Naga Hitam Dan 4 Selir

Naga Hitam Dan 4 Selir
Ch : 155 Saling Sergap


__ADS_3

“Lagak mu selalu tak pernah berubah, tenang seperti aku, amati situasi lalu tinggal berangkat,” ucap lblis Biru.


“Jadi kau tahu tempatnya ?” tanya Tongki.


“Tidak, aku tunggu ketua,” Jawab lblis biru.


Phuuih !


“Jika sama tidak tahu seperti ku, lebih baik kau diam,” ucap Tongki kesal.


Mereka berdua kemudian berlari semakin cepat, karna Fang Ji yang di ikuti oleh Han Ciu juga berlari semakin cepat.


Fang Ji terus berlari masuk ke dalam hutan.


Han Ciu tanpa ragu terus mengikuti Fang Ji, yang berlari.


Setelah jauh berlari, Fang Ji lalu menatap ke arah sebuah bukit yang di bawahnya, terdapat sebuah jalan besar.


Han Ciu mengelus leher Fang Ji lalu kemudian menatap tajam ke arah bukit, yang banyak terdapat pohon – pohon rindang, sepertinya mereka sedang bersembunyi di bukit itu.


Han Ciu kemudian mengumpulkan mereka untuk mengatur rencana, apa yang harus mereka lakukan, sebab menurut keterangan orang yang berada dalam benteng, Tongkat Naga membawa 200 orang anggota perguruan Naga Api, mereka belum tahu, di bawah Tongkat Naga apa ada lagi, orang yang hebat karna dari tempat sergapan, agaknya mereka hendak menyerang dari atas bukit.


“Aku, Sa Sie Hwa beserta 20 orang perguruan Selaksa Pedang mencoba menyerang dari arah Kiri, sementara Paman Iblis Biru beserta Tongki menyerang dari arah kanan.


“Talaba di posisi tengah dengan 10 orang pemanah anak buahnya melindungi kami yang mengacak acak tempat persembunyian mereka, tapi jika melihat ada musuh yang bisa kalian atasi, sikat saja.”


Talaba mengangguk mendengar perkataan Han Ciu.


“Ingat !” jangan memaksakan kehendak, kita kalah jumlah, jika terdesak lebih baik berpencar atau merapat tergantung situasi yang ada, jika kekuatan mereka adalah murid biasa, aku rasa tak akan susah untuk menghancurkan mereka.


“Tapi kita harus waspada dengan orang perguruan Naga Api yang bersembunyi, karna kita tidak tahu dimana mereka berada, dan aku yakin mereka adalah pasukan panah yang di tempatkan khusus.


“Apa kalian semua sudah mengerti maksudku ?” tanya Han Ciu kepada mereka, yang berada bersamanya.


Iblis Biru, Talaba serta Tongki mengangguk mendengar perkataan Han Ciu.


Han Ciu di ikuti Sa Sie Hwa beserta 20 orang anggota perguruan Selaksa Pedang bergerak ke arah kiri, tak lama kemudian rombongan Iblis Biru serta Tongki bergerak ke arah kanan.


Sedangkan Talaba matanya menatap kearah bukit, ia mencari tempat yang tepat untuk pasukan pemanahnya.


Setelah melihat bukit tempat musuh menyergap banyak pohon – pohon tinggi besar dan terlihat agak rapat, Talaba tersenyum, itu tempat yang tepat untuk pasukanku yang akan membantu dari jauh.


Han Ciu memiliki keuntungan lebih, karna Fang Ji ada di depan, seperti layaknya pencari jejak, Fang Ji bergerak hati – hati sambil mengendus endus bau musuh di sekitar mereka.


Melihat Fang Ji diam, Han Ciu memberi isyarat tangan untuk rombongannya berhenti.


Sa Sie Hwa memegang tangan Han Ciu.


“Kak Han, apa kau melihat sesuatu ?” tanya Sa Sie Hwa.


Fang Ji sepertinya melihat sesuatu di depan.


Sepertinya penjaga yang sedang ber patroli.


“Menunduk !”


Han Ciu berbisik pelan, sambil menarik kepala Sa Sie Hwa ke arah dada.


“Kau melihat sesuatu ?” tanya salah seorang anggota yang bertugas, kepada temannya.


Han Ciu sudah melihat kedua orang yang sedang jalan menghampiri Fang Ji.


Tunggu Wie, lihat !” sepertinya se ekor serigala berwarna abu yang ada di depan kita.

__ADS_1


A Wie mengangguk mendengar perkataannya.


“Hati – hati !” mari kita dekati perlahan, siapkan pedangmu, kulit serigala berwarna abu seperti itu lumayan mahal jika di jual di Sishui.” A Wie berkata kepada temannya.


Mereka kemudian jalan mendekati Fang Ji, yang masih berdiri menatap kearah kedua orang itu.


Han Ciu menarik Sa Sie Hwa ke belakang, melihat penjaga semakin mendekat ke arah Fang Ji.


Han Ciu melesat


Whuut...Plak...Krek !


Han Ciu bergerak sangat cepat dengan ilmu meringankan tubuh Raja Angin.


Han Ciu menampar kepala salah seorang penjaga, sampai kepalanya berputar, saking kerasnya tamparan Han Ciu, membuat tulang leher penjaga itu hancur.


A Wie Terkejut, kemudian langsung menyabetkan pedangnya ke arah Han Ciu.


Han Ciu menghindar sambil bergerak ke samping.


Sebelum A Wie berbalik arah.


