Naga Hitam Dan 4 Selir

Naga Hitam Dan 4 Selir
Ch 254 : Kau datang pada saat yang tepat


__ADS_3

Han Ciu yang terus bergerak ke arah Hedong seperti berjudi dengan nasib penguasa barat.


Menurut perhitungan Han Ciu dan Pedang api, mendengar keterangan dari para pengungsi bahwa kota Henei di serang dengan kekuatan penuh dari pasukan bintang timur.


Han Ciu yakin kota Henei tidak akan kuat bertahan lama, karena jumlah pasukan antara penguasa barat dan pasukan bintang timur sangat jauh berbeda.


Jika dari Hengshan timur mereka ke kota Julu maka waktunya akan terlambat untuk menolong, entah Liu Bang bisa keluar dari Hengshan atau tewas di kota Henei.


Tetap Han Ciu datang akan terlambat dan malah pasukannya bisa hancur karena pasukan bintang timur yang tengah berkumpul, sehingga Han Ciu memutuskan langsung ke Hedong kemudian masuk ke dalam kota Henei dari belakang.


Pasukan Han Ciu sampai pagi hari di hutan Hedong, ketika siang hari hendak bersiap berangkat, Han Ciu mendengar suara gemuruh kaki kuda.


Setelah melihat dari atas pohon, ribuan kuda di pacu kencang, dan saling kejar Han Ciu langsung membagi pasukan.


Zhain Lie Er yang kini di kawal Dewi kipas, Sa Sie Hwa serta Xiao Er di paksa untuk meniup suling.


Talaba di sisi lain dengan pasukan panahnya menunggu, begitu pula Huang Zilin, sepasang siluman hutan Hanzhong serta pedang kiri dan kanan, begitu pula Tongki dan Iblis biru.


Han Ciu menyuruh pasukannya untuk bersembunyi dan menunggu, apakah pasukan inti berada di belakang pasukan berkuda bintang timur.


Jika ada dan mengetahui jumlah pasukan, mereka bisa memutuskan untuk melawan atau melarikan diri sambil memikirkan siasat yang tepat untuk balik menyerang.


Dan sekarang adalah tugas Zhain Li Er menggunakan ular untuk menyerang dan membuat mundur pasukan berkuda musuh.


Untuk sementara pasukan bersembunyi di dalam hutan, para pemimpin menonton dan salah seorang mata² anak buah Talaba tetap menunggu di atas pohon tertinggi menunggu ada musuh yang datang, kemudian langsung memberi informasi.


Liu Bang, Beng San serta Xiao Cen terus menarik tali kekang kuda untuk menenangkan kuda mereka dari ular milik Zhain Li Er.


“Paman, sepertinya ada yang aneh dengan ular² ini,” ucap Liu Bang.


“Yang Mulia benar! ular ini sepertinya di perintah, jika yang mulia mendengar suara suling yang tidak beraturan, itu suara yang mengendalikan ular, tapi kami belum tahu siapa yang telah menggerakkan ular,” Beng San membalas perkataan Liu Bang.


Perwira bintang timur yang memimpin 3000 pasukan berkuda, melihat ular terus berdatangan, kemudian memberikan perintah untuk menyerang.


Perwira tombak utara takut jika ia terlambat, dan pasukan Liu Bang melarikan diri, Tombak utara bisa kena hukuman dari Xiang Yu yang tengah mengejar di belakang mereka.


"Seraaang! Teriak sang pemimpin.


Sambil menggebrak kuda mendahului anak buahnya.


Tombak melesat ke arah ular² yang sebagian bergulung menghalangi rombongan Liu Bang.


Dengan Tombaknya perwira itu mendongkel tumpukan ular, puluhan ular terlempar ke udara lalu tombaknya bergerak ke kanan dan kiri, menebas ular yang terlempar.


Ular² yang melihat keganasan tombak utara kepada kawan mereka tampak mendesis desis marah, beberapa ular melesat ada yang loncat ke arah Tombak utara.


Whut....Crash....Crash!


Ular² terus berdatangan, kaki kuda tombak utara akhirnya di patuk oleh se ekor ular belang.


Tuk!

__ADS_1


Kuda meringkik kencang, lalu kedua kaki depan terangkat tinggi, lalu menghempas sambil menginjak injak ular, tak lama kemudian muda rubuh, Tombak utara melesat loncat menjauh dari kudanya yang tewas di patuk ular.


Ratusan kuda yang di tunggangi pasukan bintang timur meringkik, ketika ular² menyerang kuda, para prajurit bingung, tebasan dan ayunan pedang yang membunuh ular, malah membuat ular – ular yang lain bertambah ganas.


Ratusan kuda dan penunggangnya mulai menjadi korban ular² milik Zhain Li Er, tombak utara terus mengayunkan tombak, berusaha untuk membunuh dan menghalau ular yang berusaha mendekat.


Terdengar suitan panjang dari dalam hutan.


Han Ciu tersenyum mendengar suara suitan yang artinya, mata² itu melihat sesuatu dari atas pohon.


"Lapor ketua, ribuan prajurit bintang timur bergerak menghampiri.


Pasukan berkuda mereka juga lebih cepat bergerak menuju ke sini,” ucap mata² itu.


“Menurut yang kau lihat! berapa besar kekuatan bintang timur yang datang.


Menurut perkiraan hamba diatas 13 ribu ketua.


Hmm!


