Naga Hitam Dan 4 Selir

Naga Hitam Dan 4 Selir
Ch : 207 Sebuah Harapan


__ADS_3

Han Ciu terus melesat berusaha melepaskan diri dari kepungan dari para prajurit yang di pimpin San Chi, si pahlawan satu kaki, tapi gerakan Han Ciu yang cepat, serta hutan yang sudah tidak begitu rimbun, membuat Han Ciu melesat tanpa mengalami hambatan.


Tubuh pemuda itu meliak liuk diantara pepohonan dan berusaha mendekati hutan bambu, tempat di mana mereka telah berjanji untuk bertemu.


Melihat sebuah bayangan yang melesat dengan cepat dan ratusan obor yang terus mengikuti bayangan itu, Zhain Li Er, Talaba, Tongki serta Xiao Er yakin bahwa itu adalah Han Ciu.


“Siapkan pasukan, kita akan langsung menghantam pasukan musuh yang berada di belakang kak Han.


“Dan ingat ! sekali hantam, kita langsung pergi, jika terlalu lama, kita akan hancur oleh pasukan mereka,” anak buah perguruan selaksa pedang anggukan kepala mendengar perkataan Zhain Li Er.


Mereka terus menunggu, ketika mendengar suitan panjang Han Ciu, yang sudah berada di depan hutan bambu, Zhain Li Er langsung teriak kencang.


Seraaaang !


180 anggota perguruan selaksa pedang di tambah, Zhain Li Er, Xiao Er, Tongki serta Talaba yang menyerang dari jarak jauh karena menggunakan panah.


Menerjang ke arah Pasukan bintang timur yang di pimpin San Chi.


Han Ciu yang mendengar teriakan Zhain Li Er, kemudian memutar dan menyerang dari arah belakang, sepasang pedang tulang naga melesat membabi buta, menebas dan membunuh musuh yang berada di dekat Han Ciu.


San Chi terkejut ketika melihat ratusan orang menerjang ke arah pasukannya, ia sama sekali tidak menyangka bahwa mata – mata yang ia kejar sudah menyiapkan jebakan.


Bret....Shing....crash !


Suara pedang berkelebat, jerit kesakitan terdengar, dari prajurit bintang timur yang di pimpin oleh San Chi.


Tongki melihat San Chi yang pakaiannya berbeda dengan para prajurit langsung menyerang ke arah pria berkaki satu itu.


Golok api menyambar ke arah kaki San Chi.


“Putus kakimu," teriak Tongki, tapi salah seorang jendral kepercayaan Xiang Yu itu malah menusukkan pedangnya ke arah bahu Tongki.


Trang !


Golok api milik Tongki menghantam kaki San Chi yang terbuat dari baja.


Tongki mendengus, sambil menghindari tusukan pedang musuh.


“Bangsaat ! Ternyata kaki palsu,” ucap Tongki dengan suara gusar.


Kemudian Tongki memutar sambil mengayunkan golok menyabet ke arah pinggang San Chi.


Whut !


San Chi mundur menghindari serangan golok Tongki, setelah berhasil menghindar, San Chi kemudian bergerak ke kiri, lalu menghantamkan kaki besinya ke arah perut Tongki.


Tongki tak menghindar, tapi golok api langsung menebas kaki San Chi yang menyerang ke arah perut.


Melihat kaki palsunya terancam, San Chi dengan sebelah kaki melentingkan tubuhnya ke belakang, kemudian dengan kaki yang menjejak ke pada salah satu pohon besar yang ada di sana, San Chi melesat kembali sambil berputar diudara, pedangnya lurus mengincar dada Tongki.


Whut....Whut !


Tongki yang melihat serangan ganas dari sang musuh, langsung memutar golok di depan dada, berusaha menahan tusukan pedang San Chi.

__ADS_1


Trang....Trang !


Tangan Tongki bergetar setelah putaran goloknya berhasil menangkis tusukan pedang San Chi.


