Naga Hitam Dan 4 Selir

Naga Hitam Dan 4 Selir
Ch 230 : Jebakan pertama


__ADS_3

Jari Api melesat mengikuti ratusan anak buahnya yang terlebih dahulu mengejar Tongki dan kawannya yang lain.


“Akan ku cincang kalian jika sampai tertangkap olehku,” batin Jari api sambil terus mengejar Tongki.


Tan Kui memberi tanda kepada Talaba, yang melesat dari pohon ke pohon bersama anak buahnya, sambil sesekali anak panah Talaba meluncur dan menembus tubuh para prajurit bintang timur yang berada paling depan.


Karena tempat lumpur hidup yang akan di pakai menjebak pasukan musuh mulai dekat, Talaba kemudian 2 kali bersuit kencang.


Suuuuiit....Suuuuiit !


Anak buah Talaba mendengar suitan sang pemimpin kemudian berpencar.


Sebagian bergerak ke kiri dan sebagian bergerak ke kanan, sementara Tan Kui serta Tongki terus bergerak lurus ke depan.


Tan Kui memberi tanda kepada Tongki untuk berhenti, di depan sebuah tempat yang terlihat luas dengan beberapa pohon besar yang sulurnya berada di tengah lapang luas terlihat.


“Kita tahan mereka sebentar di sini, dan sulur dari pohon itu sebagai batu loncatan untuk kita pergi melewati lumpur hidup ini,” Tan Kui berkata kepada Tongki sambil menunjuk dua buah sulur sebesar tangan yang berada agak di tengah lumpur hidup yang di maksud oleh Tan Kui.


Tongki anggukan kepala mengerti akan maksud dari Tan Kui, lalu keduanya naik ke atas sebuah pohon menunggu kedatangan pasukan bintang timur yang mengejar mereka.


Saat melihat beberapa prajurit bintang timur yang sampai terlebih dahulu, Tongki melesat sambil menebaskan golok api ke arah para prajurit.


Shing....Crash!


Seorang prajurit terjungkal ketika bahunya hampir putus terkena sabetan golok Tongki.


Tongki berputar sambil menyabetkan goloknya ke arah para prajurit bintang timur.


Tan Kui yang melihat Tongki mengamuk, kemudian turun dan ikut menyerang para prajurit bintang timur.


Pukulan dan tendangannya ke arah tempat mematikan, langsung membuat prajurit yang terkena serangan Tan Kui tewas seketika.


Puluhan prajurit tewas, akibat amukan kedua tokoh anak buah Han Ciu itu.


Tapi prajurit bintang timur terus berdatangan, semakin lama semakin banyak dan memenuhi tempat di sekitar Tongki dan Tan Kui.


Tongki memutar goloknya, prajurit bintang timur yang terlambat mundur berteriak kesakitan terkena tebasan golok Tongki.


Tan Kui yang melihat pasukan musuh, semakin banyak, memberi tanda kepada Tongki untuk segera meninggalkan tempat mereka bertempur, apalagi Tan Kui mendengar suara Jari api yang berteriak teriak, memberi perintah kepada anak buahnya untuk terus mengejar.


“Saudara Tan! Kau berangkat terlebih dahulu, nanti aku menyusul,” ucap Tongki sambil membabat prajurit bintang timur yang terus berdatangan dan mengepung Tongki.


Tan Kui anggukan kepala, mendengar perkataan Tongki


Ketika hendak bergerak, Tan Kui tangannya mencengkeram tangan prajurit musuh, kemudian menarik dan memutar tubuh prajurit yang berhasil ia cengkeram, dan menjadi tameng hidup untuk dirinya.


Plak....Buk...Craks !


Kaki dan tangan prajurit yang berputar menghantam tubuh kawan sendiri, tombak dan pedang menebas dan menancap di tubuh yang di cengkeram oleh Tan kui.


Tubuh prajurit yang mulai amburadul terkena serangan kawan sendiri, lalu di lemparkan sekuat tenaga oleh Tan Kui ke arah prajurit yang menyerangnya.


Buk !


Setelah melemparkan tameng hidupnya, Tan kui lalu melesat meraih sulur yang ada di tengah lumpur hidup, sulur berayun ke arah depan, Tan kui loncat sambil bersalto dan berhasil lewat di atas lumpur hidup.


“Saudara Tong, cepat pergi! Teriak Tan Kui, saat melihat Tongki masih mengamuk di tengah kepungan puluhan prajurit bintang timur.


“Saudara Tong...cepaaat! Kembali Tan Kui teriak memberi peringatan kepada Tongki untuk segera menghindar.


Tongki menendang seorang prajurit, lalu goloknya menebas.


Crash !


Sebelum tubuh prajurit yang tewas jatuh ke tanah, kaki Tongki menendang.

__ADS_1


Buk !


Mayat Prajurit itu melayang dan menghantam para prajurit yang hendak menyerang.


Tongki melesat ke arah lumpur hidup, tapi tidak ke sulur pohon, sebuah batang kayu lapuk yang berada di tengah lumpur hidup yang tertutup dedaunan kering menjadi tempat pijakan Tongki.


Dengan ilmu meringankan tubuhnya yang tinggi Tongki berdiri di atas batang kayu yang lapuk itu.


Jari api yang sampai, melihat Tongki sudah kembali melarikan diri setelah ia tiba, berteriak sambil menghentakan kakinya ke tanah menahan kesal.


Kejar....kejar keparat itu! Teriak Jari sambil melesat.


Ratusan prajurit langsung mengejar.


Melihat jari api melesat ke arahnya, tangan kiri Tongki menghantam dengan pukulan hawa neraka ke arah Jari api.


Whut !


