
Han Ciu serta rombongan berhasil merebut kereta perbekalan.
Walaupun jumlah mereka 120 prajurit, tapi yang mempunyai kemampuan hanya berkisar puluhan saja, di pimpin oleh perwira Ouw Yang, sementara sisanya adalah prajurit biasa.
Setelah berhasil Han Ciu memindahkan perbekalan kesisi jalan, dan kemudian memindahkan kereta rusak agar 3 kereta perbekalan bisa lewat untuk di simpan di tempat pasukan Han Ciu berkumpul.
Tak butuh waktu lama buat Han Ciu serta rombongan mengumpulkan, pasukan yang dipimpin perwira Ouw Yang tewas.
Phuih !
“Gara – gara saudara Tong aku jadi ikut terbawa sial, harus menemani saudara menunggu pasukan yang akan mengambil perbekalan ini,” ucap Huang Zilin dengan nada sedikit gusar.
Lanjut perkataannya.
“Jika saudara Tong bertempur sambil melihat situasi, tentu kita sekarang sedang asyik minum arak, bukan duduk menunggu di temani oleh bangkai pasukan Xiang Yu.”
“Saudara Huang, aku bertempur hanya berpikir bagaimana supaya musuhku bisa kalah, kemana dia akan terlempar dan membentur sesuatu, itu kan bukan urusanku,” ucap Tongki masih mengelak kejadian kereta perbekalan yang hancur.
Huang Zilin tak membalas ucapan Tongki, wajahnya hanya memandang ke arah langit yang memancarkan cahaya kemerahan, tanda hari mulai beranjak senja.
Hmm !
“Sudah mulai senja dan sebentar lagi malam tiba, jika mereka tidak datang hari ini, kita terpaksa menunggu sampai besok” Huang Zilin berkata.
“Cuaca dingin ditambah persediaan arak tinggal sedikit lagi, aku memang lagi sial hari ini,” Huang Zilin terus menggerutu di samping Tongki.
Tongki hanya diam tak menimpali ucapan Huang Zilin.
Ia tahu dan merasakan akibat perbuatannya yang membuat ia tertahan jauh dari tempat pasukannya berkumpul.
Api unggun menyala dan hanya di tunggui oleh Tongki serta Huang Zilin.
Ke esokkan harinya, setelah menjelang siang, tampak sekitar 20 pasukan menghampiri Huang Zilin serta Tongki.
Tongki dan Huang Zilin tersenyum melihat siapa yang memimpin pasukan itu.
Talaba bersama dengan anak buahnya yang baru saja datang dari kota Xianyang balas tersenyum kepada Tongki serta Huang Zilin.
“Maaf kan kami yang membuat paman sudah menunggu lama,” Talaba berkata.
“Kau baru saja datang dari Xianyang, kenapa harus repot – repot datang kesini ? Tanya Tongki.
Sebenarnya dari semalam kami datang, setelah mendengarkan perkataan ketua, kami akan bergerak ke sini, tapi Nyonya berkata bahwa besok saja membawa perbekalan, karna pasukan harus istirahat setelah melakukan perjalanan jauh.
“Jadi....jadi kalian sudah sampai dari semalam ? Tanya Tongki.
“Benar,” jawab Talaba.
“Dasar gadis kampret, rupanya dia yang menyuruh pasukan untuk datang ke sini pagi hari, padahal di sana ada sekitar 50 pasukan yang masih segar.” Berpikir ke arah sana, wajah Tongki semakin merah menahan kesal terhadap Zhain Li Er.
“Tapi kita harus berdiam diri dulu sampai sore hari di tempat ini paman,” Talaba berkata.
“Mengapa seperti itu ! masa kami harus menunggu lagi di tempat ini,” ucap Huang Zilin dengan nada sedikit gusar.
“Kami sudah mendapat kabar, pasukan yang menyerang dari tengah hanya pancingan saja, fokus serangan mereka ternyata berasal dari kota Beidi, sementara pasukan tambahan mereka tetap berkumpul di kota Shang, jadi kami di beri 1000 pasukan, untuk menghancurkan Beidi serta memutus serangan dari kota Shang,” Talaba berkata kepada Huang Zilin serta Tongki.
