
Beberapa orang perwira dan puluhan prajurit anak buah Li Cao Bu, langsung mengepung Han Ciu dan Iblis biru, mendengar perintah Li Cao Bu.
“Seorang utusan sudah berani lancang membunuh tuan rumah, dan itu tak bisa di maafkan.”
Li Cao Bu berkata sambil mencabut pedang.
Senyum penuh ejekan tersungging di bibir Han Ciu mendengar perkataan penguasa kota Shang.
“Melihat kelicikannya tekadku semakin bulat untuk menaklukkan kota ini,” batin Han Ciu.
Kedua tangannya sudah bersiap dengan jurus cakar naga hitam.
Hiaaaaat!
Perwira dan prajurit yang mengepung bergerak, puluhan pedang melesat ke arah kepala dan bagian tubuh Han Ciu serta Iblis biru.
Dengan jurus 10 langkah naga langit, Han Ciu bergerak menunduk, sambil bergeser ke kiri menghindari 2 buah pedang yang menyambar kepala dan pinggangnya.
Sambil menghindari serangan, tangan kanan Han Ciu menyambar ke arah bahu seorang prajurit yang hendak membokong Iblis biru.
Tap....Krek....Aaaagggrrr!
Suara jeritan prajurit penjaga gedung terdengar kencang, saat bahunya hancur di remas oleh Han Ciu.
Shing!
Pedang terbang Li Cao Bu melesat ke arah dada Han Ciu.
Han Ciu menarik bahu prajurit itu lalu melemparkan, tubuh prajurit itu ke arah pedang terbang Li Cao Bu.
Crep!
Tak ada jeritan saat pedang terbang menembus dada prajurit itu.
Pedang melesat kembali dan berbalik, lalu menyambar ke arah kepala Han Ciu.
Han Ciu menepak tangan seorang perwira, pedang yang di pegang terlepas, dengan cepat Han Ciu menyambar pedang perwira itu, kemudian melemparkan pedang ke arah pedang terbang Li Cao Bu.
Trang!
Saking kuatnya lemparan, tangan Li Cao Bu bergetar, pedangnya langsung jatuh.
Iblis biru mengamuk, telapak kanan dan kiri mulai menyerang ke arah prajurit.
Plak....Buk!
Dua prajurit terlempar, dengan urat besar di leher serta jantung yang beku, terkena pukulan titik beku Iblis biru.
Mayat prajurit mulai berjatuhan, Han Ciu berusaha memburu Li Cao Bu, tapi serangan Han Ciu, selalu di tahan oleh para perwira Li Cao Bu.
Suara gaduh dan jeritan prajurit yang terkena serangan, membuat prajurit bintang timur mendatangi kediaman pemimpin mereka.
“Paman, buka jalan! biar aku yang tahan mereka,” Han Ciu berkata menggunakan suara jarak jauh.
Iblis Biru anggukan kepala, lalu kedua tangan mendorong ke arah prajurit yang masuk dari pintu depan.
__ADS_1
Jurus angin es, menerjang prajurit yang baru saja datang.
Whuus!
Prajurit terhuyung dengan tubuh menggigil.
Ming Mo bergerak ke arah prajurit itu, kemudian satu persatu, tangannya menghantam prajurit yang tak bisa bergerak, karena urat dan darah yang membeku terkena ilmu angin es.
Melihat jalan keluar sudah terbuka dan Ming Mo melesat.
Han Ciu loncat sambil kedua tangan berputar.
Puluhan bayangan pedang tercipta dari jurus pedang hampa, lalu melesat ke arah prajurit yang hendak memburu.
Awas! Setelah teriak tangan kanan Li Cao Bu, pedang terbangnya meluncur, kemudian berputar berusaha menahan pedang hampa Han Ciu.
Ting...Ting ....Crep....Crep!
Puluhan pedang hampa rontok ketika bertemu putaran pedang terbang Li Cao Bu, tapi sebagian masih ada yang lolos dan menembus tubuh para prajurit yang terlambat menghindar.
Li Cao Bu melesat dengan ilmu meringankan tubuhnya, tapi setelah berada di depan gedung, Li Cao Bu hanya melihat di kejauhan, 2 buah bayangan melesat dengan sangat cepat dan loncat ke atas benteng, lalu menghilang di kegelapan malam.
Ada perasaan gentar di hati Li Cao Bu melihat utusan yang di kirim oleh Han Ciu.
Berada di sarang musuh, tanpa gentar kedua utusan itu berhasil membunuh puluhan prajurit dan beberapa orang perwira, dan mereka juga lolos dengan mudah.
Kening di wajah Li Cao Bu tampak berkerut sambil menatap ke arah benteng tempat menghilangnya kedua utusan.
Hanya seorang utusan, tetapi kepandaiannya sangat tinggi.
“Kenapa kita harus melarikan diri? Tanya Iblis biru yang melesat bersama Han Ciu kembali ke tempat di mana pasukan mereka berkumpul.
“Paman! Dua kepalan tak bisa mengalahkan ratusan, kita harus sabar, karena tenaga kita ada batasnya, aku melihat ratusan prajurit musuh mulai mendekati rumah Li Cao Bu, jika terlambat keluar dari gedung itu, kita pasti celaka.” Ucap Han Ciu.
Zhain Li Er, Xiao Er serta anak buahnya yang lain, selalu menatap ke arah kota Shang, mereka gelisah ketika mendengar benturan senjata, dan teriakan² yang terdengar dari dalam kota Shang.
