
Sudah hampir 2 hari sejak 100 pasukan yang di pimpin oleh seorang perwira kepercayaan Shen Long, pergi ke kota Beidi untuk meminta perbekalan yang di butuh kan oleh pasukan yang sekarang ia pimpin.
Di sekitar jalan yang akan di lalui oleh 100 orang pasukan yang di pimpin oleh perwira bernama Ouw Yang,
Han Ciu, Zhain Li Er, Tongki, Huang Zilin serta sepasang siluman hutan Hanzhong tengah menunggu rombongan Ouw Yang lewat.
“Saudara Tong ! Apa ingin bertaruh lagi, 100 pasukan itu akan lewat sekarang atau tidak ? Tanya Huang Zilin.
Phuih !
“Jangan kau bicara lagi soal bertaruh denganku,” ucap Tongki dengan nada kesal.
Duit yang ia pinjam dari Huang Zilin yang tadinya akan di pakai untuk membeli hadiah untuk Dewi Kipas.
Kini sudah pindah kepada pemiliknya, yakni Huang Zilin.
Kini hanya hutang yang tersisa
Terkadang Tongki tak mengerti, kenapa jika bertaruh dengan Huang Zilin ia selalu kalah.
Padahal ia selalu di beri keuntungan dengan memilih terlebih dahulu apa yang ia inginkan tapi tetap saja ia selalu kalah.
“Benar Saudara Tong tidak mau bertaruh denganku ? Tanya Huang Zilin.
“Sekali aku bilang tidak....ya tidak,” Tongki memberi kepastian dengan nada tinggi.
Mendengar perkataan Tongki, Huang Zilin tersenyum lalu berkata.
“Padahal jika bertaruh dan Saudara Tong memilih pasukan musuh akan lewat, pasti saudara akan menang,”
Mendengar perkataan Huang Zilin, Tongki tampak termenung, tak lama kemudian telinganya mendengar suara derap kaki kuda dan langkah puluhan kaki yang tengah berjalan.
“Baik ! Aku bertaruh pasukan musuh sebentar lagi akan lewat sini,” ucap Tongki.
He He He
“Maaf saudara Tong ! waktu untuk bertaruh sudah habis,” Huang Zilin berkata sambil tertawa.
Mendengar perkataan Huang Zilin, wajah Tongki tampak kesal.
“Kenapa sudah ditutup, apa saudara Huang Zilin takut kalah ? Tanya Tongki dengan nada gusar.
Mendengar perkataan Tongki, Huang Zilin tersenyum dan menjawab.
“Saudara Tong ! sebuah taruhan itu di lakukan jika hasilnya sama – sama belum kita ketahui, kalau salah satu hasil taruhan sudah kita ketahui dan kita tetap melakukan taruhan, bukankah itu tidak adil ?
Mendengar jawaban Huang Zilin, Tongki diam tak menjawab, entah kenapa hatinya selalu kesal jika mendengar Huang Zilin bicara tentang taruhan.
Suara derap kaki kuda serta kereta yang membawa perbekalan semakin keras terdengar.
Tak lama kemudian rombongan pasukan bintang timur yang meminta perbekalan mendekat, kali ini 20 pasukan berkuda serta seratus pengawal yang mendampingi 4 buah kereta perbekalan lewat.
Han Ciu, Zhain Li Er, Huang Zilin, sepasang siluman hutan Hanzhong serta Tongki keluar dari tempat persembunyian dan berdiri di tengah jalan.
Perwira yang memimpin maju melihat rombongan mereka di hadang.
Hmm !
“Maaf siapa tuan – tua dan apa maksud tuan menghadang rombongan kami ? jika tuan adalah rombongan begal gunung, maka tuan salah alamat,” ucap Ouw yang, perwira yang memimpin rombongan.
Mendengar mereka di sebut begal gunung, Tongki langsung maju.
“Hati – hati jika bicara, siapa yang kau sebut begal gunung ? Tanya Tongki.
“Apa tuan tahu siapa kami ? Ouw yang balik bertanya.
“Kalian adalah pasukan Xiang Yu yang akan menyerang kota Xianyang, Benar bukan tebakanku,” jawab Tongki.
“Jika kalian sudah tahu, kenapa tidak segera menyingkir,” ucap Ouw Yang.
Sebelum menjawab, dari sebelah Tongki tampak sebuah bayangan melesat dan menebas ke arah Ouw Yang.
Ouw Yang terkejut, kemudian menarik tali kekang kuda.
Kuda tunggangan Ouw Yang meringkik keras sambil mengangkat kedua kaki depan siap menendang.
Melihat sebuah bayangan menyabetkan pedang ke arah kaki kuda yang ia tunggangi, perwira Ouw terkejut dan loncat dari kuda lalu mundur.
Whut....Crash !
Dua kaki kuda langsung putus terkena sabetan pedang, kuda tersungkur.
