Naga Hitam Dan 4 Selir

Naga Hitam Dan 4 Selir
Ch : 221 Masalah di kampung Yangku


__ADS_3

Karena sudah tidak tahan dan terus seperti itu, Tongki kemudian menggebrak kudanya dan kembali berkuda di samping Dewi Kipas.


Zhain Li Er tanpa menoleh ke belakang tahu, bahwa Tongki telah kembali berada di samping Dewi Kipas.


“Untuk apa kau, jalan bersama jika tidak saling bicara, bikin sempit jalan saja,” ucap Zhain Li Er tanpa menoleh.


“Jadi nyonya menyuruhku berkuda di belakang Dewi, karena kami berdua tidak saling bicara,” batin Tongki.


Dewi Kipas juga baru mengerti maksud dari perkataan Zhain Li Er, wajahnya semakin merah karena jengah.


“Bibi, apa kampung Yangku masih jauh ? Tanya Zhain Li Er.


“Sebentar lagi kita akan sampai, setelah melewati hutan bambu yang ada di depan,”


Mendengar perkataan Dewi Kipas, Zhain Li Er tanpa berkata lagi langsung menggebrak kudanya.


Kuda Zhain Li Er berlari cepat, di ikuti oleh Dewi Kipas dan Tongki.


Benar apa yang di katakan Dewi Kipas, tak lama kemudian mereka sampai di kampung Yangku.


Terlihat sebuah gerbang selamat datang dari kejauhan, yang bertuliskan kampung Yangku.


Zhain Li Er setelah mendapat tempat menginap, kemudian istirahat untuk memulihkan tenaga setelah seharian berkuda.


Ke esokkan hari, pagi – pagi sekali, tanpa berpesan kepada Dewi kipas dan Tongki, Zhain Li Er telah pergi meninggalkan penginapan.


Dewi kipas setelah melihat kamar Zhain Li Er kosong kemudian menghampiri kamar Tongki.


Tok....Tok....Tok !


Dari dalam kamar terdengar suara gerutu Tongki yang berjalan menghampiri ke arah pintu.


“Pagi – pagi sudah ganggu orang tidur, apa tidak ada kerjaan lain.”


Suara gerutu Tongki terdengar oleh Dewi Kipas yang berdiri di depan pintu kamar.


Pintu kamar terbuka dan Tongki langsung tertegun ketika melihat yang berdiri di depan pintu kamar adalah Dewi Kipas, seketika wajah Tongki merah.


“Maaf jika aku mengganggu saudara Tongki,” ucap Dewi Kipas sambil berbalik hendak meninggalkan kamar Tongki.


“Tu....Tunggu dulu Dewi,” Tongki berkata sambil menyambar tangan Dewi kipas yang hendak pergi.


Dewi Kipas menepis tangan Tongki, tapi terlambat, tangan Tongki telah memegang tangan Dewi Kipas.


“Kenapa harus marah ! tadinya aku pikir yang mengetuk pintu kamar adalah pelayan,” Tongki berkata.


Cis !


“Jadi kau pikir aku pelayan ? Tanya Dewi Kipas.


“Sudahlah Dewi, kenapa harus di perpanjang, mari....mari silahkan masuk,” Tongki berkata, sambil menarik tangan Dewi Kipas masuk ke dalam kamarnya.


Dewi Kipas akhirnya mau masuk ke dalam kamar, setelah Tongki meminta maaf.


“Ada apa Dewi ? Tanya Tongki setelah mereka duduk.


Dewi Kipas lalu menceritakan keresahan hatinya karena tak melihat Zhain Li Er di kamar.


“Apa tak ada pesan dari nyonya ? Tanya Tongki.


Dewi Kipas gelengkan kepala menjawab pertanyaan Tongki.


Hmm !


“Dari dulu nyonya ketiga selalu bikin pusing orang,” Tongki berkata setelah mendengus.


Tapi ada sebuah pikiran dari Tongki bahwa Zhain Li Er menghilang, karena ingin memberi kesempatan kepadanya untuk berdekatan dengan Dewi Kipas.


Setelah berpikir ke arah sana, Tongki kemudian berkata kepada Dewi Kipas.


“Sudahlah, tak usah Dewi pikirkan, dengan kesaktian Nyonya dan pasukan ular miliknya, tak mudah jika ingin meringkus nyonya ketiga.”


Lanjut perkataan Tongki.