Han Ciu mendekat lalu menyambar leher A Wie, kemudian mencengkeramnya.


Krek !


Tak ada jeritan Dari A Wie, hanya mata yang melotot seakan mewakili rasa sakit, akibat tulang lehernya hancur di cengkeram oleh Han Ciu.


Melihat kedua penjaga tewas Fang Ji kembali bergerak, tapi kali ini geraknya agak perlahan, karna bau musuh semakin tercium oleh hidung Fang Ji yang tak jauh dari tempat mereka.


Han Ciu memberi tanda kepada rombongannya untuk kembali bergerak.


Sedangkan Talaba bersama rombongannya bergerak ke arah pohon – pohon besar.


Setelah mendapat tempat yang cocok, Talaba melihat dari kejauhan ada tiga orang yang sedang duduk di sebuah batu sambil minum arak, “petugas patroli yang sedang istirahat,“ Talaba berkata dalam hati.


Talaba memberi isyarat kepada anak buahnya menyebar dan mencari posisi yang pas bagi mereka menentukan sasaran.


Talaba yang bersembunyi di balik dedaunan, kemudian memberita tanda dengan satu telunjuk kepada anak buahnya yang berada tak jauh.


Lalu memasang dua anak panah sekaligus, dan menatap tajam ke arah ketiga orang anggota perguruan Naga Api yang sedang minum arak.


Shing....Shing....Shing !


Tiga buah panah melesat dengan cepat, satu menembus leher sedang kedua panah yang lain menembus dada kedua orang penjaga.


Ketiganya langsung tersungkur, tewas seketika.


Talaba kemudian memberi isyarat kepada salah seorang anak buahnya.


Seorang bergerak menghampiri ketiga orang yang tewas, kemudian membawa mayat mereka lalu di sembunyikan, setelah mengambil ke tiga anak panah.


Setelah merasa aman, Talaba kemudian bergerak kembali, mendekat ke tempat orang – orang perguruan Naga Api.


Dari arah kanan, rombongan yang di pimpin oleh lblis Biru bergerak.


Iblis biru sengaja memutar sambil mendekat ke arah para penyergap.


Perkiraan Iblis biru sangat tepat.


Iblis Biru bersama Tongki dari tempat yang tersembunyi, melihat banyak orang sedang berkumpul.


“Agaknya kita sudah menemui pusat kekuatan para penyergap,” ucap lblis Biru berkata pelan kepada Tongki yang berada di sebelahnya.

__ADS_1


Lanjut perkataan Iblis biru.


“Kau lihat orang yang membawa tongkat berkepala Naga !” itulah si Tongkat Naga, wakil dari Bu Ban Liong, ketua perguruan Naga Api.”


“Kau pernah bertemu dengannya ?” tanya Tongki.


“Belum” jawab Iblis Biru.


“Lalu kau tau dari mana, bahwa dia Tongkat Naga ?” ucap Tongki.


Apa kau buta ?”


Lihat tongkat yang dia pegang!” itu kan kepala naga, Iblis Biru berkata, suaranya lebih kencang, karna kesal terhadap Tongki.


Ssssttt !


“Kau jangan keras – keras!” nanti terdengar oleh mereka.” Ucap Tongki pelan sambil menaruh telunjuk kearah bibir, memberi tanda kepada Iblis Biru.


Iblis Biru mendengus kemudian kembali menatap ke arah rombongan yang di pimpin oleh Tongkat Naga.


“Sepertinya ini tempat mereka istirahat, sambil menunggu kabar dari mata – mata mereka, tentang kedatangan pasukan yang di pimpin oleh Suma Han.” Pikir lblis Biru


“Bagaimana menurut mu ?” tanya Iblis Biru.


“Jika kita menyerang kita harus bergerak cepat, tapi jika Tongkat Naga orang yang susah kau hadapi, anak buah kita yang akan repot di serbu oleh mereka,” ucap Tongki.


Hmm !


Iblis biru mendengus, mendengar ucapan Tongki.


“Kau takut ?” tanya lblis biru.


Tanpa sengaja Tongki melihat dari kejauhan dua buah titik berwarna biru.


Hmm !


"Seperti mata serigala milik ketua, rupanya ketua yang bergerak dari kiri bergerak langsung, sedangkan aku dan lblis Biru memutar jalan, sehingga bisa bertemu di sini.


Itu artinya rombongan Talaba berada di pohon – pohon besar sebelah kiri dari tempat ini. Tongki berkata dalam hati.


“Hai Bangsaat !”


“Kau dari tadi di tanya diam saja, apa kau tuli ?” ucap lblis biru dengan suara gusar.


Karna melihat mata Fang Ji dan berpikir agak lama, Tongki lupa apa yang di tanyakan oleh lblis Biru.


Lalu bertanya.


“Kau tadi berkata apa ?”


Saking kesalnya, lblis biru menarik baju Tongki di bagian leher.


Lalu dengan kesal berkata.


“Kau takut ?!”


Karna sudah sangat kesal, lblis Biru tak bisa mengontrol ucapannya, suaranya terdengar keras.


Tongkat Naga serta anak buahnya yang tengah istirahat, mendengar ucapan lblis biru, langsung melihat ke arah asal suara.


Iblis Biru menyadari kesalahannya, lalu ia dan Tongki melihat tongkat Naga serta puluhan mata tengah melihat ke arah mereka.


Kemudian Iblis Biru dan Tongki saling tatap, lalu mengangguk, kemudian keduanya berteriak kencang.

__ADS_1


“Seraaaang !! “


__ADS_2