Naga Hitam Dan 4 Selir

Naga Hitam Dan 4 Selir
Ch 236 : Kau pikir kami bodoh ?


__ADS_3

Wajah Li Cao Bu berubah, mendengar perkataan Tongki.


Perwira yang menyamar dan memikul Sayur berpaling ke arah Li Cao Bu.


"Sayur apa yang tuan butuh kan? tanya perwira yang berada paling depan, setelah melihat anggukan Li Cao Bu.


"Hai muka sirop, kau suka sayur apa ? Tanya Tongki.


Hmm!


Iblis biru mendengus mendengar perkataan Tongki.


“Hmm....kalau sudah tua, jangan makan kacang, gigimu tak akan kuat,” Tongki berkata kembali.


“Ada sawi? Tanya Tongki.


“Sawi tidak ada tuan.” Jawab perwira yang sedang menyamar, wajah perwira itu mulai berkeringat.


“Kangkung saja, temanku sudah tua, jadi harus makan yang empuk²” ucap Tongki, sambil sebelah tangan mengusap dagu.


Phuih !


Iblis biru meludah ketika mendengar perkataan Tongki.


Perwira yang memikul keranjang sayur, semakin gelisah, sebelum menjawab ia menoleh ke arah Li Cao Bu.


Li Cao Bu perlahan anggukan kepala.


“Kangkung juga sudah habis tuan,” jawab perwira.


“Lalu keranjang ini isinya apa?”


Buk!


Tongki menendang keranjang sayur yang mereka pikul.


Keranjang goyang ke kiri dan ke kanan.


Kedua Perwira yang memikul, terhuyung.


“Apa maksud tuan menendang keranjang sayur kami? tanya cakar rajawali.


“Kalian penjual sayur, tapi sayur yang kutanyakan, semuanya tidak ada.”


Phuih!


“Aku beli semua sayur yang ada di dalam keranjang, bagaimana? Tanya Tongki.


“Li Cao Bu, kau jual tidak semua sayur yang ada di dalam keranjang? Tanya Han Ciu.


Phuih!


“Rupanya kalian dari tadi mempermainkanku! Ucap Li Cao Bu sambil mendengus.


Kelima perwira menaruh keranjang, kemudian mengambil pedang yang tertutup sayur dari dalam keranjang, lalu bersiap.


Cakar Rajawali, memegang tongkat kecil yang terbuat dari baja putih yang ujungnya berbentuk cakar rajawali.


Whut!


Iblis biru melesat, tangannya menebas ke arah bahu salah seorang perwira.


Shing!


Dari sisi kanan, pedang kawan perwira itu menebas ke arah tangan Iblis biru.


Iblis biru menarik serangannya, ujung lengan baju yang agak panjang di aliri tenaga dalam, melecut ke arah muka perwira yang menebas tangannya.


Tar!


Sang perwira sempat mundur, tapi sabetan ujung baju tetap mengenai pipinya,


Darah langsung mengucur dari pipi sang perwira.


Cakar rajawali melesat ke arah Han Ciu


Senjatanya yang berbentuk kaki rajawali menghantam kepala Han Ciu.


Han Ciu mundur, kemudian bergerak ke arah kanan, lalu menendang pinggang Cakar Rajawali


Cakar rajawali terkejut dan tak menyangka Han Ciu bakal balik menyerang


Cakar Rajawali mundur, sambil tongkat baja yang ujungnya berbentuk cakar, menyambar ke arah kaki Han Ciu.


Whut!


Tangan kiri Han Ciu mengibas, sebuah pedang hampa menghantam ke arah tongkat baja Cakar Rajawali.


Han Ciu mengerahkan tenaga dalam sebesar 7 bagian,


Trang!


Tangan kanan yang memegang tongkat gemetar, Cakar Rajawali langsung mundur.


Cakar Rajawali terkejut, musuhnya masih terlihat muda, tapi tenaga dalamnya sangat tinggi.

__ADS_1


Cakar Rajawali berdiri di depan Han Ciu sambil menatap tajam.


Lalu bertanya kepada Han Ciu.


“Siapa kau anak muda?


“Kau tak perlu tahu,” jawab Han Ciu.


Phuih!


“Sombong sekali kau! Aku jadi ingin tahu, apa kesombongan dan kepandaianmu sama besarnya? Ucap Cakar Rajawali.


Sementara di dekat Han Ciu, iblis biru serta Tongki berdiri di depan Li Cao Bu serta kelima perwira.


“Tukang tipu! Li Cao Bu bagianku, kau ambil 5 orang itu.” Seru Iblis biru kepada Tongki.


