
Tapak kilat terkejut dengan kecepatan gerak Li er, Naga Biru bukan tokoh kelas menengah, Tapi Naga biru sudah masok tokoh jajaran atas, walau belum bisa di sebut Datuk persilatan, tapi hanya dengan 4 jurus, sudah terkena tamparan, dan 2 buah giginya hilang dan muka yang babak belur, adalah hal yang tak lajim terhadap tokoh papan atas seperti Naga Biru, apalagi yang melakukannya adalah seorang wanita yang masih terlihat muda.
"Kau bukan Sam ci, dan ketiga putrinya !" siapa kau dan apa hubungannya dengan perkumpulan pengemis tongkat hitam ?"
"Kau tak usah banyak bicara, seharusnya kau juga tahu, di perkumpulan pengemis tongkat hitam banyak orang yang bisa di andalkan, contohnya aku, Sam ci dan ketiga anakku ini." ucap Han Ciu yangsedang menyamar.
"Kau bukan Sam Ci, dan gadis itu bukan anakmu, setahuku anak anak Sam ci biar terkenal galak, tapi belum bisa untuk mengalahkan Naga biru."
Tapak kilat membalas perkataan Han ciu.
Phuuih !
"Apa kau pikir, hanya kau yang bisa ilmu kepandaian dan hebat, sedangkan orang lain kau anggap lemah ?" Tapak kilat diam mendengar perkataan Han Ciu.
Sedangkan Naga Biru, setelah minum obat yang ia punya, bangkit dan berdiri lalu matanya menatap tajam ke arah Li er.
"Wanita setan, kubunuh kau !"
ucap Naga Biru.
Naga biru lalu mencabut pedangnya yang berwarna biru dari punggung, lalu bersiap dan memasang kuda kuda.
Han Ciu memegang tangan Li er, sebelum gadis itu maju," kau harus hati hati." Han ciu berkata sambil menatap lembut gadis itu.
"Ayah, sebelum maju bertempur aku minta cium dulu, biar semangat."
Hmm !
Setelah mendengus, lalu Han Ciu mencium kening Li Er, ketika sedang mencium kening. Li Er lalu berkata kembali, "kenapa tidak cium di bibir ?"
"Kau jangan kurang ajar !" kita lagi menyamar sebagai ayah dan anak, mana ada ayah yang mencium bibir anaknya yang sudah dewasa."
"Masa seh ?
"Aku bebas kok, di cium oleh Muka Ayam.
"Sudah, cepat sana !" nanti mereka curiga pada kita."
Li er setelah di cium oleh Han ciu, semangatnya jadi berlipat ganda.
Gadis itu mencabut pedang angin yang berada di punggung.
Suara desisan angin terdengar jelas ketika Li er memutar mutar pedang angin.
Naga biru menatap pedang angin milik Li er.
"Aku seperti ingat pedang aneh milik gadis itu, tapi dimana dan kapan ?" ucap Naga Biru dalam hati.
Semakin cepat Li Er memutar pedang, semakin kencang suara yang keluar dari badan pedang.
Whuut .. whuut .. whuut
Sriiiing !
Pedang angin menusuk dada Naga Biru.
Naga Biru menangkis pedang angin.
Trang !
Pedang angin bergeser, tetapi setelah di tangkis, pedang angin bergeser ke kanan dan di sabetkkan ke arah leher oleh Li er.
Whuuuut !
Naga Biru menunduk, Pedang angin lewat di atas kepala Naga Biru.
Lalu Pedang Naga biru, menyabet pinggang Li er,
Li er mundur satu langkah, lalu pedangnya kembali membabat ke dari atas ke bawah secara menyilang.
Trang .. trang !
Setelah menyabet dari atas Li er terus membabat kearah pinggang Naga Biru.
Naga Biru berhasil menangkis serangan serangan Li Er, tapi setiap menangkis tangan Naga Biru terasa panas.
Setelah mundur, Naga biru menatap ke arah Li er, anak Sam Ci masih muda tapi gerakannya begitu cepat dan tenaga dalamnya juga tinggi, setiap pedang berbenturan, tanganku terasa panas.
Perlahan, Li er memainkan jurus Bidadari angin, tubuhnya dengan lemah gemulai berputar menari dengan pedang angin, suara suara angin yang berasal dari badan pedang, seolah olah pengantar musik dari gerakan gerakan yang Li Er lakukan.
Li Er terus berputar dan menari, semakin lama semakin cepat, dan suara yang di hasilkan dari lobang lobang yang ada di badan Pedang semakin kencang dan mulai tidak beraturan.
