
Talaba tanpa membuang waktu terus bergerak, ke tempat dimana mereka berpisah.
Di bantu Fang Ji dan pasukan Pedang api yang mulai bergerak, akhirnya setelah hampir setengah hari berjalan, Talaba berhasil menemukan pasukan Pedang Api.
Pedang api setelah mengetahui kedatangan Talaba, lalu mengumpulkan para pemimpin pasukan untuk mendengar keterangan Talaba yang pergi terlebih dahulu dengan Tan Kui, untuk mengamati pergerakan pasukan musuh yang hendak bergabung dengan kota Shang.
Setelah berkumpul, Talaba mengeluarkan sobekan baju Tan Kui yang telah di gambar peta, tempat pasukan dan jebakan yang ada di hutan.
“Jadi rencana saudara Tan adalah menyergap pasukan Jari api di tengah jebakan yang ada di hutan, kita tahu dimana jebakan berada tapi mereka tidak, itu keuntungan buat kita,” Pedang api berkata kepada.
“Memang itu yang dimaksud oleh paman Tan, guru,” ucap Talaba.
“Baiklah ! kita harus bergerak cepat, jika sampai mereka lewat hutan yang di maksud dan sampai di kota Shang, kita juga yang akan repot nantinya.”
Pedang api lalu memerintahkan pasukannya untuk bergerak ke hutan yang di maksud oleh Tan Kui.
Setelah terus bergerak hanya istirahat untuk makan saja.
Malam kedua, pasukan Pedang api sampai di hutan yang dimaksud oleh Tan Kui.
Talaba lalu membawa 50 orang pasukan panah yang sudah terlatih dan mempunyai tenaga dalam yang bisa di andalkan.
“Aku ikut denganmu,” Tongki berkata sambil bersiap.
Talaba anggukan kepala, lalu mereka berangkat mencari Tan Kui, Fang Ji memimpin di depan.
Berkat penciuman Fang Ji, akhirnya tempat persembunyian Tan Kui berhasil di temukan.
“Bagaimana paman ? Talaba bertanya setelah bertemu dengan Tan Kui.
“Pasukan bintang timur sebentar lagi akan lewat, bagaimana dengan persiapan pasukan yang di pimpin oleh gurumu ? Tan Kui balik bertanya.
Pasukan yang di pimpin oleh guru sudah siap paman,” jawab Talaba.
Setelah mendengar keterangan Talaba, Tan Kui anggukan kepala, kemudian berkata, “mari kita bergerak.”
Tan Kui memimpin perjalanan dan bergerak di ikuti oleh Tongki, Talaba serta pasukannya.
"Kalian menyebar ! Panah pasukan bintang timur serta usahakan pancing kemarahan mereka, setelah itu kita bawa mereka ke tempat lumpur hidup, kemudian dari belakang pasukan kita menghantam.
Talaba serta Tongki anggukan kepala mengerti maksud dari Tan Kui.
50 pemanah berpencar di antara pepohonan besar setelah mendapat instruksi dari Talaba, mereka menyiapkan busur dan anak panah.
“Fang Ji ! Kau pergi ke tempat guru dan beri tanda mereka untuk menyerang di tempat yang telah di tentukan,” ucap Talaba sambil mengelus kepala serigala itu.
Fang Ji seakan mengerti maksud Talaba, lalu pergi menghilang di rimbunnya pepohonan.
Tak lama kemudian derap langkah ribuan pasukan terdengar oleh mereka yang sedang menunggu.
Tongki bersedia menjadi ujung tombak untuk memancing pasukan musuh.
Prajurit bintang timur yang tengah berjalan melihat seorang kakek yang tengah duduk di sebuah batu, langsung berhenti.
Salah seorang perwira pasukan menghampiri Tongki dan bertanya.
“Siapa tuan ? Tanya perwira itu.
Tongki tersenyum dingin lalu menjawab.
“Malaikat maut,” ucap Tongki.
__ADS_1
Perwira itu mendengar perkataan Tongki terkejut, tapi terlambat.
Tongki sudah bergerak melesat.
Sinar hitam berkelabat menebas ke arah kepala perwira kerajaan yang tak siap menerima serangan Tongki.
Whut....Crash !
Kepala perwira itu menggelinding terlepas dari badan terkena tebasan golok api.
Para prajurit bintang timur yang melihat terkejut, dengan kejadian yang begitu cepat.
Teriakan marah dan puluhan senjata di cabut lalu menyerang ke arah Tongki.
Tongki dengan golok api mengamuk di tengah kepungan puluhan prajurit bintang timur.
Tan Kui lompat melihat Tongki di kepung puluhan prajurit bintang Timur.
