
Kakek yang aneh ketika memperhatikan wajah si kakek yang menoleh kearahnya.
Han ciu ingin tertawa melihat penampilan kakek itu, tapi ia tahan karna takut kakek itu tersinggung.
Suara berat terdengar dari mulut si kakek ketika melihat Han ciu senyum senyum sendiri.
"Kenapa kau ketawa tawa muka ayam ?"
Han ciu mengerutkan dahi di sebut muka ayam oleh kakek itu.
"Perasaaan dia yang penampilannya aneh, tapi kenapa aku yang di sebut muka ayam !"
Han ciu terus menatap kakek itu, satu mata bening dan satu lagi di tutup oleh penutup mata dari kulit yang di ikatkan oleh tali kulit di kepala sang kakek, jenggotnya panjang sampai dada, tapi kumis kakek itu hanya di kiri yang yang terlihat panjang namun sebelah kanannya polos, tak ada kumis, dan itu yang membuat Han ciu senyum senyum sendiri melihat kakek itu.
"Apa kakek seorang diri di hutan ini ?"
Suara berat dan terdengar aneh keluar dari mulut kakek itu menjawab perkataan Han ciu.
"Aku di sini berdua, apa kau buta ?"
Hmm !
"Berdua, kemana satu orang lagi !" Han ciu berkata dalam hati.
"Oh jadi kakek berdua, lalu mana teman kakek yang satu lagi ?
"Aku tidak punya teman !" kau lihat tidak, aku berdua dengan dia ?" ucap kakek itu sambil menunjuk ke arah ayam yang tengah di bakar olehnya.
Hmm !
"Agaknya aku bertemu dengan kakek gila, sudah penampilannya aneh, bermata satu tapi mata itu sangat bening bukan seperti mata orang yang sudah tua."
"Jadi kakek berdua di sini ?"
"Kau sudah tau pake nanya !" ucap si kakek yang mendengar perkataan Han ciu.
"Lalu kenapa kau melihatku terus, naksir padaku ?"
Bhua ha ha ha
Han ciu tak bisa menahan tawa, begitu mendengar perkataan si kakek.
"Kakek !" aku melihatmu karna kau aneh."
Mendengar perkataan Han ciu, kakek itu langsung berdiri wajahnya berubah, mulut seperti diam tapi ada suara yang berasal dari sang kakek.
"Cepat katakan, apa yang aneh padaku ?"
"Kumismu hanya separuh kek, kemana lagi yang separuhnya ?"
Mendengar perkataan Han ciu, kakek itu langsung meraba rambut yang ada di atas mulutnya, ketika meraba raba dan benar tak ada rambut di sebelah kiri, dengan sangat cepat kakek itu langsung menerjang ke arah Han ciu.
"Whuuuut,...plaaak !"
__ADS_1
Han ciu terkejut lalu mundur selangkah
Gerakan kakek itu sangat cepat tanpa bisa ia duga, pipinya panas terkena tamparan kakek itu.
"Muka ayam !" awas kau jika cerita sama orang bahwa kumisku hanya setengah," ucap kakek itu.
Dan setelah berkata, kakek aneh itu pergi meninggalkan Han ciu dan ayam hutan yang sedang ia bakar.
Han ciu bingung dengan tindakan si kakek, tapi Han ciu juga terkejut karna ternyata kakek itu gerakannya sangat cepat, karna ia tak bisa menghindari tamparan kakek itu.
"Apa karena aku kehabisan tenaga, setelah bertempur dengan setan muka pucat, sehingga aku tak bisa menghindari tamparan kakek itu.
"Ah, peduli dengan kakek setan itu, yang pasti ayam bakar ini untukku, karna sudah tidak ada pemiliknya.
Ayam bakar itu akhirnya matang, Han ciu tanpa ragu langsung melahap ayam bakar yang baunya sangat menggugah selera akibat perutnya yang lapar.
Setelah perut terisi, Han ciu memeriksa sekeliling, tapi kakek yang ia cari tak ada si sekitar situ.
"Agaknya dia benar benar sudah pergi."
"Aku harus segera mencari kota atau kampung terdekat agar bisa bertanya jalan ke kota Nan."
Seperti biasa ketika berada di hutan dan tak tahu arah, Han ciu kemudian naik ke sebuah pohon yang tinggi untuk melihat lihat keadaan di sekeliling tempat ia berada.
Han ciu tersenyum ketika melihat dusun kecil yang tak jauh dari pohon yang ia taiki.
Han ciu langsung loncat dari pucuk ke pucuk pohon, dengan ilmu meringankan tubuh, menuju ke dusun yang tadi ia lihat.
Setelah dekat Han ciu lalu bertanya kepada seorang pria yang sedang mencangkul di sawah.