Keduanya lalu mundur sambil bersiap dan memasang kuda kuda.


Sementara itu, prajurit – prajurit bintang Timur yang jumlahnya hampir 3x lipat dibandingkan dengan pasukan perguruan selaksa pedang, mulai berjatuhan, serangan ganas dan penuh semangat dari anak buah Han Ciu mulai merepotkan pasukan bintang timur yang di pimpin oleh San Chi, tapi jumlah mereka yang terus bertambah, membuat keadaan jadi berbalik.


Pertarungan kedua pasukan mulai masuk ke dalam hutan bambu, pasukan San Chi yang melihat pasukan musuh, mundur perlahan ke arah hutan bambu terus mendesak.


Shing....Shing....Shing !


Crep....Crep....Crep !


Perwira yang memimpin pasukan menggantikan San Chi yang bertempur melawan Tongki terkejut, saat melihat puluhan panah serta senjata rahasia melesat dari atas pohon bambu menyerang pasukannya.


“Jebakan....awas jebakan !” Teriak perwira itu kepada anak buahnya.


“Buat formasi bintang, dan tebas batang – batang bambu yang ada di dekat kalian,” teriak perwira itu.


Perwira itu melihat bahwa, asal serangan senjata rahasia dan panah berasal dari atas pohon bambu, apalagi setelah melihat beberapa bayangan pindah dari batang bambu ke batang bambu yang lain.


Mayat – mayat di hutan bambu mulai banyak bertebaran.


“Kurang ajar, rupanya hutan bambu ini di pakai untuk tempat menyergap para prajurit kami,” batin perwira itu.


Tapi ia terus bertahan sambil membabat bambu – bambu yang ada di dekatnya.


Han Ciu yang menyerang dari belakang terkejut, ketika melihat barisan obor yang panjang sedang bergerak ke arahnya.


Pemuda itu sambil mengamuk terus bergerak ke depan, setelah melihat Zhain Li Er dan Xiao Er yang saling bahu membahu menyerang prajurit bintang timur, kemudian menghampiri mereka.


“Mundur, perintahkan anak buah kita untuk mundur,” ucap Han Ciu kepada Zhain Li Er sambil menebas salah seorang prajurit yang mendekatinya.


Tanpa banyak membantah setelah mendengar perkataan Han Ciu, Zhain Li Er kemudian berteriak kencang.


“Mundur.....mundur ! Ucap Zhain Li Er sambil membabat musuh, kemudian membuka jalan mundur anak murid perguruan selaksa pedang.


Gadis itu dengan gesit, bergerak menghindar ketika 2 buah tombak menyambar tubuhnya.


Melihat Tongki masih bertempur dengan salah seorang pemimpin musuh, Zhain Li Er melesat sambil membabatkan pedang angin ke arah pinggang San Chi.


San Chi terkejut ketika merasakan angin dingin menyambar ke arah pinggangnya, jendral pasukan bintang timur itu langsung berputar dengan kakinya yang terbuat dari baja menahan serangan pedang angin Zhain Li Er.


Trang !


Pedang angin Zhain Li Er ketika di tangkis gerakannya langsung menuju ke arah leher San Chi.


San Chi yang melihat bahaya mengarah lehernya, langsung jatuhkan diri bergulingan menjauh dari Zhain Li Er.


Kesempatan itu tak di sia siakan oleh Zhain Li Er serta Tongki, keduanya dengan ilmu meringankan tubuh melesat meninggalkan San Chi.


“Kejar....Kejar mereka ! Teriak San Chi dengan suara penuh amarah.

__ADS_1


Han Ciu melihat Zhain Li Er, Tongki, Xiao Er serta anggota perguruan selaksa pedang yang tersisa masuk ke dalam hutan bambu, kemudian menyusul sambil berusaha menghalau pasukan bintang timur yang berusaha mengejar pasukannya yang tersisa.


Setelah memasuki hutan bambu, Han Ciu memberi hormat kepada anak buahnya yang turun dari sebuah batang bambu.