__ADS_1
Naga Biru terpana melihat gerakan gerakan pembuka dari anak gadis Sam Ci.
Sambil memainkan jurus bidadari angin, Li er perlahan mulai mendekat ke arah Naga biru.
Naga Biru waspada dan siap sedia, karna gerakan gerakan Li er menimbulkan angin yang membuat debu dan kerikil beterbangan mengikuti tariannya.
Han Ciu juga kagum dengan jurus Bidadari angin , dan baru kali ini ia melihat Li er memainkan jurus itu dari gerakan dasar.
Naga Biru menggengam erat pedangnya yang berwarna biru.
Kuda kudanya perlahan bergeser, melihat Li Er yang sedang berputar.
Naga Biru ber inisiatif menyerang terlebih dahulu, pedangnya menyambar ke arah tubuh Li Er.
Li Er ketika di serang, dengan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi yang ia miliki, bergerak kesamping dan pedangnya menusuk bahu Naga biru.
"Gilaa ! cepat sekali gerakannya," ucap Naga Biru dalam hati, sambil tubuhnya mundur, lalu berbalik, pedang baja biru miliknya di sabetkan ke arah kaki Li Er.
Li er loncat dan dari atas tinju kirinya menghantam ke arah kepala Naga Biru.
Hawa tenaga dalam yang berbentuk seperti tinju melesat mengincar kepala Naga Biru.
Kakek tua itu terkejut, dan tangan kirinya juga menghantam ke atas, berusaha menahan pukulan tinju petir.
Dhuuuar !
Naga Biru terkejut, pukulan awan biru miliknya seperti di tindih oleh Tinju petir Li er, dan pukulan gadis itu terus melesat dengan cepat.
Naga biru mundur sambil bergulingan di tanah menghindari serangan Li er, ketika pukulan awan biru miliknya tak bisa menahan Tinju petir yang di keluarkan Li er.
Wajah dan pakaian Naga biru penuh dengan tanah dan daun kering, bibirnya kembali mengeluarkan darah akibat bergulingan menghindari serangan Li Er.
Li Er terus menyerang Naga Biru, nyali kakek itu mulai pecah, melihat ganasnya jurus tinju dan jurus pedang Li Er.
Dengan segala daya, Naga biru berusaha menghindari serangan serangan gadis itu, Pedang nya sesekali berputar dan menangkis pedang angin milik Li Er.
Tapak kilat melihat kawannya di serang dan tak bisa membalas, lalu melesat sambil kedua tangan berputar dan mendorong ke arah Li Er.
Han Ciu yang melihat Tapak kilat menyerang Li Er melesat dan mendorong kedua tangannya menggunakan ilmu Dewa angin.
Blaaaar !
Tapak kilat mundur, dan menarik Naga Biru.
Han Ciu menyambar pinggang Li Er, dan membawa gadis itu mundur.
Keduanya sama sama menjauh, sementara rombongan pengemis tongkat hitam juga menjauh, karna tadi mereka melihat dasyatnya hawa tenaga dalam dari Tapak Kilat dan Han Ciu ketika bertemu, dan mereka tak berani mendekat.
Tapak kilat menatap tajam Han ciu, ketika Tapak kilat melepaskan Naga Biru.
Bruuk !
Tubuh Naga Biru ambruk, dan perlahan tubuhnya memutih dan seperti beku.
Tanpa sepengetahuan Li Er, Han Ciu dan Tapak Kilat, sewaktu mereka beradu pukulan.
Racun Cilik melepaskan jarum inti es ke arah Naga Biru, jarum kecil melesat cepat dan menembus kening Naga Biru tanpa sempat ia hidari.
Tapak kilat terkejut dan mundur dua langkah melihat Naga Biru tewas dengan tubuh seperti beku dan di kening Naga Biru menancap jarum kecil.
"Bangsaat, kurang ajar, siapa yang beraninya main bokong ?" keparaaat."
Ha ha ha.
"Kenapa marah marah tua bangka ?"
jika bertempur harus siap menerima serangan dari manapun,"
"Mari mari, biar Sam Ci yang akan menghabisi mu." ucap Han Ciu.
Mata Tapak Kilat mengamati, ke arah Han ciu dan ketiga gadis yang berada di sebelahnya.
"Tak kusangka anak anak Sam Ci sangat hebat, jika tahu akan seperti ini, aku bawa orang orang dari perguruan api suci," ucap tapak sakti dalam
Sa Sie Hwa lalu berbisik kepada Racun Cilik,
"Adik Zee, bagaimana jika kita berdua yang habisi kakek itu ?"
Mendengar perkataan Sa Sie Hwa, Racun cilik mengangguk.
