Naga Hitam Dan 4 Selir

Naga Hitam Dan 4 Selir
Ch 262 : Kami datang


__ADS_3

Han Ciu yang sedang berada di dalam kapal mendengar teriakan sang pengintai yang selalu berdiri di tiang utama.


Langsung keluar dari ruangan.


Ada kapal sedang di kejar....ada kapal sedang di kejar,” teriak si pengintai


Tak lama kemudian, sebuah perahu pemburu tampak di kejauhan sedang di kejar oleh 3 buah kapal yang melaju kencang, jarak yang jauh membuat kapal tidak terlihat jelas.


Tapi setelah agak dekat, melihat panah – panah melesat, dan beberapa orang tergeletak sementara seorang wanita sedang menggendong bayi, serta seorang wanita cantik tak sadarkan diri dengan sebuah anak panah menancap di kakinya.


Wajah Han Ciu langsung berubah bengis setelah tahu kedua wanita itu adalah In Nio dan Zee In Biauw.


Tenaga dalam di kerahkan oleh Han Ciu, ratusan pedang hampa tercipta.


Kedua tangan Han Ciu melesat ke arah panah dan kapal yang menyerang kapal yang di tumpangi oleh Zee In Biauw.


Sin Ko berikan tanda, kepung dan hancurkan kapal itu, setelah berkata Han Ciu langsung lompat dan berenang ke arah kapal pemburu, Iblis biru, Tongki serta Huang Zilin juga ikut terjun ke sungai.


Tongki meraih tangan Huang Zilin dan tak terus memegang erat, sesekali kepalanya mendongak ke atas menghirup udara.


“Lepaskan tanganku saudara Tong,” ucap Huang Zilin.


“Tunggu....jangan lepaskan! Aku tak bisa berenang,” ucap Tongki.


“Kalau tak bisa berenang, kenapa kau ikut menceburkan diri?” Tanya Huang Zilin sambil menghirup udara, ketika kepalanya berada di atas air.


“Melihat kalian terjun aku jadi ikut²an,” teriak Tongki


“Cepat naik ke punggungku saudara Tong,” ucap Huang Zilin.


Tongki perlahan naik ke punggung Huang Zilin yang memang jago berenang.


Karena membawa Tongki, gerak Huang Zilin menjadi lambat dan tertinggal oleh Iblis biru.


“Cepat....Cepat saudara Huang! Teriak Tongki yang badannya kadang naik, dan terkadang turun, mengikuti gerak Huang Zilin.


Tangan kiri Tongki memegang baju di bagian pinggang Huang Zilin, karena takut terlepas dari punggung si Iblis petaruh.


Sedangkan tangan kanan Tongki tanpa ia sadari saking ingin cepat sampai, di kapal yang terdapat nyonya kedua dan kelima, terkadang memukul bahu, pinggang leher bahkan kepala Huang Zilin.


“Keparat kau! Teriak Huang Zilin ketika kepalanya berada di atas air untuk menghirup udara.


“Kau pikir aku kudamu, se enaknya saja kau pukuli tubuhku,” teriak Huang Zilin dengan nada gusar.


Tongki baru sadar setelah mendapat makian dari Huang Zilin.


“Maaf....Maaf saudara Huang, aku tak sengaja,” ucap Tongki sambil tangan kanannya mengelus elus punggung Huang Zilin.


Phuih!


“Diam kau! Atau ku ceburkan kau ke dalam sungai,” ucap Huang Zilin.


Tongki langsung duduk diam mendengar perkataan Huang Zilin.

__ADS_1


Han Ciu melesat dengan cepat ke arah, kapal pemburu.


Setelah berdiri di depan Tong tempat Zee In Biauw yang tengah bersembunyi, sambil mengendong bayinya dan melindungi In Nio yang tak sadarkan diri.


Han Ciu menarik napas dalam – dalam dan perutnya tampak mengempis,


Han Ciu memutar kedua tangan lalu menghempaskan kedua tangannya, ke arah ketiga kapal yang tengah memanah.


Pukulan Dewa angin dengan tenaga dalam penuh keluar dari tangan Han Ciu ke arah ketiga kapal.


Whut....Whut!


Wajah Dewi racun pucat melihat puluhan panah api yang melesat, di hantam oleh pukulan Dewa Angin dan berbalik ke arah ketiga kapal.


Crep....Crep....Blar....Blar!


Iblis mata satu, mengibaskan kedua tangan, pukulan Dewa angin buyar ke samping terkena hantaman kibasan tangan Iblis mata satu.


Tetapi kedua kapal yang berada di sebelahnya, tiang layar utama patah, dan bangunan di atas kapal hancur.


Iblis biru melesat dan sampai di samping Han Ciu, sambil menatap tajam ke arah, Mayat hidup lembah hantu.