__ADS_1
“Setelah istirahat, nanti malam pasukan akan bergerak mengepung lembah dimana markas pasukan bintang timur yang di pimpin oleh jendral Shen Long berkumpul, jadi kita berangkat semua dari sini sambil membawa perbekalan yang ada, langsung menuju ke tempat markas musuh,”
“Kenapa bekalnya di bawa dari sini, ? tanya Tongki mendengar cerita Talaba.
“Bekal yang ada di sini pas untuk seribu pasukan, dalam dua hari, jadi kita tak perlu lagi repot – repot menyiapkan bekal.” Jawab Talaba.
“Kalau sudah tahu kalian akan membawa perbekalan ini, kenapa tidak membawa pasukan yang lebih banyak untuk mengangkutnya ? Tongki kembali bertanya, kali ini dengan sedikit mimik wajah terlihat heran.
“Menurut nyonya Li, jika membawa pasukan terlalu banyak akan lebih repot dan gampang di ketahui musuh,” jawab Talaba.
Akhirnya, Tongki, Huang Zilin, Talaba bersama anak buahnya menunggu malam tiba, Huang Zilin serta Tongki terhibur karena Talaba membawa banyak arak, serta makanan yang siap untuk mereka santap.
Seperti yang sudah di ceritakan Talaba kepada Tongki dan Huang Zilin.
Setelah Talaba dan pasukan yang baru saja di kirim dari Xianyang berjumlah 1000 pasukan, di tambah dengan Dewi Kipas sampai di markas Han Ciu di hutan luar kota Beidi, mereka lalu di suruh istirahat.
Sedangkan Talaba di utus oleh Han Ciu ke tempat Tongki serta Huang Zilin, membawa perbekalan yang tersisa ke tempat mereka mengepung pasukan Shen Long.
Dengan perbekalan yang di bawa oleh Talaba cukup untuk bekal pasukan selama 2 sampai 3 hari.
Han Ciu berusaha untuk secepatnya, merebut kota Beidi, dengan perbekalan yang sudah mereka ambil dari pasukan bintang timur, Han Ciu yakin ia dan pasukannya mampu menaklukkan 2000 pasukan yang berada di lembah, dibantu dengan pasukan ular yang telah di kuasai oleh Zhain Li Er.
Han Ciu tahu perbekalan untuk pasukan Shen Long hanya cukup untuk dua hari.
“Sekarang hari ketiga, prajurit yang di bawah pasti sedang kelaparan, mereka berharap perwira Ouw datang membawa perbekalan serta pasukan tambahan untuk mereka.
“Jangan mimpi,” Han Ciu berkata dalam hati.
****
Di dalam tenda tampak seorang pria tua tapi masih terlihat gagah, mondar mandir di dalam tenda, wajahnya tampak mengerut.
Sementara itu di depan sang jendral, tampak 4 orang perwira serta satu orang berpakaian biasa berdiri di belakang jendral Shen Long.
“Apa kau sudah mengirim orang untuk mencari tahu, apakah perwira Ouw sudah berhasil meminta bantuan ke kota Beidi ? Tanya Shen Long kepada perwira yang berada di depannya.
Perwira itu memberi hormat terlebih dahulu, kemudian berkata kepada Shen Long.
“Hamba sudah mengirimkan utusan 3 orang jendral, tapi masih belum mendapat kabar,” jawab perwira itu sambil menundukkan kepala tak berani menatap ke arah Shen Long.
Hmm !
Sekarang jatah makan para prajurit di pangkas hanya 2 kali, dan besok sekali, itu pun jika terjadi keributan di pasukan kita,
“Bekal kita sudah habis !?
Shen Long berteriak sambil menggebrak meja yang ada di sebelah dirinya.
Brak !
Meja langsung hancur terkena hantaman telapak tangan Shen Long.
“Bagaimana kita akan bertempur kalau seperti ini ?
“Besok bersiap ! jika belum ada kabar dari perwira Ouw, besok pasukan kembali ke kota Beidi,”
__ADS_1
Mendengar perintah sang jendral mereka menyatakan siap melaksanakan apa yang di perintahkan, mereka pun undur diri untuk memberitahukan pasukan agar bersiap, karena akan bergerak keluar dari lembah.
Ke esokkan hari, pasukan bintang timur, makan makanan yang tersisa sebelum mereka berangkat ke kota Beidi.
Setelah mereka bersiap.
