Naga Hitam Dan 4 Selir

Naga Hitam Dan 4 Selir
Ch : 220 Menuju kampung Yangku


__ADS_3

Mendengar perkataan Tongki dan melihat musuh sudah mencabut senjata.


Khu Sam dan A Siong memberi isyarat kepada yang lain untuk bersiap.


Sebelum Tongki menyerang, mereka terlebih dahulu menyerang ke arah Tongki.


Sebuah pedang melesat ke arah Tongki.


Whut !


Tongki menunduk sambil menghindari serangan pedang musuh.


Sambil menunduk Tongki menendang sebuah kursi.


Kursi melesat ke arah A Siong.


A Siong melihat kursi melayang langsung menghantam kursi dengan pedangnya.


Brak !


Kursi yang di tendang Tongki hancur terkena sabetan pedang A Siong.


Ketika A Siong menebas kursi, Tongki melesat sambil menyabetkan golok api ke arah kawan A Siong.


Crash !


Sebuah kepala langsung terjatuh terkena sabetan golok api Tongki.


A Siong terkejut melihat sambaran golok Tongki yang cepat dan membawa hawa panas.


“Hati – hati,” teriak A Siong memperingati kawannya yang lain.


Khu Sam melemparkan bubuk berwarna kuning ke arah Tongki.


Hmm !


“Rupanya kau anak murid perguruan selaksa racun,” ucap Zhain Li Er menatap tajam ke arah Khu Sam sambil mendengus, ketika melihat Khu Sam melemparkan bubuk racun berwarna kuning.


Tongki yang sudah minum pil anti racun yang di buat oleh Racun cilik, tak menghindar dari bubuk racun kuning yang di lemparkan Khu Sam.


Malah Tongki hidungnya terlihat mengendus endus bubuk kuning itu.


“Hai pelayan tua ! Kau melemparkan bumbu masakan kepadaku ? Tanya Tongki, sambil menyindir racun yang di lemparkan oleh Khu Sam.


Khu Sam yang melihat racun yang ia taburkan tak pengaruh terhadap Tongki, wajah murid perguruan selaksa racun yang menyamar menjadi pelayan itu terkejut.


“Siapa mereka ? Tampaknya mereka kebal racun,” Khu Sam berkata dalam hati, nyali murid perguruan selaksa racun itu langsung ciut setelah tahu musuhnya tak mempan terhadap racun yang ia keluarkan.


“Paman ! Jangan bunuh pelayan tua itu, aku butuh informasi darinya,” teriak Zhain Li Er memberitahu kepada Tongki.


“Bangsaat ! Rupanya aku salah sasaran,” A Siong berkata dalam hati melihat gerakan Tongki sewaktu menebas anak buahnya dan melihat Tongki kebal terhadap racun yang di keluarkan oleh Khu Sam.


A Siong merupakan pasukan penjagal mata – mata yang di curigai mempunyai hubungan dengan penguasa barat.


Ketika mendapat informasi bahwa ada 3 orang keluar dari kota Beidi yang berhasil di rebut oleh Han Ciu.


A Siong lalu merencanakan menyergap ketiga orang itu yang akan pergi ke arah kota Shang.


Bersama Khu Sam, A Siong lalu mendirikan kedai arak, untuk menjebak Zhain Li Er serta kedua orang yang bersamanya.


Tapi yang terjadi jauh dari perkiraan A Siong.


Tongki memutar golok api, kemudian melesat menyambar ke arah A Siong.


A Siong mundur menghindari serangan golok Tongki, seorang anak buah A Siong menyerang Tongki dari samping.


Tongki tanpa berbalik ke arah orang yang membokongnya, tangan kiri mengibas ke arah pembokongnya.


Whut !


Pukulan hawa neraka langsung menghantam ke arah anak buah A Siong.


Brak !


Pembokong itu terlempar ke arah dinding kedai arak yang terbuat dari bilik bambu.