Zhain Li Er tidak diam setelah menebas kedua kaki kuda.
Zhain Li Er maju dua langkah lalu bergerak ke kanan, kemudian Zhain Li Er menebas leher kuda dari sisi kanan.
Sebuah sabetan pedang langsung memisahkan kepala kuda dengan badannya, kuda yang di tunggangi perwira Ouw tersungkur ke tanah dengan kepala mental terpisah dari badan.
Para prajurit bintang timur langsung mundur melihat kejadian itu.
Perwira Ouw terkejut melihat cepatnya serangan dan kekuatan orang yang menyerang kuda perwira Ouw, apalagi setelah melihat sang penyerang adalah seorang wanita.
Setelah menebas kuda perwira Ouw, Zhain Li Er berbalik dan menatap tajam ke arah Tongki.
“Hai kadal tengik, kalau mau bercakap cakap lebih baik kembali ke Xianyang,” ucap Zhain Li Er sambil melotot.
Tongki tak membalas ucapan Zhain Li Er.
Tapi hatinya menggerutu.
__ADS_1
“Dasar gadis kampret, apa salahnya jika harus bicara dulu sebelum menyerang, dasar ular betina, selalu saja mencari gara – gara denganku.
Kalau kepandaiannya tidak tinggi, ingin kusumpali mulutnya dengan lumpur.” Batin Tongki.
Huang Zilin yang melihat Tongki diam, kemudian berkata.
“Saudara Tong, bagaimana kalau kita...
“Diam kau !? Teriak Tongki sebelum Huang Zilin menyelesaikan ucapannya.
“Eh....kenapa dia marah padaku, aku kan bermaksud mengajak dia untuk menyerang musuh,” batin Huang Zilin.
Setelah membentak Huang Zilin.
Tongki mencabut golok api, kemudian langsung melesat ke arah pasukan berkuda.
Whut !
Rambut Zhain Li Er berkibar, ketika Tongki melesat lewat di samping Zhain Li Er.
Tongki mengibaskan golok api, sebuah hawa pedang melesat ke arah kuda yang tunggangi anak buah perwira Ouw.
Prajurit berkuda loncat mundur, ketika hawa pedang Tongki menebas kepala kuda.
Kuda yang berada di sebelah kiri mengangkat kaki, tangan kiri Tongki mendahului langsung meninju dengan pukulan hawa neraka ke arah perut kuda.
Buk !
Kuda langsung tewas kemudian tersungkur dengan perut hangus.
Perwira Ouw yang melihat keganasan Zhain Li Er dan Tongki, kemudian memberi isyarat kepada anak buahnya untuk bersiap.
Seraaang !
Teriak perwira Ouw Yang.
Han Ciu dan sepasang siluman hutan Hanzhong melesat, kedua tangan Han Ciu mengibas mengeluarkan ilmu pedang hampa.
Shing....Shing....Tar !
Tan Ling mengebutkan pecut.
Pecut Tan Ling menyambar leher prajurit berkuda yang berada paling depan.
Prajurit itu menangkis cambuk Tan Ling.
Crep !
Walau bisa lolos dari serangan cambuk, tapi pedang hampa Han Ciu, tanpa ampun menembus tubuh prajurit itu.
Shing....Shing !
Trang !
Panah mental terkena hantaman golok
Crep !
Tangan kiri Tongki sudah mencengkeram leher salah seorang prajurit dekat kereta.
Perwira Ouw pedangnya menyambar kearah kaki Tongki, Tongki lompat sambil membawa prajurit yang ia cengkeram lehernya, setelah lompat Tongki melemparkan orang yang ia cengkeram ke arah perwira Ouw.
Whut....Brak !
Perwira Ouw menghindar.
Anak buah perwira Ouw melesat menghantam roda kereta perbekalan, kereta langsung miring
Perwira Ouw melihat anak buahnya tewas, kemudian bergerak ke arah kiri lalu memutar dan maju sambil menyabetkan pedangnya ke arah bahu Tongki.
Whut !
Tongki mundur, tapi sebuah tombak menusuk dari belakang mengancam punggung Tongki.
Tap !
Tongki berputar Lalu berbalik, tangan kirinya menangkap tombak kemudian menarik tombak itu.
Anak buah perwira Ouw melepaskan tombaknya.
Tongki melemparkan tombak yang berhasil ia rampas ke arah sang prajurit.
Tombak melesat.
Whut....Crep.....Brak !
Tombak menembus perut sang pemilik, saking kencang tombak, sampai membawa prajurit itu menghantam kereta perbekalan.
Cis !
“Dasar kadal tengik, dari tadi kau lempar prajurit itu ke kereta, kalau kereta rusak kan bisa repot, batin Zhain Li Er sambil melirik ke arah Tongki yang bertempur di dekat kereta perbekalan.
