Naga Hitam Dan 4 Selir

Naga Hitam Dan 4 Selir
Ch : 218 Percakapan antara Tongki dan Li Er


__ADS_3

Dewi kipas setelah tahu bahwa Tongki sudah sembuh dan aksi lemas hanya untuk mencari perhatiannya.


Pendekar wanita itu marah dan berusaha menghindar dari Tongki yang selalu mengejar Dewi Kipas untuk minta maaf.


“Dewi ! Apa kau tak mau memaafkan kesalahanku ? Tanya Tongki dengan wajah murung.


Cis !


“Niat baik ku sudah kau salah artikan,” ucap Dewi Kipas.


“Aku tidak bermaksud seperti itu Dewi, tapi keadaan yang membuat aku harus seperti itu,” Jawab Tongki.


“Apa maksudmu dengan keadaan ? Tanya Dewi Kipas.


“Aku....aku menyukai Dewi, hanya jalan ini yang dapat mendekatkan aku dengan Dewi,” ucap Tongki sambil menundukkan kepala.


Dewi Kipas menghela napas mendengar perkataan Tongki, ia bukan perempuan bodoh yang tak tahu keadaan, Dewi Kipas tahu bahwa Tongki menyukainya, dan sebenarnya ia juga menyukai Tongki yang terkadang bersifat semaunya tapi mempunyai jiwa ksatria.


Hanya terkadang keegoisan serta harga diri yang membuat para orang tua memendam perasaan, dan tak berani mengungkapkan isi hati.


“Lantas apa maumu sekarang ? Kembali Dewi Kipas bertanya.


“Kenapa Dewi masih saja bertanya, bukankah tadi aku sudah bilang, aku minta maaf dan tak bermaksud untuk meledek atau menipu Dewi,” Tongki berkata.


“Ya sudah aku maafkan, tapi awas ! jangan sekali lagi kau lakukan perbuatan itu,” Dewi Kipas memberikan ancaman.


Tongki sangat senang mendengar perkataan Dewi Kipas, bahwa ia telah memaafkan perbuatannya.


Tapi Tongki Cuma bisa bengong setelah melihat Dewi Kipas pergi sesudah memaafkannya tanpa bercakap – cakap lebih jauh.


“Eh....Eh....kenapa dia pergi, apa hanya itu saja yang bisa ia ucapkan setelah memaafkanku ? Lantas bagaimana dengan perasaanku ini,” ucap Tongki dalam hati, dan Tongki tampak bingung dengan kepergian Dewi Kipas yang tiba – tiba.


Taman kecil yang berada di dekat gedung utama kota Beidi tampak, hambar setelah kepergian Dewi Kipas.


“Rupanya sudah terlalu lama aku hidup sendiri.


“Masalah wanita kenapa otakku seperti buntu, segalanya mendadak hilang dari otak tua ini,” batin Tongki sambil termenung.


Hmm !


“Sepertinya hanya itu jalan satu²nya yang harus aku lakukan agar bisa mendekati Dewi Kipas.”


Setelah berpikir agak lama di taman kecil itu, akhirnya Tongki melangkah pergi meninggalkan taman dan berjalan ke arah gedung utama.


Setelah sampai di gedung utama, Tongki bertanya tanya dimana orang yang ia cari, setelah mendapat kabar bahwa orang itu ada di belakang gedung, Tongki langsung bergerak ke arah tempat yang di tunjuk oleh pelayan yang ada di gedung.


Di sebuah halaman belakang yang luas, tampak seorang wanita tengah berlatih ilmu pedang, tubuhnya seperti menari memainkan pedang yang mengeluarkan suara tak beraturan.


Tongki terus memperhatikan wanita yang sedang berlatih, yang tak lain adalah Zhain Li Er si Bidadari gila.


Melihat Tongki ada di tempatnya berlatih, Zhain Li Er menghentikan latihannya.


“Sudah sembuh rupanya,” ucap Zhain Li Er sambil tersenyum.


Phuih !


Tongki meludah ketika mendengar perkataan Zhain Li Er.


“Gara – gara kau, Dewi kipas marah padaku, untung saja masalahnya sudah selesai,” ucap Tongki sambil bersungut sungut.


Cis !


“Kau yang menipu orang, kenapa aku yang di salahkan ? Zhain Li Er berkata.