Mata A Siong terbelalak melihat anak buahnya tewas dengan tubuh hangus terkena pukulan hawa neraka Tongki.


Sedangkan dinding Kedai hancur terkena hantaman tubuh anak buah A Siong.


Khu Sam, A Siong serta 3 orang anak buahnya yang tersisa mundur, melihat kehebatan Tongki.

__ADS_1


Mata A Siong melirik ke arah dinding kedai arak yang hancur.


Tongki yang melihat lirikan A Siong tertawa.


Ha Ha Ha


“Hai A Siong ! matamu lirik sana lirik sini seperti mata orang juling, jangan harap kau bisa melarikan diri dari hadapanku,” ucap Tongki sambil menatap ke arah A Siong.


A Siong, yang maksud hatinya terbaca oleh Tongki, kemudian melesat menyerang dengan pedangnya.


Sambaran pedang A Siong menyambar ke arah kepala Tongki.


Trang !


Tongki menangkis serangan pedang A Siong.


Lalu kakinya menendang ke arah anak buah A Siong yang hendak menyerang.


Buk !


Tendangan Tongki berhasil menghantam perut anak buah A Siong.


Pria itu langsung tersungkur sambil memegangi perutnya yang terasa hancur akibat terkena tendangan Tongki.


A Siong yang pedangnya di tangkis golok Tongki.


Posisinya yang berada di dekat meja Zhain Li Er.


Pedangnya melesat ke arah leher Dewi Kipas.


Dewi Kipas menangkis dengan kipasnya


Trak !


Setelah berhasil menangkis, kipas terbuka, lalu kipas yang terbuka langsung menampar ke arah muka A Siong.


Plak !


A Siong terhuyung, wajahnya panas terkena tamparan kipas sang Dewi.


Di wajah A Siong tergambar beberapa guratan tulang kipas.


Tongki yang melihat A Siong menyerang Dewi Kipas, langsung menebaskan goloknya ke arah kepala A Siong.


Mendengar suara desiran yang mengarah punggungnya, Tongki menarik serangan, tubuhnya langsung berbalik, kemudian golok api berputar.


Tring....Tring....Tring !


Tiga buah paku berwarna hitam yang di lemparkan oleh Khu Sam, langsung rontok setelah menghantam putaran golok api Tongki.


Wajah Khu Sam pucat, melihat serangan paku beracun miliknya dari jarak dekat masih bisa di tangkis oleh Tongki.


Setelah berhasil menangkis paku beracun, golok api Tongki melesat menyambar tangan Khu Sam yang melemparkan paku beracun ke arahnya.


Whut....Crash !


Tangan kanan Khu Sam putus terkena tebasan golok api Tongki.


Aaaaarrrghh !


Jeritan Khu Sam terdengar saat tangan kanannya putus terkena tebasan golok.


A Siong melihat tangan kanan Khu Sam putus langsung bergerak menyerang ke arah Tongki.


Tongki yang kesal kepada A Siong karena telah menyerang Dewi Kipas.


Menghindar saat pedang A Siong menyambar ke arah pinggang.


Tongki berputar, setelah tiba di belakang A Siong, Tongki langsung menusukkan goloknya ke arah punggung A Siong.


Crep !


Tak ada suara jeritan ketika golok Tongki berhasil menusuk punggung A Siong sampai tembus ke dada.


Tongki mencabut goloknya lalu melesat menyambar ke arah anak buah A Siong yang pucat melihat aksi musuhnya itu.


Whut....Crash !


Sebuah kepala terpental terkena tebasan golok Tongki, kemudian golok bergerak kembali menebas pinggang anak buah A siong yang tak bisa menghindari serangan.


Crash !

__ADS_1


Tubuh anak buah A Siong putus sebatas pinggang terkena sabetan golok Tongki, setelah berhasil membunuh 2 anak buah A Siong, satu orang yang tersisa langsung loncat ke arah dinding kedai arak yang terbuka, berusaha melarikan diri.


Tongki langsung melemparkan goloknya ke arah orang itu.