Akhirnya mereka bisa tenang setelah melihat 2 buah bayangan melesat keluar dari kota Shang.
Han Ciu langsung menuju tendanya, lalu membuka topeng tipis yang ia gunakan, tak lama kemudian anak buah yang lain datang untuk mendengar keterangan sang pemimpin yang menyamar menjadi seorang utusan bersama Iblis biru.
Han Ciu kemudian menceritakan bagaimana keadaan serta kekerasan hati Li Cao Bu yang tak mau menerima permintaannya untuk menyerahkan diri, malah Li Cao Bu ingin membunuh utusan yang menyampaikan pesan.
“Bangsat, Kak Han kita serang mereka! Ucap Zhain Li Er sambil kepalkan tangannya.
“Memang itu rencanaku,” lanjut perkataan Han Ciu, “siapkan tali dan bambu panjang serta tangga untuk prajurit kita naik ke atas benteng, aku sendiri yang akan membuka jalan ke atas benteng.”
“Talaba! kau dan pasukanmu, lindungi kami selama menerobos pertahanan musuh.”
“Baik ketua,” ucap Talaba.
Pagi hari, suara trompet perang serta genderang di bunyikan untuk menambah semangat dan meruntuhkan nyali musuh.
Han Ciu, Zhain Li Er, Iblis Biru, Tongki, Dewi Kipas serta Xiao Er.
Mereka masing² Di kawal oleh 50 orang pemanah Handal yang bertugas untuk melindungi mereka membuka jalan.
__ADS_1
dan prajurit yang siap dengan ratusan bambu, tali serta tangga untuk naik ke atas benteng.
Serang!
Teriak Han Ciu sambil memecut kuda yang ia tunggangi, ratusan panah melesat ke arah Han Ciu, tapi dengan pedang tulang naga di tangannya, panah² musuh berhasil di tahan, dengan memutar pedang yang di barengi dengan tenaga dalam tinggi.
Di belakang Han Ciu, pasukan yang bertameng, siap melindungi pasukan panah yang mengincar para pemanah musuh.
Ting....Ting....Ting!
Ratusan panah melesat.
Prajurit yang membawa tameng, langsung menaruh tameng di atas kepala sambil melindungi para pemanah.
Shing....Shing....Shing.
Di sela² tameng, para pemanah melesatkan anak panahnya.
Han Ciu terus memacu kuda mendekati, lalu melesat terbang di belakang panah² yang di lesatkan anak buahnya, sementara kudanya tersungkur oleh ratusan panah.
Para pemanah terkejut, melihat musuh membalas memanah mereka dari balik tameng, di belakang puluhan panah, Han Ciu seperti terbang ke atas benteng sambil mengibaskan pedangnya, sedangkan tangan kiri, mengeluarkan jurus pedang hampa.
Setelah 2 kali mencoba, Akhirnya Han Ciu berhasil menancapkan tombak² kecil, kemudian perlahan naik ke atas benteng.
“Serang! Jangan biarkan naik,” teriak salah seorang perwira musuh, melihat Han Ciu berhasil menerobos hujan anak panah.
Setelah berhasil naik ke atas benteng, Han Ciu yang di kepung puluhan prajurit bintang timur mengamuk.
Perhatian prajurit bintang timur yang terpusat kepada Han Ciu, membuat prajurit²nya perlahan berhasil naik, tapi korban di pihak Han Ciu lumayan besar, tapi semangat besar yang di miliki prajurit Han Ciu membuat gentar pasukan bintang timur pimpinan Li Cao Bu.
Li Cao Bu yang mondar mandir di tempat kediamannya.
Ketika melihat seorang perwira masuk, langsung bertanya.
“Bagaimana....bagaimana dengan pasukan tuan Jari api! Tanya Li Cao Bu.
Ribuan pasukan bergerak dari arah Taiyuan tuan, mereka menuju gerbang utara, ucap perwira itu, wajahnya terlihat gembira.
Ha Ha Ha.
“Cepat....cepat kau buka gerbang utara, lalu perintahkan pasukan yang ada di sana untuk bergerak ke selatan.
Suruh tuan Jari api menyusulku ke gerbang utama, lalu sama² kita musnahkan orang She Han itu.” Wajah Li Cao Bu tampak bersemangat ketika berkata.
“Baik tuan,” ucap sang perwira.
Sementara itu di jalan yang menuju gerbang utara, pasukan yang memakai seragam bintang timur bergerak dengan cepat di pimpin oleh seorang berpakaian merah yang memakai caping.
Saat melihat bendera berkibar, di atas gerbang utara dan perlahan pintu gerbang terbuka.
Pria berpakaian merah yang tak lain Pedang api tersenyum dingin, ia memerintahkan anak buahnya untuk melucuti pakaian prajurit bintang timur pimpinan jari api yang tewas, kemudian menyuruh anak buahnya memakai seragam musuh, dan pasukan yang menyerahkan diri dengan seragam lengkap yang kurang lebih berjumlah 200 di kawal oleh pasukan pedang api bergerak semakin mendekat.
Pasukan Pedang api yang memakai seragam prajurit bintang timur, perlahan mendekati gerbang utara yang terbuka lebar.
Senyum terlihat di bibir Pedang Api.
__ADS_1
“Begitu pasukanku masuk, hari itu juga kota Shang akan jatuh.”