Naga Hitam Dan 4 Selir

Naga Hitam Dan 4 Selir
Ch : 128 Fang Ji


__ADS_3

Setelah Srigala Srigala itu pergi, Talaba langsung membungkuk di hadapan Han Ciu.


"Maafkan hamba ketua, hamba sama sekali tidak menyangka akan terjadi seperti ini


"Hamba memang hapal jalan melalui hutan hitam, tetapi memang baru kali ini mengalami kejadian seperti ini, biasanya tidak pernah ada Srigala menyerang sebanyak ini ketua." Ucap Talaba.


"Kau tidak salah Talaba, sepertinya memang hutan hitam ada penghuninya, Kita lihat saja nanti, siapa dan mau apa mereka jika masih menghadang kita." Han Ciu membalas perkataan Talaba.


"Benar apa yang di ucapkan ketuamu, kau tidak salah, sekarang kita harus hati hati dalam melanjutkan perjalanan, kita tidak tahu dimana mereka, tetapi mereka tahu dimana kita berada," ucap lblis biru.


"Paman !" sepertinya Srigala Srigala itu menyerang kita karna ada perintah dan sepertinya mereka bisa memerintah Srigala, kita harus hati hati."


"Apa paman kenal dengan tokoh dunia persilatan yang biasa melatih binatang serta bisa memerintah binatang ?" ucap Han Ciu.


"Kalau pengendali ular mungkin aku tahu siapa orangnya, tapi binatang semacam Srigala, aku tidak tahu." Iblis biru membalas perkataan Han Ciu.


"Baiklah kalau begitu, kita harus lebih berhati hati kedepannya, aku yakin kedepannya orang itu akan datang lagi." ucap Han Ciu.


"Apakah kita Harus putar balik ketua ?" Talaba bertanya kepada Han Ciu.


Hmm !


"Putar balik, apa kau takut ?" lblis biru berkata sambil menatap Talaba.


"Maaf tuan, selama masih bersama ketua, Talaba tidak kenal yang namanya takut, karna hidup Talaba sudah di berikan kepada ketua." ucap Talaba.


"Bagus - Bagus, itu baru semangat anak muda" ucap Iblis biru sambil memberikan jempol kepada Talaba.


"Kita tetap lanjutkan perjalanan ke kota Liaoxi tetap lewat hutan hitam ini.


"Aku jadi penasaran, siapa orang yang berusaha menyerang kita dengan menggunakan Srigala." Han ciu berkata sambil menatap ke arah hutan tempat Srigala Srigala itu melarikan diri.


Tak terasa malam semakin larut, Zhain Li Er serta Racun cilik merebahkan kepala di pangkuan Han Ciu, keduanya lalu tertidur karna lelah, sementara Iblis biru serta Talaba berjaga jaga, sedangkan Sin Ko sibuk memeriksa perbekalan yang mereka bawa.


Pagi hari udara dingin dalam hutan masih terasa menusuk tulang, suara burung berkicau terdengar menghiasi pagi hari.


Zhain Li Er serta Racun cilik membuka mata, sedangkan Talaba masih terpejam karna pemuda itu baru saja terlelap setelah berjaga semalaman.


Kedua wanita memasak air untuk menyediakan teh panas untuk Han Ciu serta yang lain, setelah sarapan dan istirahat yang cukup, Han Ciu mengajak mereka untuk melanjutkan perjalanan.


Kali ini Talaba di dampingi oleh lblis biru, walau Talaba ahli dalam memanah, tetapi tenaga dalam yang di miliki oleh pemuda itu belum terlalu tinggi, sehingga Iblis biru merasa perlu untuk mendampingi pemuda itu.


Sedangkan Sin Ko berjalan di tengah sambil terus menggurutu, karna kini ia yang bertugas membawa perbekalan.


"Kalau tahu seperti ini, lebih baik jalan memutar sambil berkuda, waktu 4 hari juga tidak terlalu menyiksa diri seperti sekarang," ucap Sin Ko.


