyambar ke arah leher, sedangkan kaki kiri menendang dengan keras.
Crash....Buk !
Dua perwira yang putus kaki, langsung tewas dengan kepala putus, sedangkan satu lagi terpental jauh dengan perut hancur.
Trang !
Kaki baja yang hendak menghantam bahu, di tangkis pedang tulang naga, tapi kaki kiri San Chi berhasil masuk dan menendang dada Han Ciu.
Buk !
Han Ciu mundur sambil mengusap dada, wajah pemuda itu berubah ketika kaki San Chi berhasil menendang tubuhnya.
Dua buah pedang menyambar ke arah kepala Han Ciu saat dirinya mundur terkena tendangan San Chi.
Tapi pedang Han Ciu langsung membabat ke arah perut musuh yang sedang bergerak.
Bret...Crash !
Tak ada jeritan, hanya darah muncrat akibat putusnya pinggang perwira yang menyerang Han Ciu.
Melihat kawan di sebelah kanannya tewas, perwira yang menyerang dari kiri semakin bernafsu, dan menusuk ke arah leher musuhnya.
Tapi Han Ciu bergerak ke samping kiri dengan 10 langkah naga, setelah berada di samping musuh, pedang Han Ciu menebas kearah bahu.
Crash !
Tak ada jeritan dari musuh, saat bahunya hampir putus oleh pedang tulang naga, tubuhnya langsung tersungkur dengan mata melotot seolah tak percaya bahwa ia harus menerima ajal di tempat itu.
San Chi melihat ke empat perwira yang membantunya tewas, perlahan mundur, sambil memutar pedang yang ia ambil dari perwira yang telah tewas.
“Tuan, mari kita lanjutkan,” ucap Han Ciu dengan nada dingin sambil memasukkan kedua pedang tulang naga ke punggung.
“Keparat ! Aku menunggu lama di sini, tapi tak ada bantuan yang datang,” Shen Long keparat, rupanya ini cara dia menyingkirkanku, batin San Chi.
Shen Long adalah wakil San Chi tapi Shen Long tak suka, dan merasa cemburu melihat San Chi menjadi kepercayaan Xiang Yu, sementara ia tidak, sedangkan mereka dari dulu selalu berjuang bersama sama sejak runtuhnya Dinasty Qin.
Ketika ada rencana penyerangan kota Xianyang, dari 3 kota, Kemudian Xiang Yu menugaskan mereka berdua untuk memimpin serbuan dari kota Beidi, dan Shen Long menjadi wakil San Chi, rasa kesal dan iri semakin berkobar di dada Shen Long, saat mendengar ia harus berada di bawah San Chi.
Itulah mengapa, ketika San Chi beserta hampir 700 orang pasukannya mengejar, Shen Long lalu menarik pasukannya, dan memerintahkan mereka untuk berdiam di lembah, karna menurut Shen Long, 700 pasukan yang di bawa San Chi sudah cukup untuk membasmi mata² yang telah membakar tenda perbekalan mereka.
“Apa kau menunggu bantuan ? Tanya Han Ciu sinis kepada San Chi.
Phuih !
“Bukan urusanmu,” jawab San Chi.
Ha Ha Ha
__ADS_1
Mendengar jawaban San Chi, Han Ciu tertawa, lalu berkata dengan senyum mengejek.
“Pasukanmu yang lain tak akan datang, aku melihat hanya kau dan pasukan yang ada sekarang yang bergerak mengejarku, sementara yang lain aku lihat balik kembali ke dalam lembah.
“Jadi jangan harap kau bisa keluar dari tempat ini dalam keadaan hidup,”
“Dasar Shen Long keparat, hatinya hanya ada iri dan dengki,” batin San Chi ketika mendengar perkataan Han Ciu.
Mendengar keterangan Han Ciu, harapan San Chi akan kemenangan langsung hilang, mata sang jendral tampak putus asa, tapi San Chi masih berusaha untuk tegar.
Sekarang hanya ada satu kata dalam pikiran San Chi, "Serang"
Sang Jendral menyerang Han Ciu yang kini tak memakai pedang.
Tapi dengan 10 langkah naga yang bisa berkembang menjadi ratusan hingga ribuan langkah, tergantung dengan kepandaian musuh, terus menghindari serangan San Chi.
Kaki serta tangan San Chi bergerak menyerang Han Ciu.
