Naga Hitam Dan 4 Selir

Naga Hitam Dan 4 Selir
Ch : 210 kecemasan Shen Long


__ADS_3

“Adik Li, apa kau telah menguasai pelajaran yang ada di lembaran kulit ini ? Tanya Han Ciu.


“Kak Han tenang saja ! aku sudah hampir menguasai apa yang tertulis di lembaran kulit itu, menyerang atau memanggil ular semua sudah ku kuasai,” jawab Zhain Li Er.


“Kalau adik sudah menguasai, bakar lembaran kulit itu, sebab jika ilmu itu jatuh ke tangan orang jahat, akan sangat berbahaya.”


Zhain Li Er anggukan kepala mendengar perkataan Han Ciu.


“Paman dan bibi Tan, maaf sudah menyusahkan dengan mengantar paman Huang ke sini,” Han Ciu berkata kepada sepasang siluman hutan Hanzhong.


“Setelah hampir bentrok dengan saudara Huang, kami baru sadar akan arti dari perjuangan tuan muda, dan kami sudah bertekad tak akan berpangku tangan melihat perjuangan ini,” ucap Tan Kui.


Han Ciu tersenyum mendengar perkataan Tan Kui, bantuan dari sepasang siluman hutan Hanzhong, memang sangat di harapkan oleh Han Ciu, karena mereka mengetahui situasi medan sekitar Hanzhong sampai kota Beidi dan itu sangat membantu Han Ciu menerapkan strategi yang pas untuk menyerang jika ia tahu situasi wilayah tempat ia bertempur.


“Jadi selanjutnya apa yang harus kami lakukan tuan muda ? Tanya Tan Kui.


“Untuk saat ini, kita istirahat sambil menyembuhkan luka kawan kita paman, sambil menunggu pasukan dari Xianyang, dan tempat tersembunyi yang paman tunjukan sangat membantu kami paman,” jawab Han Ciu.


“Tuan Muda tak usah khawatir, daerah sekitar Hanzhong sampai dengan Beidi, kami berdua sudah menguasai, dan tempat ini adalah tempat tersembunyi yang tidak mudah untuk di temukan,” Tan Kui berkata kepada Han Ciu.


“Jika tak ada hal yang akan tuan tanyakan lagi, kami berdua akan mengawasi pasukan musuh yang masih berada di lembah,”


Han Ciu tersenyum sambil anggukan kepala mendengar perkataan Tan Kui.


“Maaf sudah merepotkan paman dan bibi,” ucap Han Ciu, kemudian mempersilahkan sepasang suami istri itu pergi untuk memata matai pasukan bintang timur yang jumlahnya masih banyak di sekitar lembah tempat mereka mendirikan tenda.


“Kapan kita akan menyerang lagi ketua ? Tanya Huang Zilin.


“Pasukan mereka yang tersisa menurutku kurang lebih ada 2000 orang, jika kita punya 500 pasukan mungkin aku akan memberanikan diri menyerang mereka di bantu oleh pasukan ular adik Li.


“Jadi sepertinya kita harus menunggu Talaba datang membawa pasukan tambahan dari kota Xianyang.


“Walau kita berani dan mempunyai kepandaian tinggi, tetapi kita juga harus memikirkan orang yang ada di sekeliling kita paman.”


Huang Zilin dan Tongki anggukan kepala mendengar perkataan Han Ciu.


****


Tuan Shen, hampir kurang lebih 700 pasukan jendral San Chi tewas,” salah seorang perwira memberi laporan kepada, wakil San Chi yang bernama Shen Long.


Wajah Shen Long tampak sedih mendengar laporan dari salah seorang anak buahnya, tapi dalam hati jendral tua itu bersorak mendengar kabar, bahwa saingan utamanya tewas, karena memang kabar ini yang selalu di tunggu oleh Shen Long.


“Jendral San Chi sudah kuperingatkan untuk berhati hati, tapi agaknya nasib berkata lain,” ucap Shen Long sambil menarik napas panjang.