Raut wajah Zhain Li Er tampak kesal sambil terus memperhatikan Tongki bertempur.
“Siapa kakek tua itu, tenaga dalamnya tinggi, gagang tombak sampai bisa menembus perut anak buahku dan melemparkannya,” batin perwira Ouw dalam hati.
Serang....Serang !
Perwira Ouw kembali berteriak, memberi semangat kepada anak buahnya.
__ADS_1
Dua orang prajurit dengan pedang di tangan, melesat ke arah Tongki.
Tongki menangkis kedua pedang yang mengarah kepalanya dengan golok api.
Trang !
Tangan kiri Tongki mengibas.
Whut !
Hawa tenaga dalam berbentuk bulan sabit berwarna merah melesat ke arah salah seorang prajurit yang menyerang Tongki.
Crash !
Bahu prajurit terkena hantaman pukulan hawa neraka, kemudian terpental dan tewas seketika.
Melihat kawannya tewas, prajurit yang satunya mundur dan berdiri dekat roda belakang kereta perbekalan.
Tapi Tongki terus memburu, golok api menyambar ke arah perut.
Whut....Trang !
Prajurit menangkis dengan pedangnya.
Tangan prajurit itu panas dan bergetar karna kalah tenaga dalam.
Pedang terlepas, prajurit anak buah perwira Ouw mundur.
Tongki sebelum pedang prajurit itu jatuh ketanah.
Kaki kanan tongki menendang badan pedang.
Whut.....Tang !
Pedang melesat menancap dada dan membawa tubuh prajurit menghantam roda belakan kereta perbekalan.
Brak !
Roda belakang kereta perbekalan patah terkena hantaman tubuh prajurit anak buah perwira Ouw, roda depan yang sudah rusak juga ikut patah, kereta perbekalan langsung ambruk.
Zhain Li Er yang dari tadi sesekali memperhatikan Tongki bertempur dan melihat roda kereta depan dan belakang patah, langsung melesat.
Perwira Ouw yang berada tak jauh dari Tongki, menjadi pelampiasan kekesalan Zhain Li Er.
Perwira Ouw melihat Zhain Li Er berputar sambil melesat ke arahnya, langsung bersiap.
Mereka bukan orang sembarangan, pedangnya mengeluarkan suara yang tak enak di dengar, batin perwira Ouw.
Zhain Li Er dengan pedang di tangan menyambar pinggang perwira Ouw, pedang angin melesat.
Perwira Ouw memutar pedangnya menangkis pedang angin Zhain Li Er.
Trang !
Saking kencangnya pedang menghantam, pedang perwira Ouw melenceng ke samping,
Kaki kiri Zhain Li Er menyapu kaki perwira Ouw.
Buk !
Perwira Ouw tak menyangka kakinya yang menjadi sasaran Zhain Li Er.
Tubuhnya terpelanting, dan mata perwira Ouw tak berkedip, melihat pedang yang badannya berlubang bergerak cepat ke arah leher.
Crash !
Pedang angin menebas leher perwira Ouw.
Tubuh perwira Ouw ambruk ke tanah tanpa kepala.
Setelah membereskan perwira Ouw, Zhain Li Er melangkah ke arah Tongki.
“Hai kadal busuk ! Kalau bertempur harus pakai mata, jangan asal main hantam.
“Nyonya, apalagi salahku ? ucap Tongki mendengar perkataan Zhain Li Er.
“Kau lihat roda kereta ! Depan belakang patah gara – gara ulahmu.
Mendengar perkataan Zhain Li Er, Tongki mengerutkan keningnya.
Gadis kampret ini tadi bertempur jauh denganku, nyonya pasti hanya menebak - nebak saja,” batin Tongki.
Bukan....bukan saya nyonya, memangnya nyonya melihat saya menghantam roda kereta ? Roda kereta rusak terkena hantaman pengawalnya sendiri.
Cis !
“Jangan mengelak, aku lihat dengan mataku, prajurit itu kau lemparkan ke arah roda kereta.
“Sekarang kau pikir, bagaimana membawa perbekalan jika kereta tak bisa berjalan ? Zhain Li Er berkata sambil melotot ke arah Tongki dan menunjuk ke arah kereta perbekalan yang ambruk.
“Tinggalkan saja,” ucap Tongki.
“Perbekalan ini sangat penting, karna Talaba sedang bergerak membawa pasukan dari Xianyang, jadi bekal pasukan kita bertambah 3 kali lipat.
“Enak saja kau bilang tinggalkan.” Zhain Li Er membalas ucapan Tongki.
“Jika tidak di tinggalkan, lantas bagaimana membawa perbekalan sebanyak ini ? Tanya Tongki.
Zhain Li Er sambil menunjuk ke arah kereta perbekalan, berkata kepada Tongki.
__ADS_1
“Kau pikul”