Shing....Crep !


Anak buah A Siong yang berusaha melarikan diri langsung tersungkur, dan tewas seketika saat golok Tongki menembus punggungnya.


Wajah Khu Sam pucat, melihat aksi Tongki, sambil menahan rasa sakit akibat tangannya yang putus, Khu Sam langsung sujud meminta ampun dan mohon jangan di bunuh.


Zhain Li Er melihat musuh sudah habis dan yang tersisa hanya Khu Sam berdiri dari kursinya lalu menghampiri Khu Sam.


Setelah berada di depan Khu Sam, Zhain Li Er menendang kepala Khu Sam.


Plak....Brak !


Khu Sam terlempar dan tubuhnya menghantam kursi yang ada di dalam kedai.


“Kau anak buah Manusia beracun, benar tidak perkataanku ? Tanya Zhain Li Er.


“Be....benar tuan putri, tolong jangan bunuh hamba,” ucap Khu Sam dengan wajah ketakutan.


“Jika kau bisa menjawab pertanyaanku, aku tak akan membunuhmu, tapi jika jawabanmu tak memuaskan, jangan harap kau bisa hidup,” ucap Zhain Li Er.


Sebelum Khu Sam menjawab, Zhain Li Er, bertanya kembali.


“Dimana Han Cikung berada ? Tanya Zhain Li Er.


Wajah Khu Sam pucat mendengar perkataan Zhain Li Er sewaktu menanyakan keberadaan Han Cikung.


“Ham....hamba tidak tahu keberadaan pelindung Han tuan putri,” jawab Khu Sam.


“Bohong,” teriak Tongki.


“Cepat katakan di mana orang itu,” lanjut perkataan Tongki.


“Benar hamba tidak tahu keberadaan pelindung Han, tuan besar.


“Hanya orang yang memiliki kedudukan tinggi di perguruan selaksa racun yang tahu tempat tinggal pelindung Han,” jawab Khu Sam.


Zhain Li Er mendengus mendengar perkataan Khu Sam.


Kakinya bergerak menendang kepala Khu Sam.


Prak !


Khu Sam tersungkur dan tewas seketika dengan kepala pecah.


“Buang² waktu saja,” Zhain Li Er berkata sambil melangkah keluar dari kedai.


“Mari kita lanjutkan perjalanan,” ucap Zhain Li Er sambil berjalan.


“Lantas mayat mereka bagaimana nyonya ? Tanya Tongki.


“Bakar saja bersama kedai arak ini, biar tak digunakan lagi oleh komplotan mereka untuk menjebak orang² kita,” jawab Li Er.


Tiga ekor kuda melangkah menjauh dari kedai arak yang terbakar.


Di jalan yang menuju ke arah kampung Yangku.


Dengan posisi seperti tadi, Zhain Li Er berkuda di depan, sedangkan Tongki dan Dewi Kipas kembali ber iringan tanpa ada pembicaraan.


Setelah berjalan jauh dari kedai arak dan diantara keduanya tak ada percakapan.


Zhain Li Er berkata dari atas kudanya tanpa menoleh ke belakang.


"Paman Tongki, mundurkan kudamu dan jalan di belakang kuda bibi Dewi.


Tongki yang tak ada pikiran apa – apa menuruti perkataan Zhain Li Er.


Kuda yang di tunggangi Tongki perlahan membiarkan kuda Dewi Kipas berjalan di depan.


Ketiga kuda yang di tunggangi oleh mereka tampak saling tutur dan jalan menuju kampung Yangku.


Hmm !


Jalan begini lebar, tapi gadis kampret itu malah menyuruh aku jalan di belakang Dewi.


Tongki yang tak mengerti maksud dari Zhain Li Er menyuruhnya berkuda di belakang Dewi, terus menggerutu dalam hatinya.


“3 ekor kuda jalan sambil berbaris seperti ini, jika ada orang yang lihat.

__ADS_1


“Pasti mengira kami rombongan Sirkus.”


__ADS_2