Saat kaki baja San Chi menendang, Han Ciu menangkis, kemudian cakarnya berhasil mencengkeram kaki baja dengan tangan kanan lalu membanting.
Bruk !
San Chi meringis kesakitan saat tubuhnya di banting ke tanah.
San Chi melentingkan tubuhnya, lalu mundur, tapi Han Ciu tak mau memberi kesempatan kepada salah seorang pemimpin bintang timur, untuk menarik nafas.
Dengan jurus cakar naga hitam, Han Ciu terus memburu, cakarnya menyambar ke arah dada, tapi tebasan San Chi menyelamatkannya dari cakar naga hitam Han Ciu.
Setelah berhasil lolos dari serangan, kaki San Chi kembali menendang ke arah bawah perut Han Ciu.
Han Ciu lompat sambil mengangkat kedua kaki, menghindari serangan ganas San Chi yang mengincar tempat mematikan.
Sambil mundur, Han Ciu tangan Han Ciu mengibas, lalu pemuda itu dengan cepat memutar sambil berlari saat kakinya berhasil menginjak tanah.
Whut !
Pukulan dewa angin menghantam ke arah San Chi.
Pahlawan kaki satu mendorong tangan kirinya, berusaha menahan serangan Han Ciu.
Blam !
Dua pukulan tenaga dalam beradu menimbulkan suara keras, beberapa pasukan dan ular yang berada di samping mereka langsung terpental, akibat dahsyatnya pukulan kedua pemimpin pasukan yang tengah bertempur.
Han Ciu yang bergerak memutar, kemudian sampai di sisi San Chi.
Tanpa sempat berkelit, bahu San Chi di sambar dan di cengkeram oleh Han Ciu.
San Chi terkejut melihat cepatnya gerakan musuh, ia berusaha melepaskan diri tapi terlambat.
Han Ciu tanpa menunggu waktu, setelah mencengkeram, lalu meremas bahu San Chi.
Krek....krek....aaaaarrrghh !
Suara derak patahan tulang bahu terdengar bercampur dengan jeritan San Chi.
San Chi berusaha bangkit sambil menahan sakit, tulang bahunya hancur akibat cengkeraman Han Ciu.
San Chi berdiri sambil menahan sakit tapi wajahnya terbelalak saat melihat telapak Han Ciu yang telah berubah merah, melesat dengan cepat dan menghantam dada San Chi.
Buk !
San Chi terpental, setelah membentur sebuah pohon, tubuh San Chi terhempas dan jatuh dengan tubuh hangus terkena hantaman jurus Dewa api milik Han Ciu.
Pasukan yang tersisa melihat sang pemimpin tewas berusaha kabur, tapi langkah mereka terhenti setelah melihat ular beracun berada di sekeliling jalan, tempat mereka berusaha meloloskan diri.
Satu persatu pasukan musuh habis Di bantai oleh pasukan ular Zhain Li Er serta anak buah Han Ciu.
Zhain Li Er setelah melihat pasukan musuh telah habis kemudian berhenti meniup suling, setelah menyuruh para ular meninggalkan tempat mereka bertempur.
Ratusan mayat pasukan musuh dan bangkai ular serta bau darah yang bercampur bau racun ular yang membuat mual, menambah seram suasana malam itu.
“Talaba berapa pasukan yang tersisa ? Tanya Han Ciu.
“Pasukan kita yang terluka ada sekitar 30 orang ketua, yang masih bisa bertempur hanya sekitar 50 orang saja.”
Han Ciu mendengar perkataan Talaba tampak sedih, mereka adalah anak buahnya dari perguruan selaksa pedang.
“Talaba ! pimpin 30 orang yang terluka kembali ke Xianyang, lalu pelajari situasi yang terjadi di Xianyang.
“Jika Hedong dan kota Shang belum melakukan tindakan, bawa pasukan yang menahan kota Xianyang dari Hedong.
“Setelah kita membasmi pasukan yang berada di lembah, kota Beidi dan Shang aku rasa tidak akan terlalu sulit untuk di taklukan,” Ucap Han Ciu.
“Tapi ketua ! pasukan kita mungkin cukup untuk menyerang kota Beidi, tapi jika kita terus menyerang kota Shang, hamba pikir kita butuh pasukan lebih banyak,” jawab Talaba.
“Kau tak usah khawatir ! Jawab Han Ciu, kita sudah punya pasukan tambahan.
“Yaitu Pasukan ular.”
__ADS_1