Tangan dan kaki Tan Kui langsung menghantam.
Plak....buk !
Dua orang prajurit terlempar, dan tewas seketika terkena hantaman Tan Kui.
Seraaang !
Teriak Tan Kui.
Mendengar teriakan Tan Kui, Talaba dan puluhan anak buahnya yang bersembunyi di atas pohon, langsung melepaskan panah.
Shing....Shing....Crep....Crep !
Kejadian di jalan tengah hutan langsung ramai oleh teriakan marah serta jerit kematian.
Potongan kaki, tangan serta kepala prajurit bintang timur yang terpental terkena tebasan golok Tongki menambah semarak.
Awas musuh menyergap.....awas musuh menyergap, teriakan sambung menyambung terdengar di tengah hutan.
Seorang perwira pasukan bintang timur lalu bergerak ke belakang dan melaporkan kejadian penyergapan pihak musuh kepada pemimpin pasukan, Jari api.
Jari api mendengar teriakan² prajurit yang ia pimpin.
Melihat salah seorang perwira yang memimpin pasukan datang, lalu bertanya.
“Apa yang terjadi di depan ? Tanya Jari api.
“Lapor tuan ! Sepertinya pasukan kita di sergap oleh pasukan musuh,” jawab perwira itu.
“Keparat ! Siapa yang berani menghadang pasukan bintang timur di bawah pimpinanku ? Tanya Jari api, wajah kakek itu merah, mendengar perkataan perwira yang melapor.
“Dua orang kakek serta beberapa pemanah menghadang perjalanan pasukan kita tuan,” jawab perwira itu.
Tanpa menunggu waktu lama mendengar perkataan sang perwira.
Jari api langsung melesat dari atas kuda menuju ke arah pertempuran.
Tan Kui yang melihat bayangan dengan cepat melesat ke arah mereka kemudian memberi tahu Tongki.
“Saudara Tong, mari kita pergi ! Karena pemimpin mereka sudah datang,” ucap Tan Kui sambil menendang salah seorang prajurit yang ada di hadapannya.
Mendengar perkataan Tan Kui, Tongki melirik ke arah bayangan berwarna merah.
__ADS_1
Hmm !
“Si jari api,” batin Tongki.
Tan Kui melesat ke sebuah pohon dan memberi tanda kepada Talaba agar mundur.
Tongki menarik lalu mencengkeram salah seorang prajurit, kemudian melemparkan prajurit itu ke arah jari api.
Whut !
Jari api menghindari lemparan Tongki.
Setelah menghindar lalu bergerak kembali.
Melihat Jari api kembali menyerang, Tongki kemudian mengibaskan goloknya ke arah Jari api.
Whut !
Sinar merah berbentuk kipas keluar dari golok, menghantam ke arah Jari api.
Jari api terkejut melihat hawa golok berwarna merah dan berhawa panas melesat ke arahnya.
Jari api mundur, lalu kakinya menginjak kepala salah seorang prajurit bintang timur, kemudian loncat kembali ke arah samping kanan.
Whut !
Jari api berhasil menghindari serangan hawa golok Tongki.
Tapi tidak dengan prajurit yang kepalanya menjadi pijakan Jari api untuk menghindari serangan.
Prajurit itu menatap ngeri ke arah hawa golok berwarna merah yang sudah berada di depannya.
Blar !
Kepala prajurit itu hancur, percikan darah bercampur dengan otak berhamburan mengenai prajurit yang ada di sekitarnya.
Jari api yang marah melihat prajuritnya tewas mengenaskan, melesat dengan cepat ke depan.
Tapi terlambat.
Jari api melihat 2 bayangan hitam menjauh.
Melihat golok dan serangan kakek berbaju hitam itu, Jari api tahu siapa orang yang telah menyergap pasukan dan menyerang ke arahnya.
“Rupanya tikus² selaksa pedang yang ingin main – main denganku,” batin Jari api.
Gigi jari api gemeretuk menahan hawa amarah, melihat bayangan itu berhenti lalu duduk di sebuah pohon besar.
Ratusan prajurit langsung mengejar ke arah Tongki.
Telinga Jari api mendengar suara jarak jauh yang di kirimkan oleh Tongki dengan menggunakan tenaga dalam.
Ha Ha Ha
“Kupikir orang hebat yang memimpin pasukan besar Xiang Yu, ternyata hanya se ekor cecunguk.”
Dada Jari api seperti hendak meledak mendengar ejekan Tongki, wajah kakek berbaju merah itu terlihat sangat kelam.
Dengan mengerahkan tenaga dalamnya, Jari api berteriak sangat kencang.
“Kejaaaar !”
__ADS_1