
Hampir semua yang berkumpul terkejut ketika mendengar perkatan dari Kim ho.
"Cengcu"
"Saudara Kim ?"
"Ini, ini benarkah yang saudara katakan, lalu Cengcu," Lan mo ci berkata sambil menatap bingung ke arah Kim ho.
Kim ho mengangguk sambil tersenyum ke arah Lan mo ci ia berkata.
"Paman Pedang langit sekarang menjadi Hu cengcu ( wakil ketua kampung ) aku menyusul Cengcu juga atas perintah Hu cengcu, agar anggota luar perkampungan selaksa pedang seperti keluarga Lan tahu, siapa cengcu perkampungan selaksa pedang yang baru."
Setelah mendengar perkataan dari Kim ho, Lan mo ci yang bahunya terluka kemudian memberi hormat kepada Han ciu, setelah terlebih dahulu memberi isyarat kepada anak dan anggota keluarga Lan yang lain untuk.menuruti dan mengikutinya sebagai kepala keluarga Lan memberi hormat kepada Cengcu baru.
"Obati saja luka paman, dan mundur semua !" biar aku sendiri yang akan menghabisi orang yang tak tahu diri ini." Han ciu berkata sambil menatap tajam ke arah Kiam to.
"Kau yang membunuh orang orang tak berdosa di rumah hiburan surga malam dan mereka pasti bersamamu waktu itu, mana ketiga murid busuk mu itu ?" ucap Han ciu sambil menunjuk orang orang yang berpakaian hitam yang bersama Kiam to.
"Entah apa yang kau berikan kepada si tua Zhi dong ( nama pedang langit ), sehingga ia memberimu jabatan Cengcu ?" Kiam to berkata dan membalas tatapan Han ciu.
Phuuih !
"Sudah bau tanah tak perlu banyak tanya."
Sepasang pedang pendek Naga hitam berputar di kedua tangan Han ciu.
"Lan mo ci dan sepasang pedang keluarga Lan, geleng kepala melihat pedang yang berputar di kedua tangan Han ciu."
Sedangkan Hek kay pengemis berwajah hitam, tak dapat berkata kata, pemuda itu masih terkejut dan tak hentinya menatap ke arah Han ciu.
Kiam to dengan pedangnya yang putih mengkilat, bersiap dan memasang kuda kuda, dia pernah merasakan ketajaman salah satu pedang pendek yang berada di tangan Han ciu.
Han ciu melemparkan pedang yang berada di tangan kiri.
Pedang melesat dan berputar menyerang kepala Kiam to.
Sebelum melesat menyusul pedangnya, Han ciu mendorong tangan kiri dengan ilmu pukulan dewa angin ke arah anak buah kiam to yang menyerang dari samping kiri.
Whuuut, braaak !
Dua orang yang terlambat menghindar terpental, terkena hantaman pukulan dewa angin, keduanya muntah darah dan tewas seketika dengan dada remuk.
Sementara itu, Kiam to sempat melirik anak buahnya yang terkena pukulan Han ciu, tapi ia tak bisa berbuat apa apa, karna ia juga tengah di serang oleh pedang Han ciu yang meluncur cepat sambil berputar ke arah kepala.
Kiam to menunduk dan pedang lewat di atas kepala, dan menyambar tangan salah seorang anak buah Kiam to.
Craaaash, aaarrgggh !
Teriakan keras terdengar dan potongan tangan jatuh ketanah, sedangkan pedang terus berputar.
Han ciu menarik nafas, kemudian tenaga dalamnya di salurkan ke tangan kiri, hawa tenaga dalam yang berputar keluar dari tangan kiri, menarik pedang naga hitam yang tadi ia lemparkan.
Weeer...taaaap !
Dengan jurus raja angin, Han ciu menyambut pedang pendeknya, pedang di tangan kanan menusuk pinggang Kiam to, sedangkan pedang yang baru ia tangkap di pakai menangkis serangan anak buah Kiam to yang ke arah leher.
Traang !
Tangan anak buah Kiam to bergetar, ketika kedua senjata bertemu, sebelum musuh menarik diri, pedang kiri Han ciu turun melesat menghujam dada anak buah Kiam to.
Breees...aarrrgh !
Han ciu tak peduli dengan teriak memilukan yang keluar dari mulut anak buah Kiam to, setelah mencabut pedang dari dada, lalu tubuh musuh langsung ia tendang sehingga terpental jauh dan tewas seketika.
