
Tongki yang tidak bisa bicara, apalagi Zhain Li Er mulai naik darah, kakek itu menarik Dewi kipas pergi meninggalkan sang ketua.
“Dasar kakek keparaat !” ucap Zhain Li Er dengan nada kesal.
“Pecat saja dia kak Han, sebal aku lihat tingkahnya.” Lanjut ucapan Zhain Li Er.
“Sudahlah adik, watak serta adat manusia itu susah untuk berubah, tapi intinya adalah kesetiaan orang tersebut.
“Aku lebih suka orang seperti paman Tongki, daripada pendiam dan selalu memberi hormat, kemudian akhirnya berkhianat.” Han Ciu berkata.
“Tapi kelakuan Tongki sering membuat aku kesal.” Ucap Zhain Li Er.
Sudahlah, mari kita kembali ke telaga barat untuk istirahat, karna besok kita akan keluar menuju Hanzhong.
Zhain Li Er mengangguk mendengar perkataan Han Ciu, sambil menggandeng tangan suaminya, Zhain Li Er melesat pergi ke telaga barat.
****
Ke esokkan harinya sebelum berangkat, Han Ciu lebih dulu berkumpul.
Zee ln Biauw memberikan kotak obat yang berisi puluhan botol kecil, di dalam botol kecil itu terdapat ratusan butir pil pemusnah racun racikan dari Zee ln Biauw untuk bekal Han Ciu.
Zhain Li Er langsung menyambar obat anti racun racikan Zee ln Biauw.
“Biar aku yang pegang,” ucap Zhain Li Er.
Tongki yang melihat Zhain Li Er mengambil obat anti racun dan gadis itu yang memegang menarik napas panjang.
Hmm !
“Makin repot buat ku ke depannya,” ucap Tongki dalam hati.
Han Ciu meminta Tongki menyiapkan kapal untuk rombongannya, kapal yang sama seperti kapal penumpang, karna mereka tidak mau menarik perhatian orang yang melihat mereka.
Rencananya mereka akan naik kapal sampai di kota Nan, menginap di penginapan Bunga Naga pusat yang ada di kota Nan, lalu melanjutkan kembali perjalanan dari kota Nan lalu ke Hanzhong.
Ahn Nio memberi tahu bahwa di pusat penginapan Bunga Naga yang ada di kota Nan di percayakan kepada, Sang Kui.
Salah seorang yang pernah lama ikut dengan nyonya Nio, dan Han Ciu juga di minta oleh Ahn Nio untuk menyelidiki kenapa sudah beberapa bulan ini tak ada kabar dari penginapan pusat kota Nan sejak ia tinggalkan dan menetap di telaga barat.
“Sang Kui, siapa dia ? aku baru mendengar namanya,” tanya Han Ciu.
“Sewaktu kakak Han di kota Nan, dia sedang berdagang keluar, sejak kak Han Pergi, baru Sang Kui datang, setelah melihat kerjanya bagus, kemudian mendengar kakak Han kembali, penginapan Bunga Naga aku serahkan kepada Sang Kui.” Ucap Ahn Nio.
“Kak Han harus hati – hati terhadapnya, aku melihat orang itu sepertinya licik,” Sa Sie Hwa berkata, karna tak ada orang lagi yang mampu di percaya, akhirnya aku juga setuju setelah Enci Ahn Nio bilang dia orang lama,” Sa Sie Hwa berkata.
Ahn Nio menarik napas panjang mendengar perkataan Sa Sie Hwa.
“Yang dikatakan oleh adik Sa benar, tapi memang saat itu tak ada lagi orang yang bisa aku percaya selain Sang Kui.” Ahn Nio berkata.
“Kak Han jika sampai di penginapan bunga naga, lihat saja situasi di sana, jangan dulu bicara siapa kak Han sebenarnya kepada Sang Kui.” Lanjut perkataan Ahn Nio.
Han Ciu mengangguk mendengar perkataan dari Ahn Nio serta Sa Sie Hwa.
Sebenarnya sudah lama penginapan di kota Nan bukan seperti pusat tapi layaknya cabang, karna jaraknya yang jauh dari kota – kota besar.
__ADS_1
Sa Sie Hwa juga pernah memberitahu kepada Ahn Nio untuk menjual penginapan Bunga Naga di kota Nan, tapi karna banyak kenangan di penginapan itu, Ahn Nio menolak usul Sa Sie Hwa.
Setelah memberi pengarahan kepada mereka yang berada di telaga barat.
Han Ciu, Zhain Li Er, Xiao Er, Tongki, Dewi Kipas, lblis Biru, Talaba serta Fang Ji akhirnya, pergi dengan menyamar sebagai rombongan pedagang, dengan naik kapal penumpang yang di kemudikan oleh anak buah Sin Ko yang sudah di percaya.
Kapal melaju dari telaga barat ke arah selatan menuju kota Nan.
Hari demi hari mereka lalui dalam kapal, tak ada kejadian berarti yang mereka temui, selama dalam perjalanan.
“Kak Han, apa kakak benar suka pada Xiao Er ?” tanya gadis itu, saat mereka berdua berdiri di depan kapal.
“Kenapa Adik bicara seperti itu ?” Han Ciu balik bertanya sambil menatap ke arah Xiao Er.
“Xiao Er merasa rendah diri di hadapan Enci yang lain.” Ucap Xiao Er.
Han Ciu tersenyum lalu menggenggam tangan Xiao Er.
“Adik kenapa berpikir seperti itu ? Tanya Han Ciu.