"Tak ada jalan mundur untuk paman Liu Bang


Begitu pasukan bintang timur sampai, suruh semua pasukan bergerak setelah mendengar perintahku," titah Han Ciu


Mata² kemudian menyebarkan perintah Han Ciu kepada para pemimpin pasukan dan mereka terus menunggu.


Tak lama kemudian 4000 pasukan berkuda bintang timur datang, ketika melihat ribuan ular tengah menyerang pasukan tombak utara, mereka terkejut, lalu ikut menyerang ke arah ular yang semakin banyak dan terus berdatangan.


Liu Bang menarik nafas melihat ribuan pasukan musuh mulai berdatangan


Satu buah kereta kuda mewah, tampak diantara ribuan prajurit yang baru saja datang.


Melihat ular bergulung dari jendela kereta seorang kakek berpakaian hitam keluar dari kereta, lalu melemparkan bubuk kuning ke arah ular² yang menyerang pasukannya.


Whut....Whut!


Begitu serbuk kuning di tebar ular² tampak sangat takut dan tak berani mendekat, suara suling kembali mengalun, dan barisan ular pergi meninggalkan pasukan musuh.


Ha Ha Ha.


“Liu Bang! ternyata orang sakti yang membantumu juga berpikir 2 kali setelah melihat pasukanku datang,” ucap seorang yang keluar dari kereta kuda.


"Komplit sudah, Penguasa timur dan Pengkhianat keluargaku ada di sini,” batin Han Ciu melihat seorang berpakaian hitam yang menebarkan bubuk kuning serta seorang berpakaian merah yang mewah turun dari kereta kuda dan berjalan menghampiri Han Cikung.


Melihat kedatangan Xiang Yu, Liu Bang menarik nafas panjang, ketika Liu Bang ingin bicara.


Suara mendesing terdengar dari dalam hutan, ratusan panah melesat dari dalam hutan ke arah pasukan bintang timur.


Rombongan Liu Bang terkejut, begitu pula pasukan bintang timur.


Bayangan Hitam melesat, Han Ciu yang melihat Han Cikung langsung mencabut kedua pedang tulang naga, kemudian menyerang kakak dari ayahnya, yang telah berkhianat.

__ADS_1


Whut!


"Awas Yang mulia," teriak Han Cikung sambil menangkis dengan pedang naga jantan.


Trang!


Han Cikung setelah menangkis langsung mundur sambil menarik tangan Xiang Yu.


Setelah melihat siapa yang berdiri di depan mereka, wajah Han Cikung dan Xiang Yu berubah pucat.


Tidak lama kemudian, teriakan² penuh semangat terdengar dari dalam hutan, ribuan prajurit keluar dari dalam hutan, Liu Bang, Beng San, Hek Kai serta Ketua Xiao Cen langsung memburu Han Ciu begitu tahu pasukan itu adalah pasukan yang dipimpin oleh Han Ciu


“Kakek! Teriak Xiao Er sambil melesat dan memeluk kakeknya Xiao Cen, ketua perguruan Api suci.


"Anak Xiao....Anak Xiao kau datang....kau datang! Teriak ketua Cen seperti tak percaya melihat cucu kesayangannya berada di depan mata.


Zhain Li Er, Sa Sie Hwa, Tongki serta Dewi Kipas memberi hormat kepada Beng San.


“Kakak, maaf Lama menunggu,” ucap Dewi Kipas.


Beng San tersenyum melihat adiknya, kemudian berkata.


“Melihatmu datang dalam keadaan selamat, hatiku sudah sangat senang,” ucap Beng San sambil tersenyum.


Sementara Tongki yang berada di sebelah Dewi Kipas terus menyiku pelan ke arah pinggang Dewi Kipas.


“Kenalkan,” ucap Tongki sambil berbisik kepada Dewi Kipas sambil terus membungkuk.


“Bukankah kau juga sudah kenal dengan kakakku,” jawab Dewi kipas dengan suara perlahan.


"Aku kenal, tapi sekarang beda, kenalkan aku sebagai calon adik ipar! ucap Tongki.


Zhain Li Er yang mendengar bisik² keduanya, kemudian tanpa sepengetahuan Tongki yang masih membungkuk.


Zhain Li Er menarik tangan Dewi Kipas, lalu bersama kakaknya, Beng San dan Sa Sie Hwa mereka semua menghampiri Han Ciu serta Liu Bang.


Han Ciu memberi hormat kepada Liu Bang, maaf paman! Kami datang terlambat,” ucap Han Ciu.


Mata Liu bang berkaca kaca, bibirnya tersenyum kepada Han Ciu, penguasa barat itu kemudian memeluk Han Ciu dan berbisik di telinga pemuda itu.


“Kau datang tepat pada waktunya!


Sementara Tongki terus membungkuk memberi hormat.


Ketika sudah membungkuk lama dan memberi hormat tak ada jawaban dari Beng San.


Perlahan mata Tongki terbuka, ketika melihat hanya sepasang kaki kurus pucat di depannya, tanpa ada kaki² yang lain, Tongki mengerutkan kening.


Tubuhnya tegap kembali karena penasaran, Tongki melihat Iblis biru berdiri di depannya sambil tersenyum


“Tak usah hormat berlebihan terhadapku,” ucap Ming Mo sambil menepak bahu dan tersenyum kepada Tongki.

__ADS_1


__ADS_2