Iblis biru kesal di sebut muka sirop, dan membalas dengan memanggil tukang tipu.


“Tunggu dulu....tunggu dulu, apa maksudmu menyebut aku tukang tipu? Tanya Tongki sambil bertolak pinggang.


Phuih!


“Kau merasa tidak? Ucap Iblis biru sambil meludah.


“Terkadang,” jawab Tongki.


“Lalu kenapa kau tidak terima? Iblis biru membalas perkataan Tongki.


“Kenapa malah mereka yang bertengkar,”


“Tapi ini adalah kesempatan bagiku, biar kelima perwira itu menghadang mereka, kemudian aku kabur.” Batin Li Cao Bu.


“Kalian hadang kedua orang tua itu, jika kalian menang, kalian boleh ambil harta yang ada di dalam keranjang,” bisik Li Cao Bu kepada kelima perwira anak buahnya.


Kelima perwira anggukan kepala, mendengar perkataan Li Cao Bu.


Kelimanya mencabut pedang, kemudian membuang sarung pedang dan menyerang ke arah Tongki serta Iblis biru yang tengah beradu omong.


Melihat kelima perwira sudah melesat dan menyerang musuhnya.


Li Cao Bu langsung mengeluarkan ilmu meringankan tubuh dan melesat hendak melarikan diri.


“Baru saja Li Cao Bu loncat, lalu berhenti dan diam terpaku melihat Iblis Biru sudah berada di depannya.


“Mau kemana? Tanya Iblis biru.


“Sepertinya sudah tak ada pilihan lain,” batin Li Cao Bu sambil mengeluarkan pedangnya.


Para pengungsi banyak yang lari ketakutan, tetapi banyak pula yang penasaran menonton pertarungan, para pengungsi terkejut dan tidak menyangka bahwa pemimpin mereka melarikan diri dari pertarungan dan kabur dengan cara pengecut.


Hati mereka sangat kesal kepada Li Cao Bu, karena merasa telah di khianati.


Kelima perwira anak buah Li Cao Bu, mengurung Tongki.


Tongki mencabut golok api lalu memutar mutar pelan, di tengah kepungan kelima perwira itu, sambil tersenyum.


Perwira yang pipinya sobek terkena sabetan ujung baju Ming Mo, menebaskan pedangnya.


Tanpa ragu Tongki menghantamkan goloknya ke arah pedang.


Trank!


Pedang milik perwira itu langsung patah beradu dengan golok milik Tongki.


Melihat pedang kawannya patah, ke empat perwira lain menyerang Tongki.


Empat pedang melesat ke empat bagian tubuh Tongki, satu ke arah kaki, dua kebagian badan dan satu ke kepala.


Dengan ilmu meringankan tubuhnya, Tongki tegak lurus melesat ke atas menghindari serangan 4 pedang, setelah berada di atas, Tongki menginjak salah satu kepala perwira dan langsung melentingkan tubuhnya.


Setelah turun dan berada di belakang perwira itu golok Tongki dengan cepat menusuk ke arah punggung.


Crep!


Kejadian yang begitu cepat dan tak di sangka, membuat mereka tak bisa membantu kawan mereka yang di serang oleh Tongki.


Golok menembus punggung hingga dada,


Perwira itu langsung tewas.


Perwira yang pedangnya patah, melihat golok Tongki masih menancap di tubuh kawannya.


Langsung melemparkan potongan pedang ke arah kepala Tongki.


Shing!


Tongki menarik golok lalu menangkis pedang buntung musuh.


Trank!


Pedang terpental, tapi sebelum pedang buntung itu jatuh ke tanah, golok Tongki menghantam gagang pedang.


Pedang melesat dan balik ke arah si pelempar.


Perwira yang melempar terkejut dan tak menyangka pedangnya akan berbalik.

__ADS_1


Dan ia tak sempat menghindar karena jaraknya yang tidak terlalu jauh.


Shing....Crep!


Pedang menancap di kepala, hingga tembus sampai gagang pedang, saking kerasnya hantaman golok Tongki.


3 perwira yang tersisa terkejut melihat keganasan Tongki, dan mereka yakin bahwa musuh yang ada di depan mereka bukan orang sembarangan.


Apalagi setelah melihat orang kepercayaan pimpinan mereka si Cakar Rajawali terus di desak oleh pemuda yang menjadi lawannya.


“Mari kita serang bersama,” ucap salah seorang perwira kepada kedua temannya, walau ia tahu untuk meraih kemenangan melawan kakek itu sangat sulit.


Ketiga perwira serempak mengangkat pedang, lalu melesat ke arah Tongki, masing² mengambil satu bagian, ke atas, tengah dan bawah.