“Tapi ada yang aneh jendral Shen,” perwira yang memberi laporan lanjut berkata.


“Aneh ! Apa maksudmu ? Tanya Shen Long sambil mengerutkan kening.


“Pasukan jendral San Chi banyak yang tewas, bukan karena senjata, tapi karena racun ular,” jawab sang perwira.


Shen Long termenung ketika mendengar perkataan anak buahnya, pasukan yang ikut dengan jendral San Chi adalah pasukan yang sudah terlatih, tapi kenapa mereka bisa dengan mudah tewas melawan ular.

__ADS_1


Shen Long mengalihkan pembicaraan karena tak ingin para perwiranya cemas ketika mendengar pasukan San Chi tewas oleh ular.


“Bagaimana dengan perbekalan pasukan kita ? Tanya Shen Long.


“Perbekalan masih cukup untuk beberapa hari jendral, tapi jika kita tidak mendapat bekal tambahan, kita terpaksa menarik pasukan,” jawab anak buah Shen Long.


“kau pimpin 100 pasukan ke kota Beidi, minta perbekalan untuk bekal pasukan kita menyerang kota Xianyang,”


Mendengar perintah sang jendral, perwira tersebut memberi hormat, kemudian pamit undur diri.


Setelah memeriksa daerah sekitar lembah dan tak ada tanda mencurigakan.


100 orang pasukan bergerak keluar lembah, mereka bergerak cepat bergerak ke arah kota Beidi, kota terdekat dengan lembah markas sementara pasukan bintang timur.


Sementara itu dari sebuah pohon besar yang berada di luar lembah tampak 4 pasang mata mengawasi kepergian 100 pasukan bintang timur.


“Saudara Tong, menurutmu kemana mereka akan pergi ? Tanya Huang Zilin.


“Saudara Huang ! pasukan mereka yang tersisa sekitar 2000 pasukan, sementara perbekalan mereka telah di hancurkan oleh ketua, tentu saja mereka pergi untuk mencari perbekalan untuk pasukan.” Jawab Tongki.


“Rupanya begitu,” ucap Huang Zilin.


“Saudara Tong ! Apa uang yang kau pinjam dariku masih ada ? Tanya Huang Zilin.


Mendengar perkataan Huang Zilin, Tongki lalu menatap ke arah Huang Zilin, kemudian bertanya.


“Apa saudara Huang hendak, menarik uang yang aku pinjam ?


“Tidak....tidak ! Jika uang itu masih ada, bagaimana jika kita bertaruh ? Tanya Huang Zilin sambil menatap Tongki dengan senyum lebar.


“Saudara Tong, bukan kita saja yang sedang mengawasi musuh, di depan sana aku lihat ada sepasang siluman hutan Hanzhong, jadi kita bisa tenang sebentar,” Huang Zilin membalas perkataan Tongki.


“Lalu hal apa yang kita pertaruhkan ? Tanya Tongki sedikit penasaran.


Mendengar perkataan Tongki, Huang Zilin tampak mengerutkan keningnya.


Tak lama kemudian Huang Zilin berkata.


“Begini saja Saudara Tong, terserah saudara mau taruhan apa, aku ikut aturan saudara, bagaimana ? ucap Huang Zilin.


Tongki termenung mendengar perkataan Huang Zilin, “sekarang semua keputusan ada di tanganku, walaupun ia ragu, tapi kesempatan baik ini jika di lewatkan akan sayang,” batin Tongki.


Setelah menemukan cara untuk memenangkan taruhan terhadap Huang Zilin, Tongki lalu berkata kepada Iblis petaruh.


“100 pasukan yang tadi keluar lembah, pasti akan minta bantuan perbekalan untuk pasukan yang berada di lembah.


“Kita bertaruh 100 tail perak, pasukan itu sampai atau tidak ke kota Beidi, ucap Tongki sambil tersenyum penuh arti.


“Kenapa harus 100 tail perak, apa uang yang aku pinjamkan pada saudara Tong sudah habis ? Tanya Huang Zilin.