Pria itu berhenti mencangkul dan menatap ke arah Han ciu sambil berkata.
"Apa yang ingin kongcu tanyakan ?"
"Aku tersasar sampai sini paman, hendak pulang ke kota Nan tapi tak tahu arah."
"Kongcu !" kota Nan jauh dari sini, Kongcu nanti ikuti saja jalan setapak di depan sana, sambil menunjuk ke sebuah jalan setapak.
"Itu adalah jalan pintas, jika cepat 1 hari sampai, tapi jika lambat bisa 2 hari."
"Di penghabisan jalan itu kongcu akan menemui jalan persimpangan, dan persimpangan itu satu ke kota Qianzhong satu lagi ke kota Changsa, dekat persimpangan itu ada sebuah dermaga kecil, kongcu bisa naik kapal dari dermaga itu ke kota Nan, kami juga biasa melalui jalur sungai jika ingin menjual hasil panen ke kota Nan.
Han ciu mendengar dermaga kecil dan kapal menuju kota Nan jadi teringat akan Sin ko, wajah Han ciu tersenyum.
"Terima kasih paman," ucap Han ciu
Setelah ber basa basi sebentar Han ciu melajutkan perjalanan melalui jalan setapak yang telah di beritahu oleh petani dusun.
Sambil menghemat tenaga, Han ciu berjalan tanpa menggunakan ilmu meringankan tubuh.
Naik bukit, turun bukit dan keluar masuk hutan.
Tak terasa sehari lebih berjalan tanpa henti akhirnya Han ciu menemukan persimpangan yang di maksud oleh petani dusun yang ramah itu, setelah bertanya kembali letak dermaga yang di maksud, Han ciu kemudian menuju ke arah dermaga itu.
__ADS_1
Ternyata dermaga itu menjadi satu dengan sebuah desa yang ramai, ada beberapa penginapan dan rumah makan di dekat dermaga itu.
Han ciu baru sadar ketika merasa lapar, kemudian mencari uang di saku baju.
Hmm !
lUang kertasku hancur sewaktu bertempur dengan kakek muka pucat, kini hanya tersisa 10 tail perak di saku baju, jika perahu yang ke kota Nan bukan milik Sin ko, terpaksa aku harus berjalan kaki ke kota Nan.
Han ciu dengan bekal 10 tail perak masuk ke sebuah rumah makan yang cukup ramai.
Setelah masuk, dan duduk di sebuah kursi kosong, seorang pelayan datang menghampiri.
"Tuan mau pesan apa ?"
"Aku hanya punya 10 tail perak, berikan saja makanan dengan jumlah uang yang aku punya."
Pelayan itu mengangguk setelah mendengar ucapan Han ciu kemudian meyiapkan makanan.
Han ciu lalu melihat para tamu yang hadir di rumah makan itu.
Tapi mata Han ciu langsung terpaku kepada seorang gadis yang sangat cantik dan terlihat masih muda.
Gadis itu dengan santainya makan, sambil satu kakinya naik di atas kursi.
Tapi yang menarik perhatian Han ciu dan tamu rumah makan yang juga ikut memperhatikan gadis itu adalah, sebelah matanya yang tertutup oleh kulit yang di kedua sisi ada tali di ikat di belakang kepala gadis cantik itu.
"Aneh, penutup matanya sama dengan kakek aneh yang pernah aku jumpai sewaktu di hutan.
"Apa gadis itu murid kakek yang pernah menamparku di hutan ?"
Tuan ini makanan yang tuan pesan.
Han ciu menoleh ke arah pelayan dan tersenyum.
"Jika boleh hamba beri nasehat, sebaiknya tuan jauhi gadis itu !"
Han ciu terkejut mendengar perkataan pelayan itu.
"Apa maksudmu, memangnya kenapa dengan gadis itu ?"
ilmunya sangat tinggi tuan, tapi sayang pikirannya seperti kurang waras, gadis itu di sebut Bidadari gila.
Tuan lihat saja cara dia duduk sambil makan, mana ada gadis yang mau makan seperti itu, kalau pikirannya waras.
Han ciu tersenyum dan mengangguk mendengar perkataan pelayan itu.
Setelah pelayan itu pergi, Han ciu kemudian makan dengan lahap hidangan yang tersedia di meja.
Ketika sedang menyantap hidangan, Han ciu langsung menoleh ke arah gadis itu ketika mendengar suara teriakan sang gadis.
"Mukaaaa ayaam, mana arak milikku !"
Mendengar perkataan gadis itu, Han ciu mendengus dan menatap tajam sambil berkata dalam hati.
__ADS_1
Hmm !
"Rupanya dia yang waktu itu menamparku."