__ADS_1


“Nyonya ketua jangan salah paham, aku bukannya menipu Dewi Kipas, tapi ingin mencari perhatiannya saja,” Tongki berusaha berkelit dengan ucapannya.


“Menipu dan mencari perhatian seperti yang kau lakukan itu sangat tipis perbedaannya,” Zhain Li Er membalas ucapan Tongki.


“Dulu nyonya ketua pernah berkata akan membantuku dan aku menagih janji itu,” Tongki berkata.


Zhain Li Er tertawa mendengar perkataan Tongki.


Hi....Hi....Hi.


“Apa kau juga ingat, apa yang harus kau lakukan jika aku membantumu ? Tanya Zhain Li Er setelah tertawa.


Mendengar perkataan Zhain Li Er, dengan wajah merah Tongki langsung bersujud, dengan kedua tangan mengepal memberi hormat dan hendak menyebut guru.


Tapi sebelum kening Tongki menyentuh tanah, Zhain Li Er mundur sambil tangan kanannya mengibas, tubuh Tongki yang hendak sujud, tiba – tiba terangkat dan berdiri kembali.


Tongki bingung dengan kelakuan Zhain Li Er.


“Apa maksud nyonya ? aku akan melakukan apa yang nyonya katakan waktu itu,” Tongki berkata.


Zhain Li Er menghela napas mendengar perkataan Tongki, lalu ia bicara.


“Mungkin orang melihat kita sering bertengkar dan meledek satu sama lain, tapi tak ada maksudku untuk menghina paman,” ucap Zhain Li Er.


“Adat memang susah di rubah, dan sipat ku memang sudah seperti ini dari dulu,” lanjut perkataan Zhain Li Er.


“Jika paman mau berjanji untuk menjaga kak Han dan bibi Dewi, aku akan membantu paman mendapatkan Dewi Kipas. “Bagaimana ! Apa paman setuju ? Tanya Zhain Li Er.


“Nyonya ! kenapa bicara seperti itu, tanpa ada imbalan apapun orang yang bernama Tongki ini akan selalu menjaga dan setia kepada ketua Han Ciu,” ucap Tongki.


“Aku percaya padamu,” Zhain Li Er berkata.


“apa tekad paman sudah bulat untuk memperistri Dewi Kipas,” lanjut perkataan Zhain Li Er.


Wajah Zhain Li Er berubah ketika mendengar perkataan Tongki.


Cis !


“Kadal tengik, jangan mencari gara – gara denganku, nanti kau sendiri yang akan rugi,” ucap Zhain Li Er sedikit ketus.


“Tadi panggil aku paman, sekarang balik lagi memanggilku kadal tengik,” memang pantas di sebut bidadari gila, batin Tongki.


Melihat Tongki termenung, Zhain Li Er menatap tajam.


“Jika kau hanya menyukai tanpa ada niat lebih lanjut, aku tak akan membantumu, tapi jika kau mau memperistri Dewi Kipas yang sudah kuanggap bibiku sendiri, aku akan membantu, itu juga kalau bibi Dewi bersedia menikah denganmu.


“Satu lagi yang harus kau ingat, jika kau macam² mempermainkan perasaan Bibi angkatku itu, aku akan desak bibi Dewi agar menikah dengan paman Ming Mo,” Zhain Li Er berkata sambil memberi ultimatum kepada Tongki.


“Jangan....jangan berikan kepada Ming Mo.” Tongki berkata dengan wajah cemas.


“Aku bingung, apa kita berdua harus menikah ? Lanjut perkataan Tongki.


“Kita berdua sudah sama² tua, apa nanti tidak di tertawakan orang jika menikah di usia sepertiku ini,” Tongki berkata dengan wajah sedih.


Cis !


“Kupikir kau orang yang tak memedulikan apapun asal senang, sampai ketua sendiri sering kau tipu.


“Ternyata kau masih saja memikirkan hal sepele,” Zhain Li Er berkata sambil menarik napas.


“Menyesal aku sudah berbaik hati padamu,” ucap Zhain Li Er dengan nada kesal.


“Bukan seperti yang nyonya pikirkan,” Tongki berkata sambil menggoyangkan kedua tangannya.

__ADS_1


“Aku berpikir untuk kebaikan Dewi Kipas, takutnya Dewi Kipas yang akan menjadi bahan tertawaan,” Tongki membalas perkataan Zhain Li Er.