"Biar kami yang menghadapi Si tua ini."
__ADS_1
"Apa kau sanggup ?" ucap Han Ciu.
Sa Sie Hwa mengangguk, "aku berdua dengan adik Zee, akan membunuh kakek itu dengan cepat.
Han Ciu mengangguk, "aku akan melindungi kalian."
Sa Sie Hwa tersenyum dan mengangguk, mendengar perkataan Han Ciu.
Sa Sie Hwa lalu menarik tangan Racun Cilik.
dan berbisik, "kau gunakan racunmu yang hebat, biar cepat selesai, mengerti ?"
Racun cilik mengangguk, dan memberikan sebuah pil kepada Sa Sie Hwa.
Sa Sie Hwa, tanpa ragu lalu menelan pil itu.
Walet terbang dan Racun cilik bersiap, Tapak kilat mengerutkan kening, melihat kedua gadis muda yang berhadapan dengannya.
"Kenapa kalian yang maju, suruh saja bapakmu untuk menghadapiku.
Ucapan dari Tapak kilat di balas oleh sabetan pedang Sa Sie Hwa, sambil tangannya melemparkan senjata rahasia.
Shiing !
Racun cilik mengikuti Sa Sie Hwa menyerang Tapak kilat, Tapak Kilat menghidari serangan senjata rahasia dari Sa Sie Hwa.
Kedua tangannya berputar lalu telapak memukul Sa Sie Hwa dan Racun Cilik.
Pedang pendek Sa Sie Hwa melenceng dan tertahan oleh pukulan kakek itu, sebuah jarum melesat ketika tapak kilat berusaha menghantam Sa Sie hwa, tapak kilat memeringkan kepala sehingga jarum lewat si sebelahnya.
Creeep !
Jarum menancap di batang pohon, tak lama kemudian perlahan lahan, pohon berubah menjadi putih.
"Kurang ajar, jadi kau yang membokong Naga Biru ?"
Racun Cilik tak peduli dengan perkataan Tapak kilat.
Keduanya bertempur, jarum dan senjata rahasia, dari hancuran uang perak yang di pakai Sa Sie Hwa dan Racun Cilik, berhamburan menyerang Tapak Kilat.
Tapak kilat, sangat berhati hati melawan kedua gadis muda itu, apalagi jarum yang di lemparkan oleh gadis yang kelihatannya paling muda.
Pertempuran semakin lama semakin seru, tapak kilat pukulannya sangat cepat dan terkadang menimbulkan ledakan ledakan kecil.
Yang membuat gerakan Tapak sakti makin lamban setelah Racun cilik melemparkan berberapa Kali bubuk racun, sambil berputar mengelilingi Tapak sakti.
Kosentrasi Tapak Kilat mulai berkurang, bertarung sambil menahan napas, sungguh berat untuk kakek itu.
Sa Sie Hwa yang melihat gerakan Tapak Sakti mulai lamban, menyerang dengan ganas, sementara itu Racun cilik bibirnya tersenyum, lalu mundur.
"Kurang ajar, tubuhku semakin lama semakin lemas, racun gadis itu sudah terhisap olehku."
Keringat dingin mulai keluar dari wajah Tapak kilat.
Sambil melirik ke arah Racun cilik yang mundur, Tapak kilat lalu menghantamkan pukulan kilatnya ke arah Racun cilik.
"Adik Zee, awas !" teriakan Sa Sie Hwa terdengar kencang, memperingati Zee in Biauw, karna melihat serangan ganas dari Tapak Kilat.
Telapak kanan Tapak Kilat, mengarah dada Racun cilik, Racun Cilik, menghindari ke samping kiri, lalu tangan kanan yang memegang sebuah jarum di tancapkan ke leher Tapak Sakti.
Creeep !
Tapak sakti, langsung memegang leher yang terasa sakit, perlahan gerakannya mulai limbung.
Sambil melotot dan menunjuk nunjuk Racun Cilik.
"Kau ..Kau, wa..wanita racuuun."
Bruuk !
Tapak sakti jatuh dan tewas, wajahnya perlahan berubah hitam.
Sa Sie Hwa tersenyum manis kepada Racun cilik.
Han Ciu mengangkat kedua jempolnya kepada Sa Sie Hwa dan Racun Cilik,
Anggota perkumpulan pengemis langsung bersorak merayakan kemenangan kedua gadis itu.
Sa Sie Hwa tak peduli dengan teriakan teriakan para pengemis, Sa Sie Hwa berjalan menghampiri Han ciu, setelah dekat Sa Sie hwa lalu berbisik.
"Di Kota Sanchuan adalah giliranku"
__ADS_1