Siang hari pasukan jendral Shen Long bergerak hendak keluar lembah, hanya ada satu jalan, jika mereka ingin keluar dari lembah menuju kota Beidi, jalan sempit yang hanya bisa di lalui oleh puluhan prajurit akan, membuat mereka lelah karena menunggu, tapi tak ada jalan lain, daripada mereka mati kelaparan di dalam lembah.
Ketika pasukan terdepan hendak melangkah dan melihat jalan yang akan mereka lewati.
“Kenapa di depan terlihat agak gelap, dan bau amis racun, lalu kenapa bisa gelap ? apa yang terjadi di jalan keluar berbentuk terowongan, dari lembah ini sudah tertutup oleh bebatuan,” batin perwira yang berada paling depan memimpin prajurit yang mengikuti dari belakang.
Muka perwira itu langsung pucat, wajahnya terlihat ketakutan, ketika sebuah sinar masuk, menerobos dari jalan yang akan mereka lewati.
“Mundur.....semuanya mundur,” teriak perwira itu.
Mendengar gema suara di dalam terowongan, sinar masuk dari arah luar semakin besar, dan terlihat ribuan ular berlenggak lenggok mendekati pasukan yang hendak keluar.
“Mundur, semuanya cepat mundur, beritahukan kepada jendral Shen Long, apa yang terjadi di jalan keluar lembah,” teriak perwira itu.
Sang jendral yang sudah berpakaian lengkap turun dari kuda, setelah mendapat laporan dari anak buah.
Jendral Shen Long tampak termenung.
“Berarti benar laporan mengenai seorang manusia sakti yang telah membantu pasukan Liu Bang.
“Orang sakti itu, ternyata bisa mengendalikan dan mendatangkan pasukan ular berbisa, ini yang membuat jendral San Chi kalah dalam pertempuran,” batin Shen Long sambil termenung.
“Tarik mundur pasukan, bersiaplah membuat obor sebanyak banyaknya, bakar semua ular yang menghalangi pasukan kita.”
Para perwira anggukan kepala mendengar perintah sang jendral, mereka menarik pasukan agar terhindar dari patukkan ular, dan membuat obor agar malam ini mereka bisa melewati jalan yang di jaga oleh ular suruhan Zhain Li Er.
Malam hari Han Ciu menatap ke arah jalan masuk lembah yang tertutup oleh ular.
“Jika mereka keluar, sambut dengan panah dan tombak, sehingga mereka masuk kembali, atau jalan memutar bila hendak ke kota Beidi,” ucap Han Ciu.
Memang beberapa ada yang bisa keluar dari jalan masuk lembah, tapi mereka tewas terkena panah dan tombak anak buah Han Ciu, sehingga tak ada yang berani keluar.
“Besok adalah waktu yang tepat untuk menyerang, jika mereka tak juga keluar lembah,” batin Han Ciu.
“Malam ini Talaba, serta kedua paman, pasti berhasil membawa perbekalan yang tersisa,” lanjut pemikiran Han Ciu sambil jalan ke arah markas pasukannya.
“Malam itu di sekitar lembah, terdengar suara puluhan langkah kaki yang berat mendekati markas Han Ciu.
Dewi Kipas, Zhain Li Er serta Xiao Er tersenyum melihat, Tongki serta Huang Zilin sedang memanggul ratusan kati perbekalan, karna tenaga dalam mereka yang paling tinggi, merekalah berdua yang memikul paling berat diantara pasukan yang di bawa oleh Talaba.
Keduanya sambil memikul tampak tengah beradu omong, pakaian keduanya tampak lusuh dan basah oleh keringat mereka sendiri.
“Gara – gara kau, aku jadi ikut terbawa bawa, memikul ratusan kati seharian penuh, aku tidak mau tahu ! pokonya hutang yang kau pinjam harus kau bayar saat kita sampai,” ucap Huang Zilin dengan nada gusar.
“Saudara Huang, kenapa kau selalu menyalahkan aku, aku juga tidak diam, sama sepertimu memikul ratusan kati,” Tongki membalas ucapan Huang Zilin.
Ketika sampai di depan perkemahan, Tongki menatap liar ke arah Zhain Li Er yang tengah tersenyum manis.
“Gara – gara gadis kampret ini, hidupku selalu sengsara.”
__ADS_1