“Jika saling suka, untuk apa kalian memedulikan cibiran orang ? Lakukan saja apa yang kalian sukai,” ucap Zhain Li Er.


“Aku beri kau nasehat, jika sampai kau bingung dalam mengambil keputusan, jangan menyesal jika di kemudian hari orang yang kau cintai pergi meninggalkanmu.”


Kau tahu tentang, Harta, Tahta dan Wanita.


“Sudah harta tak punya, kau malah berhutang ke si lblis petaruh.”


“Tahta” menurutku tahta yang bisa kau capai hanya sampai sebatas kepala dusun, itu juga dusunnya kau yang buat sendiri, baru bisa memimpin.”


Phuih !


“Dari tadi kau cerita tak ada yang enak di dengar,” gerutu Tongki, mendengar cerita Zhain Li Er.


Zhain Li Er tak memedulikan omongan Tongki.


“Wanita” hanya ini yang bisa kau raih, tapi hal itu juga bisa terjadi jika wanitanya mau.


“Tapi itu terserah kau mau enak atau tidak mendengarnya, tapi aku melihat kenyataannya seperti itu,” Zhain Li Er menutup cerita, lalu meninggalkan Tongki yang termenung memikirkan perkataan Zhain Li Er.


Ke esokkan harinya, sebelum siang Han Ciu dan Zhain Li Er tengah bercakap – cakap di depan gedung.


“Benar adik Li akan melihat situasi dan melihat keadaan luar di sekitar kota Shang ? Tanya Han Ciu.


“benar ! Dan ini sangat penting, karna kita tidak tahu jika dalam perjalanan ke kota Shang pasukan kita di sergap di jalan, karena jalan ke kota Shang, banyak hutan dan bukit, itu tempat yang sangat cocok untuk melakukan serangan gelap,” jawab Zhain Li Er.


“Apa cukup hanya di temani oleh paman Tongki dan bibi Dewi ? Kembali Han Ciu bertanya.


“Kak Han tak perlu khawatir, paman Tongki dan bibi Dewi bukan tokoh sembarangan, dan aku juga masih punya ini jika terdesak,” ucap Han Ciu sambil memperlihatkan suling pemanggil ular.


Han Ciu anggukan kepala mendengar penjelasan selir ketiganya itu.


Seorang anak buahnya lalu di perintahkan untuk memanggil Tongki serta Dewi Kipas.


Saat keduanya sudah berkumpul, Han Ciu lalu memberitahukan maksud Zhain Li Er kepada Tongki serta Dewi Kipas.


“Paman dan bibi bagaimana, apa bersedia ikut dengan adik Li ?


Keduanya anggukan kepala menjawab pertanyaan Han Ciu.


Zhain Li Er lalu menatap keduanya, Dewi kipas tundukkan kepala, karena ia tahu maksud hati dari selir ketuanya itu.


Sedangkan Tongki anggukan kepala, ia tahu, kali ini gadis yang selama ini selalu berseteru dengannya akan membantu hubungannya dengan Dewi Kipas.


“Terima kasih gadis kampret, tak kuduga, orang yang selama ini Kupikir selalu menyudutkan, ternyata orang ini juga yang membantuku untuk mendekati seorang wanita,” batin Tongki sambil melirik ke arah Zhain Li Er.


Ketika melirik ke arah Dewi Kipas, Tongki tersenyum penuh arti.


Ucapnya dalam hati.


“Kalau hanya berdua saja dengan Dewi Kipas melihat situasi, mungkin akan lebih bagus,”


Tapi lamunan Tongki langsung terhenti ketika mendengar perkataan Dewi Kipas.


“Nyonya, Kenapa hanya bertiga ? Jika mengajak sepasang siluman hutan Hanzhong mungkin itu lebih baik, mereka pasti tahu seluk beluk hutan di sekitar kota ini sampai kota Shang,” ucap Dewi Kipas.


“Terlalu banyak orang, malah bikin curiga musuh ? ucap Zhain Li Er menjawab perkataan Dewi kipas


“Sedangkan Tongki melirik ke arah Dewi Kipas, setelah mendengar perkataan nenek itu, wajahnya terlihat sedikit kesal.


“Dasar tidak peka”

__ADS_1


__ADS_2