“Paman Kho, maafkan aku yang tak bisa berbuat apa – apa untuk menolong kalian, malah kalianlah yang sudah berjasa,” ucap Han Ciu sedih.


“Ketua tak usah berkata seperti itu, kami merasa terhormat bisa membantu perjuangan tuan Liu Bang dan bisa bertempur bersama dengan ketua,” ucap Kho Tian sambil tersenyum.


Lanjut perkataan Kho Tian.


“Ketua silahkan pergi, tapi ketua harus berjanji kepada kami, ketua harus memenangkan peperangan ini, biar nyawa kami yang menjadi tumbal dan tonggak sejarah perjuangan yang mulia tuan Liu Bang.”


Mata Han Ciu berkaca kaca mendengar perkataan anak buahnya, setelah anggukan kepala kepada Kho Tian, Han Ciu melesat pergi ke arah pasukannya yang telah lebih dulu.


Saat hendak keluar dari hutan bambu, masih terdengar oleh telinga Han Ciu, jeritan dan teriakan pasukan bintang timur.


“Awas senjata rahasia !


“Tebas semua batang bambu, jangan biarkan satu pun pasukan pendam musuh lolos,” teriak para pemimpin pasukan yang lewat ke hutan bambu tempat Kho Tian bersama 20 orang kawannya berusaha untuk menyerang pasukan musuh dengan senjata rahasia.


Tongki yang memimpin pasukan melarikan diri terkejut saat melihat tebing yang tinggi di depannya.


“Celaka ! Teriak Tongki, Zhain Li Er, Xiao Er serta Han Ciu yang berhasil menyusul terkejut, wajah mereka pucat, begitu pula anak buah mereka melihat tebing tinggi menjulang di depan mereka.


“Dasar tua bangka, apa kau tak melihat arah ketika berlari,” ucap Zhain Li Er dengan gusar.


“Maaf nyonya, suasana gelap, aku tak tahu bahwa jalan ini jalan buntu,” jawab Tongki dengan nada menyesal.


“Merapat....Cepat merapat ke arah dinding batu,” teriak Han Ciu, ketika ia melihat ratusan obor bergerak mendekati mereka.


“Kita terpaksa bertahan di sini, dan jangan ada yang menjauh,” teriak Han Ciu.


Zhain Li Er dan Xiao Er memegang erat tangan Han Ciu, melihat ratusan obor bergerak mengepung mereka.


Dan semakin mendekat.


Tapi mereka melihat ratusan obor berhenti bergerak.


Tak lama kemudian, suara desis dan bau amis terdengar di seputar hutan di depan mereka, dalam keremangan malam, terlihat ribuan binatang melata bergerak pelan sambil mendesis.


“Ular....ular ! ketua banyak ular di depan kita ketua,” teriak salah satu anak buah Han Ciu dengan nada cemas.


Ketika Han Ciu hendak bicara, terdengar suara suling dengan nada melengking lengking tak beraturan


“Celaka ketua, ular – ular itu peliharaan racun kuning dari perguruan selaksa racun,” teriak Tongki.


Mendengar perkataan Tongki, Han Ciu menarik nafas.


“Agaknya kita sulit keluar dari kepungan mereka,” ucap Han Ciu sambil menatap ke arah langit malam, nada suaranya tampak sedih, dengan kedua tangan menggenggam erat tangan Zhain Li Er serta Xiao Er.


Han Ciu dan yang lain terkejut ketika mendengar suara tamparan, serta makian dari sebuah pohon besar yang ada di samping mereka


Plak....plak !

__ADS_1


“Kunyuk....keparat ! kau sudah kalah taruhan denganku, tapi ilmu suara pemanggil ular ini susah sekali di pelajari.” Teriak orang yang berada di pohon tersebut, sambil terus memaki.


“Tan Kui, beritahu si kuning keparat ini ! agar Jangan main gila dengan Huang Zilin.”


__ADS_2