"Kalau kau merasa keberatan, kau balik saja bawa kuda dan jalan sendiri," ucap Zhain Li Er ketika mendengar perkataan Sin Ko.


Sin Ko langsung diam mendengar perkataan Zhain Li Er.


Semakin mereka masuk ke dalam hutan menyusuri jalan setapak, suasana hutan semakin terlihat menyeramkan, pohon pohon besar semak belukar, ular serta binatang binatang kecil yang langsung menyingkir, ketika rombongan Han Ciu yang di pimpin oleh Talaba menyusuri jalan setapak dalam hutan.


Han Ciu, Sin Ko, Zhan Li Er serta Racun cilik, mendekati Talaba ketika melihat pemuda itu mengangkat tangan dan berhenti.


"Ada apa Talaba ?" Han Ciu bertanya.


"Rupanya mereka yang semalam menyerang kita," Iblis biru menjawab pertanyaan Han Ciu.


Han Ciu setelah sampai di dekat Iblis biru dan Talaba, melihat seorang yang rambutnya acak acakan, jenggot serta cambang yang panjang dengan tubuh kurus, hanya memakai cawat yang menutupi tubuh bagian bawah perut dan tidak memakai baju.


Zhain Li Er serta Racun cilik melihat penampilan kakek itu wajah mereka merah, kedua tangan langsung menutupi wajah, kemudian berpaling tak mau melihat penampilan kakek yang hanya memakai cawat.


Di pinggir kakek aneh itu ada seekor Srigala besar bermata biru serta puluhan ekor berada di belakang keduanya, menatap ke arah rombongan Han Ciu.


Suara geraman Srigala yang marah terdengar jelas oleh Han Ciu serta yang lain.


"Maaf jika menganggu !" tapi kami hanya ingin lewat," ucap Talaba sambil memberi hormat.


"Manusia manusia tak tahu diri, kalian telah membunuh anak anakku !" ucap kakek aneh sambil menatap ke arah Talaba.


"Maaf Kek, apa kakek tidak salah bicara jika menyebut kami membunuh anak anak kakek ?" Talaba berkata.


"Keparaat, masih saja mau mungkir."


"Anak anak, serang mereka !"

__ADS_1


Auuung .. Auuuung !


Mendengar suara kakek yang hanya memakai cawat, puluhan Srigala menggeram, kemudian berlari dan menerjang ke arah Talaba bersama lblis biru yang berada di depan, dari berbagai sisi.


Talaba yang memang sudah siap, langsung mengambil 2 buah anak panah.


Lalu menarik tali busur.


Shing .. Shing


Panah melesat meluncur dengan cepat, satu menancap di kepala dan satunya lagi menancap di perut, 2 ekor Srigala terdepan yang menyerang langsung tewas di tempat, sementara Iblis biru Serta Zhain Li Er juga tidak tinggal diam melihat puluhan Srigala menyerang mereka dari berbagai sisi, gadis itu mencabut pedang angin.


Keduanya bergerak menghalau Srigala yang menyerang.


"Adik Zhee kau lindungi Sin Ko !" teriak Han Ciu, sementara Han Ciu memburu kakek Srigala dan melesatkan sebuah pedang hampa.


"Kurang ajar."


Terdengar teriakan dari kakek yang memakai cawat melihat dirinya di serang oleh Han Ciu.


Kakek itu bergerak manghindari serangan Han Ciu, begitu pula dengan Srigala besar yang ada di samping sang kakek, mereka berdua seperti mengerti, menghindari serangan ke arah berbeda lalu siap menyerang dari 2 arah yang berbeda pula.


Han Ciu mendengus lalu memburu kearah sang kakek, kedua tangan Han Ciu yang sudah terisi tenaga dalam jubah emas dan ilmu jiwa pedang menebas.


Craaash .. kraaak !


Kakek Srigala melihat tangan Han Ciu berubah keperakan terkejut, kemudian melentingkan tubuhnya ke arah belakang menghindari serangan Han Ciu.


