Naga Hitam Dan 4 Selir

Naga Hitam Dan 4 Selir
Ch : 77 Benang merah mulai terungkap dan mendapat tambahan ilmu


__ADS_3

"Kuat juga bocah ini, biasanya dalam hitungan detik racun peremas hati penghancur usus akan menghancurkan isi perut orang yang terkena, tapi isi perut bocah ini seperti di lindungi oleh tenaga dalam yang ada di perutnya.


Perlahan kakek itu membuka baju, dan terkejut ketika melihat rajah naga hitam di dada kiri Han ciu, "apa ini kerjaan Han ci kung ?" dia pernah bilang sebelum sekte naga hitam hancur, hidupnya tidak akan tenang." setelah berpikir sebentar.


Kakek kurus itu kemudian memeriksa kembali urat urat di dada Han ciu, lalu menotok beberapa urat besar di dada, kemudian kakek itu mengambil botol kecil dari balik baju, mengeluarkan sebuah pil dan memasukannya ke mulut Han ciu, dan menaburkan obat luka di bahu kiri bekas luka pisau.


Perlahan sang kakek mengangkat bahu Han ciu, lalu mendudukannya, kemudian menepak nepak perut Han ciu.


Setelah di tepak tepak, tak lama kemudian Han ciu langsung memuntahkan beberapa kali darah segar berwarna hitam yang berbau busuk.


Perlahan wajah Han ciu berubah merah, dan nafas mulai teratur.


"Aku seperti meraba sesuatu di belakang tubuh bocah ini, lalu kakek itu mengeluarkan sepasang pedang pendek naga hitam."


"Pe..Pedang naga hitam !" rupanya ia pewaris kitab Dewa pedang." ucap sang kakek dalam hati, dan wajahnya seperti sedang berpikir


"Aku harus membawa bocah ini sebelum kabut datang, jika kemalaman di lembah kabut, bisa bisa besok pulangnya, Zee in biauw, murid pemalu itu biar ada kerjaan mengurus bocah ini."


Kakek itu menaruh keranjangnya di bawah pohon, kemudian menggendong Han ciu di punggung, lalu melesat meninggalkan lembah yang mulai di selimuti kabut dan menutupi pemandangan.


****


Han ciu perlahan membuka mata ketika wajahnya terasa panas, lalu menutup kembali ketika matanya terasa silau oleh sinar matahari.


"Dimana aku ?" ucap Han ciu dalam hati.


"Guru.!" dia sudah sadar."


Tak lama kemudian terdengar langkah kaki mendekat.


Han ciu perlahan kembali membuka matanya ketika merasa sebuah tangan menyentuh dan meraba urat nadi di tangannya.


Han ciu melihat di depannya seorang kakek kurus dengan tubuh bungkuk dan jenggot panjang, dan seorang pemuda yang wajahnya bulat telur dengan mata bening dan rambut di gelung berpakaian abu tua, layaknya seorang tabib muda.


Ketika Han ciu dan tabib muda itu saling tatap, tabib itu langsung membuang muka.


He he he


"Akhirnya sadar juga."


"Apa kakek yang telah menyelamatkan aku ?"


"Kau kuat untuk duduk ?" ucap sang kakek.


Han ciu perlahan bergerak, dan akhirnya bisa duduk di ranjang yang terbuat dari bambu.


Tabib muda terlihat sedang memegang sebuah mangkok dari tanah liat yang berisi air obat yang masih panas dan mengeluarkan asap


"Hai tompel, siapa namamu ?"


"Han ciu"


"Tak salah dugaanku, marga Han," ucap sang kakek, lanjut perkataannya.


"Kalau sudah kuat berjalan temui aku," setelah berkata sang kakek keluar, sedangkan tabib muda tanpa bicara lalu menyuapkan sendok berisi obat ke mulut Han ciu, obat penguat tubuh dan penambah tenaga perlahan masuk ke dalam mulut Han ciu, setelah obat habis.


"Itu baju ganti buat tuan," setelah berkata.


Tabib muda itu lalu pergi keluar.


Perlahan rasa hangat timbul dalam perut, setelah Han ciu meminum obat.


Han ciu lalu mencoba membangkitkan tenaga dalamnya, perlahan ia meresakan pergerakan dari dalam perut dan keluar menyebar, badannya perlahan mulai segar kembali.