Jari api bergerak menghindari pukulan Tongki dengan bergerak ke kiri.


Lalu jari api turun persis di sisi lumpur hidup.


“Sial....harusnya cecunguk itu turun di lumpur hidup, biar aku tidak repot untuk membunuhnya,” batin Tongki, melihat keberuntungan Jari Api.


Ratusan pasukan bintang timur lari di samping jari api mengejar.


Blub...Blub....Blub....Blub!


Suara kaki yang masuk dan perlahan tubuh mereka turun ke dalam lumpur membuat ratusan prajurit yang terjebak, menjerit jerit ketakutan.


Mereka bergerak berusaha naik, tapi semakin mereka bergerak, semakin tubuh mereka masuk tersedot oleh lumpur hidup.


Jari api terkejut melihat anak buahnya terperangkap di dalam lumpur hidup.


“Cari bambu, ranting pohon dan tali, lemparkan untuk menolong mereka yang terjebak,” teriak jari api memerintahkan anak buahnya.


Tongki yang masih berdiri di atas kayu lapuk, tertawa terbahak bahak melihat Jari api yang sibuk berteriak teriak.


Sekilas matanya melirik ke sebuah benda bulat menggantung di pohon besar yang ada di atas Jari api.


Jari api yang melihat Tongki tertawa sambil berjalan pelan di atas kayu.


Sudah tak bisa mengendalikan hawa amarahnya.


Tangan kanan dan kiri mengibas ke arah Tongki.


Whut....Whut!


Dua larik sinar merah yang sangat panas melesat ke arah Tongki.


Tongki melesat ke atas sambil jungkir balik menghindari serangan Jari api, setelah pukulan Jari api lewat di bawahnya, Tongki sambil tertawa melayang turun dan berdiri kembali diatas kayu lapuk.


Puluhan prajurit membawa tali dan ranting kayu panjang untuk menolong ratusan kawan mereka yang terjebak di dalam lumpur hidup.


Ketika mereka hendak melemparkan tali dan ranting kayu.


Terdengar suara desingan puluhan anak panah dari atas pohon yang banyak terdapat di sisi kiri kanan lapang lumpur hidup.


Shing....Shing....Crep....Crep!


Prajurit yang hendak berusaha menolong dan mendekat terkejut ketika puluhan anak panah melesat dan menembusi tubuh kawan² mereka.


Prajurit yang hendak menolong terkejut, lalu mundur.


Talaba beserta anak buahnya terus memanah ke arah para prajurit bintang timur yang berusaha tetap mendekat ke arah lumpur hidup, dan menolong kawan mereka.

__ADS_1


“Keparaat....dasar tikus² pengecut,” teriak Jari api sambil tangan kanan dan kiri mengibas ke arah tempat Talaba dan anak buahnya bersembunyi.


Tongki yang melihat pukulan jari api lalu mengibaskan goloknya dan tangan kiri ke arah pukulan Jari api.


Blam....Blam!


Ledakan keras terdengar ketika kedua pukulan beradu.


Talaba yang mulai melihat bahaya, apalagi pasukan pemanah musuh mulai berdatangan, lalu bersuit kencang, memberi isyarat agar pasukannya bergerak menjauh.


“Cepat lemparkan tali, cepaaat! Teriak Jari api kepada anak buahnya.


Shing....Shing!


Puluhan panah melesat ke arah Tongki.


Golok api mengibas.


Blam!


Puluhan panah mental berhamburan terkena hawa golok yang ia keluarkan.


Dua buah panah yang lolos ia tangkap dengan tangan kiri, kemudian Tongki menyimpan goloknya.


Dengan sebuah anak panah di tangan kiri, dan satu lagi ia gigit, Tongki lalu loncat, ke arah sebuah sulur kayu, lalu berayun ke arah Tan Kui yang masih menunggunya.


Sambil berayun, tangan Tongki melemparkan anak panah pertama ke atas pohon yang terdapat benda bulat yang tadi ia lirik.


Shing !


Panah menghantam ranting tempat benda bulat itu berada.


Benda bulat itu jatuh, ketika benda bulat itu setombak berada di atas kepala para prajurit bintang timur yang hendak menolong kawan mereka, yang mulai tersedot lumpur hidup.


Tongki melepaskan anak panah yang ia gigit, lalu menendangnya.


Shing !


Anak panah melesat dengan cepat, kemudian menghantam benda bulat besar hingga terbelah dua.


Benda bulat yang ternyata sarang lebah, hancur dan jatuh diatas kepala para prajurit yang hendak menolong.


Ratusan lebah, ketika sarangnya hancur langsung bergerak menyerang siapa saja yang ada di dekat mereka.


Tan Kui hanya gelengkan kepala sambil tersenyum, melihat kelakuan temannya itu dari seberang.


Jari api terkejut melihat ratusan lebah berwarna merah, menyerangnya dan para prajurit yang hendak menolong.


“Celaka....lebah api,” batin Jari api.


Lebah hutan yang besar dan beracun.


Tangan kanan jari api mengibas ke arah lebah, berusaha menghalau lebah² yang mengamuk.


“Mundur....berputar dan kejar mereka,” teriak Jari api memberi perintah kepada anak buahnya.


Ratusan prajurit yang terjebak lumpur hidup tersedot dan tak tertolong, karena lebah menyerang prajurit yang hendak menolong.


Sementara di seberang sana, Tongki tertawa terbahak bahak, suaranya terdengar jelas karena mengerahkan tenaga dalam.


“Se ekor cecunguk ingin menangkapku,” teriak Tongki sambil tertawa.


Ha Ha Ha.


“Kau belum cukup umur”

__ADS_1


__ADS_2