
Setelah berhasil menewaskan Han Cikung, Han Ciu melihat pasukannya terdesak, karena kalah jumlah dengan pasukan Xiang Yu.
Tetapi setelah melihat ribuan pasukan pedang langit datang, Han Ciu beserta rombongan pasukan Liu Bang menjadi semangat dan bersorak.
Sebaliknya, wajah Xiang Yu semakin suram melihat kedatangan pasukan pedang langit.
Pasukan Han Ciu semakin menggila, mendapat bantuan yang besar.
Liu Bang yang bertempur melawan Xiang Yu, terus mendesak. Tapi Xiang Yu berhasil mematahkan serangan² Liu Bang.
Kedua pedang pemimpin penguasa barat dan timur terus berupaya menjatuhkan lawan mereka, dan memenangkan pertarungan.
Pedang Xiang Yu menyambar kearah dada, Liu Bang menggeser tubuhnya menghindari tusukan pedang Xiang Yu.
Liu Bang setelah bergeser, kemudian menebas tangan kiri Xiang Yu.
Trang!
Xiang Yu menangkis serangan Liu Bang.
Setelah pedang mereka bertemu, Xiang Yu kemudian mendorong pedangnya sekuat tenaga.
Liu Bang terdorong mundur dua langkah karena kalah tenaga.
Melihat Liu Bang mundur sambil terhuyung, Xiang Yu langsung loncat dan berusaha menebas leher Liu Bang.
Whut!
Liu Bang melihat pedang Xiang Yu sudah berada di depan mata, langsung bergulingan di tanah, berusaha menghindari serangan Xiang Yu.
Xiang Yu yang melihat serangannya berhasil di hindari semakin ganas, dan loncat kembali untuk menusuk dada Liu Bang.
Liu Bang pasrah, melihat pedang Xiang Yu siap menghunjam ke arah dada, sambil memejamkan mata menerima nasib.
Han Ciu yang melihat pamannya dalam bahaya, melemparkan pedang tulang naga yang telah berhasil memutuskan kaki Han Cikung.
Shing!
Pedang tulang naga melesat dengan cepat, menghantam pedang Xiang Yu.
Trang!
Pedang Xiang Yu putus terkena hantaman pedang tulang naga.
Xiang Yu mundur melihat Han Ciu melesat menghampiri.
3 orang perwira langsung berdiri di depan Xiang Yu dengan pedang terhunus, dan seorang perwira pemimpin berkuda, si tombak utara, berusaha melindungi pemimpin mereka.
Setelah sampai di tempat Liu Bang, Han Ciu membangunkan Liu Bang, paman silahkan bantu yang lain, biar aku yang menghadapi penguasa timur.
“Terima kasih,” ucap Liu Bang, kemudian melesat pergi ke arah Beng San, dan membiarkan Han Ciu menghadapi Xiang Yu.
Melihat Liu Bang selamat dan pergi, Xiang Yu naik pitam, lalu memerintahkan perwiranya untuk menyerang Han Ciu.
Tiga orang perwira dengan pedang di tangan, di tambah satu perwira yang memakai tombak sebagai senjata, mereka mulai menyerang Han Ciu.
Seorang perwira menyabet bahu Han Ciu.
Han Ciu bergeser ke kanan, dan menangkis serangan tombak yang menusuk ke arah perut, dengan pedang tulang naga.
__ADS_1
Trang!
Tombak melenceng, dan kembali mengincar kaki.
Han Ciu lompat menghindari sabetan tombak utara, lalu pedang tulang naga menebas seorang perwira yang ikut lompat sambil menyambar ke arah pinggang Han Ciu.
Ketika pedang perwira itu bergerak, pedang tulang naga mendahului dengan menebas pinggang Perwira yang tengah melompat hendak menyerang.
Crash!
Tubuh perwira itu jatuh ke tanah dalam keadaan putus menjadi dua.
Salah seorang perwira melihat tubuh kawannya putus, langsung menusuk perut Han Ciu, tetapi Han Ciu sudah melentingkan tubuhnya menjauh.
Tombak utara bersama 2 orang perwira yang tersisa kemudian memburu Han Ciu dengan senjata di tangan, Xiang Yu mengikuti ketiganya berada di belakang, berusaha mengambil kesempatan untuk membokong Han Ciu.
Whut....Whut!
Han Ciu mundur saat pedang menebas kaki dan tombak menusuk ke arah perut.
Kemudian menangkis pedang yang menebas kepala dari atas.
Trang!
Setelah menangkis, tangan kiri Han Ciu mendorong ke arah perwira itu.
Des!
Perwira itu terlempar dan tewas dengan tubuh hangus.
Tombak utara semakin geram melihat kawannya tewas satu persatu, tombaknya berputar, kemudian menyerang ke arah perut, dada serta kepala Han Ciu bertubi tubi, tapi dengan jurus 10 langkah naga langit yang ia kembangkan, semua serangan tak ada artinya, malah tombak berhasil di tarik, lalu di arahkan ke belakang Han Ciu, dimana seorang perwira yang tersisa, hendak menebas punggung Han Ciu.
Tombak masuk ke dalam perut perwira itu.
Tombak utara kaget, senjatanya malah mengenai kawan sendiri.
Tombak utara menarik tombaknya yang menancap di perut kawan sendiri, setelah di tarik, sang perwira tersungkur dan tewas seketika, kini hanya tersisa Tombak utara dan Xiang Yu.
