
"Kau pulihkan dulu tenaga dalammu, baru kau pajari kedua ilmu yang terdapat dalam catatan kecil ini, jika belum pulih malah akan menambah luka dalam tubuh, dan semakin lama akan semakin parah bukannya sembuh," Han ciu mengangguk mendengar perkataan dari Racun langit.
"Zee, kau bantu berikan obat terbaik agar Han ciu, cepat sembuh, dan coba pendekatan dengannya, biar nanti tidak canggung dan malu malu jika kalian menjalankan misi bersama, mencari Han ci kung."
"Apa benar kau bisa membantuku ?" Han ciu berkata, sambil menatap murid yang di panggil Zee oleh Racun langit.
Ha ha ha.
"Anak muda, jika kau pernah dengar pepatah, ombak di belakang mendorong ombak yang berada di depan.
"Pepatah itu tepat buat muridku, jangan kau lihat lagaknya yang seperti perempuan, tapi kemampuannya mengolah racun, lebih handal dari aku yang di sebut racun langit."
"Tapi kek !" setiap kutanya dia hanya mengangguk atau geleng kepala, dia perempuan atau laki laki ?" kalau kulihat dadanya seperti laki laki, tapi melihat lagaknya mirip perempuan." ucap Han ciu.
Zee in biauw mendengar kelakar guru dan orang yang telah di tolong semakin menundukan kepala.
"Kau telanjangi saja jika kau penasaran, tapi hati hati !" bajunya yang seperti tabib itu penuh dengan racun, salah salah bukan dia, tapi kau yang telanjang sambil menggaruk badan, akibat racun yang terdapat di bajunya itu."
Hmm !
Zee in biauw mendengus sambil pergi keluar.
Racun langit tertawa tawa, melihat muridnya yang pemalu.
"Dia kutemukan di daerah Biauw, sewaktu aku berburu binatang beracun, aku tak tahu siapa orang tuanya, dia di tinggalkan hanya ada baju dan sebuah kalung giok."
"Sejak bayi ia kurawat dan sudah seperti anakku sendiri, tapi dalam hal racun dan bahan obat, dia sangat pintar dan lebih baik dariku, jika dia bertemu dan bergabung dengan orang yang salah, aku yakin dunia persilatan akan kacau."
"Kau harus baik baik padanya !" aku tahu kau orang baik, walau terkadang kulihat wajah bopengmu itu tak sedap di pandang dan menyebalkan, tapi aku yakin muridku akan nurut padamu." ucap Racun langit.
Bukan itu yang aku tanyakan kek, dia lelaki atau perempuan, mungkin murid kakek belum bergaul dan hanya diam di lembah ini, tapi kakek kan tahu jika di kota, kita tidur bareng dengan lawan jenis akan jadi bahan pergunjingan.
"Kau lihat saja muridku, jika kau tidur bareng di penginapan, kira kira orang akan curiga tidak terhadapmu ?"
Han ciu langsung menggelengkan kepala mendengar perkataan Racun langit.
"Lalu kenapa kau harus tanya padaku dia lelaki atau perempuan !" kan kau tinggal bawa saja. Jika ia tak mau sekamar, kan kau bisa sewa dua kamar.
"Kakek pikir aku orang kaya, bisa setiap saat menginap dipenginapan dengan menyewa banyak kamar ?" ucap Han ciu.
Ha ha ha.
"Tak usah kau sebut, aku juga sudah tahu dari mukamu bahwa kau orang susah." Racun langit tertawa dan berkata.
"Kau istirahat saja, minum obat yang dibuatkan oleh muridku, dan kau bawa kedua catatan ini, pelajari dulu kata katanya sebelum kau berlatih."
Han ciu mengangguk sambil menatap Racun langit, lalu mengambil kedua sutra kecil, lalu berjalan ke tempat ia di rawat, sambil sesekali melihat ke arah sepasang pedang naga hitam yang hanya tersisa sepotong, dengan kepingan hitam bekas pedang berserakan diatas meja.
Han ciu sedih melihat sepasang pedang naga hitam hancur, karna pedang itu yang menemaninya dari kecil dan kenangan dari sekte naga hitam, karna Han ciu tadinya berpikir bahwa pedang naga hitam adalah pusaka leluhur keluarga mereka.
Han ciu masuk keruangan tempat ia di rawat, dan ruangan itu sudah terlihat rapi dan di meja ada semangkuk obat yang masing panas.
Han ciu tanpa ragu langsung meminum obat yang sudah tersedia, lalu duduk di sebuah kursi yang terdapat di dalam ruangan.
Perlahan Han ciu membuka gulungan sutra kecil dan membaca kembali tulisan yang pertama.
__ADS_1
"Jiwa pedang"
Pedang tanpa jiwa hanyalah benda mati.
Jiwa dalam pedang adalah pusaka.
Semua yang kau pegang adalah pedang.
itulah pusaka yang sesungguhnya.
Hmm !
"Apa maksud dari tulisan pembuka itu ?" Han ciu berkata dalam hati, lalu Han ciu membaca keterangan dan petunjuk yang terdapat di kain sutra yang pertama ia baca.
Dengan tekun Han ciu membaca dan mempelajari aliran tenaga dalam yang harus di lakukan oleh jiwa pedang.
Meja berada di dekat pintu kamar yang tertutup sehelai kain.
Ketika Han ciu tengah mempelajari, Jiwa pedang.
Hanya tangan putih masuk dari balik kain penutup pintu kamar, obat, makanan dan p.
"Apa Zee in takut dengan bopeng dan tompel di mukaku ini ?"