Wajah Kiam to pucat, hanya tersisa beberapa orang dengan dirinya.
4 orang anak buahnya, hanya dalam beberapa gebrakan tewas oleh pemuda itu.
"Semuanya maju, biar cepat beres," ucap Han ciu
"Kepung pemuda tengik itu, kita serang bersama sama, Kiam to berkata sambil pasang kuda kuda siap menyerang Han ciu.
6 anak buah Kiam to yang tersisa begitu mendengar perkataan dari pemimpin mereka segera mengepung Han ciu.
__ADS_1
Sepasang pedang naga hitam, masih terus berputar di kedua tangan Han ciu.
Masing masing mata pengepung menatap pedang yang terus berputar.
Seraaang !
Kiam to memberi aba aba kepada anak buahnya, sambil melesat dan menyabetkan pedangnya ke arah pinggang.
Sebagian menyerang kepala dan kaki.
Melihat semua bagian mematikan di tubuhnya di serang.
Han ciu sambil lompat ke atas, menangkis pedang yang menyerang ke arah kepala dan dada.
Trang, trang !
Dengan ilmu meringankan tubuh raja angin, Han ciu lompat sambil bersalto, kemudian turun dengan kedua kakinya menginjak bahu kiri kanan salah seorang pengepungnya, kedua kaki Han ciu langsung menjepit kepala, setelah kdua kakinya menjepi kepala, Han ciu berputar
Kreeek !
Setelah mendengar patahan tulang leher, Han ciu seperti terbang melesat menusuk leher Kiam to.
Whuuut, traaang !
Pedang Kiam to menangkis pedang Han ciu. sedangkan anak buahnya menyabet pergelangan tangan Han ciu dari samping.
Han ciu menarik serangannya, lalu pedang di tangan kiri bergerak dengan cepat menyabet ke arah perut musuh yang tadi hendak menebas tangan.
Breeet !
Raut wajah ketakutan terlihat ketika pedang naga hitam lewat di perutnya, darah langsung keluar dari sobekan perut, pria berseragam hitam sambil memegangi perut yang yang sobek berusaha mundur, tapi Han ciu tak mau membiarkan musuhnya menarik nafas bernafas, sebelum Kiam to menyerang, pedang di tangan kanan menebas ke arah perut.
Craaash !
Tangan yang sedang memegang perutnya yang sobek putus dan jatuh ke tanah,
Dari sobekan perut, darah langsung mucrat keluar berikut isi perutnya yang tak tertahan lagi oleh tangan.
Perlahan, sambil melotot dengan sebelah tangan menggapai ke arah Han ciu, pria itu tewas.
Pedang Kiam to di putar sangat kencang di depan dada sehingga menimbulkan angin menderu,
Whuut..Whuut,.Whuut !
Kiam to kemudian menyabekan pedangnya menyilang ke arah Han ciu, hawa pedang berwarna putih melesat dengan cepat menuju ke arah Han ciu.
Ketika melihat hawa pedang yang sangat cepat menuju ke arahnya dan Han ciu juga merasakan sambaran pedang dari arah belakang.
Han ciu bergerak ke samping kiri, lalu menendang pinggang pembokongnya.
Bhuuk !
Anak buah Kiam to yang hendak membokong Han ciu, terhuyung dan tepat di depan hawa pedang kiam to yang sedang melesat dengan cepat.
Craaash !
Tanpa ampun pembokong itu tewas dengan tubuh terbelah dua terkena hawa pedang dari pemimpinnya sendiri.
Wajah 3 orang anak buah Kiam to yang tersisa semakin ketakutan melihat kawannya satu persatu tewas mengenaskan.
Han ciu dengan jurus selaksa pedang menyerang ketiga orang anak buah Kiam to.
Kedua pedang pendek naga hitam berubah puluhan dan menyerang ketiga orang yang sudah sangat ketakutan.
Creeeps !
Sebuah tusukan menembus leher, lalu salah seorang berusaha menangkis pedang yang ia lihat hendak menusuk dada, ketika ia menebas, pedangnya hanya menebas angin, dan pedang Han ciu sudah berada di lehernya,
Sreeet !
Sebuah kepala langsung jatuh ke tanah, sedangka satu orang yang tersisa langsung berusaha melarikan diri, tapi ketika ia mendengar suara angin dingin di belakang dan menoleh, pedang naga hitam sudah berada tepat di belakang berputar cepat menyambar tepat ke mulutnya
Craaash !