Roman wajah Xiang Yu tampak berubah ubah, melihat pasukannya mulai kocar kacir sejak pasukan pedang langit datang, Xiang Yu berusaha mencari kesempatan untuk melarikan diri, tapi penguasa timur itu sangsi karena Han Ciu selalu melirik ke arahnya.
“Tak ada jalan lain,” ucap Xiang Yu, kemudian menyerang Han Ciu bersama Tombak utara.
Si pedang timur, julukan Xiang Yu sewaktu kerajaan Qin masih berdiri.
Pedangnya bergerak di sela tombak utara,
Whut....Trang!
Pedang beradu, tombak melesat ke arah pinggang.
Plak!
Han Ciu menahan badan tombak dengan tangan kiri, kemudian pedang tulang naga mulai menekan pedang Xiang Yu.
Xiang Yu berusaha menambah tenaga, tetapi tetap saja pedangnya di bawah tekanan pedang tulang naga.
Tombak utara setelah serangannya di tahan, tubuhnya bergerak kekanan, kemudian menusuk punggung Han Ciu.
Xiang Yu melihat Tombak utara membokong, dengan sekuat tenaga sambil berteriak kencang, langsung mendorong pedang yang di tekan oleh Han Ciu.
__ADS_1
Han Ciu merasakan tekanan bertambah besar, tubuhnya bergerak mundur.
Tombak utara kaget melihat tombaknya melesat ke arah dada Xiang Yu, sedangkan Xiang Yu yang lebih pendek hanya bisa melotot, melihat tombak melesat.
Tombak utara berusaha menggeser tusukan dan usahanya berhasil, tombak melesat dan menembus bahu Xiang Yu, sementara Xiang Yu terus meluncur dan pedangnya menancap di perut Tombak Utara.
Blesh!
Tombak utara matanya mendelik menahan sakit, dari mulutnya menyembur darah segar.
Tak lama kemudian, Tombak utara ambruk dengan perut tertembus pedang.
Xiang Yu melepaskan pedangnya, lalu menarik tombak yang menancap di bahu.
Setelah menarik tombak yang menembus bahu, Xiang Yu duduk.
Han Ciu melesat, pedang tulang naga menebas ke arah leher untuk menyudahi pertarungan.
“Tunggu dulu ketua Han! Teriak Xiang Yu.
Han Ciu menghentikan tebasannya.
Xiang Yu menghela nafas dan tak lama kemudian berkata, “aku siap mati! tapi aku ingin mati secara terhormat oleh teman seperjuangan ku, Liu Bang.
Han Ciu anggukan kepala mendengar permintaan sang penguasa timur, yang sudah tak bisa berbuat apa² karena luka parah di bahunya.
Semakin lama pasukan bintang timur semakin tertindih, dan setelah Xiang Yu berteriak untuk menyerah, akhirnya 5000 pasukan bintang timur yang tersisa menyerah.
“Adik Liu Bang, aku kalah! Aku terima kekalahan akibat keserakahanku sendiri, tetapi aku mohon pasukan yang tersisa, berilah kesempatan untuk hidup, karena mereka hanya menuruti perintah pimpinan,” ucap Xiang Yu dengan wajah penuh sesal.
Baru ia menyadari kesalahannya, dulu Liu Bang selalu mengajak ia bekerja sama untuk membangun negeri Qin yang berhasil mereka runtuhkan.
Tetapi selalu di tolak, karena Xiang Yu ingin menguasai semua negeri seorang diri, akibat termakan hasutan orang² yang berada di sekitarnya.
Aku akan melakukan apa yang kak Xiang Yu pesan,” jawab Liu Bang.
“Aku sangat berterima kasih adik Liu mau mendengarkan perkataanku, sekarang aku bisa mati dengan tenang.
“Ketua Han! Sebelum mati aku ada sebuah informasi untukmu.
“Dewi racun sedang menghubungi iblis mata satu serta kawan²nya, setelah berhasil mereka akan segera ke telaga barat untuk membalas dendam padamu, karena mereka tahu kau tak ada di telaga barat.
“Ini semua adalah gagasan Han Cikung yang sangat membenci dirimu,” Han Cikung setelah berkata, lalu terbatuk dan dari mulutnya menyembur darah segar.
Wajah Han Ciu pucat mendengar informasi yang di berikan oleh Xiang Yu.
Han Ciu kemudian menyambar sebuah kuda, tapi Liu Bang gelengkan kepala sambil memegang tangan Han Ciu, "tenangkan hati mu nak! Nanti kita pikirkan, belum tentu Dewi racun sudah berhasil menemukan tempat iblis mata satu bertapa,"
Xiang Yu setelah memberikan informasi kepada Han Ciu, kemudian menatap ke arah Liu Bang, sambil anggukan kepala.
Liu Bang membalas anggukan kepala Xiang Yu, kemudian pedangnya dengan cepat melesat ke arah leher Xiang Yu.
Crash!
Lalu suara mulai hening, hanya suara semilir angin berembus yang terdengar, membawa aroma anyir darah dari kedua pasukan yang tewas.
Liu Bang duduk bersimpuh di depan mayat Xiang Yu yang sudah tak berkepala, lalu berbisik pelan.
“Kakak....Maafkan adikmu.”
__ADS_1