Han ciu melihat baju berwarna abu muda, yang di lipatan kain dekat kancing berwarna putih, ciri khas seorang tabib, di dekat tempat ia berbaring.

__ADS_1


Setelah agak siang Han ciu lalu memakai baju, dan keluar dari ruangan tempat ia di rawat.


Han ciu mengerutkan kening dan baru sadar ketika melihat di meja depan kakek yang tengah duduk bersama dengan tabib muda, sepasang pedang naga hitam berada di atas meja.


"Duduk !"


Han ciu mendengar suara kakek itu lalu duduk.


"Darimana kau dapat sepasang pedang ini ?"


Han ciu diam ketika mendengar perkataan kakek itu, Han ciu ragu antara menjawab dan tidak, tetapi setelah berpikir bahwa ia telah di selamatkan, akhirnya Han ciu menjawab.


"Warisan dari keluarga."


Phuuuih !


"Setahuku Dewa pedang tak punya keturunan, apalagi berasal dari Sekte naga hitam."


Wajah Han ciu berubah ketika mendengar perkataan dari sang kakek.


"Bagaimana kakek tahu, aku berasal dari sekte naga hitam ?"


"Jika kau tak ingin di ketahui, lebih baik kau hapus saja rajah naga di dadamu !" ucap sang kakek.


"Margamu Han bukan ?"


Han ciu langsung berdiri ketika mendengar perkataan kakek yang berada di hadapannya.


Bhuahaha ha ha.


Kakek itu tertawa, melihat Han ciu kaget ketika mendengar perkataannya.


"Semua orang dari sekte naga hitam bermarga Han, karna memang satu marga, pendiri sekte naga hitam bermarga Han dan semua penghuni sekte adalah keluarga, tidak ada orang luar.


Lalu kenapa kau kaget, apa kau tidak tahu ?" ucap sang kakek sambil menatap heran.


"Siapa kakek dan apa hubungan kakek dengan sekte naga hitam ?" Han ciu berkata sambil menatap tajam kakek kurus yang berada di depannya.


Kakek kurus tampak termenung, lalu menarik nafas panjang, seperti ada sebuah beban yang ingin ia hempaskan keluar.


"Dosa masa lalu dan memalukan akhirnya, terkuak kembali, mungkin memang sudah jodoh." kakek itu berkata.


Aku di sebut Racun langit dan ini muridku racun kecil.


Aku dulu mempunyai murid yang berasal dari sekte naga hitam tetapi ia telah di usir, bernama Han ci kung, dari Han ci kung aku tahu lebih jelas tentang sekte naga hitam.


Wajah Han ciu berubah, mendengar perkataan dari racun langit yang berada di depannya bahwa ada seorang dari sekte naga hitam yang masih hidup.


"Apa dia..dia berguru belum lama ini sama kakek ?"


"Dia berguru jauh sebelum sektemu Hancur," Racun langit menjawab pertanyaan Han ciu.


Dan gara gara dia aku di buru oleh beberapa tokoh tua, karna di curigai terlibat dengan sekte naga hitam, karna racunku ada di salah satu tokoh orang yang di hormati dunia persilatan.


Han ciu mengerutkan dahi, mendengar perkataan dari racun langit


"Maaf jika boleh tahu, siapa nama tokoh yang dimaksud ?" Han ciu bertanya.


Lim taihiap !


Braaak !


Han ciu menggebrak meja yang ada di depannya, racun langit dan racun kecil sampai jingkrak saking kaget, karna kerasnya gebrakan Han ciu dan tak menyangka pemuda itu akan menggebrak meja.


"Apa apaan kau !" memangnya ini rumahmu main gebrak sembarangan."

__ADS_1


"Maaf kek, aku gembira, karna benang merah atas hancurnya sekte naga hitam sudah terbuka sekarang, dan aku rasa murid kakek adalah otak di belakang semua fitnah yang terjadi atas sekte naga hitam, apalagi tadi kakek bilang dia adalah orang yang terusir dari sekte." ucap Han ciu.


"Gembira ya gembira, tapi jangan main gebrak sembarangan." racun langit berkata sambil cemberut, sementara Racun kecil menutupi mulut menahan tawa.