“Menurutku Nyonya ketiga akan menyelidiki bagian luar sekitar Yangku, dan kita berdua mencari informasi di kampung Yangku ini.”

__ADS_1


Dewi Kipas anggukan kepala, ia bisa menerima perkataan Tongki yang memang masuk akal.


“Mari kita makan di luar, sambil cari tahu kabar terkini,” Tongki kembali berkata dan di balas dengan anggukan Dewi Kipas.


Tak lama kemudian, 2 orang tua terlihat keluar penginapan dan berjalan di jalan kampung Yangku.


Beberapa pasang mata tampak memperhatikan gerak gerik Tongki serta Dewi Kipas.


Setelah berjalan ke arah tempat keramaian, tak lama kemudian mereka masuk ke sebuah rumah makan sederhana.


Ketika mereka masuk, beberapa orang pengunjung terlihat di dalam rumah makan.


“Mau pesan apa tuan ? Tanya pelayan ketika Tongki dan Dewi Kipas duduk.


“Berikan kami makanan ter enak dan arak terbaik yang ada di rumah makan ini,” ucap Tongki kepada pelayan rumah makan.


Pelayan itu anggukan kepala dan berlalu setelah Tongki memesan makanan.


Setelah makanan tersedia, Tongki dan Dewi Kipas tanpa basa basi langsung menyantapnya. Setelah beres mereka lalu minum arak sambil memerhatikan keadaan orang² yang ada di rumah makan itu.


Ketika tengah asyik minum, seorang pria paruh baya datang memberi hormat, kemudian berkata.


“Maaf, Cengcu ( kepala kampung ) kami ingin bertemu dengan kedua pendekar,” ucap pria itu.


Tongki mengerutkan kening mendengar perkataan Pria paruh baya itu.


“Apa Cengcu kalian kenal dengan kami ? Tanya Tongki.


“Maaf pak tua, masalah itu hamba tidak tahu, tapi dalam keadaan perang seperti sekarang ini, setiap orang yang masuk kampung Yangku, harus melapor kepada Cengcu, untuk menghindari hal – hal yang tak di inginkan.


Hmm !


“Baik ! kami nanti akan kesana, kau tunjukan saja di mana rumah Cengcu mu itu,” ucap Tongki.


Pria paruh baya itu setelah memberitahu rumah sang Cengcu, lalu pergi.


Tongki dan Dewi Kipas kemudian melanjutkan minum arak.


Setelah arak habis Dewi kipas berdiri, pelayan rumah makan menghampiri mereka.


Semuanya 3 tail perak tuan.


Tongki anggukan kepala, lalu merogoh saku bajunya, wajahnya langsung merah, ketika di dalam saku bajunya, tidak ada uang untuk membayar makanan yang telah ia makan.


“Celaka, aku baru ingat ! Uang perak yang kupinjam dari Huang Zilin sudah kembali kepada pemiliknya karna aku kalah taruhan.


“Dewi ! Ucap Tongki.


“Ada apa ? Tanya Dewi Kipas.


“Tagihan ini, Dewi saja yang bayar, uangku tertinggal di kota Beidi,” ucap Tongki sambil tersenyum malu.


Cis !


“Kalau tau aku yang bayar, lebih baik tadi aku makan sendiri,” batin Dewi kipas sambil memberikan 3 tail perak kepada pelayan rumah makan.


Setelah mereka keluar dari rumah makan, Dewi Kipas bertanya.


“Bukankah saudara Tong, pinjam 500 tail perak kepada saudara Huang ?


“Betul, tapi uang itu sudah kembali kepada pemiliknya,” jawab Tongki.


“Jadi Saudara Tong sudah membayar hutang kepada saudara Huang ? Tanya Dewi Kipas.


“Duit melayang, hutang seperak juga belum ku bayar,” jawab Tongki dengan nada sedikit kesal.


“Lantas kemana uang yang saudara pinjam ? Dewi Kipas kembali bertanya.


“Di pakai bertaruh, dan kalah oleh saudara Huang,” jawab Tongki.


Dewi Kipas langsung memberikan jempol kirinya ke arah Tongki sambil berkata.


Bagus !


Tanpa sadar Tongki menjawab.

__ADS_1


“Terima kasih”


Cis !


“Bukannya berpikir malah menyebut terima kasih,” batin Dewi Kipas.


Tanpa terasa mereka berdua sampai di tengah kampung Yangku, dimana rumah kepala kampung berada.