Tongki yang merasa sudah dekat lalu berdiri, dengan menekan punggung Huang Zilin sebagai pijakan lalu menghentakan kedua kakinya, Tongki melesat ke arah kapal menyusul Iblis biru.


Tetapi naas bagi Huang Zilin.


Huang Zilin yang tak menyangka punggungnya di pakai sebagai pijakan


Huang Zilin sumpah serapah di dalam air, mengutuk kelakuan Tongki, lalu mengerahkan tenaga dalam, tubuhnya mulai tertahan dan akhirnya berhenti.


Huang Zilin berenang naik, setelah kepalanya berada di atas air, Huang Zilin menarik napas panjang, dadanya terasa longgar sekarang.


“Keparat kau kadal tua! Berani sekali kau injak punggungku tanpa ijin,” Huang Zilin berteriak kencang.


Setelah dekat kapal, Huang Zilin melesat naik ke kapal pemburu.


Huang Zilin langsung memukul bahu Tongki.


Tongki menangkis pukulan Huang Zilin.


Plak!


“Maaf....Maaf saudara Huang! Aku tak sengaja,” ucap Tongki sambil mundur.


“Keparat kau! Sudah ku tolong dan kubawa, lalu kau injak – injak pula punggungku.


“Malah ribut sendiri, dasar tolol! Iblis biru setelah berkata, melesat ke arah kapal yang berada di kanan, di kapal itu Mayat hidup lembah hantu sudah menunggu.


Tongki yang melihat Huang Zilin masih terus berusaha memukulnya.


Tongki lompat ke arah kapal yang berada di kiri, dimana Singa rambut api berada.


Whut!

__ADS_1


“Mau lari kemana kau kadal tua!? Teriak Huang Zilin sambil melesat ke arah kapal Singa rambut api.


Han Ciu melangkah ke arah depan kapal Iblis mata satu.


Han Ciu berteriak kencang mengerahkan tenaga dalamnya.


“Selamatkan cici In Nio dan adik Zee, lalu kepung ketiga kapal para pengecut ini yang hanya beraninya melawan wanita lemah, siapapun jangan ada yang maju, biar aku sendiri yang akan membunuh mereka,” Han Ciu berkata.


Mata Zee In Biauw bercucuran air mata melihat kedatangan Sang suami yang telah ia rindukan.


“Kakak....kakak In Nio, bangun kak,” ucap Zee In Biauw sambil mengguncang bahu In Nio.


In Nio perlahan membuka mata, dan mendengar perkataan Zee In Biauw.


“Kak! Kita selamat, kakak Han datang menolong kita,” Zee In Biauw berkata sambil menangis.


Han Ciu menginjak ujung kapal, lalu menekan dengan tenaga dalamnya dengan kedua kaki, tubuh Han Ciu melesat cepat ke arah kapal Iblis mata satu,


Sedangkan kapal pemburu yang di pakai In Nio yang bagian pinggirnya mulai terbakar, meluncur dengan cepat ke arah kapal besar yang di kemudikan oleh Sin Ko.


Zhain Li Er, Sa Sie Hwa serta Xiao Er melesat ke arah kapal pemburu.


Dewi kipas tersenyum melihat ketiga istri Han Ciu turun menolong kedua istri yang lain.


Dewi kipas memberi isyarat agar yang lain diam, biar mereka bertiga yang menolong Zee In Biauw dan In Nio


Sa Sie Hwa menggendong In Nio yang terluka, Xiao Er menggendong Zee In Biauw beserta bayi yang ia gendong, sedangkan Zhain Li Er bersiap jika ada serangan, kalian bawa cici In Nio dan adik Zee.


Keduanya lalu melesat ke arah kapal, tak lama kemudian Zhain Li Er menyusul.


Sin Ko lalu memerintahkan empat kapal lain untuk mengepung ketiga kapal musuh, agar tidak bisa melarikan diri.


Han Ciu menatap tajam setelah berada di kapal Iblis mata satu.


“Aku lawanmu”


“Ternyata hanya seorang bocah,” Iblis bermata satu berkata lalu tertawa terbahak bahak.


Ha Ha Ha.


Sementara di kapal Singa rambut api, Tongki dan Huang Zilin masih terus bertengkar, tanpa menghiraukan Singa rambut api yang berdiri menatap kedua kakek yang saling beradu omong, terkadang malah saling pukul.


Hmm!


“Aku bingung! Ucap Singa rambut api kepada anak buah yang ada di sampingnya.


“Bingung kenapa ketua? Tanya anak buah Singa rambut api.


“Kau lihat kedua kakek itu! Seru Singa rambut api.


Sambil menatap ke arah Tongki dan Huang Zilin yang sedang bertengkar, sambil gelengkan kepala.


“Aku atau mereka tuan rumah di kapal ini?

__ADS_1


__ADS_2