Han ciu melirik ke arah Racun kecil, "tampilannya lelaki tulen dan dadanya aku lihat rata, kenapa lagu lagaknya kaya perempuan ?" ucap Han ciu dalam hati.


"Siapa nama keluargamu di sekte naga hitam ?"


"Han bu ci, ketua sekte naga hitam."


"Pantas Han ci kung benci sekali kepadamu, agaknya dia sudah tau siapa kau sebenarnya, racun peremas hati penghancur usus yang tidak berbau adalah racun langka dan susah membuatnya, jika sampai di gunakan harus benar benar untuk orang yang berharga." ucap racun langit.


"Jika kau hanya mengandalkan 3 jurus yang terdapat di dalam kitab Dewa pedang, jangan harap kau bisa mengalahkan Han ci kung."


"Karna sebelum Han ci kung berguru padaku, dia sering berguru dan menipu tokoh tokoh sakti untuk mendapatkan ilmu, agar bisa merebut sekte naga hitam.


"Han ci kung otaknya sangat pintar dan licik, sejak aku dengar Lim taihiap terkena racun pelemas tulang, aku memburu murid murtad itu tapi jejaknya seperti lenyap di telan bumi, hingga saat ini." Racun langit berkata sambil menarik nafas panjang.


Han ciu semakin kaget mendengar perkataan dari Racun langit, bukan mendengar perihal Han ci kung, tapi tentang 3 jurus kitab Dewa pedang yang telah ia pelajari.


"Apa kakek tahu tentang kitab Dewa pedang ?"


"Semua angkatan seumuranku tahu tentang kitab dewa pedang, tapi hanya sedikit orang yang tahu rahasia di balik pedang naga hitam."


Hanciu semakin penasaran ketika mendengar perkataan dari Racun langit."


"Apa aku boleh tahu rahasia itu ?" ucap Han ciu.


"Boleh, asal kau mau berjanji membawa muridku untuk mencari dan membasmi Han ci kung, aku akan memberi petunjuk, bagaimana ?"


Han ciu diam, dan melirik sebentar ke arah racun kecil.


Hmm !


"Bukannya membalas, nanti malah bakal bikin repot aku, melihat dari orangnya seperti tak punya kemampuan."


"Baik !" murid kakek bisa ikut denganku asal jangan bikin repot saja.


"He he he, akhirnya kau bisa liat dunia luar." Racun langit melirik ke arah muridnya yang hanya diam.


"Dan satu lagi !" kau harus merelakan sepasang pedang naga hitam jika ingin mempelajari, jurus pamungkas Dewa pedang.


"Apa tidak pilihan lain ?" aku butuh sepasang pedang naga hitam untuk membalas dendam," Han ciu berkata.


"Semua terserah padamu, aku hanya menyampaikan amanat saja,"


Setelah berpikir baik, buruknya, dan jika sampai ia di bohongi, toh ia akan membunuh kakek yang telah berada di depannya," pikir Han ciu akhirnya pemuda itu mengangguk.


Racun langit tersenyum dan berkata, "akhirnya aku bisa melihat jurus yang dulu pernah dimainkan sahabatku,"


Racun langit lalu mengambil kedua pedang, setelah menimbang nimbang, yang terasa lebih berat ia pegang di tangan kanan, sedangkan yang lebih ringan ia pegang dengan tangan kiri.


"Sepasang naga hitam jantan dan betina, susah untuk di patahkan dan di rusak oleh pusaka apapun, tetapi satu sama lain, kedua pedang ini saling membutuhkan, dan jika tak salah di sinilah letak dari rahasia itu." setelah berkata, pedang naga hitam di tangan kanan dan ditangan kiri seperti mengeluarkan cahaya karna telah dialiri tenaga dalam oleh Racun langit.


Lalu kedua badan pedang di hantamkan satu sama lain, sepasang pedang hitam Hancur, dan dari badan pedang masing masing keluar sebuah gulungan kain sutra yang tipis.


Racun langit tersenyum dan membuka gulungan kain sutra yang pertama, yang bertuliskan


"Jiwa pedang."


Lalu mengambil gulungan satu lagi, dan membacanya.


"Jurus Selaksa pedang hampa."


Racun langit lalu menatap ke arah Han ciu.

__ADS_1


"Mulai besok kau pelajari kedua jurus ini."


__ADS_2