“Masih ada, tapi aku juga ada kebutuhan, jika uang itu habis, aku sendiri yang akan repot nanti,” jawab Tongki.

__ADS_1


“Sebenarnya, 100 tail perak taruhan yang sangat sedikit untuk masalah besar ini,” ucap Huang Zilin.


Hmm !


“Dasar lblis Judi ! kali ini aku akan menang, sebenarnya aku malu jika harus bertaruh besar,” batin Tongki.


Baiklah saudara Huang duit yang tersisa di aku hanya 200 tail perak, baik aku pakai semua untuk bertaruh,” Tongki berkata sambil tersenyum licik kepada Huang Zilin.


“Aku bertaruh 100 pasukan itu tidak akan sampai ke kota Beidi, bagaimana apa saudara Huang setuju ? Tanya Tongki.


Huang Zilin yang mendengar ucapan Tongki, tampak termenung.


“Jadi jika 100 pasukan itu sampai di kota Beidi, aku yang menang ?


Tongki anggukan kepala mendengar ucapan Huang Zilin.


“Setelah kita sepakat, aku akan ajak sepasang siluman hutan Hanzhong untuk menghabisi 100 pasukan itu,” batin Tongki sambil tersenyum.


“Baiklah, aku terima taruhan ini ! 200 tail perak, tidak lebih tidak kurang,” ucap Huang Zilin sambil menyodorkan tangannya tanda sepakat yang di sambut oleh sodoran tangan Tongki.


Setelah berjabat tangan, Tongki kemudian mengajak Huang Zilin untuk menemui sepasang Siluman hutan Hanzhong.


“Ternyata saudara Tongki dan saudara Huang juga mengawasi daerah di sekitar sini ? Tanya Tan Kui yang di balas dengan anggukan kepala Tongki.


“Saudara Tan ! apa sudah lihat pasukan musuh yang bergerak ke kota Beidi ? Tanya Tongki.


“Kami sudah lihat, dan memang bermaksud untuk mencegahnya, tapi kami bingung apa tindakan ini benar ?


“Tentu saja benar, coba saudara Tan pikir ! jika mereka berhasil sampai di kota Beidi, bukankah itu malah akan memperkuat pasukan mereka dan merugikan ketua kita,” Tongki berkata.


Tan Kui serta Tan Ling anggukan kepala mendengar perkataan Tongki.


“Mari kita habisi mereka,” ucap Tongki.


Ketika mereka hendak bergerak, 2 buah bayangan melesat dan menghadang sepasang siluman hutan Hanzhong, Tongki serta Huang Zilin.


“Tunggu dulu ! Teriak Han Ciu yang datang bersama Zhain Li Er.


“Jangan gegabah,” lanjut ucapan Han Ciu.


“Jika kita habisi mereka sekarang, tak ada keuntungan yang kita dapat, biarkan mereka pergi ke Beidi, setelah mereka kembali sambil membawa perbekalan untuk pasukan mereka, baru kita habisi, dengan begitu, sekali tepuk kita bisa memperoleh 2 keuntungan,”


“Ketua benar, sambil menunggu pasukan bantuan dari Xianyang, kita juga bisa mendapatkan bekal untuk pasukan kita, dan pasukan inti mereka di lembah akan lemah, karena mereka tidak mempunyai bekal yang cukup untuk berperang.”


“Itu tujuanku paman, jadi kita tak perlu mencari dan menyiapkan bekal untuk pasukan.


“Jadi....jadi kita biarkan mereka pergi ke kota Beidi ? Tanya Tongki sambil menatap ke arah Han Ciu.


“Benar paman, kita sikat mereka saat mereka kembali dari Beidi.” Jawab Han Ciu.


“Celaka,” Tongki berkata sambil menepak kening.

__ADS_1


Sementara Huang Zilin tersenyum dan dari mulut Iblis petaruh itu terdengar suara pelan sambil menatap ke arah Tongki.


Eheem....Eheem !


__ADS_2