“Aku sudah mengingatkan terlebih dahulu, bahwa keadaanku seperti ini, jika adik Xiao Er merasa kurang di perhatikan aku minta maaf,” ucap Han Ciu dengan nada lembut.
Xiao Er mendengar perkataan Han Ciu, kemudian menyenderkan kepalanya ke bahu pemuda yang sangat ia cintai.
“Bukan masalah itu sayang, adik merasa semua selir kak Han cantik dan mempunyai keahlian di bidangnya masing – masing, sementara aku tidak punya apa yang bisa di bandingkan dengan selir yang lain.” Xiao Er berkata, ada nada kesedihan dari suara gadis itu.
“Adik jangan berkata seperti itu, kau adalah istri Han Ciu.
“Itulah kelebihan, adik Xiao Er di bandingkan dengan yang lain.”
Xiao Er yang mendengar perkataan Han Ciu kemudian memeluk sang suami, hatinya kini merasa tenang.
Ketika tengah asyik berdua dengan Xiao Er, Talaba datang memberi laporan.
“Ketua ! Menurut juru mudi kapal, kita akan sampai di kota Hengshan.
“Ketua hendak langsung lanjutkan perjalanan atau mampir dulu di kota Hengshan ?” tanya Talaba.
“Menurut adik bagaimana ?” Han Ciu menyerahkan kepada Xiao Er pertanyaan dari Talaba.
“Bagaimana kalau kita mampir di kota Hengshan ! aku jenuh terus melihat air dalam beberapa hari,” Xiao Er berkata.
Han Ciu yang mendengar perkataan dari Xiao Er anggukan kepala, kemudian berkata kepada Talaba.
“Kita mampir ke kota Hengshan 1 atau 2 hari, sambil melihat lihat situasi di kota itu,”
Talaba yang mendengar perkataan Han Ciu mengangguk, kemudian pergi untuk memberi tahu juru mudi, bahwa ketua ingin mampir di kota Hengshan.
Siang hari mereka sampai di kota Hengshan, kota yang terdapat di pinggiran sungai besar sangat ramai.
Setelah menambatkan kapal di dermaga, Han Ciu serta rombongan turun dari kapal.
Talaba setelah turun dari kapal langsung mencari tempat untuk menginap, karna kota yang tak jauh dari sungai besar, Talaba tak susah mencari penginapan yang dekat dermaga.
“Akhirnya bisa melihat kota lagi,” ucap Tongki saat turun dari kapal.
__ADS_1
“Apa di kota Hengshan sini tak ada penginapan Bunga Naga ketua ?” tanya Tongki.
“Sepertinya tidak ada paman ?” jawab Han Ciu.
Saat mereka turun dari kapal seorang pemuda dengan tubuh besar dan wajah hitam membawa tongkat hitam, terus menatap ke arah rombongan Han Ciu.
Setelah memastikan benar apa yang ia lihat.
Pemuda itu langsing melesat, kemudian tertawa kepada Han Ciu.
Ha Ha Ha.
“Muka Cabul ! kita bertemu lagi,” ucap pemuda itu sambil tertawa.
Tongki mengerutkan kening melihat pemuda yang berpakaian pengemis dan berwajah hitam, menyebut muka cabul terhadap ketuanya.
“Hai hitam ! Hati – hati jika bicara, siapa yang kau sebut muka cabul ?” tanya Tongki.
Pemuda yang ternyata adalah Hek kay, mengerutkan kening mendapat pertanyaan dari Tongki, lalu balik bertanya.
“Paman kau punya berapa istri ? Tanya Hek kay.
“Aku belum punya istri, baru rencana,” ucap Tongki.
“Dan kawan kalian itu yang berdua ( Talaba serta Iblis Biru ) apa sudah punya istri ?” kembali Hek kay bertanya.
“Belum,” jawab Tongki.
Han Ciu hanya tersenyum melihat sahabatnya Hek kay dari perkumpulan pengemis tongkat hitam sedang bicara dengan Tongki.
“Lalu berapa orang wanita yang di miliki oleh ketuamu ?” Kembali Hek kay bertanya.
‘Ketua punya 4 selir dan satu orang istri,” jawab Tongki.
“Lalu menurut paman, siapa yang pantas aku sebut muka cabul ?” Hek kay kembali bertanya.
Tanpa pikir panjang Tongki langsung menjawab pertanyaan Hek kay.
“Tentu saja ketua,” ucap Tongki.
Tongki baru sadar bahwa ada yang salah dengan ucapannya, setelah mendengar dengusan Zhain Li Er.
Tongki langsung diam, lalu pindah agak jauh dari Zhain Li Er.
“Pengemis busuk, kau sudah tak usah banyak omong, kami ingin istirahat.” Ucap Zhain Li Er.
Han Ciu tersenyum, “kakak kenapa ada di kota Hengshan ?" lanjut perkataan Han Ciu
"Biasanya jika ada Hek kay, itu artinya ada yang sedang di selidiki, benar tidak dugaanku ?” tanya Han Ciu sambil tersenyum.
“Adik benar ! aku di kota Hengshan sedang menyelidik seorang tokoh tua, yang sering mengajak orang taruhan, walaupun nyawa yang menjadi taruhannya.” Ucap Hek kay.
“Siapa tokoh tua itu ? Tanya Han Ciu.
"Dia adalah salah seorang dari 2 lblis yang masih hidup," jawab Hek Kay.
__ADS_1
“Iblis pertama bernama lblis mata satu, sedangkan yang kedua adalah.
“Iblis petaruh yang bernama Huang Zilin.”