Sebuah pohon tak begitu besar tumbang menjadi tumbal, terkena tebasan tangan Han Ciu.


Srigala besar yang bersama kakek Srigala lompat menerkam Han Ciu dari arah belakang.


Han Ciu merasakan sambaran angin dari arah belakang berbalik, ketika melihat Srigala besar bermata biru menerjang ke arahnya.


Tangan kiri Han Ciu mendorong dengan pukulan Dewa angin.


Whuuus !


Srigala besar yang sedang menerjang terlempar terkena pukulan Dewa angin, tapi setelah jatuh ke tanah, Srigala itu bangkit kembali sambil menggoyang goyangkan kepalanya kekiri dan kekanan dan siap menyerang kembali.


Mata kakek Srigala merah menahan marah yang sudah memuncak, kemudian ia loncat menerjang Han Ciu, sepuluh kukunya yang runcing menyambar ke arah kepala begitu pula pemimpin Srigala, melesat menerjang dari sisi yang berbeda.


Craaak .. Craaak


Kedua cakar tangan kakek Srigala, menghantam Pohon, kulit kayu pohon besar terkelupas terkena cakaran kedua tangan kakek Srigala, saat Han Ciu bergerak ke samping kiri menghindari serangan, lalu Han Ciu menunduk saat pemimpin Srigala menerkam, tangan Han Ciu hendak menebas ketika pemimpin Srigala lewat diatas kepalanya, tetapi setelah melihat mata biru Srigala itu, entah kenapa Han Ciu merasa tidak tega untuk melepaskan tangan kejamnya kepada Srigala itu.


Telapak tangan kiri pemuda itu yang siap menebas lalu di kepalkan dan meninju pemimpin Srigala.


Bhuuuk.. kaaaing !


Perut Srigala terkena tinju Han Ciu, suara kesakitan terdengar dari mulut Srigala saat perut binatang itu terkena tinju Han Ciu.


"Keparaaat, kau sakiti anakku," ucap kakek Srigala, kedua cakarnya menyambar tubuh Han Ciu.


Han Ciu menangkis, cakaran kakek Srigala.


Plaak !


Kakek itu tergetar, dan tersurut selangkah kebelakang, tangannya terasa panas saat Han Ciu menangkis dan kedua tangan beradu.


Tapi Han Ciu tak mau berhenti di situ, melihat musuhnya terseret mundur, Han Ciu melesat, tangan kiri langsung menangkap tangang kakek itu lalu menarik.


Kakek Srigala terkejut, wajahnya pucat ketika tubuhnya terseret mendekati Han Ciu, apalagi setelah melihat tangan kanan Han Ciu berubah merah dan menghantam perut.


Bhuuuk .. aauuhhg !


Tinju yang yang sudah di isi pukulan Dewa api menghantam perut Kakek Srigala.


Jeritan dan dengusan terdengar dari mulut kakek Srigala.


Han Ciu melepaskan pegangan tangan kirinya.


Kakek Srigala terkulai, di sekitar perut bekas tinju Han Ciu tampak menghitam.


Srgiala binatang peliharaan kakek itu yang tadi terpental terkena tinju Han Ciu langsung memburu ke arah sang kakek, lalu menjilati wajah sang kakek Srigala dengan lidahnya yang besar dan panjang.

__ADS_1


Sang kakek, sambil merintih menahan sakit karna tinju Han Ciu, seisi perutnya seperti hancur serta panas seperti terbakar.


Kakek Srigala sambil menahan sakit mengelus ngelus kepala Srigala yang menjadi kesayangannya.


Han Ciu serta yang lain melihat kejadian yang tampak di depan mata terharu, melihat persahabatan antara mereka.


Kakek Srigala setelah mengelus elus kepala Srigala kemudian tangannya melambai ke arah Han Ciu, memberi isyarat kepada Han Ciu agar mendekat.


Han Ciu melihat isyarat itu lalu mendekati kakek Srigala.