Tiga serangan yang dilakukan secara bersama sama, dan hawa tenaga dalam yang keluar dari ketiganya berkumpul menjadi satu, menyerang ke arah Tongki.


Tongki memutar goloknya, golok api yang besar serta panjang, bisa melindungi bagian kepala dan badan, semakin lama putaran golok semakin kencang, angin berhawa panas keluar dari putaran golok.


Serangan hawa pedang ketiga perwira melesat dan menghantam angin panas yang keluar dari putaran golok Tongki.


Blam!


Ketiga perwira yang melesat, menyabetkan pedangnya.


Trank....Trank!


Tebasan ke arah kepala, dan bahu menghantam golok dan tak bisa menembus putaran golok Tongki.


Sedangkan serangan yang mengarah kaki, Tongki hanya mengangkat kaki kanannya, serangan pedang lewat dan tak menemui sasaran.


Saat pedang dua perwira terpental, golok Tongki dengan cepat melesat ke arah pinggang salah seorang perwira.


Bres!


Golok Tongki dari sisi kanan pinggang perwira itu masuk sampai ke perut.


Perwira itu mendelik menahan sakit, kawannya yang menyerang ke arah kepala, langsung mundur, wajahnya pucat, ia melihat ujung golok Tongki di sisi lain pinggang sang kawan.


Tongki, tak mau menunggu, melihat lawannya diam sambil menatap kearah kawannya yang tengah meregang nyawa, Tongki menghantam kan tangan kirinya ke arah perwira itu.


Perwira itu tak menyangka Tongki bakal menyerang, ia tak sempat menghindar ketika hawa tenaga dalam berwarna kemerahan melesat ke arahnya.


Blam!


Tubuh perwira itu langsung terpental dan menghantam sebatang pohon besar yang ada di sisi jalan, ketika terkena hantaman pukulan hawa neraka yang di lepaskan tangan kiri Tongki.


Tubuh perwira itu jatuh ketanah dari mulutnya keluar darah berwarna hitam,


Bagian dada perwira tampak hitam, hangus terkena hantaman Tongki.


Satu perwira yang tersisa mundur, wajahnya pucat, kakinya gemetar, tak terasa perlahan keluar air, dari dalam celana perwira itu.


Saking takutnya, perwira itu sampai terkencing di celana melihat kedua kawannya tewas mengenaskan.


Tongki menarik goloknya yang tertancap di pinggang.


Perwira yang sudah ketakutan melesat ke arah Tongki, hendak bersujud dan menyerahkan diri.


Tapi Tongki yang melihat musuh melesat lalu membungkuk dengan celana yang masih basah oleh air kencingnya sendiri.


Tangan kiri Tongki menarik lengan perwira itu, matanya lalu menatap ke arah Cakar Rajawali yang tengah bertempur dengan Han Ciu.


Phuih!


“Memalukan, kepandaian seperti itu ingin melawan ketua,” batin Tongki


Tongki setelah menarik tangan perwira itu, kemudian memutar perwira yang sudah tak sadarkan diri karna ketakutan.


Tongki mengirimkan suara jarak jauh kepada Han Ciu.


"Cakar kambing itu tak pantas menjadi lawan ketua, biar aku saja yang habisi," ucap Tongki.


Han Ciu melirik ke arah Tongki, lalu anggukan kepala.


Setelah melihat Han Ciu anggukan kepala, Tongki lalu melemparkan perwira itu ke arah Cakar rajawali.


Tubuh perwira itu berputar melesat.


Cairan hangat muncrat di sekeliling tubuh perwira itu.


Han Ciu tersenyum lalu tangannya mengibas mengeluar kan pukulan dewa angin ke arah butiran air yang keluar dari celana sang perwira.


Cakar Rajawali yang tengah menghantamkan tongkat baja, tapi sebelum mendekat, hantaman tongkat tertahan oleh kibasan tangan Han Ciu


Cakar Rajawali terkejut ketika mendengar suara menderu di sampingnya, lalu menoleh.


Plak!


Wajah Cakar Rajawali terkena hantaman tubuh anak buahnya yang di lemparkan Tongki.


Wajah Cakar Rajawali penuh dengan air kencing anak buahnya sendiri, sewaku bokoong anak buahnya menghantam wajah.


Han Ciu tersenyum sambil gelengkan kepala.


Sedangkan Tongki tertawa terbahak bahak, kemudian bertanya, ketika melihat Cakar Rajawali terus mengusap wajahnya yang penuh dengan air seni

__ADS_1


Ha Ha Ha


“Bagaimana rasanya?


__ADS_2