Rumah yang sederhana tetapi paling besar terlihat di antara rumah lain yang ada di sekitar.


Tanpa ragu, Tongki bersama Dewi Kipas masuk ke dalam pekarangan rumah kepala kampung Yangku.


Pria paruh baya yang tadi mengundang Tongki serta Dewi Kipas keluar dari rumah itu, setelah memberi hormat kepada Tongki serta Dewi Kipas, pria paruh baya itu mempersilahkan keduanya masuk.


Di dalam ruangan tampak duduk 2 orang pria paruh baya yang seumuran dengan pria yang mempersilahkan masuk.


Melihat kedatangan Tongki serta Dewi Kipas, kedua orang yang tengah duduk kemudian berdiri memberi hormat dan berkata.


Selamat datang di kampung Yangku sepasang pendekar yang terhormat.


Hamba bernama Ziang Wu, dan ini kakak hamba selaku penasihat kampung Yangku yang bernama Ziang Wei.


Aku bernama Tongki, dan ini sahabatku, Dewi Kipas.


Tongki membalas perkataan Ziang Wu sambil memperkenalkan diri.


Lanjut perkataan Tongki setelah memperkenalkan diri.


“Maaf Cengcu, ada maksud apa Cengcu memanggil kami ? sebab baru kali ini kami datang ke sebuah kampung, dan harus laporkan diri,” tanya Tongki.


Mendengar perkataan Tongki, Ziang Wu tampak menghela napas sebelum menjawab.


“Adik, biar aku yang bicara,” ucap Ziang Wei.


“Tuan pendekar, sekarang situasi negeri sedang kacau, perang dimana mana antara kubu timur dan barat.


“Kami sebagai penduduk biasa, yang terkena akibat dari perang ini, setiap gerak gerik kami di curigai oleh pihak timur maupun barat.


“Tapi kami memaklumi hal itu, dan membuat kebijakan sendiri di kampung Yangku ini, agar tidak terjadi bentrok dan merugikan warga kampung Yangku,” ucap Ziang Wei memberi penjelasan kepada Tongki.


“Lantas, urusannya apa dengan kami ? Tanya Tongki mendengar perkataan Ziang Wei.


“Tidak ada urusan apa – apa dengan tuan, tapi kami ingin tahu. tuan pendekar dari kubu timur atau barat dan kemana tujuan tuan, sampai menginap di kampung Yangku ? Tanya Ziang Wei, kali ini setelah bertanya mata Ziang Wei menatap tajam ke arah Tongki.


Tongki mendengus mendengar perkataan Ziang Wei.


“Maaf tuan Ziang ! urusan kami biar kami urus sendiri, tak perlu orang lain ikut campur, kami menginap di Yangku karena tidak menemukan kampung lain yang bisa di pakai untuk bermalam,” Tongki menjawab perkataan Ziang Wei, kali ini nada suara dari Tongki sudah mulai naik, karena tidak suka ada orang lain yang ikut campur dengan urusannya.


“Tuan bebas keluar masuk kampung Yangku jika tuan memberi keterangan yang jelas, tetapi jika tuan tak bisa memberi keterangan perihal diri tuan ! Dengan berat hati, terpaksa kami akan mengusir tuan pendekar dari kampung Yangku.


Melihat situasi sudah mulai panas.


Sret !


Kipas terbuka, lalu Dewi Kipas mengipasi kepala lalu berkata, “jangan terlalu memaksakan diri tuan.


“Dan jangan ikut campur urusan orang, karena itu tak baik,” ucap Dewi Kipas.


“Maaf, ini kampung kami, kami berhak menjaga kampung kami dari gangguan orang yang berniat tidak baik.” Ziang Wei membalas perkataan Dewi Kipas.


Brak !


Tongki langsung menggebrak meja yang ada di depannya.


Sambil menunjuk Ke arah Ziang Wei.


“Kau selalu berkata melindungi kampung dari niat tidak baik.


“Jadi kau menuduh kami penjahat ? Tanya Tongki sambil jarinya menunjuk ke arah wajah Ziang Wei.


Merasa tidak suka karena Tongki menggebrak meja dan jarinya menunjuk ke arah wajahnya, yang dianggap sebagai perbuatan tidak sopan.


Wajah Ziang Wei berubah kesal, sambil balas menunjuk ke arah wajah Tongki sambil berkata dengan nada dingin.


“Jika memang kami menuduh, lantas kau mau apa ?

__ADS_1


__ADS_2