Srigala besar bermata biru menggeram, wajah Srigala itu tampak bringas dengan air liur bercucuran, siap untuk menyerang.


"Fang ji jangan kasar !" Kakek itu berkata sambil mengelus bulu lebat berwarna keabuan di kepala Srigala.


Seperti mengerti ucapan kakek itu, Srigala yang di panggil Fang Ji kemudian mengelus kepala kakek itu dengan kepalanya.


"Tu .. Tuan muda, u..uumurku sepertinya tak lama lagi, aku adalah penjaga pintu masuk hutan hitam ini, dan kepandaianku tak seberapa.


Lalu kakek itu mencabut kalung yang terdapat liontin seperti sebuah taring dari lehernya.


"Aku berikan mustika taring raja Srigala ini pada tuan muda, suatu saat nanti taring ini akan berguna untukmu, aku hanya titip Fang Ji pada tuan muda, tolong jaga Fang Ji, dan anggap ia seperti sahabat, karna terkadang sipat hewan lebih baik dan jujur dari sipat manusia yang penuh dengan tipu muslihat." ucap sang kakek


"Fang Ji ?" ucap Han Ciu sambil mengerutkan kening.


"Fang Ji adalah nama yang kuberikan untuk raja Srigala yang sudah ku anggap sebagai anak."


Setelah berkata, kakek Srigala kemudian mengelus ngelus kepala Fang Ji lalu berbisik di telinga Srigala itu, seperti mengatakan sesuatu.


Tangan kakek itu lalu memegang tangan Han Ciu, kemudian berkata pelan.


Hati hati terhadap sekte Gagak hitam, mereka sangat licik dan kejam.


"A .. Aakuu .. ti ..tiitip Fan Ji."


Setelah berkata kepala kakek itu terkulai, nyawanya terlepas dari badan


Fang Ji melihat kepala kakek Srigala terkulai, menjilati wajah sang kakek dan terus menjilat dengan lidahnya yang besar, wajah kakek itu penuh dengan air liur Fang Ji, setelah lama menjilat dan tak ada reaksi dari sang kakek.


Fang Ji kemudian melolong panjang.


Auuuuuung .. Auuuuung .. Auuuuung


Suara lolongan Fang Ji terdengar sangat mengharukan, binatang itu seperti tahu bahwa ia telah di tinggalkan oleh tuannya.


Setelah melolong panjang, Fang Ji lalu menekuk kedua kakinya seperti memberi hormat kepada kakek Srigala.


Zhain Li Er serta Racun Cilik meneteskan air mata, melihat persahabatan antara kakek Srigala dan Fang Ji.


Han Ciu juga terharu melihat persahabatan mereka.


Han Ciu lalu menghampiri Fang Ji.


Han Ciu berkata sambil mengelus elus kepala Srigala besar bermata biru itu.


"Sekarang kau ikut denganku"


------------------‐-------------------------------------------------------


**Selamat tinggal 2020 dan selamat datang 2021


Semoga di tahun yang baru ini kita semua di beri kesehatan serta kemudahan dalam menjalani aktivitas.


Lupakan masa lalu dan tegakkan kepala menyongsong masa depan dangan Harapan yang lebih baik dari tahun yang sudah kita lalui.


Berkat kalian saya bisa berkarya dari tahun 2020 hingga sampai di awal tahun 2021.


Dan berkat para Reader tercinta juga saya masih terus bertahan sampai saat ini


Saya pribadi mengucapkan beribu terima kasih kepada kawan kawan karna telah mensuport, memberi masukan, menegur, serta memberi arahan agar saya dapat berkarya lebih baik lagi kedepannya.


Mohon maaf bila masih banyak kekurangan.


karna saya memang masih dalam tahap belajar dalam membuat cerita.


Satu hal yang pasti bisa saya katakan buat kawan kawan adalah.

__ADS_1


Kalian semua adalah Reader reader yang sangat luar biasa untuk saya**.


__ADS_2