"Biar saja, mau ikut syukur, tidak juga tak masalah buatku." Han ciu berkata dalam hati, dan terus melanjutkan berpikir makna dari tulisan pembuka, karna tahapan dari jiwa pedang yang tertulis sudah di hapal oleh Han ciu.
Kesehatan Han ciu semakin lama semakin pulih, tanpa Han ciu sadari, sewaktu ia terluka parah karna racun peremas hati penghancur usus, gerbang ke 4 dari ilmu tenaga dalam Jubah emas perlahan terbuka, dan Jiwa emas mulai menunjukan kemampuannya walau belum begitu terlihat.
Racun langit yang sudah merasakan tenaga dalam tahap ke 4 jiwa emas, melindungi anggota dalam tubuh yang penting, sehingga Han ciu masih bisa tertolong dari serangan racun peremas hati penghancur usus milik Han ci kung.
Sementara, Racun langit dan Zee in hanya melihat Han ciu berlatih.
Terkadang Racun langit menatap heran, melihat hawa kuning emas yang terkadang ada mengelilingi tubuh Han ciu, lalu lenyap kembali.
Hmm !
Entah tenaga dalam apa yang di pelajari oleh pemuda itu, tenaga dalamnya seperti bukan dari daratan Tionggoan bukan." Racun langit berkata dalam hati.
****
Sudah sepuluh hari sejak aku sembuh, tapi satu dari dua gulungan sutra itu, masih belum bisa ku pahami.
Han ciu yang tengah duduk melihat sepasang kaki di depannya, lalu melihat racun cilik menulis dengan ranting kecil.
"Satukan pikiran, dan masukan jiwamu ke dalam senjata yang kau pegang." setelah menulis, racun cilik menancapkan ranting kecil di bawah tulisan, lalu pergi.
Han ciu terus membaca, dan sebentar sebentar ia mengerutkan kening.
Han ciu lalu berdiri, mengambil ranting kering kemudian mulai kosentrasi dan memusatkan pikiran.
Han ciu tersenyum dan membuka mata, tak lama kemudian Han ciu mulai memainkan jurus pedang dengan ranting yang ia pegang.
Semakin lama semakin cepat, dan ranting perlahan seperti di lapisi oleh hawa tenaga dalam berwarna keperakan, Han ciu terus memainkan putaran pedang, selaksa pedang.
Ketika sedang berputar dan melesat ke atas, Han ciu melemparkan ranting yang ia pakai senjata.
__ADS_1
Sriiiing,..blaaar !
Batu yang tak terlalu besar hancur, terkena hantaman ranting yang di berikan oleh Zee in biauw.
Han ciu yang melesat ke atas menyambar ranting pohon, dan ranting yang baru ia ambil juga kedua sisi ranting, berwarna putih keperakan layaknya sebuah pedang pusaka yang tajam kemudian meleparkanya, ranting melesat dan menancap di pohon besar yang berada di depan Han ciu.
Ha ha ha
"Aku berhasil, aku berhasil."
"Aku mengerti sekarang, maksud dari jiwa pedang."
Dari kejauhan tampak Racun langit menatap Han ciu yang tengah ke girangan.
Phuuuih !
"Tetap saja itu hasil Racun cilik."
Malamnya Han ciu mengingat kembali pelajaran ilmu pedang yang terdapat di gulungan sutra kedua.
"Selaksa pedang hampa"
Kosong berati hampa, hampa belum tentu kosong.
Hanya pikiran kosong yang bisa membuat hampa menjadi selaksa lalu menjadi nyata.
****
Malam hari Han ciu melatih tenaga dalam jubah emas, berkat tambahan obat obatan yang dibuat oleh Racun cilik, tenaga dalam dan tubuh Han ciu semakin kuat, dan tahap ke 4 Jiwa emas akhirnya terbuka.
Pagi hari Han ciu berlatih.
Kedua tangan Han ciu berputar ia menggerakan tangan, tapi sebelumnya ia memisah misah tenaga dalam yang ia keluarkan, lalu kedua tangan mendorong kedepan, lalu kedua tangan berputar kembali, tapi kali ini di depan Han ciu, bayangan bayangan pedang terbentuk mengikuti gerak kedua tangan Han ciu.
Han ciu lalu bergerak, tangannya sangat cepat ke kanan dan ke kiri, begitu pula dengan bayangan pedang yang mengikuti gerak tangan Han ciu yang semakin lama semakin cepat.
Setelah lama melesat kesana kemari dan memainkan jurus jurus dari kitab Dewa pedang,
Han ciu ketika loncat dan berada di atas, mengayunkan tangannya ke arah pepohohan yang berada di depan, puluhan bayangan pedang melesat ke arah pepohonan dengan cepat, ranting, daun dan batang batang pohon kecil putus terbabat oleh bayangan pedang.
Racun langit tersenyum, begitu pula dengan Racun cilik yang melihat Han ciu berlatih.
Han ciu menghampiri Racun langit, sedangkan Racun cilik langsung menundukan kepala.
Ha ha ha
"Akhirnya kau berhasil !" tapi jangan puas dulu, kau harus melatih dan melancarkan kedua jurus itu, sambil belajar sedikit tentang racun, agar kau waspada dan tidak gampang di racun orang."
Han ciu mengangguk mendengar ucapan Racun langit.
"Baik kek !" sebulan lagi aku berlatih, dan setelah itu,
"Apa setelah itu ?" Racun langit berkata sambil menatap Han ciu.
"Aku akan memburu musuh musuhku"
__ADS_1