__ADS_1
Mulut serta rahangnya hancur terkena putaran pedang naga hitam.
Han ciu mengambil pedang pendeknya yang masih menancap di mulut lalu pedang yang masih berlumuran darah di usapkan ke rambut korbannya yang tewas.
Kemudian setelah pedang pendeknya bersih, ia putar putar sebentar sambil menatap ke arah Kiam to.
Hai pendekar telinga tunggal, sekarang giliranmu untuk mati, bersiaplah !'
Kiam to tak menjawab ejekan Han ciu, biar bagaimanapun harapannya untuk melarikan diri sudah musnah, kini hanya tinggal mengadu jiwa.
Dan berharap bisa mati berdua dengan pemuda itu.
Tangan kanan memegang erat pedang.
Setelah menarik nafas, Kiam to mendorongkan tangan kirinya ke arah Han ciu, angin dingin keluar menyusuri tanah, debu dan kerikil kecil berhamburan ketika di lewati oleh pukulan tenaga dalam yang di keluarkan oleh Kiam to.
Han ciu lalu menyarungkan pedang kirinya.
Lalu dengan pukulan dewa angin, membalas ke arah hawa tenaga dalam yang tengah melesat ke arahnya.
Dhuaaar !
Ledakan keras terdengar ketika kedua angin tenaga dalam bertemu, tetapi ilmu pukulan Dewa angin Han ciu lebih unggul.
Dan terus melibas pukulan Kiam to.
Kiam to terkejut, kemudian bergerak ke samping kiri, pukulan dewa angin lewat dan langsung menghantam gunungan kecil dan semak belukar yang tadi tempat bersembunyi Han ciu dan Hek kay.
Blaaart !
Batu batu berterbangan semak belukar, terangkat dan tercabut sampai ke akarnya terkena hantaman pukulan dewa angin.
Melihat Kiam to masih bisa menghindar, Han ciu kemudian melemparkan pedang naga hitam ke arah tempat Kiam to menghindar.
Sring, sring, sring !
Suara putaran pedang terdengar jelas memburu ke arah Kiam to.
Mata Han ciu menyipit, ketika melihat Kiam to masih bergerak menghindari serangan ke arah kiri.
"Kenaaa !"
Han ciu teriak sambil mengibaskan tangan kirinya yang sudah berwarna merah, melepaskan pukulan dewa api ke arah Kiam to menghindar.
Dhuuuar !
Tak ada jeritan, sewaktu pukulan dewa api dengan telak menghantam tubuh Kiam to.
Tubuh kakek itu langsung hancur, daging yang berterbangan dari tubuh yang hancur tampak berwarna merah akibat panasnya pukulan dewa api.
Han ciu menarik nafas lega setelah berhasil menumpas musuh yang sangat di bencinya itu, Han ciu menatap ke arah langit.
Nio nio, Ling ling dan kau adik Niu niu, dendam kalian sudah kubalaskan, semoga kalian tenang di alam sana, ucap Han ciu dalam hati.
Anggota keluarga Lan langsung membersihkan mayat mayat yang berserakan.
Sobat, kau ak usah khawatir, gurumu tak akan tahu kau mengintip, Han ciu berkata kepada Hek kay sambil tersenyum.
Lan mo ci di bawa ke dalam untuk di obati bahunya yang terkena sabetan pedang Kiam to.
Ketika Han ciu tengah berjalan bersama Hek kay, sebuah bayangan melesat datang.
Lan an yang baru saja datang setelah keluar bersama dengan pelayannya, tidak mengetahui bahwa Keluarga Lan baru saja di serang.
Melihat Han ciu berjalan bersama dengan pemuda bermuka hitam di depan ayah dan pamannya.
Lan an tanpa bertanya dan berkata, lalu berjalan, setelah sampai di depan Han ciu, lalu menampar pipi pemuda itu.
Plak !
Pipi Han ciu langsung berubah merah, tampak 5 jari tergambar jelas di pipi Han ciu yang putih.
Lan an melotot kepada Han ciu lalu berkata, tanpa memperdulikan wajah ayah dan pamannya yang langsung pucat pasi, ketika melihat Lan an menampar pipi Han ciu dengan keras.
__ADS_1
"Kau mau mencuri di rumah ku ?"